Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 47 - Semurni Permata


__ADS_3

Gabriel merasa heran, jika ia pernah memasuki nya lalu kenapa pintu itu masih terkunci begitu rapat?


"Hiks... Hiks... Perih sekali, Om. Engga mau..."


"Sudahan saja..."


"Lain kali saja..."


"Bayi nya juga sakit nanti..."


"Firda..." lirih Gabriel kemudian setelah ia sadar dari keterkejutan nya.


"Apa? Sudah ya, nanti malam saja... Sakit" lirih Firda sembari mengucek mata nya yg sudah sangat berair.


"Kasian juga bayi nya, nanti juga sakit..." ia kembali merengek, rasa nya begitu sakit dan ia tidak pernah merasakan sakit seperti itu sebelumnya.


"Tidak ada bayi, Fir..." ucap Gabriel dan ia terlihat bingung, bahkan ia yg masih terdiam di pintu masuk hanya bisa garuk garuk kepala.


"Maksud nya?" tanya Firda yg lebih bingung lagi dan ia masih meringis, bahkan setengah mendorong Gabriel agar menjauhi tubuhnya yg terasa sakit tapi Gabriel tak bergeming sedikitpun. Seolah Gabriel menempel di tubuhnya.


"Fir, bagaimana bisa ada bayi? Ini saja kamu masih merasa sakit yg arti nya...."


"Arti nya apa?" rengek Firda yg mulai kesal "Mungkin aku belum siap kali, Om. Nanti malam saja ya" pinta nya memelas.


"Firda. Mau nanti malam, besok malam, besok nya besok malam ya tetap akan sakit lah, Fir. Karena.. Karena kamu itu masih perawan"


"Huhhhhh?" pekik Firda nyaring dan ia terlihat semakin bingung, pupilmata nya melebar saat ia menatap Gabriel dengan keterkejutan nya.


"Maka nya kamu sakit, di bawah sini juga masih ada penghalang nya, Fir" tukas Gabriel yg membuat Firda semakin bingung dan tak percaya. Apa lagi Gabriel malah kembali menggerakkan tubuhnya membuat kening Firda mengerut, menahan sakit.


"Aku masih perawan?" tanya Firda kemudian dengan suara setengah berbisik, dan Gabriel pun mengangguk sembari berusaha masuk "Ish, jangan gerak dulu, Om. Sakit..." rintih Firda lagi.


"Ya sakit karena ini pertama kalinya untuk mu, Fir. Itu artinya..." lirih Gabriel dan berusaha mengingat kembali hari itu.


"Saat itu tidak terjadi apa apa?" tanya Firda lirih dan Gabriel mengangguk "Tapi kenapa waktu itu kita tidak memakai apapun?" tanya Firda lagi dengan suara rendah, ia tak sanggup mengingat hari itu, hari dimana ia merasa seluruh hidupnya hancur berkeping keping.


"Saat itu, aku memang ingin melakukan nya dan aku sudah melepaskan seluruh pakaian mu dan pakaian ku. Tapi..."


"Tapi apa?" tanya Firda tidak sabar, bahkan keduanya masih dalam posisi yg sama seperti tadi.


"Tapi kemudian aku mengingat semua kebaikan mu dan keluarga mu pada ku, Fir. Aku juga membius diri ku sendiri karena aku tidak tahu lagi bagaimana caranya menghentikan diri ku, setelah itu aku tidak ingat apapun lagi"


"Hiks..."

__ADS_1


"Hiks... Hiks..."


"Hiks.... Hiksk... Hiks..."


Isak tangis Firda tak bisa di tahan nya saat mendapati kenyataan yg bak anugerah itu, Firda merasa terharu dan juga lega. Itu artinya ia masih suci, saat Gabriel menikahi nya ia dalam keadaan yg sangat suci dan saat ini ia juga tidak sedang mengandung. Diri nya tidak ternoda dan tidak mencoreng wajah kedua orang tua nya dengan dosa itu.


"Jangan menangis..." ucap Gabriel lembut, ia menghapus air mata Firda dengan kecupan lembut nya "Aku minta maaf..."


"Jadi... Jadi aku masih suci? Masih murni?" tanya Firda pada Gabriel dan Gabriel mengangguk sembari melemparkan senyum hangat nya.


"Semurni permata..." jawab Gabriel yg membuat tangis haru Firda semakin menjadi dan tiba tiba ia malah hendak bangun yg dimana pergerakan itu malah membuat keduanya mengerang secara bersamaan, karena di bawah sana mereka seperti bertabrakan.


"Agh, Om..."


"Emgh..."


