
"Terima kasih atas kerja sama nya, tapi kita harus berpisah sampai di sini..." ucap seorang pria kepada seorang wanita yg saat ini sedang di bekap oleh nya, wanita itu menangis dan menggelengkan kepala, menatap pria di depannya agar ia tak di sakiti. Namun apalah daya, pria di samping nya itu langsung menodongkan pistol ke kepala nya dan menarik pelatuk nya, sehingga wanita malang itu langsung menemui ajal nya.
"Aku hanya ingin tahu, apa yg sangat berarti dalam hidup nya. Seberapa berarti nya dia dalam hidup nya, karena aku ingin memastikan dia merasakan apa yg aku rasakan. Kehilangan yg paling berarti, dan dia adalah yg paling berarti bagi mu, ternyata"
..........
Firda mengorek ngorek kulkas untuk mencari sesuatu yg ia ingin masak pagi ini, apa itu?
Ikan asin goreng dan sambal pete, entah kenapa tiba tiba Firda ingin sekali memakan makanan itu pagi ini.
Sementara itu, pelayan yg baru masuk ke dapur sangat terkejut melihat Firda yg saat ini sedang sibuk mencari sesuatu di kulkas, Firda tampak mungil dengan daster biru bergambar dora emon dan juga apron yg bermotif bunga bunga pink itu
"Nyonya Emerson..." seru pelayan itu yg membuat Firda tersentak kaget.
"Astagfirullah..." Firda memegang dada nya yg deg degan "Bikin kaget saja" gerutu Firda yg membuat pelayan itu meringis dan langsung menundukkan kepalanya.
"Maafkan saya, Nyonya. Tapi apa yg anda lakukan di dapur? Apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya nya.
"Aku mau masak, Bi. Di rumah tidak ada ikan asin dan pete ya?" tanya Firda dan tentu saja hal itu membuat sang pelayan heran dan langsung menggeleng.
"Tidak ada, Nyonya. Karena Tuan tidak memakan makanan itu" jawab nya.
"Aduh, padahal aku mau makan itu..." gumam Firda sambil garuk garuk tengkuk nya.
"Bi, pasar jauh dari sini?" tanya Firda lagi.
"Cukup jauh, Nyonya. Tapi jika anda membutuhkan sesuatu, saya akan pergi ke pasar dan berbelanja untuk anda" jawab nya.
"Aku mau ke pasar sendiri saja nanti, emmm sekarang masak ikan bakar saja, Om Gabriel suka ikan bakar" ucap Firda kemudian dan sang pelayan pun langsung bergegas membantu Firda menyiapkan bahan bahan nya.
...
Gabriel tidak jadi melanjutkan tidur nya karena ia teringat dengan Gio yg mengatakan akan menemukan pelaku nya sebelum matahari terbit.
Saat Gabriel membuka pintu kamar nya, Gio sudah berada di depan kamar nya.
__ADS_1
"Don, baru saja aku akan memanggil mu..." ujar Gio.
"Kau temukan pelaku nya?" tanya Gabriel dan Gio langsung menganggukan kepalanya.
"Tapi sayang nya dia sudah tidak bernyawa, Don..."
"Bagaiamana bisa?" pekik Gabriel.
"Maafkan aku, Don Gabriel. Tapi aku sendiri sungguh tidak tahu, kami menemukan nya di halaman belakang"
"Apa masih di belakang?" tanya Gabriel dan. Gio mengangguk
"Iya, Don..." jawab Gio.
"Jangan sampai Firda tahu berita ini, Gio. Pastikan semua orang di rumah ini tidak ada yg membicarakan nya" perintah Gabriel.
"Baik, Don Gabriel" jawab Gio patuh.
Saat ini kedua nya sedang bergegas ke halaman belakang, dan sesampainya di sana, Gabriel melihat seorang wanita asing yg berpakaian pelayan sedang terkapar dengan kepala yg berdarah. Sudah ada beberapa anak buah Gabriel yg menjaga tempat itu.
"Dia di bunuh dari jarak yg sangat dekat" ujar Gabriel, Gabriel juga memperhatikan wajah wanita itu lekat lekat, wanita itu tampak nya menangis sebelumnya. Gabriel melihat ada jejak sepatu di samping wanita itu, Gabriel juga memperhatikan lekat lekat.
