
Ummi Aisyah terbangun dari tidur nya saat ia mendengar saudara gedoran pintu di luar, ia pun beranjak turun dari ranjang nya dan melihat jendela yg terbuka. Hari sudah malam dan begitu gelap, Di luar hujan begitu deras dan angin begitu kencang, Ummi Aisyah menutup jendela dengan tergesa gesa.
"Ya Allah... La hawla wala quwwataa illa billahi.." ia menggumam saat terdengar suara petir yg menyambar, bersamaan dengan itu suara gedoran di pintu nya terdengar lebih keras, membuat nya langsung tersentak.
"Ummi..." Aisyah langsung berlari keluar saat ia mendengar suara Firda yg bercampur dengan suara hujan dan petir.
Ia membuka pintu dan nafas nya seperti tercekat di tenggorokan nya saat melihat Firda berdiri di depan rumah nya dengan tubuh yg basah kuyup, kedinginan, wajah nya begitu pucat dan bibir nya bergetar. Namun yg membuat nya tercengang adalah pakaian Firda yg penuh dengan noda mereh. Membuat ibu nya ketakutan.
"Sayang, Nak... Ya Allah, Nak..." Ummi Aisyah langsung menarik tangan kiri Firda dan membawa nya masuk.
"Firda, kamu kenapa bisa ada di sini? Apa yg terjadi, Nak?" tanya ibu nya, ia mengambil sebuah kain yg tersampir di sofa dan langsung menutupi tubuh Firda dengan kain itu, namun sekali lagi ia tercengang saat melihat tangan kanan Firda memegang sebuah pisau yg berlumuran darah juga.
Ummi Aisyah langsung memekik kaget dan melangkah mundur, Ummi Aisyah menutup mulut nya dengan kedua tangan nya dan air mata langsung mengalir bebas di pipi nya. Sementara tangis Firda langsung pecah melihat reaksi ibu nya dan tubuh nya langsung meluruh ke lantai.
"Hiks... Hiks... Ummi... Hiks... Hiks..." Firda menunduk dalam, air mata nya bercampur dengan air hujan yg masih membasahi pipi nya.
"Maaf... Ummi... Maaf, hiks hiks..." Firda menangis histeris, seluruh tubuh nya bergetar karena kedinginan dan karena tangis nya yg semakin dan semakin menjadi.
Ummi Aisyah yg melihat itu menjadi tidak tega, ia mendekati Firda dengan perlahan. Ummi Aisyah berjongkok dan mencoba mengambil pisau yg ada di tangan Firda namun Firda tetap tak mau melepaskan pisau itu.
"Sayang..." ibu nya membujuk dengan lembut, namun Firda menggeleng dan tiba tiba ia menjatuhkan tubuh nya ke pelukan sang ibu, secara otomatis tangan ibu nya langsung memeluk Firda.
"Sayang, apa yg terjadi?" tanya Ummi Aisyah dengan suara yg bergetar, di luar sana hujan semakin lebat, angin semakin kencang dan petir menyambar dari segala arah.
"Firda..."
"Nak..."
Firda tak meresepon sedikitpun hingga tiba tiba pisau yg di pegang nya terjatuh dan tubuh nya lunglai seperti tak bertulang, membuat Aisyah panik dan ia langsung mengguncang tubuh Firda yg masih basah guyup.
"Firda..."
"Tidak, Firda..."
"Bangun..." teriak nya histeris apa lagi saat ia menyadari dada kanan Firda terbuka dan mengucurkan darah yg begitu deras. Mengalir hingga ke pangkuan Ummi Aisyah.
"Oh, Tidak..." teriak Ummi Aisyah dan mencoba menutupi luka di dada putri nya itu namun semua itu percuma, darah itu terus mengalir hingga kedua nya duduk di genangan darah Firda.
"TIDAK...."
"Aisyah..."