"Om, bangun dulu..." rintih Firda.


"Kenapa? Nanggung, sudah setengah jalan ini, Fir..." lirih Gabriel dengan suara serak nya.


"Mau telepon Ummi sama Abi, Om" jawab Firda yg membuat Gabriel terbelalak kaget.


"Di saat seperti ini..." pekik Gabriel dan ia pun hanya bisa merintih lirih, karena pergerakan Firda yg tadi membuat ia masuk sedikit lebih dalam dan itu sungguh semakin menyiksa nya.


"Nanti saja ya, Fir. Seleseikan dulu yg ini..." pinta Gabriel dengan erangan yg tertahan.


"Tapi, Om. Kasian Ummi sama Abi, kalau mereka tahu kita tidak melakukan apapun, setidaknya mereka bisa lega seperti kita" lirih Firda dan ia menatap Gabriel dengan begitu sayu, dimana tatapan itu malah semakin menggoda hasrat Gabriel "Saat itu Ummi sangat marah, bahkan dia... Dia sampai menampar ku..." Firda kembali berkata lirih dan satu bulir bening kembali meluncur begitu saja dari sudut mata nya.


Hati Gabriel langsung terenyuh mendengar penuturan Firda itu apa lagi saat ia melihat istrinya itu kembali menangis.


"Dimana Ummi menampar mu?" tanya Gabriel lembut sembari mengusap air mata Firda, dan dengan polos nya Firda menunujuk pipi kiri nya sembari berkata lirih...


"Di sini..."


Gabriel menyunggingkan senyum lembut nya dan ia pun mengecup lembut pipi Firda yg refleks membuat Firda langsung menutup mata. Gabriel menjauhkan wajah nya dari wajah Firda sesaat, ia menatap wajah Firda yg sangat cantik dan polos. Ia memang benar, Firda memang sangat murni, semurni permata.


Gabriel kembali mengecup pipi Firda, dengan kecupan kecupan kecil yg manja. Tanpa sadar membuat Firda tersenyum saat bisa merasakan hangat nya kecupan suaminya itu. Bahkan kehangatan itu seperti menjalar ke seluruh pembuluh darah nya, hingga ke menggelitik perut nya. Seperti ada yg sesuatu yg bergelombang disana.


Kini kecupan Gabriel beralih ke hidung Firda, ia mengecup nya dengan gemas. Kemudian beralih ke pipi kanan nya dan di lanjutkan ia mengecup kening sang istri.


Dan sekarang bibir Gabriel sudah berada di atas bibir Firda, ia menyapukan bibir nya dengan lembut, membuat Firda menahan nafas tanpa sadar dan ia menyelipkan jari jari nya di rambut Gabriel dan meremas nya.


Bibir sang Don kini beralih pada sebuah kecupan yg menggoda, dan berakhir pada sebuah ciuman menuntut yg tak bisa di imbangi oleh Firda yg masih sangat awam dalam hal seperti itu.

__ADS_1


Sebagai pelampiasan kenikmatan itu, Firda hanya bisa menjambak rambut Gabriel dan sesekali erangan lirih keluar dari bibir nya yg terasa begitu manis di bibir Gabriel.


"Balas ciuman ku, Sayang..." bisik Gabriel tepat di bibir Firda "Ikuti gerakan ku" ucap nya lagi saat Firda tak merespon nya, perlahan Firda pun mengikuti gerakan bibir suami nya itu. Membuat Gabriel tersenyum dalam ciuman nya, apa lagi saat ia merasakan gerakan kaku Firda.


Betapa beruntung nya Gabriel mendapatkan permata murni ini, yg tak pernah tersentuh oleh yg bukan hak nya. Begitu terjaga dan bersih.


Gabriel terus menggoda dan membuai Firda dengan ciuman lembut nya dan sentuhan tangan nya yg begitu hangat bahkan terasa panas, membuat Firda bergerak tak karuan apa lagi saat Gabriel menghisap bibirnya dengan begitu rakus. Membuat Firda hanya bisa mengaluarkan rintihan tertahan nya.


Saat di rasa sang istri sudah kembali rileks dan menikmati cumbuan nya, tanpa membuang waktu Gabriel langsung menghentakan diri nya sehingga kini ia benar benar memasuki sang istri. Membuat istrinya itu langsung kembali menjerit hingga ciuman keduanya terlepas. Air mata pun kembali mengalir saat ia merasakan tubuhnya terasa sesak, sakit dan perih.


