
Morning sickness adalah sesuatu yg pasti di alami oleh sebagian besar wanita yg sedang hamil muda, begitu juga dengan yg di alami Firda.
Mual bahkan muntah membuat ia merasa tak ingin makan lagi dan akan membiarkan perut nya kosong, apa lagi setelah kemarin ia dan juga Gabriel mendatangi beberapa panti asuhan dan membagikan sembako, tentu juga bersama Gio.
Hari ini Firda hanya ingin di rumah saja, ingin beristirahat.
"Nak, Nak... Belum jadi anak saja kamu sudah menyiksa bunda begini, tumbuh yg kuat dan cepat ya, Sayang" kata Firda sambil mengelus perut nya.
Ia baru saja naik ke atas ranjang nya dan merebahkan diri namun lagi lagi ia merasa mual, saat Firda hendak turun, Tiba tiba Gabriel datang dan melarang nya turun. Gabriel datang dengan membawa baskom di tangannya dan botol yg berisi air minum.
"Sayang, jangan ke kamar mandi terus, muntah di sini saja" kata Gabriel kemudian ia memegang baskom di depan Firda, membuat Firda terkekeh geli.
"Ayo, Sayang. Kok malah diam? Mau muntah lagi kan?" tanya Gabriel lagi tapi Firda malah menggeleng.
"Aku cuma mual, mau istirahat saja" kata Firda kemudian ia merebahkan diri nya.
Gabriel pun meletakkan baskom dan botol nya di atas meja, Gabriel merasa kasihan dengan Firda yg terus bolak balik ke kamar mandi karena mual, karena itulah Gabriel berinisiatif membawa Baskom untuk istri nya itu.
"Kamu pasti kelelahan karena kemarin, kan Dokter sudah bilang supaya kamu istirahat total, kandungan kamu lemah, Fir" tukas Gabriel sembari menyelimuti Firda. Firda tersenyum senang mendapatkan perhatian dari suami nya itu.
"Iya, setelah ini aku akan istirahat total" jawab Firda "Temani..." rengek nya kemudian, Gabriel melirik jam yg menunjukan pukul 10 lewat. Tadi nya Gabriel hendak ke kantor siang ini, namun permintaan istri nya tidak mungkin Gabriel tolak.
Gabriel pun naik ke atas ranjang, ia berbaring menyamping menghadap istri nya.
"Sayang, terima kasih ya" kata Gabriel lirih.
"Terima kasih kenapa?" tanya Firda sambil menjalankan jari jari mungil nya di rahang sang suami, mengusap lembut bulu bulu halus yg tumbuh di sana. Membuat Gabriel merinding.
"Karena kamu selalu memberikan kesempatan untuk ku setelah semua yg aku lakukan sama kamu" kata Gabriel.
"Terima kasih, kamu tetap mau menerima ku meskipun tahu aku bukan pria baik. Terima kasih karena kamu sudah menerima ku padahal kamu aku yg seorang duda sangat tidak pantas untuk gadis seperti daun muda seperti mu"
Firda langsung tertawa geli mendengar ucapan terkahir suami nya.
"Ya sih, aku hidup di keluarga yg religious, eh dapat suami preman. Aku masih gadis muda, eh dapat duren beranak satu" ujar Firda.
"Duren? Dapat duren dimana?" tanya Gabriel yg membuat Firda mendengus, seperti biasa ia tak memahami bahasa Firda seperti nya.
"Duren itu singkatan dari Duda Keren" tukas Firda yg membuat gelak tawa Gabriel pecah.
__ADS_1
"Daun muda nya Duren, keren juga bahasa tersirat itu" kata Gabriel yg kembali membuat Firda tertawa geli.
"Oh ya, aku boleh tanya?" tanya Firda dan kini ia memasang wajah serius nya.
"Mau tanya apa, Sayang?" tanya Gabriel.
"Kamu sudah tahu latar belakang keluarga Gio?" kening Gabriel langsung mengkerut mendengar pertanyaan itu.
"Kenapa tiba tiba tanya begitu, Sayang?" tanya Gabriel heran.
"Ya ingin tahu saja" jawab Firda.
"Siapapun sebelum bergabung dengan kami, akan kami cari tahu dulu latar belakang dia. Begitu juga dengan Gio, dia bersih, keluarga nya meninggal dalam kebakaran dan dia sebatang kara" tutur Gabriel.
Kening Firda yg kini berkerut karena memikirkan hal itu.
"Kenapa? Apa Gio melakukan sesuatu yg mencurigakan??" tanya Gabriel dan kini ia menampilkan ekspresi nya yg sangat berbeda. Kini ia seperti pemburu yg sedang waspada.
"Bukan, cuma nanya. Sejauh ini Gio sangat baik kok" kata Firda sambil tersenyum lebar.
"Katakan jika ada yg mencurigakan, dalam hal sekecil apapun" perintah Gabriel dan Firda hanya menganggukan kepala nya.
