
Javeed sungguh merasa bingung kenapa gadis yang menunggangi kudanya keluar dari perlombaan. Javeed bahkan mengejar gadis itu karena ia sangat penasaran namun sayangnya gadis itu telah pergi di bawa dua pria lainnya.
Javeed ingin mencari tahu siapa gadis itu, namun ia mencoba menahan rasa penasaran nya karena yang ia inginkan sekarang adalah fokus pada kuliah nya dan membuka usaha untuk diri nya dan Mama nya.
"Tapi gadis itu memiliki mata yang sangat cantik" gumam Javeed saat ia mengingat mata Aira yang begitu tajam dan indah "Seperti sihir, seperti anak panah, dan... Ah, apa, Jav? Kenapa kamu memikirkan gadis asing itu?"
...... ...
Kediaman rumah Abi Rahman tak pernah sepi setelah kematian sang sesepuh, ada banyak orang dari berbagai kalangan yang datang setiap hari untuk melayat, mengucapkan bela sungkawa dan juga mendoakan nya.
Bahkan, beberapa kolega Amar Degazi pun juga datang setelah mengetahui bahwa kakek mertua sang CEO telah berpulang ke Rahmatullah. Teman teman Maryam, Afasan, Faraz dan yang lainnya juga datang. Terutama cucu cucu Abi Rahman, yang sangat sedih karena kehilangan sosok yang sangat mereka kagumi selama ini.
Jenazah Abi Rahman di sholati hampir oleh seluruh warga desa, bahkan dari desa sebelah pun juga datang. Acara pekaman pun di ikuti oleh banyak orang orang yang mengantar sang kiai dengan tangis sedih.
Gio, Mini dan Zachary pun tentu datang dan mereka tak kalah sedihnya. Mini bahkan menangis saat melihat jasad Kakek Rahman di masukan ke liang kubur, ia merasa begitu kehilangan meskipun dia tidak punya hubungan apapun dengan Kakek Rahman. Tapi Mini bisa merasakan kasih sayang seorang ayah, seorang kakek dan seorang guru dari nya. Sesuatu yang tidak bisa Mini dapatkan dari siapapun.
Sementara Aira, gadis remaja itu merasa sangat menyesal karena telah bersikeras pergi mengikuti lomba dan itu menyebabkan ia dan kedua kakaknya tidak bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama sang kakek.
Hari ke tujuh setelah meninggal nya sang kakek telah usai, namun seluruh keluarga besar itu masih berkumpul di sana untuk mengenang sang panutan dan juga untuk menguatkan Nenek mereka.
Saat ini, Aira sedang duduk merenung di kamar nya. Hampir setiap malam ia menangis, merasa bersalah pada sang kakek juga pada kedua kakaknya. Namun Aira tidak pernah memperlihatkan air mata nya itu di depan keluarga nya, ia tak mau keluarganya khawatir pada nya.
Di luar, Maryam menghampiri Firda yang sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga nya.
"Fir..." seru Maryam kemudian ia membantu Firda menyusun makanan di meja makan.
"Iya, Mbak?" tanya Firda lirih
"Sejak kematian Kakek, aku lihat Aira sangat berbeda, Fir. Kamu tidak tanya dia, dia kenapa atau apa?" tanya Maryam dan seketika Firda menghela nafas panjang kemudian mengangguk lemah.
"Aira memang lebih sering murung setelah kematian Kakek, Mbak. Aku, Bang Gabriel, Micheal dan Jibril sudah mencoba mendekati Aira dan menanyakan keadaan nya. Tapi dia cuma mengatakan tidak apa apa, terus pergi ke kamarnya" jawab Firda sedih.
__ADS_1
"Aku takutnya dia trauma dengan kamatian Kakek, Fir. Apalagi saat itu Aira dan kedua kakaknya tidak ada di rumah, dia pasti merasa bersalah" kata Maryam.
