Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 191 - Semua Punya Kesempatan Menjadi Baik


__ADS_3

Dua hari kemudian Mini sudah di perbolehkan pulang, dan Mini yang sebatang kara pun memilih untuk pulang ke Jakarta karena ia tidak mau terus terusan merepotkan keluarga Firda. Meskipun apa yang terjadi pada nya di karenakan masalah pribadi Gabriel, namun Mini sungguh tidak menyalahkan mereka sama sekali.


Dan hubungan nya dengan Gio benar benar canggung, apa lagi setelah Paman Ed melamar Mini secara langsung langsung meskipun hanya lewat telfon. Mini tahu paman Mafia itu hanya bercanda namun entah mengapa Mini benar benar menyimpan kata kata itu dalam hati nya. Seolah ia memang sedang di oleh Tuan besar untuk Tuan muda.


Dan saat ini, Mini di bantu Firda sedang mempersiapkan diri untuk pulang, apalagi mereka langsung akan melakukan penerbangan ke Jakarta bersama Gio. Sebenar nya Firda juga meminta Mini tinggal di rumah nya saja namun Mini tidak mau.


"Yang rawat kamu di rumah nanti siapa, Min?" tanya Firda cemas.


"Gampang, aku punya banyak teman kok di sana" kata Mini.


"Maaf ya, Min. Karena..."


"Aduh, udah dong minta maaf nya" kata Mini memasang wajah serius "justru aku senang datang ke desa dan tinggal sama keluarga mu, Fir. Aku jadi merasa punya keluarga lengkap, padahal selama ini aku hanya hidup berdua dengan Papa dan aku tidak pernah tahu rasa nya punya Kakek Nenek, Om Tante, saudara. Apalagi Papa dulu juga selalu sibuk bekerja jadi aku benar benar tidak tahu rasa nya punya keluarga" lirih Mini mengenang mendiang ayah nya.


"Pintu kami akan selalu terbuka lebar untuk mu kok, Min. Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami" kata Firda sambil memeluk Mini.


"Sekarang temui Abi dulu ya..." kata Firda lagi dan Mini mengangguk. Firda mendorong kursi roda Mini menuju ruang rawat Abi nya.


Sesampainya di sana, ternyata sudah ada Gio dan Gerry yang seperti nya juga berpamitan pada Abi Farhan dan pada yang lain nya. Mini kembali merasa canggung saat ia beradu pandang dengan Gio sesaat, sebelum akhir nya Gio kembali menatap Abi Farhan. Gio terkesan seperti menghindari tatapan Mini dan memikirkan itu membuat hati Mini tidak nyaman, seperti ada yang mengganjal.

__ADS_1


"Terima kasih ya, Gio" kata Abi Farhan "dan maaf juga kami merepotkan mu, padahal kamu pasti sibuk dan punya banyak pekerjaan ya di sana. Tapi kamu malah terjebak di desa kami dan merawat kami" tukas nya.


"Jangan berbicara begitu, Om. Aku benar benar senang karena bisa tinggal di desa ini, lain kali aku pasti akan datang lagi. Aku juga pasti akan merindukan masakan Tante Aisyah dan tante Aqilah, benar benar enak" kata Gio semangat.


"Tolong jaga Mini juga ya, Gio..." kata Abi Farhan tiba tiba yang tentu saja membuat pupil mata Gio langsung melebar, sementara sang gadis yang di titipkan tampak malu malu.


"Nanti aku akan suruh salah satu pelayan di rumah ku mengurus nya, Om. Jangan khawatir" kata Gio yang tentu saja membuat Mini langsung cemberut.


"Om Farhan jangan khawatir, aku bisa mengurus diri sendiri kok. Sudah terbiasa soal nya, apa lagi aku bukan Nyonya muda yang punya pelayan jadi aku tidak butuh pelayan" sambung Mini panjang lebar.


"Hem, kamu memang luar biasa, Min. Muda, berani, bertanggung jawab" puji Abi Farhan.


"Maaf ya, Gio. Kami tidak bisa mengantar mu" kata Firda


"Tidak apa apa, Firda. Gara gara ingin mengantar ku, kalian semua jadi berakhir di rumah sakit" kata Gio sambil terkekeh.


Setelah itu, mereka pun berpamitan dengan satu persatu anggota keluarga Firda. Dan lagi lagi mereka meminta maaf pada Gio, sampai membuat Gio justru merasa malu sendiri dan sungkan.


"Kalau anak mu lahir, nanti kabari aku ya" kata Gio pada Firda sebelum masuk ke dalam mobil, Firda dan Gabriel mengantar Gio sampai di depan rumah sakit, di sana sudah ada anak buah Gabriel yang menjemput Gio.

__ADS_1


"Memang nya kenapa? Mau adzani anak ku? Kamu kan pasti tidak tahu adzan" sungut Gabriel yang membuat Firda langsung mencubit pinggang nya.


"Nanti aku belajar, apa sih yang aku tidak bisa" balas Gio dengan percaya diri.


"Mendapatkan Firda" Jawab Gabriel tiba tiba yang tentu saja membuat Firda langsung memelototi suami tampan nya itu.


"Bukan jodoh, aku bisa apa" Gio berkata pasrah yang membuat Gabriel tersenyum puas.


"Kami pulang dulu ya, Fir.." seru Mini yang sudah ada dalam Mini, ia melambaikan tangan nya pada Firda dan Firda pun membalas nya.


"Sudah pulang semua.." gumam Firda sedih setelah mobil itu pergi.


"Bagus dong, jadi tidak ada pengganggu" kata Gabriel dengan enteng nya yang membuat Firda geleng geleng kepala.


...


Edward juga sudah di perbolehkan keluar dari rumah sakit oleh Dokter, walaupun kondisi nya tidak benar benar sehat namun Edward sudah di nyatakan bisa rawat jalan. Sedangkan polisi Abram benar benar sangat berambisi untuk menghukum Edward seberat berat nya, karena pria itu seperti sebuah teror bagi desa nya. Ya, bukan hanya bagi keluarga Firda tapi juga bagi desa nya. Edward telah berani menyelundupkan senjata api dan bahak peledak ke desa yang selama ini selalu adem, damai, tentram dan tidak pernah terjadi penyerangan sadis dan terang terangan di siang bolong seperti itu. Penyerangan itu menjadi topik hangat beberapa hari ini, karena itu hal yang hampir tidak pernah terjadi dan juga yang menjadi korban adalah keluarga terpandang yang memiliki cukup banyak santri.


Selama Edward di rawat di rumah sakit, Edward di jaga dengan begitu ketat, polisi Abram menjalankan apa yang di sarankan Gabriel yaitu menutup celah walaupun hanya sebesar lubang semut. Polisi Abram memakaikan gelang besi di kaki Edward dimana gelang itu berfungsi sebagai pendeteksi jika Edward melarikan diri, bahkan gelang itu juga bisa meledak jika Edward melangkah lebih dari 10 meter dari penjara. Mengerikan memang, sebuah hukuman yang tak pernah Edward bayangkan dan ia sungguh tidak bisa apa apa lagi sekarang.

__ADS_1


Ia bukan lagi Don Mafia, ia bukan lagi seorang bos atau bahkan ia bukan lagi seorang ayah atau pun teman. Dunia telah menghukum nya dengan mengambil semua yang pernah ia miliki.


__ADS_2