Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 171 - Belajar Hijrah


__ADS_3

Setelah Firda tertidur, Gabriel meninggalkan nya untuk menjenguk Micheal yang saat ini masih tak sadarkan diri. Sementara Gio menjaga Firda dan Ummi Aisyah kini bergantian menjenguk Mini yang mengalami luka lebih parah dari Abi Farhan.


"Maafin anak anak Tante ya, Min..." lirih Ummi nya "Karena mereka, kamu jadi begini. Kamu harus berjuang ya, Nak. Kamu harus bangun, Sayang. Kami mencemaskan mu, kamu mengkhawatirkan mu, Nak" lirih nya.


.........


Sementara itu, Gabriel duduk di samping bangsal putra kecil nya, Gabriel tak meneteskan air mata nya, namun sorot mata nya menyorotkan betapa takut nya ia saat ini, Gabriel mencium kening putra nya itu dengan lembut.


"Kamu putra ku, Micheal" lirih Gabriel "Kamu harus kuat, Son. Kamu harus bisa melawan rasa sakit mu, Daddy mohon, Nak..." lirih nya dengan suara yang bergetar.


Gabriel menggenggam tangan mungil Micheal, ia mengecup nya, kedua mata nya kini sudah berkaca kaca namun Gabriel menahan agar air mata nya itu tak mengalir keluar.


"Ayo, Sayang. Kamu harus bangun, kedua Ibu kamu mengkhawatirkan mu" lirih Gabriel penuh penekanan. Hingga ia merasakan pergerakan jari jari kecil putranya, Gabriel yang menyadari itu langsung memanggil Dokter dengan panik.


Dokter meminta Gabriel keluar dari ruangan Micheal sementara Dokter dan Suster akan memeriksa keadaan Micheal.


Gabriel mengintip dari kaca kecil yang ada di pintu, ia memperhatikan Dokter yang saat ini sedang menangani Micheal. Gabriel menunggu dengan harap harap cemas, dalam hati ia terus berdoa agar putra nya selamat.


"Aku mohon, Tuhan. Jangan hukum putra ku atas kesalahan ku, dia tidak mengerti apa pun, masih begitu murni, jaga dia, aku mohon..."


.........


Sementara itu, Angeline tampak sangat marah pada Gabriel setelah mendengar jawaban Gabriel. Angeline merasa diri nya tidak di hargai sebagai Ibu Micheal dan itu membuat nya semakin membenci Firda, karena ia merasa Firda mencoba merebut posisi nya sebagai Ibu nya Micheal.


"Kamu kenapa lagi, Angel?" tanya Frank saat ia melihat Angeline yang tak memakan makanan nya dan hanya mengacak ngacak makanan itu dengan garpu nya.

__ADS_1


"Aku harus menjemput anak ku, Frank" tukas Angeline


"Jangan gila kamu, Angeline. Gabriel pasti akan membawa nya pulang nanti" ujar Frank.


"Tunggu..." Angeline tampak menyadari sesuatu "Kamu bilang Edward pergi ke desa Firda?" tanya nya pada Frank dan Frank hanya menganggukan kepala nya.


"Ya Tuhan, Frank. Itu artinya..." Angeline langsung beranjak berdiri dari tempat duduk nya dan raut wajah nya tampak panik "Itu artinya Gabriel dalam bahaya, dan jika Gabriel dalam bahaya maka Micheal bisa dalam bahaya juga" tukas nya dengan begitu cemas, ia teringat dengan kejadian terkahir kali saat Edward berhadapan dengan Gabriel. Para Mafia itu tidak segan mengangkat senjata bahkan jika mereka ayah dan anak sekalipun.


"Edward tidak mungkin mencelakai Micheal, Angel" kata Frank mencoba menenangkan Kakak perempuan nya itu.


"Tidak mungkin bagaimana? Edward itu monster, Frank" teriak Angeline.


"Aku tidak mau tahu, kita harus menyusul ke desa itu dan memastikan bahwa putra ku baik baik saja" tegas Angeline kemudian.


.........


"Terima kasih banyak, Dokter. Dia putra pertama kami, tolong lakukan yang terbaik untuk nya" ujar Gabriel kemudian.


"Insya Allah, Pak. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa, semoga Allah memberi jalan yang terbaik untuk kesembuhan Micheal" ujar sang Dokter.


