Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 188 - Nasehat Ning Firda


__ADS_3

Edward hanya bisa tercengang saat polisi Abram datang dan menyerahkan surat penahanan untuk diri nya, meskipun Edward tetap bersandiwara seolah tidak tahu apapun, namun bukti yang ada di depan nya terlalu kuat apa lagi polisi sudah mengetahui identitas dia yang sebenar nya. Dan benar benar sebuah kejutan ketika tiba tiba Gabriel masuk ke ruang rawat nya bersama Frank. Gabriel berjalan dengan santai mendekati ayah nya yang terbaring tak berdaya di atas bangsal nya, Gabriel kemudian berkata setelah berdiri samping sang ayah


"Maafkan aku, Dad. Tapi aku sudah bertaubat dan tidak lagi main hakim sendiri, jadi aku menyerahkan kasus ini pada polisi. Dan aku mohon pada mu, Dad. Bertaubat lah, Firda bilang tidak perduli sebesar apapun dosa seseorang , sekalipun orang adalah pembunuh istri nya sendiri, Allah tetap akan mengampuni dosa nya jika dia mau bertaubat " tukas Gabriel yang membuat polisi Abram terkekeh.


"Itu bukan kata Ning Firda, Don Gabriel. Tapi Allah memang berfirman demikian dan ampunan Nya akan selalu terbuka lebar untuk hamba Nya selama nafas belum sampai di tenggorokan" tutur nya.


"Ya, kurang lebih begitu" kata Gabriel yang ilmu agama nya memang masih seujung kuku.


"Mungkin lain kali kita bisa pergi ke pengajian bersama, Don Gabriel" ajak polisi Abram yang entah kenapa justru terlihat akrab dengan Gabriel.


"Ide yang bagus, Pak polisi" kata Gabriel "Bagaiamana, Dad? kau mau ikut kami ke pengajian?" tentu pertanyaan itu hanya sindirian Gabriel karena ia tahu siapa ayah nya. Sementara Frank hanya bisa diam saja sejak tadi, dulu ia takut pada Edward namun sekarang tidak lagi.


"Jadi, kapan dia akan di adili, Pak polisi?" tanya Gabriel sambil menunjukan senyum puas nya pada sang ayah.


"Scepat nya, jangan khawatir" tegas polisi Abram.


"Pastikan dia di tempatkan di sel dimana tak ada celah walaupun hanya selubang semut untuk melarikan diri. Dia bukan hanya jahat tapi juga picik" Gabriel memperingatkan dengan keras.


"Dari semua kejahatan yang dia lakukan, minimal dia di tuntut hukuman seumur hidup, dia penjahat kelas kakap"


"Ya, kau benar"


Sementara Edward hanya bisa diam dengan tatapan penuh dendam pada Gabriel, dalam hati ia mengutuk Gabriel dan mengumpati nya tiada henti. Perjuangan nya selama bertahun tahun musnah seketika di tangan putra nya sendiri, akhir yang menyedihkan bagi seorang penjahat senior seperti diri nya.


...

__ADS_1


Sementara itu, Angeline sedang membereskan barang barang Micheal yang ada di rumah sakit. Dokter sudah memberi izin bahwa Micheal boleh melakukan penerbangan apa lagi jika penerbangan itu menggunakan jet pribadi. Sebelum pulang, Firda mengajak Angeline kerumah nya karena sejak mendarat di desa nya, Angeline dan Frank langsung menuju rumah sakit untuk menemani Micheal. Mereka mandi dan makan di rumah sakit juga, sementara Firda dan keluarga nya tentu ingin menjamu tamu mereka lebih dulu.


"Micheal mau pulang, kamu mau ikut?" tanya Gio pada Mini yang saat sedang menyantap makanan yang di antar oleh Suster, kondisi Mini juga sudah lebih baik namun Dokter belum mengizinkan nya keluar dari rumah sakit.


"Kamu tidak lihat aku lagi sakit?" tanya Mini setelah menelan makanan nya.


"Ya aku lihat lah, kan aku yang menjaga mu" kata Gio "Aku kan cuma menawarkan, siapa tahu kamu mau pulang juga"


"Di rumah itu aku tidak punya siapa siapa, kalau aku sakit siapa yang mau menjaga ku? merawat ku? Ya lebih baik aku di sini lah, ada kamu yang menjaga ku" kata Mini asal yang membuat Gio mendengus.


"Aku juga mau pulang, kamu kira aku mau terus di sini sebagai perawat mu apa" cibir nya.


