Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 223 -Mencintai Sang Pengirim Lentera


__ADS_3

"Suka?" tanya Go pada Mini yang saat ini sedang mencoba cincin berlian yang di berikan oleh Gio.


"Suka sih" jawab Mini yang membuat Gio langsung menatap Mini dengan heran.


"Sih?" tanya Gio "Suka apa tidak? Kanapa masih ada kata sih?" tanya Gio dengan dahi berkerut dalam.


"Ya soalnya cincin nya terlalu besar, terlalu mencolok kalau di pakai sehari hari. Ini mah cuma bisa di buat kondangan saja" gerutu Mini.


"Kamarin aku ajak kamu beli bersama kamu tidak mau, sekarang aku beli sendiri dan ternyata tidak cocok sama kamu, jadi mau apa, Mini?" tanya Gio kesal "Padahal itu sudah yang paling bagus dan paling mahal"


"Ya masak untuk beli cincin lamaran aku harus ikut? Cincin lamaran itu yang di persiapkan sama yang melamar, Gio. Yang beli bersama itu ya cincin pernikahan" gerutu Mini.


"Ya sudah, kalau gitu ayo kita beli cincin pernikahan biar langsung nikah juga"


"Astaga, bocah ini...." geram Mini "Mentang mentang mentang aku tidak punya wali ya jadi seenak nya"


"Ya justru karena kamu tidak punya wali itu, tidak ribet. Biar langsung aku urus semua nya"


"Lagian kita itu masih terlalu muda untuk menikah"


"Aku rasa syarat menikah bukan harus tua, yang penting tahu cara saling melengkapi dan tahu cara membangun rumah tangga. Meskipun usia kita masih muda juga, yang penting kan kita juga tahu cara membuat anak" kata Gio panjang lebar yang membuat Mini meringis.


"Punya calon suami kok absurd banget..."

__ADS_1


....


Semetara di kediaman Firda...


Keadaan Firda kini jauh lebih baik setelah meminum obat dari Dokter, kepala nya sudah tidak sakit lagi dan demam nya juga sudah turun apa lagi Gabriel terus mengkompres nya semalaman.


"Sudah sehat, Sayang?" tanya Gabriel sembari merapikan rambut Firda yang berantakan di sekitar wajah nya.


"Sudah" jawab Firda meskipun ia masih merasa lemas.


"Syukurlah, aku benar benar khawatir sama kamu" lirih Gabriel.


"Demam itu hal biasa, Bang" tukas Firda


"Iya, tapi kalau kamu yang demam itu tidak biasa lagi. Aku jadi takut" lirih Gabriel lagi dengan suara rendah. Firda memandang wajah suami nya itu lekat lekat, Gabriel terlalu bergantung pada nya dan Firda merasa Gabriel terlalu mencintai nya dengan sangat berlebihan. Walaupun sebenar nya Firda merasa sangat senang akan hal itu, namun mencintai atau membenci berlebihan itu sangat tidak baik.


"Jangan bicara begitu, Firda. Aku tidak mau kamu meninggal duluan, aku harus apa kalau kamu tidak ada lagi" ucap Gabriel.


"Aku kan bilang misal nya, Bang. Dan aku tahu kamu sangat mencintai ku, Bang Gabriel. Tapi cinta yang berlebihan kepada sesama makhluk itu tidak baik, karena makhluk itu tidak akan abadi dan tidak akan selalu sama. Jadi, belajar lah mencintai Khaliq, yang menciptakan makhluk. Yaitu Allah, Tuhan kita . Kalau Bang Gabriel sibuk mencintai Makhluk melebihi cinta pada Khaliq, itu tidak akan baik, hanya akan menimbulkan rasa sakit"


"Jadi, apa aku tidak boleh sangat mencintai mu?" lirih Gabriel.


"Tentu saja boleh, asal tidak lebih besar dari cinta mu pada Tuhan. Cintai istri mu karena Allah, Bang. Supaya Allah Ridho dengan cinta mu" Gabriel terdiam mendengar ucapan Firda yang bagi nya memiliki makna yang dalam.

__ADS_1


"Iya, Sayang...." kata Gabriel kemudian sambil tersenyum, ia mengecup kening istri nya itu "Sekarang istirahat lah" Firda hanya mengangguk dan merebahkan diri nya ke ranjang. Sementara Gabriel pergi untuk mencari Jibril yang sejak tadi di bawa oleh Ibu mertua nya.


Gabriel melihat Ummi Aisyah yang sedang berjalan sambil mengbrol dengan tetangga mereka yang juga sedang menggendong bayi. Sementara Abi Farhan ada duduk di sebuah kursi yang ada di halaman rumah mereka, Abi Farhan membaca sebuah kitab yang berukuran cukup besar.


"Ada apa, Gab?" tanya Abi Farhan yang melihat Gabriel terus memperhatikan Ummi Aisyah.


"Tadi nya mau panggil Ummi, siapa tahu Jibril mau nyusu lagi. Tapi Jibril keliahatan anteng sama Ummi" jawab Gabriel sembari menarik kursi yang ada di hadapan Abi Farhan dan ia mendarat kan bokong nya di sana.


"Hem, seperti nya Jibril tidur. Oh ya, bagaimana keadaan Firda?" tanya Abi Farhan sementara tatapan nya tetap fokus pada kitab yang ia baca.


"Lebih baik, demam nya juga sudah turun" jawab Gabriel.


"Lain kali, kalau cuma demam jangan heboh. Apa lagi di rumah ini ada Kakek Nenek yang sudah tua dan tidak baik kalau di buat terkejut"


"Iya sih, Bi. Sebenar nya bukan maksud ku bikin heboh keluarga, cuma kalau Firda sakit entah kenapa aku benar benar panik. Aku takut terjadi sesuatu sama dia" kata Gabriel lagi. Abi Farhan pun menutup kitab nya dan meletakkan nya di atas meja, kemudian ia menatap Gabriel dan bertanya.


"Seberapa besar kamu mencintai Firda?"


"Sangat besar sampai aku sendiri tidak tahu seberapa besar" jawab Gabriel yakin.


"Jadi kamu sangat takut kehilangan nya ya?" tanya Abi Farhan lagi.


"Sangat, Bi" jawab Gabriel "Abi bayangkan saja bagaimana jika jadi aku, hidup dalam dunia kegelapan, tidak punya arah hidup yang baik kemudian datang sebuah lentera yang menyinari hidup, menunjukan jalan. Tentu aku tak mau kehilangan lentera itu atau hidup ku akan kembali gelap dan tak terarah lagi"

__ADS_1


"Abi faham, Nak" Jawab Abi Farhan "Tapi, cintai lah yang mengirimkan lentera pada mu melebihi cinta mu pada lentera mu yaitu Allah. Dengan begitu, meskipun lentera padam atau pergi, Allah akan mengirimkan lentera yang lain"


"Ya, Firda tadi juga mengatakan hal yang sama"


__ADS_2