
Sambil duduk di tepi ranjang, Gio mengisi senjata nya dengan peluru dan ia kemudian menodongkan senjata itu ke kepala nya sendiri.
Gio memejamkan mata dan seketika ia seolah melihat diri nya sendiri dimana saat itu ia hanyalah anak kecil yg berusia 8 tahun. Baru bangun dari tidur nya dan keluar dari kamar untuk mencari keluarga nya dan mengucapkan selamat pagi. Namun apa yg ia lihat sungguh sangat mengerikan.
Tubuh sang ayah, ibu dan kakak lelaki nya tergeletak di lantai dengan bersimbah darah yg menyebarkan bau amis yg menusuk indera penciuman Gio kecil.
Gio langsung kembali membuka mata nya dan menurunkan senjata nya, tatapan nya begitu tajam dan nafas nya memburu berat.
"Bodoh sekali kamu, Firda..." desis Gio tajam "Kenapa kamu tidak pergi? Kenapa kamu bertahan di sisi seorang monster? Kamu menggali kuburan mu sendiri"
.........
Gabriel menggeliat dan kemudian perlahan ia membuka mata nya, Gabriel meraba raba sisi nya dan ia langsung membuka mata lebar lebar saat mendapati Firda tak ada di sisi nya. Pandangan Gabriel langsung menyusuri kamar yg di terangi cahaya remang remang dari lampu tidur, horden kamar nya yg tadi terbuka lebar kini tertutup rapat.
Rupa nya hari sudah malam dan gelap, Gabriel langsung melompat turun dari ranjang nya sambil meneriakan nama Firda. Gabriel bahkan masih tidak memakai baju dan ia hanya mengenakan celana hitam panjang.
Firda nya pergi, dia pergi saat ia sedang tertidur, sama seperti yg di lakukan ibu nya dulu.
Firda pergi saat mengetahui identitas Gabriel, sama seperti Angeline dulu.
Tapi Gabriel tidak mau, dia tidak mau Firda pergi.
Firda tidak boleh pergi...
"Firda..." Gabriel kembali berteriak sambil membuka pintu kamar nya dan ia melihat semua lampu rumah nya sudah menyala dan memancarkan cahaya yg terang benderang.
"Firda..." Gabriel kembali memanggil nama milik seseorang yg paling berarti bagi nya.
"Tuan Emerson, ada apa?" tanya seorang kepala pelayan nya yg segera datang saat mendengar teriakan Gabriel.
"Dimana istri ku?" tanya Gabriel panik.
"Saya tidak tahu, Tuan. Saya tidak melihat Nyonya Emerson keluar dari kamar" jawab pelayan itu.
"Jangan berbohong!!!" teriak Gabriel menatap pelayan itu tajam, membuat pelayan nya langsung tampak ketakutan.
"Tidak, Tuan. Saya bersumpah saya tidak melihat Nyonya Emerson keluar dari kamar" jawab nya dengan yg suara yg gemetar.
"Cari istri ku..." titah Gabriel lagi.
__ADS_1
"Ba.. Baik, Tuan..." jawab nya dan ia berfikir tuan nya itu akan kembali ke kamar nya, namun nyata nya Gabriel malah berjalan menuruni anak tangga, tak perduli dengan luka di pinggang nya yg kini kembali berdarah.
"Gio..."
"Gio...!!!" teriak Gabriel dan Gio pun langsung datang menghadap nya. Gio bersikap seperti biasa, sebagaimana layaknya ajudan yg begitu setia dan patuh.
"Ya, Don Gabriel?"
"Cari Firda, cepat!!!!" titah Gabriel yg membuat Gio mengernyit bingung.
"Tapi Nyonya Firda berada di kamar anda, Don Gabriel. Nyonya Firda tidak terlihat keluar dari kamar anda sekalipun" jawab Gio sejujur nya karena ia juga memperhatikan cctv sejak tadi.
"Tapi dia tidak ada di kamar, Gio..." geram Gabriel dan ia tampak cemas sekaligus marah, membuat Gio menyunggingkan senyum sinis nya secara samar.
"Sungguh tidak aku duga, Gabriel Emerson. Gadis kecil seperti Firda seperti nya lebih berarti dari nyawa mu bagi mu"
"Periksa semua cctv, Gio. Aku yakin Firda pasti keluar dari rumah ini, dia tidak ada di kamar dan yg paling penting, periksa cctv di luar gerbang" titah nya penuh kecemasan.
"Don Gabriel, sejak tadi aku mengawasi cctv dan Nyonya Firda tidak keluar dari kamar mu. Mungkin dia sedang di kamar mandi..." tukas Gio kemudian yg membuat mata Gabriel melebar. Ia baru berfikir kesana.
Gabriel pun langsung kembali ke kamar nya dengan tergesa gesa, dan pergerakan nya yg sangat tidak hati hati itu benar benar membuat luka di pinggang nya kembali berdarah semakin banyak.
"Pergi ke dunia yg berbeda..." batin nya berderu di iringi senyum puas nya.
.........
Sesampainya di kamarnya, Gabriel langsung membuka pintu kamar mandi dan ia melihat Firda yg seperti nya baru saja selesai buang hajat.
