
Angeline sampai di desa Firda dan ia naik taksi dari bandara, namun sekarang Frank dan Angeline tidak tahu harus mencari rumah Firda kemana, mereka sudah menanyakan pada beberapa orang namun semua nya menjawab tidak tahu.
"Berhenti di depan sana" kata Angeline pada sopir taksi nya, sopir taksi itu pun berhenti di depan sebuah toko yang ada di pinggir jalan. Angeline keluar dan membeli dua botol minuman untuk nya dan Frank.
Hari sudah siang dan matahari cukup teriak, sementara Angeline masih terus mutar mutar mencari alamat rumah Firda.
"Maaf, Bu. Ibu tahu rumah nya Firda?" tanya Angeline untuk yang kesekian kali nya.
"Firda siapa, Neng?" tanya Ibu penjaga toko. Dan memang itulah masalah Angeline sejak tadi, ia tidak tahu siapa nama lengkap Firda, mungkin dia pernah tahu tapi lupa.
"Aku tidak tahu nama lengkap nya, Bu. Tapi dia punya suami nama nya Gabriel Emerson" ujar Angeline, memberikan jawaban yang sama pada setiap orang yang tanyai dimana rumah Firda.
"Tidak tahu, Nengg. Coba tanya sama orang lain, kalau Firda anak nya mang cecep sih saya tahu, rumah nya di pojok jalan sana" Ibu itu menunjuk ke arah kiri, Angeline pun dengan antusias mengikutkan pandangan nya kemana Ibu itu menunjuk, ada sedikit harapan dalam hati nya bahwa itu rumah yang ia cari.
"Tapi dia belum menikah, baru lulus SMP" lanjut nya yang membuat harapan Angeline musnah seketika.
"Kalau Firda yang lain, Bu?" tanya Angeline tak menyerah.
"Ada, di belakang Rumah saya, Ning. Tapi dia sudah meninggal sebulan yang lalu" kata nya yang membuat Angeline semakin putus asa.
__ADS_1
"Angel..." seru Frank dari dalam mobil, adik nya itu tidak membantu nya sedikit pun dalam mencari rumah Firda dan itu membuat Angeline sangat kesal namun ia tak bisa apa apa, karena Frank memang di paksa nya untuk ikut.
"Coba kamu hubungi Ibu nya Firda, kamu punya kan nomor telfon nya?" seru Frank.
"Punya, tapi kalau dia tidak mau memberi tahu rumah nya Bagaiamana?" ketus Angeline dan ia kembali ke dalam taksi.
"Memang nya kenapa dia harus merahasiakan rumah nya? Kita sudah jauh jauh lho datang ke sini" ujar Frank lagi.
"Ya siapa tahu Firda meminta nya supaya tidak memberi tahu karena dia takut aku mengganggu" ia berasumsi tanpa mau berfikir positif sedikitpun. Sementara Frank yang sudah tidak tahan dengan pencarian itu kembali meminta Angeline menghubungi Ibu Firda, Frank bahkan memaksa nya.
"Jangan egois, Angel. Setidak nya kita coba tanya dulu dan kita beri tahu mereka kalau kita sejak tadi mutar mutar mencari rumah mereka" seru Frank lantang "Masak iya mereka masih tega tidak memberi tahu alamat mereka..." Imbuh nya.
"Ini juga demi diri kamu sendiri dan juga Micheal, semakin cepat kita tahu rumah nya, semakin cepat kamu bertemu dengan Micheal" desak Frank yang akhir nya membuat Angeline mau menurunkan ego nya dan mau menghubungi Ibu nya Firda.
...
Saat ini Gabriel dan Firda ada di ruang rawat mereka, begitu juga dengan Gio dan Gerry. Sementara Ummi Aisyah menemani Abi Farhan dan Micheal di jaga oleh Oma Opa nya. Gabriel juga sudah jujur pada Firda bahwa orang yang menyerang mereka adalah Ayah mertua Firda sendiri. Tentu Firda sangat marah namun ia berusaha menahan amarah itu dan terus menggumamkan istighfar untuk menenangkan hati nya.