Setelah Dokter pergi, Gio datang untuk memberi tahu soal Adrian yang masih hidup. Gabriel yang mendengar itu menjadi marah dan sangat tidak menyangka bagaimana bisa manusia biadab itu masih bernyawa.


"Kita harus membunuh nya, Gio" tegas Gabriel, dan perkataan Gabriel itu terdengar oleh Ummi Aisyah yang memang ingin mengunjungi Micheal ke ruangan nya.


"Apa yang kamu bicarakan, Gabriel?" seru Ummi Aisyah, ia melangkah cepat menghampiri Gabriel dan Gio yang berada di depan ruang rawat Michael.

__ADS_1


"Aku akan membunuh nya dengan tangan ku sendiri, Ummi" tegas Gabriel yakin "Dia melukai keluarga ku, aku tidak akan pernah memaafkan nya sampai kiamat pun..." seru nya lantang.


"Astagfirullah, istighfar, Nak" Ummi Aisyah berusaha berkata dengan lembut setelah melihat sorot kemarahan di mata Gabriel.


"Ummi, dia itu hampir membunuh Abi, Micheal dan Mini. Apa Ummi mau membiarkan manusia itu hidup setelah kejahatan yang dia lakukan? Memang nya Ummi tidak marah pada orang yang berusaha mencelakai keluarga kita?" tanya Gabriel.


"Nak, kita tidak bisa main hakim sendiri" Ummi Aisyah kembali melembutkan suara nya. Dan marah? Tentu saja Ummi Aisyah sangat marah, namun ia sadar kemarahan itu bagian dari nafsu dan harus bisa di kendalikan.


"Gabriel..." Ummi Aisyah menarik Gabriel agar duduk di kursi, berharap ia bisa sedikit lebih tenang, kemudian ia pun duduk di samping menantu nya itu "Kita bisa bawa masalah ini ke jalur hukum, jangan main hakim sendiri, Nak. Itu tidak baik, dan belajarlah mengendalikan amarah mu, karena amarah itu seperti percikan api yang jika tidak di kendalikan bisa membakar hidup mu"


"Tapi, Ummi. Pria itu ayah ku sendiri..." tegas Gabriel kemudian yang tentu saja membuat Gio dan Ummi Aisyah terkejut "Dia hidup hanya untuk menghancurkan hidup ku dan hidup keluarga ku, dia tidak pantas hidup di dunia ini" tegas Gabriel lagi. Ummi Aisyah hanya bisa tercengang, rasa nya ia tak bisa percaya bahwa Ayah Gabriel yang juga besan nya bisa sekeji itu.


"Aku harus membunuh nya untuk mengakhiri pertumpahan darah ini" seru nya lagi.


"Tidak" tegas Ummi Aisyah "Aku tidak mau menantu ku kembali melumuri tangan nya dengan darah apa lagi darah ayah nya sendiri"


"Ummi, kenapa Ummi tidak mengerti? Pria itu jahat, dia harus mati"


"Kalau begitu, mari kita tuntut dia dengan hukuman mati ke pengadilan" kata Ummi Aisyah yang membuat Gabriel menghela nafas panjang "Ayo lah, Gabriel. Coba kamu fikirkan baik baik, Nak. Kamu sedang dalam perjalanan hijrah, Nak. Jangan kembali ke belakang, jangan kembali pada dosa dosa itu" bujuk Ummi Aisyah.


"Apakah berdosa membunuh pendosa?" tanya Gabriel lagi.


"Kamu tidak punya hak mengambil nyawa seseorang hanya karena dendam dan amarah" tegas Ummi Aisyah "Ummi tahu, kamu masih marah, tapi coba nanti kamu fikirkan dengan kepala dingin, anak ku. Bagaimana bisa kamu hijrah, kalau kamu masih kalah pada amarah mu dan dendam mu"


"Lalu bagaimana jika dia tidak di hukum mati oleh pengadilan? Bagaimana kalau dia hanya di penjara dan kemudian kembali merencanakan hal jahat?"

__ADS_1


"Allah tidak tidur, Nak. Allah adil, jika dia lolos dari hukum pengadilan, Allah akan menghukum nya dengan cara yang lebih baik, yang tidak pernah kita bayangkan. Tapi keadilan dari Allah itu selalu pasti dan akan sangat setimpal"


"Berfikir lah kembali, anak ku. Sebagai Ibu, aku hanya bisa memberi mu saran, arahan, karena Ummi sangat sayang sama anak anak Ummi"


__ADS_2