
Aisyah terbangun di sepertiga malam begitu juga dengan suami nya, mereka melaksanakan sholat malam dan memohon ampun atas kegagalan mereka menjaga amanah dari Rabb nya, yaitu anak gadis mereka. Aisyah bahkan hampir pingsan memikirkan permata kecil nya yg sudah tak murni lagi, ia merasa malu pada Rabb nya atas kelalaian nya. Aisyah dan suami nya terus memohon ampunan dan petunjuk, karena mereka Sungguh sedang berada dalam kegelapan saat ini.
"Ampuni kelalaian kami, Ya Rabb..." lirih nya dengan berderai air mata "Jangan hukum putri kami atas apa yg telah terjadi, kasihanilah kami dan putri kami. Sesungguhnya kami hanyalah Hamba Mu yg lemah, tak berdaya dan kami sungguh berada dalam kebimbangan saat ini. Berikanlah petunjuk mu pada kami, jika ini teguran dari Mu atas kelalaian kami, kami memohon, bimbinglah kami agar bisa memperbaiki diri dari kelalaian kami. Jika ini ujian dari Mu, maka kami memohon dengan segenap jiwa kami, berikanlah kami kesabaran dan keikhlasan. Kami percaya akan kasih Mu, Ya Rabb... "
.........
Sementara itu, Firda sudah seperti orang depresi karena ia hanya diam dengan tatapan kosong. Bahkan saat ini air mata nya seolah sudah mengering dan habis.
Apa yg sebenar nya terjadi, bagaiamana terjadi, kenapa terjadi. Pertanyaan itu terus bekecamuk dalam benak Firda. Hingga dering ponsel nya begitu mengejutkan Firda dan menyadarkan Firda dari lamunan nya.
Nama Om Gabriel tertera di layar ponsel nya dan hal itu membuat amarah Firda memuncak begitu juga dengan kesedihan nya. Firda menjawab panggilan itu dengan emosi yg meluap.
"Apa lagi yg kamu mau, huh? belum puas kamu menghancurkan hidup ku? Memang apa salah ku? kenapa kamu begitu jahat?" teriak Firda dan air mata nya kembali berderai. Firda tak peduli bahkan jika seluruh keluarga nya terbangun saat ini Karena teriakan nya.
...... ...
Sementara Gabriel begitu terpukul mendengar teriakan Firda, dan saat ini ia sedang berdiri kedinginan di depan rumah Firda bersama John. Mereka baru saja sampai di desa itu dan Gabriel bahkan tak mau menunggu hari esok untuk menemui Firda.
"Fir, aku minta maaf. Aku... Aku ada di depan rumah mu, aku datang untuk mempertanggung jawabkan apa yg sudah aku lakukan" lirih Gabriel.
Hanya terdengar suara isak tangis Firda dari seberang telpon, gadis itu bahkan tidak pernah bersentuhan tangan dengan pria, tak heran jika ia sangat terpukul dengan apa yg sudah terjadi pada diri nya.
"Fir, aku ingin menemui orang tua mu. Aku mohon, Firda. Aku akan bertanggung jawab" Gabriel berkata dengan begitu memelas.
"Pertanggung jawaban seperti apa yg akan kamu lakukan, huh? menikah? kamu fikir aku mau menikah dengan pria yg tidak bisa menghormati gadis asing?" Firda masih berkata penuh dengan amarah dan kesedihan, bahkan ia terdengar begitu sesegukan.
__ADS_1
"Aku menghomrmati mu, Fir. Aku sangat menghormati mu" lirih Gabriel dengan begitu tulus.
...... ...
Tangis Firda semakin pecah mendengar ucapan Gabriel, bagaimana bisa dengan tidak tahu malu nya Gabriel berbicara tentang menghormati sementara ia telah merenggut kesucian yg Firda jaga selama ini. Firda pun kembali meneriaki Gabriel di tengah isak tangis nya.
"Menghormati ku? Dengan merenggut kesucian ku kamu bilang menghormati? Apa seperti itu cara nya kamu menghormati seorang gadis? Apa kamu manusia? Aku sangat membenci mu, apa kamu tahu itu? Aku benar benar membenci mu" teriak nya dan ia pun langsung melemparkan ponsel itu ke lantai hingga ponsel itu hancur. Firda menenggelamkan wajah nya di bantal dan ia berteriak histeris, menangis meraung, meluapkan segala rasa sakit dan kemarahan nya.
...... ...
Gabriel terkulai lemas mendengar kata kata Firda yg penuh kemarahan, kebencian dan kesedihan.
"Tuan, sebaik nya kita pulang dan besok pagi baru ke sini lagi. Cuaca semakin dingin, Tuan Gabriel. Kau bisa sakit" seru John namun Gabriel menggeleng lemah.
