
Setelah Dokter menangani luka Gio, Gio segera keluar dari ruang rawat nya apa lagi setelah Dokter memastikan tidak ada luka dalam. Gio harus menemui keluarga Firda yang saat ini pasti sudah datang.
Dengan di temani Gerry, Gio mencari keluarga Firda dan mereka melihat keluarga Firda yang sedang berlari di lorong rumah sakit. Saat melihat Gio, mereka semua langsung menghampiri Gio dengan tergesa gesa.
"Firda mana, Gio?" tanya Ummi Aisyah. Suara nya masih bergetar, air mata sudah menggenang di pelupuk mata nya.
"Dia... Dia di rawat, Tante" jawab Gio gugup.
"Di... Di rawat?" Ummi Aisyah bertanya dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Terus Micheal sama Gabriel dimana? Mereka baik baik saja kan?" tanya Ummi Aisyah lagi.
"Mm... Mereka juga di rawat, Tante" jawab Gio yang membuat Ummi Aisyah merasa bingung sekaligus takut "Di rawat bagaimana? Kenapa semua nya di rawat, Gio?" teriak nya histeris, bahkan orang orang yang melewati mermen sampai menoleh dan menatap Ummi Aisyah heran. Gio sendiri semakin takut untuk menceritakan kebenaran nya, hanya tahu semua nya di rawat saja sudah membuat Ummi Aisyah begitu histeris. Bagaimana jika Ummi Aisyah tahu cerita yang sebenarnya?
"Gio, kenapa diam?" tanya Ummi Aisyah lagi dengan suara yang lebih lantang "Kenapa semua nya di rawat? Kecelakaan apa yang terjadi? Mereka semua baik baik saja kan, Gio?"
"Aisyah, istighfar, Nak. Tenang, Sayang..." seru Abi nya lembut, Ummi Aisyah mendengarkan apa yang di katakan Abi nya. Ia menarik nafas dan mengucapkan istighfar dengan begitu mendalami.
Setelah merasa tenang, Gio mengajar keluarga Firda untuk duduk. Mereka pun ikut saja.
Kemudian, perlahan dan dengan sangat hati hati Gio menceritakan kejadian yang sebenarnya, namun Gabriel belum sempat bercerita pada Gio bahwa Adrian itu adalah Edward. Sehingga Gio hanya bercerita bahwa mereka di serang musuh Gabriel.
"Astagfirullah, ya Allah..." Ummi Aisyah memegang dada nya yang terasa begitu sesak, air mata mengalir deras di pipi nya, nafas seperti tercekat di tenggorokan nya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Tante..." kata Gio lirih "Ini semua salah ku, jika mereka tidak keluar rumah untuk mengantar ku pulang, mungkin ini tidak akan terjadi" ia berkata dengan penuh penyesalan, itu terlihat dari sorot mata nya yang memang terlihat sangat menyesal dan terpukul, suara nya juga begitu bergetar.
"Ini sudah jalan nya, Nak..." kata Kakek sembari menepuk pundak Gio "Kita hanya berdoa saat ini"
Sementara Ummi Aisyah hanya bisa menangis di pelukan Ibunda nya, suami nya, putri nya, menantu nya, semua nya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Ummi Aisyah tidak sanggup membayangkan bagaimana keadaan mereka saat ini, betapa sakit nya mereka saat ini.
"Lalu dimana orang orang yang menyerang anak anak ku itu, Gio?" tanya Nenek kemudian.
"Mereka bertiga sudah tewas, Nek. Tapi Adrian tidak, dia ternyata masih hidup"
"Dia selamat?" tanya Ummi Aisyah dan Gio mengangguk lemah.
"Alhamdulillah" ucap Ummi Aisyah tiba tiba yang membuat Gio dan Gerry langsung mengerutkan kening nya dalam. Mereka berdua menatap bingung Ummi Aisyah yang mengucapkan Alhamdulillah saat penjahat seperti Edward berhasil selamat.
"Gio..." Ummi Aisyah bergidik ngeri sendiri kesadisan yang begitu mudah di ucapkan oleh Gio "Tante tidak mau putri Tante menjadi pembunuh, Gio. Sekarang pria selamat, itu artinya Allah sendiri yang akan menghakimi nya..."