"Sialan, lagi lagi Ageline dan Frank" geram Gabriel dan ia memukul dinding dengan sangat keras, pukulan nya itu membuat dinding bahkan menjadi retak. Gio dan Gerry yang ada di sana juga tak menyangka akan hal ini.
__ADS_1
"Dia mengggunakan cara lama dan seharus nya aku tahu itu" seru nya lagi "Dia menggunakan Frank sebagai jembatan, awas saja nanti. Akan aku pecahkan kepala Frank..." desis Gabriel.
"Bang, aku baru ingat sekarang..." kata Firda kemudian "Kamarin itu Kak Angel ada telfon dan dia bilang Ayah nya di culik sama Ayah mu, Bang. Dan dia juga bilang kalau Ayah mu ke desa"
"Jadi benar, semua ini karena mereka" desis Gabriel mengepalkan tangan nya.
"Tapi mungkin mereka tidak tahu jika ayah mu akan mencelakai kita, Bang Gabriel" ujar Firda yang masih berusaha berfikir positif.
"Aku rasa semua orang tahu kalau pria itu adalah monster" tukas Gabriel.
...
Sementara itu, Ummi Aisyah masih dengan setia menemani suami nya yang masih dalam keadaan koma. Ummi Aisyah selalu mengajak suami nya itu bicara, dan yang sering Ummi Aisyah bicarakan adalah masa masak awal pernikahan mereka dulu, dimana mereka berdu di jodohkan dan Ummi Aisyah sangat tidak menyukai perjodohan namun ia tak berani menolak keputusan orang tua nya, beda hal nya dengan Farhan yang adalah pria abu abu, tidak menolak tapi juga tidak menerima dengan senang hati, tampak nya begitu. Meskipun sebenar nya dalam hati ia melompat kegirangan, karena sebenar nya ia sudah jatuh cinta pada Ummi Aisyah sejak Ummi Aisyah masih remaja. Namun Abi Farhan bukan tipe pria yang tahu cara mengekspresikan perasaan nya, bahkan untuk memanggil sayang pun rasa nya tampak kaku dan hanya sesekali, namun yang membuat Ummi Aisyah jatuh cinta pada nya adalah sosok nya sebagai Imam dan pemimpin, tegas, sabar dan lembut. Dan selalu mampu berfikir dewasa, contoh nya saat mereka berfikir Firda telah di lecehkan oleh Gabriel. Ummi Aisyah terbakar amarah dan bahkan sampai meneriaki Firda dan menampar nya, namun beda hal nya dengan Abi Farhan yang justru hadir sebagai sosok penguat, penyemangat, pendukung.
"Mas, kamu sudah tidur hampir 24 jam lho, Mas" kata Ummi Aisyah "Memang nya tidak sakit punggung nya? Bangun dong, Mas. Micheal saja sudah bangun..." lirih nya "Mini juga sudah bangun" bohong nya "Masak kamu kalah sama anak kecil dan wanita sih, Mas...." Ummi Aisyah berkata dengan lembut.
Tak lama kemudian ia mendengar dering ponsel nya dari dalam tas nya yang di letakkan di meja. Ummi Aisyah pun segera mengambil ponsel itu dan tertera nama Ibunda Micheal di layar ponsel nya itu. Saat tahu itu nomor nya Ibu nya Micheal, Ummi Aisyah langsung menyimpan kontak nya. Tanpa ragu ia menjawab telfon dari Angeline.
"Assalamualaikum" sapa nya lembut sembari berjalan keluar dari ruang rawat suami nya.
__ADS_1
"Waalaikum salam, Bu. Bisa kirimkan alamat rumah mu, Bu? Saya mau sudah di desa, ingin bertemu dengan Micheal" Ummi Aisyah yang mendengar itu tentu sangat terkejut.
"Ya Allah, Nak, kenapa kamu tidak bilang kalau mau datang? Ummi bisa menyuruh orang menjemput mu di bandara"