
Sebuah permainan mematikan namun sangat memicu adrenalin dari seorang penjahat, yaitu memburu. Merasa tertantang, merasa menguasai dan merasa bisa mendominasi. Membuat Edward dan ketiga kawan nya berenang senang, bahkan Raisa yang sejati nya seorang wanita, seorang Ibu yang seharus nya bersikap lembut dan keibuan justru ia bersikap layak nya predator.
Permainan di mulai sejak lima belas menit yang lalu, Firda dan Gabriel di izinkan melarikan diri dan mereka mengejar nya dari belakang setelah lima belas menit kemudian.
"Permainan ini akan sangat menyenangkan..." ucap Edward yang tersenyum sinis sembari melangkah santai memgikuti jejak darah Firda dan Gabriel.
"Sebenar nya aku ingin sekali langsung menembak mati wanita itu, tapi seperti nya sedikit permainan akan lebih menyenangkan. Apa lagi tidak mungkin mereka bisa melarikan diri dalam keadaan seperti itu" ucap Raisa yang juga berseringai licik. Kedua anak buah nya juga memburu Gabriel dan Firda dengan santai.
Sementara di rumah Firda, Ummi Aisyah tak bisa menghentikan air mata nya karena mencemaskan sang buah hati. Ia terus berdoa dan memohon dengan bibir yang bergetar agar putri nya bisa pulang dengan selamat. Orang orang di rumah itu hanya bisa saling menguatkan satu sama lain.
Dan Abi Farhan juga beberapa orang lain nya kini dalam perjalanan menuju sungai yang ada di ujung desa. Mereka menggunakan motor supaya sampai lebih cepat.
Sementara Gio dan Mini pun juga dalam perjalanan ke desa Firda.
...
Firda dan Gabriel terus berjalan tanpa arah, dengan kondisi yang sama sama tertembak tentu mereka tak bisa lari dan mereka pun memang tak berniat melarikan diri. Dan saat ini, Firda dan Gabriel berhenti di bawah pohon. Gabriel berusaha membuka ikatan tangan Firda dan setelah berhasil membuka nya, kini Firda yang berusaha membuka ikatan tangan Gabriel.
"Sayang, kamu harus keluar dari sini biar aku yang menghadapi mereka" kata Gabriel sembari mengusap pipi Firda yang kotor karena lumpur.
"Kita hadapi mereka bersama, Bang" jawab Firda meyakinkan.
__ADS_1
"Tidak, Firda. Aku tidak mau terjadi sesuatu sama kamu, kamu harus pulang, ya..." lirih Gabriel dengan tatapan memohon namun Firda menggeleng tegas.
"Kita harus menyelesaikan semua nya hari ini juga, Bang. Aku tidak mau nanti anak anak ku yang menjadi sasaran balas dendam mereka. Hari ini, entah kita atau mereka yang harus mati tapi kita tidak akan lari lagi" tegas Firda dengan percaya diri. Gabriel menatap mata istri nya itu dan tak ada ketakutan sedikitpun di mata sang istri, hal itu mengingatkan Gabriel saat pertama kali bertemu dengan Firda.
"Kamu memang pemberani, Sayang" ucap Gabriel kemudian ia melepaskan baju nya, Gabriel merobek nya menjadi dua. Kemudian ia berlutut di depan Firda, Gabriel mengangkat gamis Firda dan mengikat luka Firda sementara sobekan yang lain ia gunakan untuk mengingat luka nya sendiri.
"Mereka psycho, karena itu lah mereka membuat permainan seperti ini" kata Gabriel yang kini sudah kembali berdiri "Mereka mengikuti jejak darah kita dan mereka pasti berfikir kita tidak bisa lari, itu memang benar. Karena itu lah kita tidak perlu lari, kita hanya perlu menyerang balik"
"Aku tahu...." kata Firda kemudian ia mengangkat gamis nya, dimana di dalam nya ia memakai lagging dan menyelipkan senjata nya di sana.