"Aku juga bingung, Mbak. Aku tidak tahu lagi harus menghibur Aira dengan cara seperti apa, karena dia hanya diam"
"Biar mbak yang bicara sama dia ya"
"Iya, Mbak. Sebagai psikolog, aku harap Mbak bisa membantu Aira keluar dari kesedihannya"
"In Shaa Allah, Fir. Karena dia masih kecil, jika di biarkan terus begini, itu tidak baik untuk mentalnya"
.........
Sementara itu, Gabriel saat ini sedang duduk dengan tiga pria yang hampir seumuran dengan nya. Dengan para ipar nya. Amar, Faraz, dan Rafa dan juga Khalid.
"Tanpa Kakek, aku seperti bingung mau melangkah kemana" kata Rafa sembari mengenang kakek nya.
"Pertemuan pertama ku dengan nya sangat berkesan, dulu aku memanggilnya Tuan dan dia meminta ku memanggil nya Kakek" sambung Amar.
Sementara Gabriel, pria itu hanya diam dan sama seperti Aira, ia sedikit berubah akhir akhir ini.
"Gab..." seru Khalid menepuk pundak Gabriel.
"Hm?" tanya Gabriel.
"Kamu kenapa diam terus dari tadi?" tanya Amar.
"Entahlah, rasanya masih tidak percaya aku kehilangan beliau. Satu satunya orang yang mau langsung menerima ku meskipun tahu seperti apa masa lalu ku. Apakah masih ada orang lain yang seperti itu di dunia ini?" ucap Gabriel.
"Pasti ada" jawab Amar.
"Dia juga memberikan restu nya pada ku untuk menikahi Maryam, padahal dia tahu aku sangat jauh dari kata baik saat itu"
__ADS_1
"Oh ya, bagaimana dengan Aira, Gabriel?" tanya Faraz kemudian "Setiap kali aku pulang kampung, aku selalu melihat Aira tampak ceria. Tapi sekarang sangat berbeda, aku hampir tidak pernah melihat nya"
"Dia memang selalu mengurung diri di kamarnya, keluar hanya untuk sekolah" jawab Gabriel.
...... ...
Maryam menghampiri Aira di kamarnya, gadis remaja itu terlihat sedang membaca sebuah buku dan matanya pun terlihat masih begitu sembab. Aira duduk di berselonjor di ranjang nya.
"Hey..." sapa Maryam dengan lembut dan Aira pun langsung mendongak.
"Tante Maryam, silahkan masuk" kata Aira mencoba tersenyum dan ia pun langsung duduk dengan sopan.
"Kamu kenapa di kamar terus, Aira? Padahal Akshara dan si kembar Eva tadi cariin kamu" kata Maryam kemudian ia duduk di samping Aira.
"Oh ya? Maaf, aku tadi ke asyikan baca buku" jawab Aira yang membuat Maryam tersenyum samar.
"Nak, kamu kenapa?" tanya Maryam kemudian dan Aira langsung tersenyum samar dan berkata.
"Tidak apa apa, Tante" jawab nya.
"Sayang..." Maryam mengelus kepala Aira yang terbungkus jilbab warna putih itu.
"Rasa sakit itu terkadang harus di akui, supaya kita bisa sedikit merasa lebih lega. Kalau kamu memang sedang sedih, tidak apa apa, akui bahwa kamu sedih, menangislah secukupnya. Percaya deh, setelah itu kamu akan merasa lebih baik" tukas Maryam dan Aira langsung menunduk sedih.
"Yang kehilangan Opa bukan cuma kamu, Sayang. Tapi kita semua, bahkan semua warga desa. Tapi kita tidak bisa terpuruk begini, itu tidak baik"
"Tante, sebenarnya Aira... Aira menyesal" lirih Aira dengan suara yang bergetar dan kini air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Menyesal kenapa?" tanya Maryam lembut.
"Aira pergi ke Jakarta karena...karena Aira ikut lomba, sampai Aira dan kakak tidak bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama Kakek" cicit Aira dan air mata tak bisa lagi di bendungnya.
__ADS_1
"Lomba apa, Aira?" tanya Firda yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu.