Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 187 - Broken Home Not Broken Kid


__ADS_3

Polisi yang bernama Abram, yang menangani kasus Gabriel di desa mendapatkan bukti kejahatan Edward yang di berikan langsung oleh Gabriel, tak hanya bukti kejahatan pada keluarga Gabriel namun juga bukti kejahatan yang lain yaitu melakukan penyelundupan senjata dan bahan peledak pada kiriman ikan ke desa dan juga penculikan pada Ayah Angeline.


Dan saat ini, Gabriel sedang ada di kantor polisi untuk menyerahkan secara langsung bukti bukti yang di miliki nya. Karena setelah polisi tahu ada penyelundupan, maka polisi pasti akan mencari tahu siapa sebenar nya Edward yang bisa melakukan penyelundupan dengan mudah. Apa lagi itu adalah senjata dan bahan peledak, sesuatu yang sangat jarang terjadi di sebuah desa. Dan kedatangan Gabriel juga untuk menjelaskan identitas diri nya dan Edward dengan harapan masalah ini cepat selesai.


Sementara polisi Abram mengecek barang barang bukti yang di berikan oleh Gabriel, ia tampak sangat serius dan alis nya mengkerut hingga menyatu.


"Kami memang mendapatkan laporan ada penyelundupan ke desa namun kehilangan jejak nya. Ini sangat jarang terjadi" kata polisi Abram kemudian ia mendongak dan menatap Gabriel yang duduk tegak di depan nya.


"Siapa kau? Siapa ayah mu?" tanya polisi itu sembari memperhatikan Gabriel baik baik "Luka tusukan di perut, hantaman batu di kepala, belum lagi memar memar di wajah mu karena pukulan seseorang, tapi kau tidak terlihat kesakitan..." Gabriel tersenyum tipis mendengar ucapan panjang lebar polisi Abram.


"Kami, maksud ku, aku... Aku dulu nya adalah seorang Don Mafia" kata Gabril yang membuat polisi Abram tampak sedikit terkejut, ia menaikan kedua alis nya namun masih tak menanggapi pengakuan Gabriel


"Tapi itu dulu, dan aku memang sudah terbiasa dengan luka luka ini. Bukan nya aku tidak merasa kesakitan, aku hanya menyembunyikan nya. Karena rasa sakit itu adalah sebuah kelemahan, dan kelemahan tidak boleh di pamerkan karena itu bisa menjadi kesempatan bagi orang lain" tukas nya yang membuat polisi Abram terkekeh. Ia melipat kedua tangan nya di atas meja dan sedikit memajukan tubuh nya, kedua mata nya menatap tepat di kedua mata Gabriel yang memang tidak pernah memperlihatkan ketakutan nya, tentu ketakutan akan kehilangan Firda adalah sebuah pengecualian karena jika sudah berhubungan dengan Firda, ia tak bisa mengendalikan diri.


"Aku pun memiliki pemikiran yang sama dengan mu, Don Gabriel" kata polisi Abram yang membuat Gabriel tersenyum simpul apa lagi dengan sebutan gelar nya itu, padahal ia sudah bukan lagi seorang Don tapi sepertinya panggilan itu akan tetap melekat pada nya.


"Polisi dan penjahat itu memang punya banyak kesamaan, satu satu nya perbedaan adalah cara kami memegang senjata. Polisi tidak boleh sembarang mengangkat senjata kecuali dalam keadaan mendesak sementara penjahat akan mengangkat senjata bahkan pada kerikil kecil yang ada di hadapan nya "


"Kau benar" kata Gabriel dengan santai nya.


"Jadi, kau adalah seorang penjahat, Don Gabriel?" dan Gabriel menganggukan kepala na "Kenapa kau mengakui nya? Bukankah kau bisa saja juga masuk penjara seperti ayah mu?"


"Itu juga sebuah perbedaan yang di miliki polisi dan penjahat, Pak Abram. Polisi tidak bisa menghukum tanpa bukti yang kuat, sementara penjahat bisa menghukum jika dia mau sekalipun hanya karena sebuah kecurigaan"


"Seperti nya tingkat kejahatan mu sudah sangat tinggi..."


