
Firda melangkah gontai menuruni anak tangga satu persatu, fikiran nya melayang entah kemana Karena terlalu banyak yg ia fikirkan. Begitu juga dengan perasaan nya yg berkecamuk, Firda berharap apa yg ia dengar dari Gabriel itu hanya sebuah ilusi atau mimpi, yg harus segera musnah saat ia terjaga.
Firda berusaha meyakinkan diri nya sendiri bahwa semua itu tidak benar, tidak mungkin Gabriel adalah seorang penjahat.
Firda mengingat pertemuan pertama nya dengan Gabriel, yg di susul dengan pertemuan pertemuan selanjut nya hingga pada sebuah kejadian yg membuat Firda harus menikahi Gabriel, bahkan kejadian itu tidak lah benar benar terjadi.
Andai apa yg Gabriel katakan sama seperti kejadian itu, tentu Firda akan sangat bersyukur.
Namun mengingat apa yg sudah terjadi tadi malam, kejadian mengerikan itu bahkan membuat Firda masih gemetar saat mengingat nya.
"Apa yg harus aku lakukan sekarang, Ya allah..." Firda menggumam dalam kebingungan nya.
Firda bahkan bingung dengan perasaan nya sendiri sekarang, ia marah pada Gabriel, tapi juga takut dengan identitas aslinya.
Firda kecewa pada Gabriel tapi ia juga merasa kasihan.
Firda terus melangkah menuju pintu keluar mansion megah itu, kemegahan yg tak bisa membuat nya merasa nyaman berada di dalam nya saat ini. Firda bahkan merasa begitu sesak, seolah ia berada di tempat yg sempit dan gelap.
Gabriel mempersilahkan nya pergi, Gabriel mengatakan ia tak akan memaksa Firda berada di sisi nya, Gabriel juga mengatakan ia sudah berhenti dari kejahatan itu, demi Firda. Tapi apakah itu cukup bagi Firda?
Lalu bagaimana sekarang?
Firda terus melangkah seperti orang linglung, hingga langkah nya terhenti tepat satu langkah sebelum gerbang utama.
"Dia mempersilahkan ku pergi..." gumam Firda lagi dan seketika air mata kembali mengalir begitu saja, memabasahi pipi nya.
Firda memiliki hak untuk pergi setelah apa yg di katakan Gabriel, tapi kaki Firda terasa begitu berat untuk melangkah keluar dari gerbang itu.
Firda juga mengingat kembali apa yg di katakan kakek nya, seburuk apapun Gabriel atau sebanyak apapun kekurangan Gabriel, tapi ia tak seburuk Firaun. Firaun yg bahkan masih di beri kesempatan kedua.
Tapi Firda juga takut pada Gabriel sekarang.
Firda berjongkok di sana dan akhirnya ia kembali menangis sejadi jadi nya. Tak perduli beberapa bodyguard dan pelayan yg memperhatikan nya saat ini.
__ADS_1
Bahkan Gio pun memperhatikan Firda dari balik jendela kamar nya.
"Akhir nya kamu tahu fakta suami mu" Gio menggumam sendirian.
Sementara Firda hanya bisa menyembunyikan wajah nya di antara lutut nya.
Fikiran nya memerintahkan nya untuk pergi, tapi hati nya menolak nya mentah mentah.
Firda masih terus menangis selama beberapa menit sambil mengingat masa masa bersama Gabriel selama ini. Punggung Firda bergetar hebat karena tangisan nya.
Hingga perlahan tangis nya mulai mereda, Firda mencoba berdiri dan ia sedikit limbung bahkan hampir jatuh, namun Firda dengan cepat menyeimbangkan tubuh nya.
Gio yg masih memandangi nya terkejut dan ia merasa mencemaskan keadaan Firda.
"Firda...." lirih nya, entah kenapa ia ingin sekali berada di sisi Firda saat ini, ingin memeluk nya dan menenangkan nya, ingin menghapus air mata nya dan menghibur nya.
Firda mengusap air mata yg mengalir di pipi nya, ia menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nya perlahan. Firda memandang keluar gerbang, ia ingin pergi, ia tak mungkin tinggal bersama seorang kriminal, bahkan nyawa nya hampir saja melayang dan kapan saja bisa melayang karena suami nya.
Firda hendak melangkah keluar namun kaki nya seperti menolak melangkah. Firda mencoba menguatkan hati nya dan mengatakan pada diri nya sendiri bahwa ia memang harus pergi, ini sudah keputusan yg sangat benar.
"Tidak mungkin kamu bisa hidup dengan seorang Mafia..."
