
Gabriel membeli ponsel baru untuk nya dan juga untuk Firda, tentu mereka masih menggunakan nomor yg sama. Dan saat mendapatkan ponsel nya, orang pertama yg Firda hubungi adalah ibu nya.
"Fir, kami kalang kabut karena seharian ponsel mu tidak aktif" seru sang ibu dengan nada jengkel di campur cemas nya.
"Maaf, Ummi. Ponsel Firda rusak" jawab Firda.
"Terus ponsel suami mu?"
"Rusak juga"
"Kalian ini orang kaya apa bukan sih? Engga punya telpon rumah?"
"Punya, cuma itu... Em sebenarnya kemarin kami mengalami kecelakaan kecil"
"Kecelakaan? Kenapa kamu engga kasih tahu, Ummi, Fir? Kamu engga apa apa kan, Nak?"
Firda memegang kepala nya yg di perban, dalam hati ia merasa bersalah karena sudah membohongi ibu nya tapi Firda tidak mungkin mengatakan yg sebenarnya, bisa bisa ibu nya itu kena serangan jantung.
"Fir, kenapa diam? Kamu engga apa apa kan, Nak? Kamu masuk rumah sakit? Kami kesana sekarang ya..." terdengar suara cemas ibu nya itu.
"Firda engga apa apa, Ummi. Cuma luka kecil" jawab Firda akhirnya.
"Benaran? Jangan bohong lho, Fir. Ummi sama Abi khawatir sama kamu"
"Iya, Ummi. Firda baik baik saja, cuma luka kecil di kepla"
"Syukurlah, Oh ya, kamu belum masuk pesantren?"
Firda langsung menatap suami nya yg saat ini sedang terbaring di ranjang karena permintaan Firda agar Gabriel tidak melakukan aktifitas apapun, Gabriel sedang tertidur lelap saat ini setelah Firda memberi nya obat.
"Belum, Ummi. Emmm boleh tidak kalau Firda masuk pesantren nya nanti saja, tahun depan"
"Loh kenapa? Gabriel tidak bolehin kamu sekolah ya?"
"Bukan, cuma Firda ingin di rumah saja dan belajar jadi istri yg baik buat Gabriel. Gabriel sangat baik sama Firda, Ummi. Dia... Dia sangat mencintai Firda"
__ADS_1
"Dan kamu juga mencintai nya?" tentu Firda tak bisa langsung menjawab pertanyaan itu namun seperti nya sang ibu sudah tahu jawabannya.
"Tidak apa apa, Fir. Ummi faham, sekarang kamu sudah dewasa dan hidup mu adalah tanggung jawab suami mu. Kewajiban mengabdi mu kepada suami mu jauh lebih besar dari pada pada orang tua mu. Tapi walaupun begitu, sebagai orang tua mu, Ummi cuma mau mengingatkan bahwa pengetahuan mu harus lebih luas lagi dan lagi tentang agama. Jangan berhenti belajar meskipun tidak ke pesantren, dan ingat, jika kamu sudah jadi ibu nanti, maka kamu adalah guru pertama anak anak mu dan kamu harus punya ilmu untuk di ajarkan pada mereka, untuk menjadi bekal hidup mereka"
"Iya, Ummi. Terima kasih..." ucap Firda penuh haru, jika sebelumnya ia akan merasa mengantuk mendengar ceramah Ummi nya, kini ia merasa terharu dan beruntung karena memiliki ibu yg super sabar seperti Ummi nya.
.........
Sementara di rumah nya, Ummi nya Firda merasa tercengang setelah mendapatkan ucapan terima kasih dari putri tengil nya setelah di ceramahi panjang lebar.
"Ada apa?" tanya Abi nya Firda karena melihat istri nya terdiam.
"Ini, Mas. Firda..." ujar Ummi Aisyah memberikan ponsel nya pada suami nya.
"Assalamualaikum, Abi..." sapa Firda kemudian dari seberang telpon.
"Waalaikum salam, Nak. Kamu apa kabar? Kemarin kami semua mencemaskan mu karena kamu dan suami mu tidak bisa di hubungi"
"Iya, Bi. Maafkan Firda karena sudah membuat Abi dan yg lain nya khawatir, kemarin kami mengalami kecelakaan kecil"
"Iya, Bi. Alhamdulillah Firda baik baik saja, Oh ya, Bi... Firda... Anu..."
