
Gabriel dan Firda sedang dalam perjalanan menuju Dokter kandungan, dan seperti biasa beberapa pengawal mengikuti Gerbriel dan Firda termasuk Gio.
"Jika kamu tidak hamil, apa yg akan kamu lakukan?" tanya Gabriel sembari menatap Firda, sementara Firda sendiri malah sibuk main game di ponsel nya.
"Aku engga tahu, tapi aku sangat gugup sekarang. Karena itulah aku main game" jawab Firda.
"Kenapa kamu gugup? Kamu takut hamil atau takut tidak hamil?" tanya Gabriel kemudian yg membuat Firda langsung mendongak dan menatap nya.
"Aku hanya ingin memastikan aku tidak melakukan dosa itu" jawab Firda lirih dan jawaban itu seperti menampar Gabriel.
Dosa, Gabriel tidak pernah perduli akan hal itu. Ia hanya menjalani hidup dengan logika,
"Maaf..." Gabriel juga berkata lirih kemudian.
"Aku seorang anak perempuan, kedua orang tua ku selalu mengkhawatirkan ku. Karena anak perempuan itu lambang kehormatan keluarga nya" tutur Firda sembari menundukkan kepala nya, teringat kembali dengan kemarahan dan kesedihan orang tua nya atas apa yg sudah Firda alami "Dan zina itu adalah dosa yg sangat besar, mereka mendidik ku sejak aku kecil agar aku tidak terjerumus pada hal hal yg salah. Jika aku melakukan dosa itu, maka mereka akan sangat sedih dan merasa gagal mendidik ku. Padahal semua itu terjadi bukan karena mereka Gagal memberikan pengetahuan pada ku, melainkan karena kegagalan ku. Walaupun begitu, tetap saja mereka merasa itu salah mereka dan menganggap mereka yg lalai, mereka marah, sedih dan malu" tukas Firda dengan mata yg berkaca kaca, apa lagi saat mengingat tamparan ibunya.
"Maafkan aku, Firda...." Gabriel berkata lirih sekali lagi "Aku tahu dosa itu sangat besar, dan aku mohon percayalah bahwa aku sudah berusaha menghentikan diri ku"
Firda hanya tersenyum tipis mendengar penuturan Gabriel, entah mengapa ia seolah bisa merasakan ketulusan Gabriel dalam permintaan maaf nya.
__ADS_1
"Aku sangat berharap kau berhenti membenci ku, Firda" lirih Gabriel kemudian dengan wajah memelas.
"Aku sedang berusaha melakukan itu, aku harap kau memang bukan pria jahat, Om. Karena semenjak bertemu dengan mu waktu kau terluka saat itu, tidak pernah terbersit sedikitpun dalam benak ku jika kau itu pria jahat. Pernikahan ini adalah bentuk tanggung jawab mu dan juga kesempatan bagi mu untuk membuktikan penyesalan mu. Jika aku boleh berkata jujur, aku tidak hanya menjadikan pernikahan ini penutup kehamilan ku atau pun aib ku, tapi juga bentuk tanggung jawab ku atas kelalaian ku. Aku harap pernikahan ini membuat kita bisa menjalani hidup yg lebih baik dan memperbaiki yg rusak" Gabriel tersenyum simpul mendengar pengakuan Firda yg membuat hati nya begitu tersentuh ity. Perasaan nya campur aduk antara merasa senang karena Firda menganggap nya pria baik atau merasa bersalah karena anggapan itu tidak sepenuh nya benar.
Tapi Gabriel sangat senang saat Firda mengatakan pernikahan itu juga tanggung jawab Firda dan apa yg di katakan Firda menggambarkan bahwa pernikahan ini akan Firda jalani dengan serius. Gabriel sama sekali tidak menyangka, masih sebaik itu Firda pada nya.
Firda dan Gabriel saling pandang dan saling melempar senyum, keduanya merasakan perasaan yg sama. Yaitu menjalani pernikahan ini sebagaimana semesti nya dan berharap pernikahan ini akan membawa perubahan yg jauh lebih baik.
Saat masih saling pandang, tiba tiba sebuah mobil menghantam mobil mereka dari samping.
Firda sangat terkejut dan ia berteriak histeris, apa lagi saat mobil itu terus mendorong seolah ingin menghancurkan mobil mereka.
"Kembali ke rumah...." titah Gabriel dan sopir itu pun langsung berbalik arah. Seketika muncul beberapa mobil hitam yg mengelilingi mobil mereka, melindungi dan menggiring mobil mereka menuju rumah.
Firda yg melihat itu semakin merasa ada yg tidak beres, Firda terus menoleh namun tiba tiba Gabriel memeluk nya dan menyembunyikan wajah Firda di dada nya.
"Jangan melihat ke belakang dan jangan takut, tadi hanya kecelakaan kecil" ujar Gabriel. Firda tak menjawab nya dan ia semakin menenggelamkan wajah nya di dada Gabriel.
Kejadian beberapa menit yg lalu membuat nya sangat terkejut bahkan tubuhnya gemetaran, jantung nya berdecak cepat.
__ADS_1
Gabriel mengusap kepala Firda dengan lembut, Gabriel tahu kejadian ini pasti membuat Firda shock dan mungkin merasa ketakutan. Padahal baru hari pertama Firda berada di kota suami nya namun nyawa nya sudah terancam.
"Firda..." lirih Gabriel karena Firda tidak bergerak "Fir, kamu tidak apa apa?"
"Takut..." lirih Firda "Itu bukan kecelakaan, itu di sengaja" ia kembali berkata lirih.
"Tidak apa apa, Firda. Sekarang kamu aman, kita akan pulang" seru Gabriel.
"Mereka siapa?" tanya Firda lagi dan ia menjauhkan diri nya dari Gabriel "Mereka musuh mu? Kamu punya musuh?"
"Mereka..." Gabriel hanya bisa membuka mulut nya tanpa bisa memberikan jawaban pasti "Itu hanya kecelakaan, percaya lah"
"Jangan bohong, itu di sengaja. Aku tidak bodoh" tegas Firda.
"Mereka musuh bisnis" jawab Gabriel kemudian. Firda pun hanya bisa diam dan kembali menyenderkan kepala nya di dada Gabriel.
"Harus lapor polisi..." lirih Firda.
"Iya, Gio akan mengurus nya. Jangan khawatir" jawab Gabriel mencoba menenangkan Firda yg masih tampak sangat shock.
__ADS_1
"Ya Allah, kehidupan apa yg sebenarnya di jalani suami ku?"