Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 129 - Inikah Akhirnya?


__ADS_3

"Jika kau ingin balas dendam pada Gabriel, jangan incar Gabriel dan Micheal. Orang orang mereka juga akan mengincar balik diri mu dan orang orang mu. Sedangkan jika kau membunuh ku, tidak akan ada yg menyentuh mu. Karena keluarga ku akan ikhlas, dan mereka akan membuat Gabriel mengerti, mereka akan membuat Gabriel tidak melakukan balas dendam lagi. Aku hanya ingin lingkaran balas dendam Ini putus, ku mohon... "


Baik Gio maupun Eduardo tercengang mendengar apa yg di katakan Firda, apa lagi ketika Firda mengeluarkan ponsel dari bawah selimut nya yg ternyata tersambung pada kakek nya. Firda memberikan ponsel itu pada Gio setelah me load speaker ponsel nya. Terdengar suara isak tangis sang kakek yg kini sudah tua renta.


Seketika hati Gio seperti di remas remas, nafas nya tercekat di tenggorokan nya dan ia merasa begitu lemah.


"Gio..." terdengar suara parau sang kakek yg bergetar "tolong, maafkan menantu ku, Gio..." pinta nya. Gio hanya bisa membisu, apa lagi Eduardo yg tak menyangka Firda akan melakukan ini.


"Dendam tidak akan memberikan mu ketenangan, Nak. Dendam hanya akan melingkupi hati mu dengan kegelapan, Gio. Dengan dendam, tidak akan membuat orang tua mu kembali, apa lagi tenang di alam sana... '


" Aku bukan nya membela menantu ku, dia juga salah besar, melakukan dosa besar. Tapi kau tidak perlu mengotori tangan mu untuk menghukum nya, karena Tuhan itu adil, Tuhan tidak tidur, dan Tuhan tahu siapa saja hamba Nya yg berdosa. Tanpa kau repot repot menghukum nya, Tuhan lebih tahu hukuman apa yg pantas untuk nya. Sedangkan tuhan juga akan sangat menyayangi dan memuliakan orang orang yg mau berbesar hati untuk memaafkan... "


Ketiga orang itu masih mendengarkan sang kakek baik baik, mata Gio bahkan sudah terasa panas dan berkaca kaca. Jauh dalam hati kecil nya ia membenarkan apa yg di katakan kakek nya Firda itu, namun ego nya dan jiwa iblis nya masih mendominasi diri nya.


"Sudahi dendam ini, Gio. Demi diri mu sendiri, demi ketenangan mu..." pinta sang kakek lagi. Gio masih bungkam, menatap Firda dengan begitu sendu, dan Firda membalas tatapan itu juga dengan begitu sendu.


"Tapi, jika kau masih pada niat tak baik mu, jika kau masih ingin membunuh menantu kami, kami ikhlas, Nak. Kami akan menerima nya dan kami akan memaafkan mu..."


Gio dan Eduardo semakin tercengang mendengar apa yg di katakan kakek nya Firda itu, hal itu sungguh menyentuh hati sebenar nya.


Saat mereka terdiam merenungi apa yg di katakan sang kakek, seorang pria datang dengan tergesa gesa dan mengabarkan ada helikopter yg mendekat.


"Itu suami ku..." ujar Firda yg membuat Gio dan Eduardo melotot terkejut.


"Maaf kan aku, Gio. Aku hanya ingin pulang pada suami ku, mereka datang hanya untuk menjemput ku dan tidak akan menyakiti siapa pun" tukas Firda kemudian.


Gio hanya memandang Firda, ia tampak nya kecewa dengan apa yg di lakukan Firda.


"Milik siapa ponsel ini?" tanya Gio dingin.

__ADS_1


"Dokter" jawab Firda kemudian ia mengambil ponsel itu yg masih tersambung pada kakek nya "Kakek, Firda akan telpon lagi" ia berkata dengan tenang, seperti hari hari biasa. Seolah tak ada masalah apapun.


Gio dan Eduardo bergegas meninggalkan kamar Firda dan Firda mengejar nya.


"Aku mau pulang, Gio..." lirih nya memohon.


"Kembali ke kamar mu, Nyonya. Sebelum kami memasksa mu" Gio berkata dengan begitu dingin namun Firda menggeleng.


Ia justru memegang lengan Gio dan menarik Gio. Mereka pergi ke atap, tentu Gio tak bisa lagi menolak ataupun mencegah Firda, dan ternyata di sana sudah ada beberapa anak buah Gio yg sudah sangat siap dengan senjata mereka dan siap menyerang Gabriel.


Jet pribadi Gabriel sudah mendarat di atas atap, dan saat Gabriel turun dari jet pribadi nya itu, mata Firda langsung berkaca kaca. Namun Firda tak menghampiri Gabriel, untuk memastikan pada Gio bahwa Gabriel dan orang orang nya takkan menyakiti Gio dan orang orang Gio.


Firda tetap berdiri di samping Gio, sementara Gabriel tersenyum hangat saat melihat istri nya itu baik baik saja. Ingin rasa nya Gabriel berlari dan merengkuh Firda dalam pelukan nya, namun Gabriel menahan diri. Ia memerintahkan semua anak buah nya untuk keluar dari jet nya dan meninggalkan senjata mereka di dalam.


