Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 165 - Attack Di Desa


__ADS_3

"Untuk membuktikan semua itu, kita harus pergi ke arah yang lain" kata Gabriel "Hubungi Abi, suruh dia belok kiri di depan sana"


Firda pun segera menuruti perintah suami nya itu "Kenapa, Fir?" tanya Abi nya.


"Bi, nanti di depan sana belok kiri ya" kata Firda sambil terus memperhatikan mobil di belakang nya, Firda juga me loudspeaker ponselnya itu.


"Loh, kenapa? Jalan nya kan lurus, Fir. Kalau ke sebelah kiri itu cuma sawah"


"Bi, ada mobil yang mencurigakan mengikuti kita..." sambung Gabriel. Diri nya dan Firda memang sudah sepakat tidak akan menyembunyikan apapun dari keluarga nya.


Sementara itu, Abi Farhan terkejut saat mendengar penuturan Gabriel.


"Ada apa, Om?" tanya Gio yang menangkap ekspresi terkejut Abi nya Firda ini.


"Kata Gabriel ada yang mengikuti kita dari belakang" ujar Abi Farhan. Gio dan Gerry yang mendengar itu begitu terkejut, mereka fikir di desa itu aman dan tidak mungkin ada penyerangan.


"Tapi bagaimana bisa? Siapa mereka?" tanya Gio panik, dia tidak tahu apakah itu musuh nya atau musuh Gabriel. Tapi yang jelas, mereka dalam bahaya saat ini.


Kini Abi Farhan belok kiri, Gabriel mempercepat laju mobil nya dan mengikuti mobil Abi Farhan dari belakang. Sementara anak buah Gabriel menurunkan drone nya untuk bisa mengambil gambar siapa yang ada dalam mobil itu.


Anak buah Edward yang sedang sangat fokus menyetir sampai tidak bisa menyadari ada drone di atas nya dan saat ini sedang mengawasi mereka.


Sementara itu, Gabriel dan Abi Farhan terus melajukan mobil nya.


"Bang, dia belok kiri juga," kata Firda semakin panik.


"Itu artinya dia memang mengikuti kita" kata Gabriel kemudian yang mulai panik.


Ia segera memerintahkan anak buah nya untuk menysyul nya, sementara mereka kini melewati sawah sawah dan terus melajukan mobil nya namun tiba tiba.


DOORRRRR...

__ADS_1


Edward menembak ban mobil Gabriel yang membuat mobil itu kehilangan keseimbangan nya namun dengan cepat Gabriel mengendalikan mobil nya dan menginjak rem.


Hal itu juga membuat Micheal langsung berteriak histeris, Firda memeluk nya dan menenangkan nya.


Abi Farhan yang mendengar suara tembakan begitu terkejut dan menghentikan mobil nya, ia begitu khawatir dengan putri nya yang adi di mobil Gabriel.


Setelah Abi Farhan menghentikan mobil nya, ia hendak keluar dari mobil namun di larang oleh Gio.


"Mereka bersenjata, Om..." seru Gio memperingatkan.


"Tapi putri ku di sana, Gio. Dia dalam bahaya" seru Abi Farhan panik.


"Ada Gabriel di sana, dia pasti bisa melindungi Firda" ujar Gio. Gerry mempersiapkan senjata nya, tak lupa ia memberikan senjata juga pada Mini untuk melindungi diri.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan..." Abi Farhan hanya bisa berdoa dalam hati. Ia tak pernah menghadapi pria dengan senjata seperti ini.


Gio juga mempersiapkan senjata nya untuk jaga jaga.


Gabriel sengaja tidak keluar dari mobil, karena itu bisa berbahaya bagi nya. Gabriel meminta Firda mengambil pistol yang ia simpan di dashboard.


"Kita harus bagaimana, Bang? Menyerang atau menunggu?" tanya Firda.


"Jika mereka ingin membunuh kita, mereka sudah pasti memberondong kita dengan tembakan" kata Gabriel tampak berfikir "Tapi mereka hanya menembak ban mobil, itu artinya mereka masih menginginkan kita hidup hidup" lanjut nya.


