
Pagi kembali menyapa, dengan sinar mentari yang sama hangat nya seperti kemarin. Namun harapan hari ini jauh lebih besar dari harapan yang kemarin.
Dan saat ini, Gabriel sedang makan dengan sangat lahap, sambil sesekali menyuapi Firda. Lagi lagi hal itu terlihat aneh bagi Firda, apa lagi kemarin Gabriel masih. terlihat sangat tidak berselera makan.
"Kamu kenapa melihat ku seperti itu, Sayang?" tanya Gabriel sembari menyuapi Firda.
"Emmm" Firda mengunyah makanan nya dan menelan nya sebelum menjawab pertanyaan Gabriel "Bang Gabriel aneh, tadi malam tidur nyenyak, terus sekarang makan nya lahap" kata Firda "Tapi aku senang sih, Bang. Itu bagus buat kesehatan mu, Bang" tukas nya.
"Hehe, iya, Sayang. Soal nya kemarin Gio mengatakan sesuatu yang membuat ku sadar, kalau kita di sini saling menjaga dan melindungi. Jadi aku tidak perlu terlalu mencemaskan kalian semua" kata Gabriel yang membuat Firda tersenyum sambil mengangguk anggukan kepala nya.
"Benar itu, Bang. Bang Gabriel jangan sampai lupa menjaga diri sendiri demi melindungi kami" ujar Firda "Oh ya, ada kemajuan kasus nya engga? Siapa yang masang Bom di mobil dan kapan?" tanya Firda.
"Polisi belum mengabari hal itu, Sayang" jawab Gabriel "Dan aku tidak bisa bertindak banyak karena desa ini bukan daerah kekuasaan ku, apa lagi polisi sudah mengambil alih kasus ini" lanjut nya.
"Ya sudah tidak apa apa, biar hukum yang mengambil alih" kata Firda "Emmm tadi malam Kak Angel ke sini..." lirih Firda sembari melirik Gabriel, ingin tahu reaksi Gabriel jika tahu mantan istri nya datang ke kamar mereka.
"Aku tahu" jawab Gabriel santai "Suara kalian mengganggu tidur ku" lanjut nya yang membuat Firda tersenyum samar, karena seperti nya Gabriel memang sudah Tidak ada rasa lagi pada mantan istri nya itu.
...
Gerry memperhatikan Gio yang masih tertidur pulas di sofa, padahal matahari sudah tinggi, namun Gio masih terlihat begitu nyenyak dalam dunia mimpi nya. Di meja sudah ada dua bungkus makanan yang tadi di antar kan oleh Tante Firda untuk semua keluarga nya yang ada di rumah sakit.
Gerry melambaikan tangan nya di depan wajah Gio namun Gio tidak me respon.
"Dia tidur apa pingsan?" gumam Gerry. Ia kembali melambaikan tangan nya di depan wajah. Gio yang merasakan hal itu secara reflek langsung bangun dan memelintir tangan Gerry yang di kira musuh, Gerry langsung mengerang sakit dan Gio pun tersadar akan kesalahan nya.
"Kenapa mengganggu tidur ku?" tanya Gio kesal.
"Maaf, Tuan muda. Ini sudah siang" jawab Gerry.
__ADS_1
"Terus kenapa kalau sudah siang? Aku ini Tuan muda mu, aku bangun nanti malam pun kamu tidak boleh mengganggu tidur ku" tegas Gio.
"Ssshhtt..." Gerry meletakkan jari nya di bibir nya "Kita masih di kamar rawat Mini, Tuan muda. Sebaik nya jangan berisik" tukas Gerry yang membuat pandangan Gio langsung tertuju pada Mini yang masih dalam keadaan yang sama. Gio menghela nafas berat.
"Apa dokter sudah memeriksa keadaan nya?" tanya Gio.
"Sudah sekitar 20 menit yang lalu"
"Apa kata Dokter?"
"Keadaan nya masih sama, tidak ada kemajuan yang berarti"
Gio hanya bisa menghela nafas panjang, entah sampai kapan keadaan ini akan berlanjut.
"Emm Tuan Muda, tadi malam Don Ed telfon" ujar Gerry.
"Oh ya? Paman Ed bilang apa?"
Mendengar hal itu, Gio langsung menyambar ponsel nya yang ada di atas meja dan menelpon kembali Paman nya itu namun tak ada jawaban.