"Tapi pria itu sudah sangat jahat, Tante" ujar Gio yang tak habis fikir dengan pemikiran Ummi nya Firda ini.
"Apa kasus ini sudah di tangani polisi?" tanya Ummi Aisyah lagi dan Gio mengangguk malas kemudian berkata penuh penekanan.
"Jika aku di kota, aku tidak akan membiarkan polisi mendekat ke arena peperangan ku" desis Gio sembari mengepalkan tangan nya kuat kuat "Polisi itu lah yang mengetahui bahwa pria bernama Adrian itu masih hidup dan polisi melarikan nya ke rumah sakit, benar benar bodoh. Seharusnya pria itu di biarkan mati kehabisan darah di tengah sawah" Gio menggeram penuh dendam, sorot mata nya begitu tajam seolah ingin memusnahkan musuh saat ini juga.
"Gio, kita hidup dengan hukum, Nak..." sambung Kakek yang melihat jiwa muda Gio berkobar akan amarah yang tak terkendali "Yaitu dengan hukum Tuhan dan hukum negara, kita tidak bisa main hakim sendiri..."
__ADS_1
"Tapi apa hukum negara yang berupa kurungan penjara setimpal dengan kejahatan nya, Kek?" tanya Gio penuh penekanan.
"Negara akan membuat hukum yang bijak, Gio. Tapi jika hukum itu tidak bijak, atau tidak setimpal, maka masih ada hukum dari Tuhan yang menunggu nya, Nak. Tuhan akan membalas kejahatan atau kebaikan seseorang walaupun kejahatan dan kebaikan itu setitik debu" tukas sang kakek yang berhasil membuat Gio terdiam, ia tertunduk dan menghela nafas panjang. Sudah lama sekali ia tidak berhubungan dengan Tuhan, tidak memikirkan nya sama sekali, Gio menghakimi sendiri apapun yang terjadi pada hidupnya.
"Apakah Tuhan..." Gio berjabat dengan suara bergetar, ia masih menundukan kepala nya dalam dalam "Apakah Tuhan akan menyelamatkan semua nya, Kek? Firda? Mini? Micheal? Om Farhan? Mereka semua orang baik, dan Micheal bahkan masih anak anak yang suci"
"Inysa Allah, Nak. Jika Allah berkendak mereka baik baik saja, maka mereka akan baik saja dalam keadaan apapun" tegas sang Kakek yang membuat Gio sedikit bisa bernafas tenang. Karena setidak nya kini ia punya harapan dan ada yang bisa dia lakukan, yaitu berdoa.
....
Sementara itu, Dokter menyuntik Gabriel dengan obat bius sebelum membawa nya ke ruang operasi. Mereka membersihkan luka luka Gabriel, mengobati nya dan menjahit nya. Dan meskipun tak sadarkan diri, namun raut wajah Gabriel masih memperlihatkan kecemasan nya, kening Gabriel berkerut dalam. Ia seperti orang yang sedang dalam tekanan.
Setelah melakukan operasi kecil itu, mereka memindahkan Gabriel ke ruang rawat biasa. Dan mereka segera mengabari Gio dan yang lain nya.
"Menantu ku baik baik saja kan, Dok?" tanya Ummi Aisyah masih berlinang air mata.
"Insya Allah, Bu. Pak Gabriel akan baik baik saja, tidak ada luka dalam atau luka yang sangat serius. Sekarang kita tinggal menunggu beliau siuman" kata sang Dokter.
"Alhamdulillah, ya Allah" Kakek, Nenek dan Ummi Aisyah mengucap syukur. Sekarang mereka tinggal menunggu kabar dari yang lain nya. Dan Dokter yang menangani Firda juga memberi kabar yang baik, Firda dan kandungan nya baik baik saja.
"Tapi Ibu Firda masih harus di rawat inap, Bu. Kondisi Ibu dan janin nya sangat lemah.." kata Dokter "Jangan biarkan Ibu Firda tertekan atau shock, itu bisa berbahaya bagi kandungan nya"
"Inysa Allah, Dok" kata Ummi Aisyah dan lagi lagi air mata berlinang begitu saja. Ia tidak tahu, apakah itu air mata bahagia karena putri dan membantu nya baik baik saja, atau kah air mata sedih karena suami dan cucu nya juga Mini belum ada kabar?
__ADS_1