Abi Farhan langsung berlari menghampiri Ummi Aisyah yg berteriak dalam tidur nya, Ummi Aisyah terbangun dengan keringat di sejujur tubuh nya dan air mata yg membasahi wajah nya bahkan juga mukena yg ia kenakan.
Ia melihat sekeliling nya dan saat ini ia sedang berada dalam kamar nya, tertidur di atas sejadah nya setelah melaksanakan sholat tahajud.
"Ada apa?" tanya Abi Farhan cemas apa lagi melihat raut ketakutan di wajah sang istri.
"Firda, Mas. Firda..." seru Aisyah dengan suara yg bergetar ia mengelap wajah nya yg basah dengan ujung mukena nya "Dia terluka, Mas" imbuh nya dengan raut wajah yg semakin ketakutan.
__ADS_1
"Kamu pasti mimpi, Aisyah. Jangan terlalu di fikirkan, apapun itu, itu hanya mimpi..." ujar Abi Farhan menenangkan istrinya nya, ia merengkuh istrinya itu.
"Tapi, Mas. Itu terasa nyata..." ucap Ummi Aisyah lagi.
"Mungkin kamu hanya memikirkan dia, ya kan? Dia baik baik saja..."
"Aku mau telfon Firda, Mas. Aku mau memastikan dia baik baik saja" pinta Ummi Aisyah lagi sembari mendorong dada suami nya yg masih merengkuh nya.
"Dia kan lagi liburan, sebaiknya kita jangan menganggu nya dulu ya" bujuk Abi Farhan lagi.
"Tapi, Mas..."
"Aisyah, ini juga masih tengah malam" bujuk nya lagi, Ummi Aisyah langsung melirik jam dinding dan ia menghela nafas lesu. Ia memegang dada nya dimana jantung nya berdegup sangat kencang.
"Lindungi putri ku, cucu ku, dan menantu ku ya Allah"
.........
John menggeram marah saat melihat di kamar itu hanya ada jasad Hito yg di tutup dengan sebuah kain.
Ia mendekati jendela kaca yg sudah pecah, mereka pasti lari dari sana, fikir nya.
Terdengar suara deru mobil dan mereka pun berlari mengejar nya. Namun mobil itu melaju dengan sangat cepat dan John melarang anak buah nya menembaki mobil itu.
"Agh, sialan..." geram John.
Namun Gabriel harus memikirkan Firda, Micheal dan Mini yg bahkan sampai detik ini masih terus menangis sesegukan karena telah kehilangan satu satu nya orang yg dia miliki. Sementara Micheal juga menangis ketakutan dalam pelukan Firda, tanpa lelah sedikitpun Firda terus mencoba menenangkan anak tiri nya itu.
John dan anak buah nya mengejar Gabriel, membuat Firda dan Mini panik.
Gabriel menambah kecepatan mobil nya namun ia harus menginjak rem saat tiba tiba sebuah truk menghadang jalan nya.
Gabriel memukul setir dengan emosi, ia memperhatikan sekeliling nya untuk mencari celah melepaskan diri namun tak ada.
John tentu sangat mengenal Gabriel, sedikit saja ada celah, Gabriel takkan segan mengambil keputusan.
"Gabriel...." lirih Firda ketakutan.
"Ssshhtt, aku akan melindungi kalian" bisik Gabriel menguatkan istri nya itu.
John keluar dari mobil nya dengan tenang, ia menghampiri mobil Gabriel dan mengetuk kaca mobil nya.
"Keluar lah, aku tidak akan menyakiti kalian..." ujar John berseringai, namun tentu Gabriel takkan percaya dengan apa yg di katakan pria itu.
Mini dan Micheal semakin ketakutan, namun mereka hanya bisa menangis.
"Mom..." teriak Micheal tiba tiba sembari menunjuk ke arah kiri nya.
Firda dan Gabriel mengikuti kemana Micheal menunjuk dan mereka melihat Angeline dan Frank yg turun dari sebuah mobil.
