
Gabriel menemani Firda di ruang persalinan, Gabriel tak sedikitpun melepaskan tangan Firda yang sejak tadi menggenggam nya dengan sangat erat.
"Ayo, Bu. Dorong lagi..."
"Tarik nafas, Bu. Ya, begitu, hembuskan nafas, Bu..."
"Ayo, Bu. Sedikit lagi..."
"Aagghhh" Firda mengejan untuk yang kesekian kali nya, otot otot nya tertarik sempurna, tenaga nya sudah terkuras habis, keringat sudah membanjiri tubuh nya namun seperti nya proses kelahiran sang buah hati belum selesai.
"Sabar ya, Sayang..." lirih Gabriel sembari mengusap kening Firda yang berkeringat.
"AAGHHH" Firda kembali mengejan namun bayi nya belum juga keluar, sekali lagi Gabriel meneteskan air mata nya, ia tidak pernah menyangka ternyata proses melahirkan sesulit ini, Gabriel tidak tega melihat istri nya dalam kondisi seperti ini namun Gabriel tidak tahu harus melakukan apa.
"Dokter, operasi saja. Istri ku kesakitan..." kata Gabriel yang justru terdengar merengek pada Dokter.
"Ini sudah hal biasa, Pak. Bu Firda bisa melahirkan normal kok" kata Dokter itu dan ia menahan senyum melihat Gabriel yang menangis, sejak masuk ke ruang persalinan ini, Dokter itu sudah menangkap ketegangan dan ketakutan di wajah Gabriel, seolah Gabriel lah yang akan melahirkan. Karena itulah tadi Dokter itu sempat melarang Gabriel masuk namun Gabriel bersikeras ingin menemani istri nya melahirkan.
"Maka nya, Bapak jangan menangis ya, semangati saja Bu Firda.." kata Dokter itu namun mata nya fokus pada jalan yang akan di lalui bayi untuk datang ke dunia.
"Ayo, Sayang. Semangat ya..." kata Gabriel sambil mengelap air mata di pipi nya sendiri. Firda ingin tertawa rasa nya melihat suami nya yang mewek namun saat ini ia benar benar merasa kesakitan, bernafas saja terasa begitu sulit apalagi menertawai suami nya, namun di satu sisi Firda juga merasa tersentuh dengan sikap suami nya yang begitu mencintai nya dan ingin menjaga nya dari semua rasa sakit.
"Ayo, Bu. Dorong lagi, kepala nya sudah terlihat..." kata Dokter.
"AAGGGHHH" Firda mengejan sekuat tenaga, genggaman di tangan Gabriel semakin erat, otot otot tangan nya sampai terlihat namun bayi nya belum juga keluar.
"Aduh, sudah operasi saja" Gabriel kembali merengek dengan cemas namun tak ada lagi yang menanggapi karena sebentar lagi....
__ADS_1
"AAGGGHHH..." sekali lagi Firda mengejan panjang, ia mengerahkan kekuatan yang tersisa dan terdengarlah suara tangisan bayi yang memenuhi ruangan persalinan itu. Firda langsung terkulai lemas dengan nafas yang terputus-putus sementara tangan nya masih menggenggam tangan Gabriel.
Dan mendengar tangisan bayi itu Gabriel tercengang seperti terkena sihir, ia menahan nafas bahkan tak berkedip. Sementara Dokter menggendong bayi itu dan Suster memotong tali pusar nya.
"Alhamdulillah, putra kalian terlahir dengan sempurna dan sehat" kata Dokter itu sambil menggendong bayi yang masih merah dan di penuh darah itu. Ia memperlihatkan bayi itu pada Firda dan Gabriel, dan sepasang kekasih itu langsung meneteskan air mata haru melihat bayi mungil dalam gendongan Dokter. Rasa sakit yang tadi Firda rasakan seolah musnah, tidak ada apa apa nya di bandingkan kebahagiaan yang ia rasakan ketika melihat bayi nya yang masih menangis.
"Putra ku..." lirih Firda dengan air mata haru yang mengalir di pipi nya, Gabriel pun masih tak bisa menahan air mata yang mengalir bebas di pipi nya, tentu juga air mata haru namun saking terharu nya ia sampai tak bisa berkata kata, hanya mampu menatap bayi itu yang masih menangis.
"Kami akan membersihkan bayi nya terlebih dulu" kata Dokter itu dan Firda hanya bisa mengangguk. Setelah Dokter pergi, Firda menatap suami nya yang masih tercengang.
"Bang..." lirih Firda dan seketika kesadaran Gabriel kembali.
"Sayang, kita punya putra lagi..." Gabriel berkata penuh haru dan ia mengecup wajah Firda berkali kali.