Firda yg melihat Gabriel tiba tiba masuk ke kamar mandi langsung terpekik kaget dan ia langsung menaikkan celana piyamanya.
"Ada Apa?" tanya Firda antara kaget dan panik.
Gabriel langsung berlari menghampiri Firda tanpa menjawab pertanyaan Firda, Gabriel bahkan langsung memeluk Firda dengan sangat erat. Membuat Firda hanya bisa melongo dan mematung. Gabriel masih memeluk Firda selama beberapa saat dan ia mencium kepala Firda berkali kali. Sementara Firda hanya bisa tercengang.
"Aku fikir kamu pergi..." bisik Gabriel kemudian yg membuat Firda langsung kembali dari alam bawah sadarnya. Ia pun berusaha mendorong Gabriel supaya menjauh darinya.
"Tunggu dulu, aku mau cuci tangan..." ucap Firda namun Gabriel tak menghiraukan nya dan malah semakin erat memeluk Firda. Membuat Firda bahkan merasa kesulitan bernafas.
"Aku fikir kamu pergi...." Gabriel kembali menggumam lirih yg membuat hati Firda terenyuh. Firda bahkan bisa merasakan dada Gabriel yg berdebar dan nafas nya yg memburu.
__ADS_1
"Aku tidak pergi..." ucap Firda kemudian dengan lembut, membuat Gabriel menghela nafas lega dan ia kembali melemaskan otot otot nya yg sempat tegang karena mengira Firda meninggalkan nya.
"Aku cuci tangan dulu, dan setelah ini kita harus makan malam, ya..." Firda kembali berkata dengan lembut sambil melerai pelukan nya dengan sang suami yg seharian ini menunjukkan sisi nya yg sangat berbeda dari biasa nya. Bahkan Firda sempat berfikir seperti nya Gabriel hanya bercanda saat mengatakan ia seorang Don Mafia. Karena Gabriel saat ini tidak lebih seperti seorang anak anak yg takut di tinggal ibu nya ke pasar.
Firda mencuci kedua tangan nya menggunakan sabun, sementara Gabriel berdiri di samping nya dan terus memandangi Firda, seolah ia takut Firda menghilang jika ia mengalihkan perhatian nya.
Setelah itu, Firda membawa Gabriel ke kamar nya dan ia baru menyadari kalau luka di pinggang Gabriel kembali berdarah. Membuat Firda panik.
"Ada apa? Kenapa berdarah lagi?" tanya Firda cemas.
"Tidak tahu" jawab Gabriel lirih, karena ia memang tidak tahu kapan dan kenapa luka itu kembali berdarah.
"Bagaiamana bisa tidak tahu? Kamu kan bukan bayi" gerutu Firda dan ia pun langsung menghubungi Dokter dari telpon yg ada di kamar nya.
"Jangan cemas, ini hanya berdarah" ucap Gabriel saat melihat Firda tampak sangat cemas.
"Aku lapar" ucap nya kemudian yg membuat Firda melongo.
Ia sedang cemas karena luka suami nya dan suami nya itu malah lapar?
Firda pun menghubungi pelayan nya dan meminta nya mengantarkan makan malam mereka ke kamar..
Sambil menunggu Dokter, Firda meminta Gabriel berbaring di ranjang dan tidak boleh bergerak. Gabriel dengan begitu baik nya sangat patuh pada Firda.
Tak lama kemudian pelayan datang dan mengantarkan makan malam, Firda pun duduk di samping suami nya dan menyuapi nya. Tentu membuat Gabriel makan dengan sangat lahap.
"Kenapa bisa berdarah lagi? Memang nya kamu jatuh?" tanya Firda dan Gabriel menggeleng.
"Terus kenapa? Kamu lari?" tanya Firda lagi penasaran dan Gabriel langsung mengangguk, membuat kening Firda langsung mengkerut dalam.
"Lari dimana? Kenapa?" tanya Firda heran.
"Di rumah, aku fikir... Aku fikir kamu pergi meninggalkan ku, jadi aku.. Aku pergi berlari keluar untuk mencari mu" cicit Gabriel yg membuat Firda meringis sekaligus takjub dengan perubahan sikap Gabriel yg benar benar menunjukkan sisi nya yg sangat berbeda.
Ajaib.
"Aku itu orang yg selalu menepati janji, kalau aku janji tidak akan pergi ya memang itu yg akan aku lakukan. Ummi selalu bilang, janji itu hutang sampai kapan pun" tegas Firda kesal dengan kekonyolan suami nya. Sementara Gabriel malah tersenyum cengengesan dan kembali membuka mulut lebar lebar, Firda pun kembali menyuapi nya sampai makanan Gabriel habis.
Tepat setelah mereka selesai makan, Dokter pribadi Gabriel datang dan langsung kembali mengobati Gabriel dan juga mengganti perban nya begitu juga dengan perban Firda.
__ADS_1
Dokter itu kembali mengingatkan Gabriel agar tidak terlalu banyak bergerak atau luka nya tidak akan mengering karena jahitan nya bisa terbuka lagi dan lagi.