"Maaf, Sayang... Maaf..." ucap Gabriel sembari mengecup seluruh inci wajah Firda tanpa ada yg terlewat sedikitpun. Tak lupa Gabriel menghapus air mata Firda dengan ciuman nya yg begitu hangat.


Gabriel mendiamkan diri nya, menunggu Firda menerima nya.


Sementara Firda menatap sendu suaminya yg saat ini sedang berada di atas nya.


Firda tak menyangka, sekarang ia benar benar menjadi seorang istri yg sesungguhnya. Ia telah menyerahkan seluruh nya pada sang suami yg tak pernah ia harapkan menjadi suami nya.


Firda dan Gabriel saling melempar tatapan yg begitu dalam, penuh makna. Bibir keduanya terdiam walaupun sedikit terbuka dengan nafas yg terputus putus, namun tatapan itu seolah mengisyaratkan sebuah ikatan yg baru saja mereka rajut.


Baik Gabriel apa lagi Firda merasa lega dan juga bahagia, karena ini adalah percintaan mereka yg sesungguhnya. Yg di lakukan dalam keadaan sadar dan halal.


"Boleh aku bergerak?" tanya Gabriel lirih dan suaranya sudah terdengar begitu serak, sementara tatapan nya penuh kabut akan gairah. Dan ia juga merasa tak nyaman saat hanya berdiam diri seperti ini, membuat diri nya terasa ingin memberontak.


Firda mengangguk dengan bibir nya yg menyunggingkan senyum tipis, Gabriel pun juga tersenyum bahagia karena sudah mendapatkan izin untuk menjelajahi rumah sang istri.


"Pelan pelan, masih sakit..." pinta Firda lirih dan Gabriel tersenyum mendengar itu, ia juga menatap Firda dengan begitu intens yg entah mengapa tatapan itu membuat Firda merasa panas dingin dan ia tersipu malu. Ia pun hendak menutup matanya kembali namun Gabriel melarang nya.


"Aku ingin kamu melihat ku, Sayang. Menatap mata ku..." desis Gabriel di tengah pergerakan nya yg membuat keduanya tak bisa menahan erangan lirih nya. Entah apa yg merasuki Firda namun ia benar benar membuka matanya dan tatapan nya langsung bertemu dengan tatapan Gabriel yg seperti orang kelaparan dan sekarang sedang menikmati santapan yg sangat lezat. Sekali lagi hal itu membuat Firda malah tersipu malu.


"Cantik, kamu benar benar cantik, Nyonya Emerson..." goda Gabriel dan Firda hanya bisa menanggapi itu dengan erangan yg semakin tak terkontrol, apa lagi saat pergerakan Gabriel semakin dan semakin cepat. Membuat Firda merasa seperti ada gelombang dahsyat yg berkumpul di perut nya dan ingin segera menghantam nya.


Seolah tahu apa yg akan terjadi pada sang istri, Gabriel semakin bergerak cepat dan dalam, membuat gelombang itu segera datang dan menghantam Firda dengan keras. Membuat Firda berteriak keras bersamaan dengan seluruh tubuhnya yg bergetar hebat.


"Ya Tuhan, kamu benar benar cantik, Sayang, istri ku..." puji Gabriel tulus dan ia terlihat sangat puas karena telah memberikan pelayanan pertama yg sangat dahsyat untuk istri kecil nya itu, Firda hanya tersipu malu dan entah kenapa ia merasa melayang mendengar pujian itu.


"Aku tidak bisa berhenti..." racau Gabriel dan ia kembali bergerak setelah melihat istrinya yg kembali tenang setelah getaran hebat itu.


Firda melingkarkan lengan nya di leher Gabriel dan menyeruakan wajah nya di leher sang suami. Memberi pertanda bahwa kini ia siap untuk membalas pelayanan suaminya.


Tak perduli dengan matahari yg sudah sangat tinggi dengan sinar nya yg begitu menyilaukan, maupun manusia manusia yg sibuk dengan aktifitas nya di luar sana sebagai mana semestinya.


Gabriel dan Firda tak bisa berhenti dari aktifitas mereka yg sungguh membuai keduanya. Menawarkan kenikmatan tiada tara walaupun harus di bayar dengan seluruh tubuh nya yg terasa sangat lelah dan bermandikan keringat.

__ADS_1


Suara suara indah bak melodi penyemangat memenuhi kamar yg bernuansa abu abu itu, mendorong kedua nya untuk menjemput kenikmatan dan kehangatan itu lagi dan lagi tak perduli entah sudah berapa kali keduanya telah berhasil menjemput gelombang dahsyat itu yg menghantam nya hingga terasa ke setiap tulang tulang mereka.


__ADS_2