"Terima kasih, terima kasih, Sayang. Aku mencintai mu, aku mencintai putra kita" ia masih berkata penuh haru di sela sela kegiatan nya mengecup wajah sang istri. Memberi tahu betapa bahagia nya ia dengan anugerah ini, Firda hanya bisa tersenyum lemah karena tenaga nya benar benar terkuras habis, Firda bahkan merasa itu mungkin akan jadi akhir hidup nya, rasa sakit yang tiada tara saat berjuang melahirkan sang buah hati.
Firda sungguh menyesal karena telah begitu banyak memberi rasa sakit pada sang Ibu, saat mengandung dan melahirkan saja rasa sakit nya sungguh luar biasa, dan Firda masih terus menambahkan rasa sakit itu saat sang Ibu mengasuh nya dan membesarkan nya.
.........
Firda sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa dan bayi nya juga sudah selesai di bersihkan dan di bungkus dengan selimut, saat itu lah semua nya baru teringat dengan tas yang sudah di siapkan Gabriel sejak dua minggu yang lalu ternyata ketinggalan. Mereka semua tertawa geli, karena yang paling di siapakkan justru yang terlupakan. Om Firda langsung kembali pulang untuk mengambil tas yang berisi beberapa barang Firda yang mereka sendiri tidak tahu apa saja isi nya.
Sekarang keluarga Firda sudah mengerumuni Firda dan putra nya itu di sana. Gabriel pun juga selalu ada di sisi Firda, Gabriel menatap putra kedua nya itu penuh haru dan ia merasa seperti jatuh cinta lagi. Begitu juga dengan yang lain nya, mereka menatap bayi mungil itu dengan tatapan yang berbinar. Abi Farhan juga sudah meng azdani cucu pertama nya itu tadi dan mendoakan nya dengan doa doa terbaik, begitu juga dengan yang lain nya. Putra pertama Firda di sambut dengan hangat, penuh cinta dan tentu dengan doa restu dari semua anggota keluarga nya.
"Tampan sekali ya, Sayang...." kata Abi Farhan pada Ummi Aisyah "Mirip aku, ya kan?"
"Mirip Daddy nya..." sambung Gabriel. Ia menyelipkan jari kelingking nya ke tangan mungil sang bayi yang memejamkan mata namun sesekali menggeliat lucu, membuat semua orang merasa begitu gemas.
__ADS_1
"Masya Allah, semoga menjadi anak yang sholeh, berbakti pada orang tua dan taat pada agama" lirih sang Kakek.
Firda mengusap pipi bayi nya itu yang benar benar halus nan lembut, Firda juga merasa jatuh cinta pada putra pertama nya ini. Firda tak mampu mengalihkan tatapan nya dari sang putra walaupun hanya sesaat.
"Kalian sudah menyiapkan nama?" tanya Ummi Aisyah yang juga tak bisa mengalihkan tatapan nya dari sang cucu.
"Sudah, Ummi" kata Gabriel "Sayang, aku mau cium, boleh tidak ya?" tanya Gabriel kemudian dengan tatapan memelas pada Firda, ia bahkan lagi lagi terkesan merengek.
"Ya boleh, Bang " kata Firda lembut. Sejak tadi Gabriel memang sangat ingin mencium putra nya namun ia tak berani, putra nya begitu kecil, mungil, lembut, Gabriel takut sentuhan nya menyakiti nya atau pun mengganggu nya. Tapi setelah hanya bisa memandangi nya, hati Gabriel sudah tak tahan, ia ingin mencium putra kecil nya itu.
Gabriel pun menunduk dengan gugup dan mendaratkan kecupan halus nan lembut dan kening sang putra, seketika perasaan hangat melingkupi hati Gabriel, ia merasa begitu bahagia hingga tak mampu mengungkapkan nya dengan kata kata.
"Ya Allah, dia lembut sekali, Sayang" lirih Gabriel penuh haru yang membuat semua orang tersenyum simpul.
"Jadi nama nya siapa?" tanya sang Nenek yang juga sudah tidak sabar ingin tahu nama cicit nya itu.
"Muhammad Jibril, Nek" kata Firda.
"Masya Allah, Muhammad Jibril?" sang Kakek terlihat kagum dengan nama yang di pilih oleh cucu nya itu.
"Iya, Kek. Bang Gabriel yang memilih nama itu dan Firda juga menyukai nya" kata Firda yang membuat sang kakek semakin kagum.
"Semenjak tinggal di desa, aku sering mendengar cerita tentang para Nabi dan Malaikat. Aku merasa jatuh cinta dengan dua sosok yang mulia itu. Nama nya juga di sebutkan dimana mana" kata Gabriel sambil menatap putra nya yang bernama Muhammad Jibril itu.
"Jadi aku mengatakan pada Firda kalau anak kita laki laki, aku akan memberikan nama nama mulia itu dan semoga ia juga memiliki sifat sifat yang mulia" lanjut nya.
"Nama yang sangat bagus, Gabriel..." kata Ummi Aisyah.
__ADS_1
"Jika di kota, dia akan di kenal sebagai Tuan muda Emerson. Tapi karena kita di desa, dia akan di kenal sebagai Lora Jibril"