
Gabriel menghubungi Angeline, menanyakan bagaimana keadaan nya dan Micheal. Dan itu berhasil memercikan kecemburuan di hati Firda yg saat ini duduk berselonjor di tengah ranjang nya.
"Tidak ada yg mencurigakan disana, Kan?" tanya Gabriel dengan sorot yg sangat serius.
"Tidak ada, Gab. Semua nya terlihat baik baik saja, em hanya saja tadi Frank datang dan mengajak ku pulang"
"Tidak, Angel. Aku tidak percaya pada adik mu itu, dia orang yg gila harta, sangat mudah memperdaya nya" tukas Gabriel.
"Aku tahu, aku.... Aku minta maaf, Gabriel" terdengar suara lemah lembut Angeline dari seberang telpon "Seharusnya aku tidak pernah meninggalkan mu, seharusnya aku tidak takut berada di sisi mu, seharusnya aku tahu bahwa kau akan melindungi kami"
Gabriel terdiam mendengar apa yg di bicarakan Angeline, ia terbayang rasa sakit nya saat Angeline meninggalkan nya begitu saja, tanpa memperdulikan perasaan nya, tanpa melihat perjuangan nya yg terus memohon agar Angeline kembali pada nya. Apa lagi Angeline yg bahkan tak mengizinkan Gabriel bertemu dengan Micheal, rasa nya begitu menyakitkan.
"Sudah lah, Angel. Itu hanya masa lalu, sebaiknya sekarang kita fokus pada Micheal saja" kata Gabriel dengan suara serak, hingga tiba tiba ia mendengar suara bantal yg di tepuk tepuk sangat keras, Gabriel menoleh dan ia langsung meringis mendapati Firda sedang menepuk bantal namun tatapan nya begitu menusuk tajam pada Gabriel.
"Angel, sudah dulu. Jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku" ujar Gabriel dan tanpa menunggu jawaban Angeline, ia langsung memutuskan sambungan telfon nya.
Sementara Firda, ia mendelik, kemudian menjatuhkan diri nya ke ranjang, menarik selimut dan langsung memejamkan mata dan dengan wajah yg memberengut.
Gabriel memeluk nya dari belakang, memainkan ujung rambut nya dengan jari jemari nya.
"Kau sangat cemburu, hm..." goda nya berbisik di telinga Firda.
__ADS_1
"Aku memang masih terikat pada nya karena adanya Micheal, tapi cinta ku dan hati ku sudah ku serahkan semua nya pad mu..." ia masih berbisik mesra, Firda tak menggubris nya. Ia merasa kesal dengan suami nya yg menghubungi mantan istri nya dengan sangat rutin, ya meskipun untuk menanyakan keadaan Micheal dan Firda sebenarnya juga mengkhawatirkan Micheal, tapi apalah daya, Firda merasa cemburu.
"Sayang..." Gabriel mengecup pipi Firda karena Firda tak menanggapi nya sedikit pun "Sayang, jangan marah..." bisik nya lagi.
Gabriel mengelus pundak Firda, mengecup nya dengan kecupan kecupan kecil yg menggoda, membuat tubuh Firda meremang apa lagi ketika Gabriel menarik tubuh Firda hingga Firda terlentang.
"Sudah lama sekali..." bisik Gabriel dengan suara serak dan nafas yg memburu. Gabriel mencumbu pipi istri nya itu, membuai nya bersamaan dengan tangan nya yg bergerak nakal, meraba tubuh Firda yg mulai berisi karena kehamilan nya.
Sudah lama sekali Gabriel tidak menyentuh istri nya, dan sekarang, hasrat lelaki nya muncul ke permukaan dan menuntut di tuntaskan.
Firda membuka mata kala sentuhan tangan dan bibir suami nya semakin intens, hormon kehamilan nya membuat nya begitu sensitif. Dan ia sangat merindukan sentuhan sang suami, Firda menangkup kedua pipi Gabriel dengan kedua tangan nya, bulu bulu halus yg tumbuh di rahang sang suami menggelitik telapak tangan nya yg begitu halus.
Akhir nya, setelah ketegangan yang mereka lalui, kini mereka kembali bisa bermesraan. Melepas rindu yg menggebu, yg hampir tak mampu lagi mereka tahan.
"Aku tahu..." Gabriel berkata lirih setelah menjauhkan bibir nya dari bibir Firda sementara tangan Firda masih menangkup pipi sang suami "Orang bilang, cemburu tanda cinta"
"Aku memang sangat mencintai mu, benar benar aneh" kata Firda kemudian.
"Aneh apa nya, Sayang?" tanya Gabriel sambil menyelipkan tangan nya di bawah punggung Firda kemudian ia berguling ke samping sehingga Firda kini sudah berada di atas tubuh nya.
"Kenapa aku bisa mencintai pria seperti mu? Tua, duda, penjahat lagi" cibir nya yg membuat Gabriel terkekeh dan tak sedikit pun tersinggung.
__ADS_1
"Dan aku juga tidak menyangka, bagaimana bisa aku mencintai mu, gadis kecil yg bar bar. Sungguh, itu bukan tipe ku, Sayang" kata nya jujur yg membuat Firda langsung memberengut dan Firda langsung menggigit pipi Gabriel, membuat Gabriel terpekik namun kemudian tertawa.
"Jadi orang kok jujur amat" gerutu nya.
"Ketularan kamu, Sayang" balas Gabriel dan ia hendak menggigit pipi Firda, namun Firda menjauhkan wajah nya kemudian menjulurkan lidah nya. Membuat Gabriel terkekeh, ia memegang tengkuk Firda dan langsung mendekatkan wajah Firda pada wajah nya. Kemudian ia mencium, menggigit bahkan menghisap pipi Firda. Tak membuat nya sakit, justru membuat Firda gemetaran dengan nafas yg memburu.
"Bolehkah malam ini?" tanya Gabriel dengan suara serak nya, Firda tersenyum malu malu dan mengangguk pelan, semburat merah terlihat jelas di pipi nya membuat hasrat Gabriel semakin naik ke puncak.
"Aku hanya mencintai, Sayang..." bisik nya sensual.
.........
"Hubungi aku saat sampai, Paman Ed..." kata Gio yg pada Paman nya yg saat ini hendak menaiki jet Pribadi nya untuk mengantar nya ke Swedia.
"Tentu, Son. Jaga diri baik baik, jika terjadi sesuatu, langsung hubungi aku" ucap nya. Gio mengangguk kemudian ia memeluk paman yg sudah ia anggap ayah sendiri.
Setelah mengantar ayah nya, Gio kembali pulang ke rumah nya.
Selama dalam perjalanan, ia masih memikirkan Firda. Hari hari yg ia lalui menjadi bodyguard Firda adalah hari hari terindah dalam hidup Gio, ada banyak hal yg Gio pelajari dari wanita desa itu, wanita desa yg menjadi lentera seorang Don Mafia seperti Gabriel Emerson.
Awal nya Gio melepaskan Gabriel hanya demi Firda, Gio tak merasa ia bisa memaafkan Gabriel, namun setelah merenung dan mencoba berdamai dengan keadaan, Gio mau belajar memaafkan dan menutup dendam di hati nya. Dan seperti yg di katakan Kakek Firda, memaafkan itu memang membuat diri nya lebih tenang.
__ADS_1