"Ya Allah, Sayang. Kamu sembunyikan di sana" kata Gabriel.
"Itu bukan tugas mu, itu tugas ku" kata Gabriel kemudian ia membawa Firda kembali mencari tempat persembunyian setelah mereka mendengar suara Edward dan yang lain nya semakin mendekat. Mereka juga membawa tali yang tadi menjadi ikatan mereka.
Sementara itu, Edward dan ketiga kawan nya mulai merasa bingung karena mereka kehilangan jejak. Bahkan tak ada lagi ceceran darah di atas rerumputan.
"Bagaiamana bisa? Dimana mereka?" geram Raisa yang merasa panik.
Tanpa mereka sadari, Firda dan Gabriel berada di balik pohon yang ada di belakang mereka. Raisa dan Edward pun melanjutkan pencarian mereka dan mereka meminta dua pria lain nya berpencar. Apa lagi Edward menyadari bahwa Gabriel bukanlah pria yang bodoh, berada di situasi seperti ini bukan hal baru bagi seorang Gabriel Emerson.
Setelah Edward dan Raisa pergi, Gabriel langsung mengikuti salah satu pria tadi dari belakang dengan tali yang sudah Gabriel siapkan di tangan nya. Setelah punya kesempatan, Gabriel langsung menjerat leher pria itu dengan tali. pria itu berusaha melawan Gabriel dan ia melepaskan tembakan secara asal. Pergelutan pun tak terelakan, Gabriel tak memperdulikan rasa sakit di paha nya.
__ADS_1
Sementara pria yang satu nya lagi begitu terkejut setelah mendengar suara tembakan dan saat ia menoleh, Firda justru langsung melepaskan tembakan nya yang tepat mengenai dada pria itu.
Edward dan Raisa yang kini berada di arah yang berbeda juga terkejut mendengar suara tembakan yang sebanyak dua kali itu. Mereka berdua sama sama berlari menuju asal suara itu dan sesampainya mereka di sana, meraka hanya menemukan rerumputan yang penuh darah.
"Sial..." geram Edward dan Raisa yang melihat itu semakin marah.
"Seharusnya aku tidak mempercayai mu untuk membiarkan mereka pergi, sekarang lihat lah apa yang mereka lakukan! Mereka bisa menyerang balik!" teriak nya yang justru malah mendapatkan tamparan dari Edward.
Raisa langsung memegang pipi nya dan bahkan sudut bibir nya berdarah karena keras nya tamparan Edward.
"Jangan membuat ku marah, Raisa. Jangan berteriak pada ku, kita bisa mengalahkan mereka" kata Edward.
Sementara itu, Firda dan Gabriel saat ini sedang menyeret pria yang tadi Firda tembak dengan susah payah karena bobot yang sangat berat sementara Gabriel dan Firda sama sama tak bisa berjalan dengan baik. Pria itu masih bernafas namun tak sadarkan diri, sementara pria yang tadi bergelut dengan Gabriel juga pingsan atau bahkan mati setelah Gabriel mematahkan leher nya. Firda dan Gabriel meletakkan kedua pria itu di bawah pohon dan kemudian mereka meninggalkan nya.
"Bagaiamana, Sayang? Mudahkan mengalahkan mereka?" gurau Gabriel pada Firda, sementara Firda hanya bisa tersenyum hambar karena lagi lagi ia membunuh orang. Jika boleh menjadi orang yang naif, Firda berharap pria itu tidak mati dan hanya terluka. Bisa di selamatkan dan kemudian bertaubat.
"Tapi Om Edward dan wanita itu pasti juga cerdik, Bang" kata Firda lirih.
Sementara di sisi lain, Edward dan Raisa kembali ke tempat mereka semula dan mereka mengeluarkan drone yang di lengkapi dengan kamera.
"Permainan selesai, saat nya masuk ke menu utama"
__ADS_1