"Anu apa, Fir? Kamu perlu sesuatu?"
"Tidak, Bi. Bukan apa apa, Firda cuma mau minta maaf sama Abi dan Ummi. Firda belum sempat membahagiakan Abi dan Ummi, Firda yg ada malah selalu membuat kalian sedih, kesal, dan selalu khawatir sama Firda..."
Abi Farhan langsung menatap istri nya saat mendengar apa yg baru saja di katakan Firda, ia merasa itu seperti bukan Firda nya yg tengil dan bar bar. Sementara Ummi Aisyah juga membalas tatapan suami nya dengan sama heran nya.
" Maafin Firda ya, Abi, Ummi. Firda sayang.... sekali sama kalian. Tolong doain Firda juga ya"
"Fir..." seru Aisyah.
"Iya, Ummi?"
"Kamu... Kamu engga lagi sekarat kan, Sayang?"
__ADS_1
"Aisyah..." geram Abi Farhan yg mendengar kata tak masuk akal dari istri nya itu "Kenapa bicara seperti itu?"
"Ya habis nya Firda aneh, Mas. Minta maaf, minta doakan, kalem lagi bicara nya" ujar Aisyah dan terdengar Firda tertawa dari seberang telpon sana.
"Abi, Ummi, Firda itu bukan nya sekarat. Firda cuma sadar saja kalau selama ini Firda itu nakal, kekanak kanakan dan selalu bikin Abi Ummi khawatir"
"Hem begitu, jadi cerita nya kamu sudah dewasa ya, Fir..." jawab Ummi Aisyah.
"Hehe, iya. Bilang saja begitu, Ummi" jawaban Firda itu berhasil membuat kedua orang tua nya tertawa geli. Karena mereka masih merasa tidak mungkin Firda bersikap dewasa tapi jika itu memang benar, maka mereka akan sangat bersyukur.
.........
Setelah Gabriel terbangun dari tidur nya, Firda menyiapkan pakaian Gabriel. Sebuah kaos longgar dan celana pendek.
Karena luka Gabriel tidak boleh terkena air, Firda pun membantu mengelap tubuh suami nya itu dengan handuk. Ia melakukan nya dengan begitu telaten dan lembut. Membuat Gabriel merasa sangat senang, Firda mengelap semua tubuh Gabriel tanpa ada yg terlewat sedikit pun.
"Sayang, rasanya aku tidak apa apa sakit begini setiap hari kalau kamu memperlakukan ku seperti pasien begini. Aku suka" ujar Gabriel saat Firda memasangkan celana nya tanpa ragu.
"Aku yg tidak suka" celetuk Firda.
"Kenapa?" tanya Gabriel merajuk.
"Capek lah" jawab Firda yg membuat Gabriel cemberut.
"Nanti gantian aku yg rawat kamu, aku suka, karena aku sayang kamu" ungkap Gabriel yg membuat Firda tersenyum tertahan.
"Pakai kaos ya, cuaca nya sedikit dingin" ujar Firda dan Gabriel mengangguk patuh. Firda membantu Gabriel mengenakan kaos nya juga.
"Sayang, kamu berbeda deh" ujar Gabriel lagi.
"Beda apa nya? Hidung ku tambah mancung atau mata ku makin besar?" tanya Firda sambil terkekeh, membuat Gabriel terkekeh geli.
"Bukan, aku fikir kamu makin dewasa deh. Perhatian, perduli, sabar, aku suka" lirih Gabriel yg kembali membuat Firda tersenyum tertahan.
"Dalam hubungan, jika ada yg bersikap ke kanakan dan manja. Maka salah satu nya harus berperan dewasa" ujar Firda yg berhasil membuat Gabriel tertawa. Karena ia sadar kini ia bersikap manja dan ke kanakan, tentu hanya pada Firda seorang.
__ADS_1
"Iya, dan aku beruntung karena menikahi wanita seperti mu. Manja yg membuat gemas dan sekaligus dewasa yg membuat ku takjub" puji Gabriel tulus namun Firda kembali hanya tersenyum.