"Hiks... Hiks... Daddy, takut..." Micheal sudah menangis histeris di pelukan Firda.


"Ada Mommy dan Daddy, Sayang. Jangan takut ya" kata Firda.


Sementara itu, Edward dan ketiga anak buah nya turun dengan senjata yang sudah siap di tangan mereka. Mereka menodongkan senjata itu dan bersamaan dengan itu Gabriel turun dari mobil, begitu juga dengan Gio, Gerry dan, Mini dan Abi Farhan. Mereka semua memegang senjata yang juga siap mereka tembakan.


Edward tersenyum sinis melihat mereka berlima yang seperti nya sudah siap bertempur.

__ADS_1


Sekarang 4 lawan 5. Cukup seimbang sebenarnya, yang tiga orang itu memang seorang petaraung, sementara Mini dan Abi Farhan seperti nya tak masuk hitungan karena mereka tidak pernah berkelahi, tapi jika kekuatan mereka di satukan dan mereka bekerja sama, mungkin mereka bisa membunuh salah satu dari anak buah Edward.


Gabriel memperhatikan pemimpin dari tiga orang itu, Gabriel merasa tidak asing saat menatap mata pria itu. Namun wajah nya begitu asing bagi Gabriel.


"Siapa kau? Apa yang kau inginkan?" tanya Gabriel dingin.


"Adrian" kata Edward dengan suara yang berbeda dari suara asli nya agar tidak di kenali oleh putra nya itu.


"Kau berhutang pada bos ku" lanjut Edward.


"Siapa bos kalian?" tanya Gabriel lagi. Edward melirik satu persatu orang orang yang ada di samping Gabriel, yang masih dengan setia menodongkan pistol nya pada Edward dan anak buah nya. Begitu pun sebaliknya, Edward dan anak buah nya masih menodongkan senjata pada mereka.


Sementara Firda hanya bisa berdiam diri di mobil sambil memeluk Micheal dan berusaha menenangkan nya.


"Seseorang yang menginginkan istri mu..." seru Edward dengan sering licik nya dan pernyataan itu tentu membuat suami Firda, Abi Firda dan saudara Firda itu menjadi marah.


"Edward..." kata Gabriel kemudian mendesis tajam dan hal itu justru membuat Edward puas, karena ia telah berfikir bisa menakuti putra nya sendiri.


"Ikuti kami baik baik, atau..." Edward mengacung senjata nya ke kepala Gabriel dan tentu Abi Farhan langsung menodongkan senjata nya ke kepala Edward. Tak lagi terlihat raut ketakutan di wajah nya sekarang, yang ada hanya keberanian dan rasa percaya diri.


"Kau tidak akan pernah bisa menyentuh putri ku..." desis Abi Farhan dengan berani, tatapan nya begitu tajam mengintimidasi Edward seolah ia ingin menghabisi Edward saat ini.


"Apa perlu aku melangkahi mayat kalian dulu?" tanya Edward mengejek, kekuatan ketiga anak buah nya sudah pasti bisa menaklukan pihak lawan.


Sementara di dalam mobil, Micheal masih terus merengek takut. Bersamaan dengan itu, ponsel Gabriel berdering dan Firda segera meraih ponsel suami nya itu. Tertera nama Angeline di layar ponsel nya itu, awalnya Firda ingin mengabaikan nya saja namun ponsel Gabriel terus berdering. Firda pun menjawab panggilan dari mantan istri suami nya itu.


"Gabriel, ayahku di culik ayah mu..." terdengar suara panik Angeline dari seberang telfon, dan kabar yang di dengar nya itu juga membuat Firda begitu shock.


"Kamu harus pulang dan mencari Ayah ku, Gabriel. Dia ada dalam bahaya karena kamu" Firda tercengang, ia tak tahu harus menjawab apa, apa lagi terdengar suara Angeline yang tampak panik sekaligus marah.


"Gabriel, kenapa kamu diam saja? Dan ayahmu itu pergi ke desa istri mu, jika sampai terjadi sesuatu pada putra ku, aku akan membunuh mu, Gabriel" teriak Angeline dari seberang telfon.

__ADS_1


__ADS_2