"Ya pulang nya nanti saja, kalau aku sudah baikan" kata Mini lagi dan ia pun meneguk air setelah makanan nya habis.


"Aku juga banyak pekerjaan penting di sana, kamu tidak tahu apa? Aku itu tuan muda, Tuan Mafia, bos, aku sibuk"


"Otak mu itu kotor sekali..." desis Gio.


"Kenapa kalian seperti tikus dan kucing sih?" kedua nya langsung menoleh ke asal suara itu.


"Dia ini, Fir" seru Mini menunjuk Gio "Masak dia sibuk memikirkan kejahatan nya? Dosa nya sudah setinggi gunung tuh, taubat nya kapan"


"Hey, jangan fitnah ya.." seru Gio.


"Loh tadi kamu bilang banyak pekerjaan, memang nya pekerjaan Mafia bukan kejahatan dan menumpuk dosa?" sindir Mini.

__ADS_1


"Kamu ada masalah apa sih sama status Mafia?" tanya Gio.


"Semua orang punya masalah dengan Mafia, entah masalah karena menjadi korban atau masalah tidak suka karena jadi orang jahat dan pendosa" tukas Mini yang langsung membuat Gio bungkam dan tampak tersinggung dengan ucapan Mini, Gio langsung menyambar ponsel nya yang ada di atas meja dan bergegas keluar dari ruangan Mini dengan raut wajah yang tegang. Firda yang melihat itu menghela nafas berat, ia menarik kursi yang ada di samping bangsal Mini.


"Min, kamu kenapa sih selalu mengungkit status Gio?" tanya Firda.


"Memang nya salah ya, Fir? Kan dia memang Mafia, penjahat" kata Mini dengan enteng nya.


"Dia pernah jahatin kamu?" tanya Firda lagi dan tentu Mini langsung menggeleng.


"Min, kalau ada orang seorang penjahat di sekitar kita, kamu jangan mengungkit kejahatan nya apa lagi menghina nya dan memanggil nya penjahat dan pendosa. Tapi kamu harus berbicara dengan nya, menunjukan jalan yang benar dan apakah dia tetap akan jadi orang jahat atau tidak, itu tidak menjadi urusan kita. Apakah dia pendosa atau tidak itu juga urusan dia sama Allah..." tutur Firda dengan lembut.


"Dan kenapa Allah membuat kita yang dekat dengan mereka? Mungkin karena lewat kita lah mereka bisa mendapatkan taufiq dan hidayah" kata Firda lagi sementara Mini hanya terdiam.


"Kasihan Gio kalau kamu terus begitu, dia sebenar nya orang baik. Dia seperti ini karena memang latar belakang keluarga nya seperti itu, dia tidak bisa memilih memiliki keluarga seperti apa kan? Dan jika pun dia memilih untuk berubah, mungkin dia kesulitan karena tidak ada yang mendukung nya atau memandang dia sebelah mata. Sehingga dia seperti terus terdorong pada kehidupan yang sebelum nya. Atau dia merasa tidak pantas untuk memilih jalan lain, atau dia merasa tidak di terima oleh orang lain, bisa jadi kan? Inti nya, apa yang kamu katakan itu bisa mempengaruhi perasaan atau fikiran orang lain" Mini kembali terdiam, ia memang terus mengungkit status Gio. Awal nya Mini fikir itu hal biasa, ia memang beberapa kali juga mengatakan Gio penjahat dan Gio memang merespon dengan wajah tegang nya.


"Aduh, aku jadi lupa tujuan ku kesini..." kata Firda sambil menepuk jidat nya.


"Kenapa memang nya?" tanya Mini kemudian.


"Aku mau pulang sama Kak Angel dan yang lain nya, tapi Ummi sama Tante Aqilah tetap di sini kok. Nanti mereka yang jagain kamu" tukas Firda dan Mini tersenyum sambil mengangguk mengerti.


"Ya sudah, aku pulang dulu. Besok aku ke sini lagi..." Firda beranjak dari duduk nya, ia mengusap kepala Mini sambil tersenyum. Saat Firda hendak pergi, tiba tiba Mini menarik tangan nya.


"Ada apa?" tanya Firda.

__ADS_1


"Emmm apa tuan mafia.. Maksud ku Gio, apa Gio ikut kamu pulang?" cicit Mini yang membuat Firda menahan senyum.


"Seperti nya iya" Jawab Firda dan ia melenggang pergi, meninggalkan Mini yang mulai merasa bersalah pada Gio.


__ADS_2