"Suami mu mempersilahkan mu pergi..."
"Berada di sisi nya sama saja menantang maut..."
Suara suara itu mencoba menguatkan tekad Firda namun tetap saja, pada akhir nya ia berbalik dan malah berlari masuk ke dalam rumah dengan berderai air mata.
Gio yg melihat itu hanya bisa tersenyum kecut dan ia menutup horden jendela nya dengan kasar.
Firda berlari memasuki rumah, ia menaiki anak tangga dengan tidak sabar ingin segera bertemu dengan Gabriel.
Firda membuka pintu kamarnya dan ia mendapati Gabriel yg meringkuk di tepi ranjang, membelakangi nya.
__ADS_1
Firda langsung masuk dan ia merangkak naik ke atas ranjang, membuat Gabriel tersentak kaget dan langsung menolehkan kepala nya.
Firda melihat wajah Gabriel sembab, airmata bahkan masih mengalir di sudut mata Gabriel. Gabriel menangis untuk pertama kalinya dan itu membuat hati Firda tercubit, dadanya terasa sesak melihat kelemahan sang suami.
Sementara Gabriel yg melihat Firda kembali merasa tidak percaya dan ia hanya tercengang, menganggap semua ini hanya mimpi.
Tanpa berbicara sedikitpun, Gabriel mengangkat kepalanya dan meletakkannya di pangkuan Firda. Sekalipun ini hanya mimpi, setidak nya Gabriel masih bisa melihat Firda dan menghirup aroma sang istri.
Namun saat ia merasakan Firda mendekap nya dan mencium ubun ubun nya berkali kali, Gabriel tahu ini bukan mimpi apa lagi saat air mata Firda jatuh memabasahi kening nya.
"Kamu kembali... '' entah itu pertanyaan atau pernyataan, namun Gabriel berkata dengan begitu lirih dan penuh haru. Ia mendesakan wajahnya di perut Firda dan Firda mendekap sang suami dengan erat.
Keduanya sama sama tak berbicara dan hanya terdengar suara tangisan yang semakin lama semakin mereda.
Firda masih mendekap Gabriel dan masih terus menghujani kepala dan kening suaminya itu dengan ciuman dan kecupan.
"Jangan meninggalkan ku..." lirih Gabriel akhirnya sambil menghirup aroma sang istri, ia melingkarkan tangannya di pinggang Firda dengan erat.
"Aku mencintaimu..." ucap Firda yg membuat Gabriel langsung mendongak, menatap Firda tak percaya. Pupil matanya melebar dan bibir nya sedikit terbuka, Gabriel merasa ia sedang bermimpi atau berhalusinasi sekarang. Namun pemikiran itu musnah saat ia merasakan tangan mungil Firda membelai pipinya dan menghapus air matanya dengan begitu lembut.
"Aku ingin meninggalkan mu, aku takut pada mu" ucap Firda masih menghapus air mata Gabriel dan kemudian membelai rambut Gabriel
"Tapi aku mencintai mu, aku tidak bisa pergi karena aku mencintaimu. Aku tahu aku bisa saja mati karena mu, tapi tetap saja hati ku meneriakan cinta untuk mu" tutur nya yg membuat jantung Gabriel seperti akan melompat dari tempat nya dan ia masih tercengang, mencoba mencerna apa yg sedang di ungkapkan istri nya.
"Dan karena aku mencintaimu, aku tidak akan pergi dari sisi mu. Aku akan bertahan semampu ku di sisi mu, asalkan jangan pernah kamu kembali pada dunia hitam itu"
Gabriel langsung menganggukan kepalanya dan ia menarik tangan Firda yg masih setia membelai nya, Gabriel mengecup tangan Firda berkali kali dan mata nya kembali terasa panas. Air mata kembali meluncur bebas dari sudut matanya.
Gabriel merasa bodoh karena sekarang ia begitu cengeng dan terus saja menangis. Tapi Gabriel tak perduli, ia menangis karena takut di tinggal Firda dan ia juga menangis karena Firda tidak meninggalkan nya.
Gabriel tidak tahu kenapa ia menangis karena dua alasan yg sangat berbeda itu.
"Aku juga mencintai mu, jangan meninggalkan ku" lirih Gabriel dan Firda mengangguk. Ia menunduk dan mengecup kening suami nya. Gabriel memejamkan mata, meresapi perasaan hangat yg hinggap di hati nya karena ciuman ringan Firda itu.
__ADS_1
"Semoga ini bukan mimpi, aku tidak mau kamu pergi"
"Aku di sini, ini bukan mimpi"