__ADS_1
"Mommy...."
"Mommy...." Micheal memberontak di pelukan Firda dan ia menangis histeris, hal itu membuat perut Firda kembali terasa sakit.
"Gabriel..."
Angelina juga menggedor kaca mobil Gabriel sembari menangis "Kembalikan putra ku, ku mohon..."
"Tetap di mobil..." titah Gabriel pada Firda dan Mini "Jangan keluar apapun yg terjadi, jika ada kesempatan, pergi lah dari sini..."
"Tapi..."
"Sayang..." Gabriel membingkai wajah Firda dengan tangan nya, ia menghapus air mata Firda yg menyelinap di sudut mata nya.
"Sekarang, keselamatan anak anak kita ada di tangan mu" bisik Gabriel namun Firda menggeleng dan air mata kembali mengalir bebas dari sudut mata nya.
"Biar aku jelaskan satu hal..." kata Gabriel lagi "Kau benci kekerasan dan dunia kriminal, jika Micheal berada di tangan Angeline, maka itu sama saja berada di tangan kakek nya yg sangat terobsesi pada kekuatan kriminal ini" tukas Gabriel tergesa.
"Aku mohon, jauhkan anak anak ku dari dunia hitam ku..."
Gabriel langsung keluar dari mobil dan membiarkan Firda berbicara. Firda langsung memberikan Micheal pada Mini dan ia pun kini duduk di kemudi.
"Kembalikan putra ku..." teriak Angeline histeris sembari memukul dada Gabriel namun Gabriel menangkap tangan Angeline dan menatap nya tajam.
"Putra mu akan menjadi budak nya..." Gabriel berkata dengan begitu dingin sembari menunjuk John "Edward..."
John tidak terkejut, ia tahu Gabriel pasti sudah tahu tentang fakta ini. Sementara Angeline yg masih tidak mengerti apapun hanya bisa terus meminta putra nya.
"Sekarang kau tahu aku ayah mu, Son. Kalau begitu ayo kita pulang..." ajak Edward dengan enteng nya yg membuat Gabriel menggeram, dengan gerakan cepat ia mengambil pistol nya dan mengarahkan nya tepat di kepala Edward, tatapan Gabriel seperti tatapan singa lapar yg sedang marah.
Edward tidak takut, dia justru kembali berseringai, tentu karena kini anak buah nya mengarahkan senjata mereka pada mobil Gabriel, dimana di dalam nya ada orang orang yg Gabriel cintai.
"Mobil mu anti peluru, tapi bagaimana jika dengan 30 tembakan? 50? 100? Atau kita ledakan saja?" tanya Edward dengan senyum puas di bibir nya.
"Ah, aku takut, Daddy..." ujar Gabriel namun ia hanya berpura pura takut.
Di detik selanjut nya justru Gabriel lah yg berseringai saat semua anak buah Edward justru kini mengarahkan senjata mereka pada Edward.
Membuat Edward melotot, ia menatap anak buah nya dan Gabriel secara bergantian. Wajah nya tampak sangat marah dan ia mengepalkan tangan nya dengan kuat.
"Oh, jangan marah. Mereka bukan nya mengkhianati mu, mereka hanya sedang setia..." ujar Gabriel dan kini ia yg tersenyum penuh kepuasan.
"Jika kau lupa, kau hanya menantu di keluarga Emerson. My Mom is the real queen, and I'm the real king. And you..." Gabriel mengacungkan jari nya tepat di depan wajah Edward "You're nothing without us..."
Angeline dan Frank hanya bisa tercengang menyaksikan hal itu, Edward juga tak menyangka Gabriel bisa membalikkan keadaan hanya dengan semudah jentikan jari.
Gabriel menoleh pada Firda dan memberi isyrat untuk pergi.
Sontak hal itu membuat Micheal semakin histeris memanggil Mommy nya dan Angeline pun semakin marah pada Gabriel.
__ADS_1