Hal itu membuat Gio dan Eduardo tercengang. Anak buah Gabriel termasuk Mini hanya berdiri di dekat pesawat dan mereka menangangkat kedua tangan mereka ke udara, dan itu adalah perintah Gabriel.


Gio memerintahkan anak buah nya untuk mengecek Gabriel, mereka mengecek nya dan Gabriel memang tidak menyimpan senjata apapun.


"Dia bersih kan?" tanya Firda pada pria itu dan pria itu mengangguk. Kemudian Firda menatap Gio dengan memelas "Apa aku boleh memeluk suami ku sekarang?" tanya nya dan entah kenapa pertanyaan itu membuat hati Gio terkesiap.


Gio merasa menjadi pria yg sangat jahat, yg menyiksa Firda karena sudah memisahkan nya dengan suami nya. Gio mengangguk, dan seketika itu juga Firda berlari dan menghambur ke dalam pelukan agbriel.


Firda menangis tersedu sedu di pelukan suami nya itu, ia memeluk Gabriel dengan sangat erat, air mata nya yg mengalir deras membasahi baju Gabriel. Sementara Gabriel juga menangis dalam diam, air mata nya menetes begitu saja. Ia mendekap istri nya dengan sangat erat, memberi tahu bahwa ia sangat merindukan sang istri. Gabriel menghujani pucuk kepala Firda dengan kecupan kecupan lembut nya.


Kedua nya tak bisa berkata apa apa, hanya pelukan dan air mata yg memberi tahu perasaan kedua nya saat ini.


Gio yg melihat itu seketika merasa tersentuh, Gio baru menyadari, bahwa yg di butuhkan Firda bukan hanya tempat yg aman tapi juga tempat yg nyaman. Yg di butuhkan Firda bukan hanya orang yg bisa melindungi nya namun juga yg di cinta nya.


Setelah merasa cukup berpelukan dengan istri nya, Gabriel melerai pelukan mereka. Gabriel merangkul Firda dan membawa nya mendekati Gio.

__ADS_1


Kini ia berdiri tepat di depan Gio, ia menatap mata Gio.


"Aku datang untuk dua hal..." kata Gabriel dengan suara rendah nya, ia menghapus sisa air mata di pipi nya "untuk menyelamatkan istri ku..."


"Aku tidak menyakiti nya..." Sanggah Gio.


"Bukan dari tangan mu, Gio. Tapi dari diri ku" ucap Gabriel yg membuat Gio sedikit tak mengerti.


"Apa yg aku lakukan di masa lalu, berdampak pada istri ku, termasuk aku yg telah melenyapkan keluarga mu..." Gabriel menarik nafas, ia menunduk dan menatap Firda dengan lembut, sebelum akhir nya menatap Gio kembali "Aku datang untuk menyerahkan diri, aku ingin dendam di antara kita berakhir..."


Gio tentu tak langsung percaya dengan apa yg di katakan oleh Gabriel, namun melihat semua anak buah Gabriel yg menyerah dan Gabriel tak bersenjata, seperti nya Gabriel berkata jujur.


" Aku melakukan ini untuk istri ku... " lanjut nya, Firda menyadarkan kepala nya di lengan sang suami, ia masih menangis dalam diam.


Dan percaya lah, tangisan wanita mudah sekali meluluh kan hati pria.


Gio mengangkat senjata nya, membuka kunci nya dan mengarahkan nya tepat di kepala Gabriel. Namun baik Gabriel ataupun Firda tak gentar. Firda masih menyenderkan kepala nya di kepala sang suami. Ia memejamkan mata dan air mata masih begitu deras mengalir di pipi nya. Eduardo merasa tak tega melihat Firda, namun dalam dunia gelap nya. No mercy. An aye for an eye.


Gabriel tanpa takut sedikitpun menatap tepat ke mata Gio. Gabriel bukan lah tipe orang yg mau menyerah pada apapun, dalam keadaan apapun. Namun ia melakukan semua ini demi Firda nya, demi Michael.


Jari Gio sudah bergerak untuk menarik pelatuk nya, rahang nya mengeras dengan tatapan yg begitu tajam. Terlihat kemarahan yg sangat jelas di mata nya, namun juga ia terlihat bimbang dengan dan pada akhir nya Gio menurunkan senjata nya. Gio tak bisa membayangkan akan seperti apa Firda tanpa Gabriel, akan seperti apa Firda jika Gabriel mati di depan mata nya.


"Pergilah..." ujar nya dingin yg seketika membuat Eduardo melotot terkejut, begitu juga dengan Firda yg langsung membuka mata dan menatap Gio dengan tatapan tak percaya nya.


Gabriel juga terkejut dengan keputusan Gio, ia sungguh tak percaya dengan apa yg di dengar nya.


Gio menatap Firda dan tersenyum samar "Pulang lah, Nyonya Firda. Sampaikan salam ku pada kakek, dia benar, dendam hanya melingkupi hati ku dengan kegelapan. Sementara memaafkan sungguh membawa ketenangan"


Firda langsung menangis haru, begitu juga dengan Gabriel. Ia merasa Firda bukan hanya lentera nya, tapi lentera orang orang yg ada di samping nya.

__ADS_1


__ADS_2