"Aku tahu dan karena itulah aku mohon doakan aku, semoga Allah menerima taubat ku" sontak polisi Abram tergelak mendengar jawaban Gabriel, bukan karena apa melainkan karena jawaban Gabriel yang menurut nya begitu unik untuk jawaban seorang penjahat pada polisi.


"Aku akan membuat surat resmi penangkapan pada Edward, tapi dia akan di adili di Jakarta. Bukti bukti ini sudah cukup kuat dan dia bisa di jerat dengan pasal berlapis"


"Itu yang kami harapkan" kata Gabriel kemudian beranjak berdiri "Terima kasih banyak atas bantuan nya, pak Abram" Gabriel mengulurkan tangan nya dan polisi Abram pun menyambut nya. Polisi dan mantan penjahat itu kini berjabat dengan senyum di bibir mereka.


Gabriel pun melangkah keluar dari ruangan polisi Abram, namun sebelum ia membuka pintu, polisi Abram kembali memanggil nya.

__ADS_1


"Don Gabriel..." Gabriel langsung menoleh "Semoga Allah menerima taubat mu, kau berada di keluarga yang tepat sekarang" ucap polisi Abram yang membuat Gabriel tersenyum simpul sebelum akhir nya melenggang pergi.


Setelah itu, polisi Abram langsung bertindak cepat bersama anak buah nya untuk menangkap Edward dan menjadikan nya tahanan. Bahkan dengan semua bukti bukti yang di miliki nya, pengadilan tidak akan berlarut larut dan pasti akan langsung menjatuhkan hukuman pada ayah mantan Don Mafia itu.


...


Keesokan hari nya, Angeline mendatangi Gabriel dan Firda untuk memberi tahu niat nya yang ingin segera pulang ke Jakarta dengan membawa Micheal.


"Kondisi nya masih tidak baik baik saja, Angel" tukas Gabriel setelah mendengar keinginan Angeline.


"Aku mohon, Gab. Aku akan membawa dia kerumah sakit terbaik di Jakarta. Kasihan juga Daddy sendirian" ucap Angeline memohon.


Gabriel menatap Firda yang sejak tadi hanya diam saja karena Firda merasa tidak berhak ikut campur urusan yang satu ini.


"Menurut mu bagaimana, Sayang?" tanya Gabriel yang membuat Firda langsung menaikan sebelah alis nya. Padahal sejak tadi ia sudah mencoba menghindari ada di antara mereka tapi Gabriel malah bertanya pada nya.


"Apa nya?" tanya Firda pura pura tidak mengerti.


"Micheal, Angel ingin pulang ke Jakarta dan membawa Micheal" jawab Gabriel.


"Baiklah, Angel, kita tanyakan saja pada Micheal sendiri" kata Gabriel.


Mereka pun pergi ke ruang rawat Abi Farhan karena Micheal lagi lagi ada di sana.


"Mommy Mommy, Kenda sudah bisa bicara" seru Micheal yang masih duduk di atas kursi roda, ia memutar kursi roda nya hingga menghadap orang tua nya yang baru masuk ruangan itu


"Kata nya nanti kalau Kenda pulang, Kenda akan mengajak Mickey berenang di sungai, Mickey tidak pernah mandi di sungai, pasti seru" tutur nya yang membuat hati Angeline terenyuh. Selama ini, Mickey tidak pernah terlihat sebahagia seperti saat berada di tengah keluarga Firda. Anak itu terlihat begitu ceria dan seperti bebas, semua orang memanjakan nya dan menghabiskan banyak waktu untuk nya.


"Wah, Kenda baik ya..." kata Angeline "Tapi kenapa Mickey memanggil Kenda dan Nenda ya?" tanya Angeline yang memang tidak mengerti arti panggilan itu.


"Nenda itu Nenek muda, Kenda Kakek muda. Begitu kata nya" kata Mickey yang membuat Angeline tertawa kecil. Kemudian Gabriel menghampiri Mickey, ia berlutut di depan putra nya itu hingga kini wajah kedua nya sejajar.