"Jejak sepatutnya berlumpur..." gumam Gabriel, ia memperhatikan jejak sepatu itu yg mengarah ke luar.
"Jadi, dia masuk dengan memanjat pagar, datang, membunuh, dan pergi..." gumam nya lagi setelah ia mencoba menganalisa kejadian "Coba buka tangan nya, dia menggenggam sesuatu" perintah Gabriel pada Gio dan dengan cepat Gio memeriksa tangan wanita itu.
"Sebuah kalung, Don Gabriel..." ujar Gio dan ia memberikan kalung yg berbentuk silet itu, Gabriel mengambil nya dan memperhatikan nya baik baik. Seketika ia menggenggam kalung itu dengan kuat dan ia menggeram marah, bahkan rahang nya mengeras dan ia menggertakkan gigi nya, tatapan nya juga berkilat akan amarah.
"Sialan, Kiroz, anak buah Eduardo..." geram Gabriel.
"Kiroz? Bukan kah dia tewas dalam usaha perebutan kapal itu?" tanya Gio heran.
"Berarti dia tidak tewas, seharusnya aku tahu itu, memang tidak akan membunuh nya"
"Tapi kenapa dia hanya melakukan teror kecil seperti ini? Maksud ku, itu tidak masuk akal, Don Gabriel" tukas Gio
__ADS_1
"Ini sangat masuk akal, setiap kali kita bertemu dia selalu mengatakan akan menemukan kelemahan ku dan menyerang ku dari sana"
.........
Setelah selesai menyiapkan makanan nya, Firda menata nya sendiri di meja makan dengan rapi. Setelah itu ia langsung bergegas ke kamar untuk memanggil suami nya.
"Om Gabriel..." seru Firda sambil membuka pintu kamar namun ia mendapati kamar nya yg kosong, Firda mengecek kamar mandi karena mengira suami nya disana namun ia tidak ada.
Firda pun mencoba mencari nya di ruang kerja suami nya itu namun hasil nya juga nihil.
"Kemana lah suami satu itu, pagi pagi sudah hilang..." gerutu Firda.
Ia pun turun dan mencoba mencari nya di luar rumah. Firda mengernyit bingung saat ia tak mendapati anak buah Gabriel ada di sekitar rumah, biasanya mereka selalu berjaga di sekitar rumah seperti pasukan militer saja.
"Semua orang menghilang, atau jangan jangan di pecat sama Om Gabriel? Lagian, satu satpam saja cukup, ini rumah malah di jaga seperti rumah ketua gengster saja" Firda berbicara dengan diri nya sendiri sambil berjalan keluar dan di saat itu, ia melihat beberapa bodyguard sedang memasukkan kardus besar ke dalam mobil.
"Ada yg lihat Om Gabriel?" teriak Firda pada mereka yg membuat mereka terlonjak kaget bahkan sampai membuat kardus itu terjatuh. Firda yg melihat itu hanya meringis dan ia menghampiri pada bodyguard itu.
"Maaf ya, jadi kaget... Hehe" ucap Firda sambil berjalan semakin mendekat
"Apa itu? Sepertinya sangat berat..." lanjut nya yg membuat para bodyguard panik dan dengan cepat memasukan kardus ke dalam bagasi mobil.
"Firda Sayang..." panggil Gabriel yg langsung mengalihkan perhatian Firda.
"Om, dari mana saja? Aku cariin, aku masak ikan bakar" ujar Firda antusias.
"Pagi pagi begini?" tanya Gabriel heran dan Firda malah kembali cengengesan.
"Om suka ikan bakar, waktu dirumah itu Om habisin dua ekor" ujar Firda dan Gabriel tertawa.
"Ikan bakar buatan Ummi sangat enak" Gabriel berkata sembari merangkul Firda dan membawa nya masuk, Firda sempat menoleh dan ia melihat Gio.
Firda langsung melambaikan tangan nya pada Gio dan meneriaki sang ajudan.
"Gio... Sarapan yuk, aku buat ikan bakar, enak lho" teriak nya yg membuat Gio tersenyum dan ia pun langsung mengikuti tuan dan Nyonya nya itu.
__ADS_1