John merasa begitu aneh melihat Gabriel yg tampak sangat lemah, itu bukanlah Tuan Gabriel nya. Bahkan saat Anngelin meninggalkan nya, Gabriel memang bersedih dan terpukul namun tak membuat nya tampak lemah dan tak berdaya seperti sekarang ini.
...... ...
Dan saat pagi menjelang, Aisyah memaksakan diri keluar kamar karena tak ingin keluarga nya khawatir karena Aisyah dan Firda sama sama tidak pernah keluar kamar. Mata Aisyah masih terlihat bengkak dan sembab meskipun Aisyah berusaha menutupi nya dengan olesan make up.
"Kamu kenapa, Aisyah?" tanya ibu nya Aisyah.
"Engga apa apa, Ummi. Cuma tadi malam engga bisa tidur" jawab Aisyah sembari menghindari tatapan ibu nya.
"Bagaimana keadaan Firda? tadi malam Ummi ke kamar nya tapi dia Sudah tidur, dia juga seperti nya menangis. Wajah nya sembab, bahkan bantal nya juga basah, Firda sangat pucat. Sebaiknya hari ini panggil Dokter" tukas sang Ibu yg membuat Aisyah kembali ingin menangis, Aisyah menggigit bibir nya kuat kuat dan berkedip berkali kali guna menahan air mata yg ingin kembali tumpah.
__ADS_1
"Firda juga aneh, kamar nya berantakan dan Ciu Ciu nya tidak di mandikan atau di beri makan. Ummi juga tidak pernah melihat Firda makan, apa dia makan di kamar nya?" tanya sang ibu lagi dan Aisyah hanya mengangguk pelan.
Tadi malam Farhan memang membawakan makanan untuk Firda namun Firda hanya memakan dua suap saja.
" Biar Ummi cek lagi cucu Ummi yg satu itu, tidak biasa nya dia seperti ini. Ummi jadi khawatir" ujar ibu Aisyah lagi.
" Engga usah, Ummi... " seru Aisyah "Biar Aisyah saja" lirih nya dan Ummi nya pun mengangguk.
"Tanyakan sama Firda, dia ingin makan apa, biar Ummi memasak untuk nya. Anak itu biasa nya tetap bawel dan tetap suka makan meskipun sakit, ada apa dengan nya sekarang?" gumam nenek Firda itu yg membuat Aisyah semakin sedih. Semua orang begitu mencintai Firda yg konyol dan bar bar, bagaimana jika mereka tahu apa yg sudah Firda lakukan?
Aisyah pergi untuk memeriksa keadaan Firda, dan ia bertemu dengan ayah nya yg saat ini memegang piring kosong yg biasa nya piring itu di gunakan Firda untuk memberi makan kucing nya.
" Aisyah, Firda kemana? Masih sakit? kata Ummi, tadi malam Firda menangis. Apa kamu memarahi nya? Dia masih anak anak, jika dia salah cukup tegur dan beri tahu itu salah. Atau mungkin kamu salah faham saja, Aisyah?" tanya Abi nya itu dengan suara parau nya.
"Engga, Bi. Firda cuma engga enak badan" jawab Aisyah lirih.
"Tapi Ciu Ciu engga di kasih makan, itu engga pernah terjadi sebelum nya. Ini Abi baru saja memberri nya makan, katakan pada Firda supaya bangun dan urus urus Ciu Ciu. Kasian kucing nya, seperti nya dia sedih karena Firda tidak merawat nya"
" Iya, Bi. Nanti Aisyah akan bilang sama Firda" jawab Aisyah dan ia hendak pergi.
"Aisyah...." seru Abi nya lagi, Aisyah pun menoleh.
"Iya, Bi?" tanya nya.
"Jangan memarahi Firda, Nak. Saat anak anak salah, yg dia butuhkan adalah teguran tegas dan ajaran yg lembut. Bukan amarah yg memuncak, karena itu malah akan membuat dia juga marah atau bahkan benci dan bukan nya menyadari kesalahan nya" tukas Abi nya dan Aisyah seketika teringat saat ia menampar Firda.
__ADS_1
Padahal Firda bisa di katakan di lecehkan, di perkosa dan seorang korban. Tapi Aisyah menampar nya seolah Firda adalah pelaku, Firda mungkin salah karena begitu percaya pada Gabriel, tapi Aisyah juga tahu bahwa tak mungkin Firda mau melakukan hal serendah itu meskipun kadang Firda memang bersikap ke kanak kanakan. Justru di situasi dan kondisi seperti ini, Firda sangat membutuhkan dukungan orang tau nya.
"Iya, Bi. Aisyah faham" jawab Aisyah