Firda yg tadi tertidur kini terbangun saat ponsel nya berdering, Firda meraba raba ponsel nya itu dan ia melihat satu panggilan tak terjawab dari Abi nya.
Firda pun menelpon balik Abi nya dan memberi tahu Abi nya bahwa ia baru bangun tidur dan sekarang ingin sholat dzuhur dulu, baru setelah itu ia akan kembali menelepon Abi nya.
Firda memperhatikan sekeliling nya dan ia tidak mendapati Gabriel di sisi nya.
"Kerja kali ya" gumam Firda.
Firda pun langsung bergegas mengambil wudhu dan kemudian melaksanakan sholat, dan sesaat setelah ia selesai melaksanakan sholat, tiba tiba pintu kamar nya terbuka. Firda menoleh karena ia mengira itu suami nya.
"Gab...." ucapan Firda terpotong karena yg datang orang lain.
"John?" kata Firda berbisik, ia sangat terkejut dengan kedatangan John yg tiba tiba ke kamar nya. Kini Firda merasa begitu was was, Firda takut pada pria yg kini berjalan mendekati nya itu.
"Gio..." teriak Firda panik namun John langsung mengeluarkan senjata nya, membuat Firda langsung bungkam. Keringat dingin bahkan sudah memabasahi kening nya.
"Sshhttttt..."John memberi isyarat supaya Firda diam, Firda bergerak mundur hingga ia mentok di sisi ranjang. Firda meraba raba pistol yg ia simpan di sana, setelah menemukan nya, Firda langsung mengacungkan pistol itu pada John.
__ADS_1
Bukan nya takut, John malah terkekeh.
"Menantu kecil ku ini memang berbeda..." kata John tiba tiba yg membuat Firda langsung terkejut dan juga bingung dengan apa yg di katakan John.
"Apa maksud mu??" tanya Firda berusaha bersikap tegas namun nyata nya suara nya tetap bergetar.
"Turunkan senjata mu, menantu. Sangat tidak sopan kamu mengacungkan senjata pada ayah mertua mu" tegas John.
"Jangan asal bicara..." seru Firda marah.
"Aku tidak asal bicara, aku adalah Edward Emerson" jawab John santai yg membuat Firda semakin di liputi kebingungan.
"Tidak mungkin, ayah nya Gabriel sudah meninggal"
"Rumor nya begitu, tapi fakta nya tidak" desis John dan kini ia menampilkan raut wajah yg menyeramkan dan mengintimidasi.
"Aku adalah Edward Emerson, Bersembunyi di balik identitas John demi melindungi nyawa ku sendiri dan nyawa putra ku" jelas nya yg tentu saja masih sulit di terima oleh Firda.
John mendekati Firda dan dengan mudah nya ia merebut senjata Firda, John memperhatikan senjata itu baik baik.
"Ini milik ku, dan perempuan seperti mu tidak pantas memegang senjata" ia kembali berkata dengan tajam.
"Tidak mungkin, aku akan memberi tahu Gabriel tentang mu" Seru Firda tapi John malah tertawa sinis.
"Tidak, Firda. Kamu tidak boleh melakukan itu..." kata John "Lagi pula, kedatangan ku kesini bukan untuk menyakiti mu karena aku tahu itu percuma. Aku bersusah menakuti mu di resort, tapi itu sia sia. Aku berusaha menakuti mu dengan menabrak mobil kalian saat kalian hendak ke rumah sakit. Lagi lagi itu percuma, seperti nya kamu tidak takut mati. Bahkan setelah yg terjadi di malam itu, dimana kalian bertiga hampir mati di tangan musuh. Dan kamu masih tidak takut berada di sisi Gabriel?"
"Jadi kamu yg menakuti ku di resort?" Firda.
"Yupz, tapi penjaga setia mu malah datang dan menyelamatkan mu. Padahal aku ingin membunuh mu disana" desis John emosional yg membuat Firda semakin dan semakin bingung.
"Memang nya apa salah ku sampai kamu ingin membunuh ku?" tanya Firda takut.
"Karena kamu adalah kelemahan putra ku, aku tidak sudi putra ku memiliki kelemahan" jawab John yg tak lain adalah Edward Emerson.
"Aku sengaja membiarkan dia seolah tidak punya siapa pun terutama keluarga, karena keluarga adalah kelemahan terbesar seseorang. Aku tidak ingin putra ku memiliki kelemahan karena itu lah aku juga ingin membunuh istri pertama nya itu, tapi wanita itu pintar, dia memilih meninggalkan Gabriel. Yah, aku suka itu... " kata John sambil tersenyum.
"Dan sekarang aku juga ingin kamu pergi dari hidup Gabriel, jangan menjadi kelemahan nya!" tegas nya yg membuat Firda tercengang, ia terlalu bingung dengan apa yg di katakan pria paruh baya ini.
Firda takut dan bingung sekarang.
__ADS_1