"Jam segini di Swedia masih tengah malam, Tuan muda" Gerry mengingatkan kalau Paman Ed tidak berada di Indonesia dan perbedaan waktu antara Indonesia dan Swedia berjarak 6 jam.
"Ya juga" gumam Gio "Aku akan menemui Gabriel dan memberi tahu kabar ini, kamu tetap di sini jaga Mini" titah Gio dan Gerry tentu hanya bisa manut saja.
Gio segera bergegas untuk menemui Gabriel, dan sesampai nya di kamar rawat Gabriel, Gio mengernyit bingung karena di sana hanya ada satu ranjang yang cukup besar sementara kemarin ranjang nya masih ranjang biasa.
"Kapan kamar nya berubah begini?" tanya Gio.
"Tadi malam..." jawab Gabriel yang duduk d atas ranjang dengan laptop di pangkuan nya, sementara Firda pergi bersama Ummi nya untuk kembali menjenguk Abi nya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Gio penasaran yang membuat Gabriel langsung menatap bocah itu.
"Tentu saja Karena aku harus tidur satu ranjang bersama istri ku, supaya kami bisa saling memeluk. Kami tidak sedang dalam masalah yang membuat kami harus pisah ranjang padahal berada dalam satu kamar" jawab Gabriel panjang lebar dan sedikit nge gas, membuat Gio menaikkan sebelah alis nya. Selama bersama Firda, memang ada banyak perubahan sikap yang Gabriel tunjukan, contoh kecil nya dulu dia irit bicara pada siapapun termasuk pada Firda, tapi sekarang dia suka meracau panjang lebar.
"Baik lah" ujar Gio mempersingkat waktu "Aku ke sini hanya untuk memberi tahu, kalau Pamad Ed menawarkan seorang Dokter ahli, yang terbaik, dari Swedia, untuk menangani Om Farhan dan Mini" tutur nya yang membuat Gabriel langsung mengerutkan kening nya.
"Kau mengadu pada paman mu itu?" tanya Gabriel.
"Lebih tepat nya Gerry yang selalu mengadu apapun yang terjadi pada ku" jawab Gio.
"Aku tidak bisa meeprcayai Paman mu" tukas Gabriel lagi yang membuat Gio membuang nafas kasar.
"Jika kau yang butuh Dokter, mungkin saja Paman Ed akan menyuruh Dokter menanamkan Bom di dalam jantung mu" ketus Gio "Tapi yang butuh Dokter itu ayah nya Firda, dan Paman Ed tidak akan jahat pada Firda"
"Apa jaminan nya?" tanya Gabriel yang membuat Gio kesal.
"Tidak ada" jawab nya ketus.
"Kalau begitu katakan pada nya aku tidak butuh Dokter dari Swedia, aku bisa mendatangkan nya dari belahan dunia mana pun yang aku mau" ujar nya dengan sombong membuat Gio semakin kesal saja.
"Kalau begitu kenapa tidak kamu datangkan? Om Farhan dan Mini butuh seorang Dokter yang lebih hebat" tukas Gio. Gabriel menarik nafas, ia menutup laptop nya dan menatap bocah di depan nya ini.
"Aku sudah memikirkan semua nya, Gio. Jika sampai besok pagi tidak ada kemajuan dari Mini dan Abi, aku akan membawa mereka ke Amerika" lirih nya. Karena ia juga sangat sangat mengkhawatirkan dua orang yang belum juga siuman itu.
"Itu juga ide yang bagus..." jawab Gio menyetujui rencana Gabriel
"Nanti aku akan mengurus keberangkatan kalian supaya cepat dan aman" lanjut nya yang membuat Gabriel tersenyum miring.
"Memang nya kau tahu cara melakukan nya?" Gabriel bertanya seperti mengejek "Kau belum menjadi Don Mafia, memang nya kamu mengerti apa tentang hal seperti itu" kini ia benar benar mengejek Gio yang memang masih belum faham banyak hal dalam dunia per mafiaan.
__ADS_1
"Aku akan adukan pada Firda, kalau kamu mau menggunakan title mu sebagai Don Mafia untuk membawa Om Farhan dan Mini ke Amerika" gertak Gio namun Gabriel tak mengindahkan nya.