"Oh ya, Mickey mau pulang ke Jakarta bersama Mommy?" tanya Gabriel hati hati sambil membelai kepala Gabriel.

__ADS_1


"Pulang ke Jakarta?" tanya Micheal dan wajah nya langsung cemberut, ia menatap ayah nya dan kedua Ibu nya bergantian "Kenapa kita tidak tinggal di sini saja, Mommy? Di sini seru, Mickey suka di sini..." rengek nya.


"Sayang..." Angeline juga berlutut di depan putra nya "Mommy harus bekerja di Jakarta, sebentar lagi Mickey juga harus sekolah kan?" tanya nya lembut.


"Di sini juga ada sekolah, banyak anak anak" jawab Micheal yang membuat Angeline langsung menoleh pada Gabriel.


"Kalau begitu, biarkan saja Mommy yang akan pulang sendiri..." ujar Angeline kemudian seolah mengancam yant tentu saja membuat anak itu dilema.


"Kalau begitu, pulang nya sama Daddy juga ya..." seru Micheal sambil menatap Daddy nya memohon.


Semua yang ada di ruangan itu pun terdiam dan saling melirik "Ya Daddy, Daddy ikut pulang ya..." rengek Micheal lagi.


Lagi lagi Gabriel langsung menoleh pada Firda dan lagi lagi Angeline merasa cemburu, karena seperti nya Gabriel akan selalu membutuhkan pedapat Firda dalam segala hal.


"Menurut mu Bagaiamana, Firda?" tanya Angeline tiba tiba yang membuat Firda terkejut.


"Iya, Sayang. Bagaiman menjelaskan nya?" Gabriel ikutan bertanya yang membuat Firda langsung garuk garuk kepala.


"Mommy Cantik juga ikut pulang ya..." rengek Micheal yang kembali membuat semua orang terhenyak.


"Bocah ini nyuruh bapak nya poligami apa?" gumam Ummi Aisyah cemberut, gumaman itu di dengar oleh Abi Farhan yang membuat nya terkekeh.


"Mickey..." panggil Abi Farhan dengan lembut.


"Ya, Kenda?" tanya Mickey dan kembali memutar kursi roda nya hingga menatap Kenda nya.


"Mickey, Daddy belum bisa ikut pulang. Karena Kenda kan lagi sakit, terus Mommy Cantik tidak boleh naik pesawat, nanti adik bayi nya terguncang. Jadi, Bagaiamana kalau Mickey pulang duluan sama Mommy? Nanti, kalau Mickey sudah baikan, Mickey sama Mommy bisa liburan ke sini. Bagaiamana?" Micheal melirik ke atas sambil mengetuk ngetukan jari nya di dagu nya seolah ia sedang berfikir keras.


"Mickey kan sayang Mommy, jadi Mickey untuk sementara tinggal dulu sama Mommy ya. Kalau mickey kangen Daddy, nanti Daddy ke Jakarta atau Mickey bisa liburan ke desa. Ajak Grandpa nya Mickey juga boleh" rayu Abi Farhan.


"Ajak teman teman, boleh?" tanya Micheal.


"Boleh dong" jawab Abi Farhan dan Micheal mangut mangut seperti orang dewasa yang sedang membicarakan hal yang serius.

__ADS_1


"Hem ya sudah, boleh. Tawaran yang bagus, Kenda" ucap nya kemudian yang membuat semua orang tertawa, suasa yang tadi tampak tegang karena pertanyaan Micheal langsung hilang seketika.


Gabriel pun menatap Angeline dengan tatapan bersahabat "Aku tahu rumah tangga kita sudah berakhir, tapi bukan berarti berakhir juga hak Micheal untuk mendapatkan orang tua yang sempurna, Angel. Kita memang tidak bisa tinggal bersama tapi kita harus tetap bersama dalam membesarkan Micheal dan mendidik nya" kata Gabriel setengah berbisik, Angeline hanya bisa menanggapi nya dengan senyum. Karena semua yang terjadi memang karena keputusan nya yang begitu pengecut.


__ADS_2