Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 256 - (Bukan) Akhir Perjuangan


__ADS_3

Micheal sampai di desa saat sore hari, bukan main girang nya anak itu selama dalam perjalanan. Ia juga terus mengoceh pada suster nya, menceritakan berbagai hal dari yang fakta hingga fantasi nya yang ia ceritakan dengan begitu serius seolah itu memang benar benar terjadi. Suster nya pun mengikuti kemana arah Micheal bercerita, seolah ia begitu percaya pada Micheal selama Micheal masih pada batasan nya.


Dan sesampainya di rumah Firda, Micheal langsung melompat turun dari mobil dan kemudian ia berlari masuk karena pintu rumah nya terbuka lebar


"Assalamualaikum..." teriak Micheal sementara suster nya saat ini sedang mengeluarkan barang bawaan nya.


"Waalaikum salam..." terdengar jawaban sang Oma dan saat Oma nya itu muncul, Micheal langsung berlari dan berhambur ke pelukan sang Oma.


"Oma, Mickey rindu Oma" ucap Micheal senang.


"Oma juga rindu sekali lagi dengan Micheal, Micheal apa kabar, Nak?" tanya Oma nya itu.


"Mickey baik, Oma. Terus adik Lora nya dimana?" tanya Micheal lagi.


"Adik Lora nya lagi sama Mommy, di..." Belum selesai Nenek menjawab, Micheal sudah berlari masuk ke kamar Firda namun ia mengernyit saat melihat tak ada siapa pun di sana.


Sementara di luar, Nenek sedang menyambut suster Micheal apa lagi Suster Micheal baru pertama kali datang ke rumah mereka.


"Assalamualaikum, Nyonya..." sapa Suster Micheal dengan ramah.


"Waalaikum salam, Sus. Jangan panggil Nyonya, panggil saja Nenek" kata Nenek sambil tersenyum ramah "Jangan sungkan selama berada di sini, anggap saja rumah sendiri. Apa lagi kamu pasti akan lama berada di sini, Sus"


"Hehe, iya, Nyonya. Nyonya Angeline sudah memberi tahu saya" ucap Suster itu.


"Oma..." teriak Micheal dengan nyaring "Oma, dimana adik Lora, Mommy, Daddy, Nenda, Kenda dan yang lain nya. Kenapa rumah sepi? Kenapa tidak ada yang menyambut Mickey?" pertanyaan beruntun itu Micheal ucapkan dalam satu tarikan nafas yang membuat Oma nya tertawa.


"Mereka di rumah sakit, Mickey. Ayo kita kesana sekarang" ajak Oma nya.


"Di rumah sakit yang baru itu? Kenapa meraka di sana?" tanya Micheal Penasaran.


"Hari ini warga desa mengadakan syukuran di rumah sakit, jadi semua nya berkumpul di sana"


"Oh, pantas saja tadi pas kita lewat disana, disana ramai" ucap Micheal kemudian sembari menepuk jidat nya sendiri.


"Oma kenapa tidak kasih tahu Mickey? Tahu gitu kan Mickey langsung turun di sana saja tadi" ujar nya protes yang membuat Oma nya kembali tertawa, ia sungguh merindukan Micheal yang cerewet apa lagi itu mengingatkan Nenek pada masa kecil putri bungsu nya dan pada masa kecil Firda.


"Oma lupa, ya sudah ayo kita kesana sekarang" ajak Oma nya "Tapi sebelum itu taruh barang barang kalian dulu ke kamar ya"


"Oma, lihat Mickey bawa mainan dua koper" seru Micheal kemudian sembari menunjuk dua koper yang berukuran cukup besar.


"Banyak nya, mau di bagi bagi, Micheal?" tanya Oma nya.


"Bukan, mau di kasih ke adik Lora. Kan sebentar lagi adik Lora akan besar, bisa main sama Mickey" jawab nya lagi yang membuat Oma nya mulai merasa pusing


Ia pun menyuruh Suster nya membawa barang barang mereka ke kamar tamu, namun saat suster Itu meminta ransel Micheal, Micheal enggan memberikan nya.


"Ada hadiah di dalam ransel ini untuk Mommy, nanti hilang" ucap nya yang membuat Nenek kembali tertawa, kemudian Nenek membawa Suster dan Micheal ke rumah sakit.


Sesampainya mereka di sana, meraka melihat para warga yang sedang bekerja sama membersihkan halaman rumah sakit setelah acara syukuran selesei.


"Acara nya sudah selesai?" tanya Micheal kemudian.


"Sudah, Nak" jawab Nenek.


"Yah, kenapa tidak menunggu Mickey? Kan tidak seru..." gerutu nya.


"Ya Micheal datang nya ke sorean" jawab sang Nenek.

__ADS_1


"Bukan salah Mickey, Oma. Salah sopir pesawat nya yang lambat, seharus nya ngebut. Biar bisa cepat sampai..."


"Sopir pesawat yaaa..." ucap Oma nya sembari terkekeh geli.


Kini mereka pun sampai di ruang rawat Firda, saat melihat Micheal, Firda langsung tersenyum lebar dan mengulurkan tangan nya pada putra tiri nya itu.


"Mommy..." seru Micheal yang berlari menuju bangsal Firda dan ia juga mengulurkan tangan nya, Gabriel yang ada di sana melihat adegan itu dengan dahi yang mengkerut.


"Kenapa kalian seperti melakukan adegan di film india? Yang slow motion Itu..." ucap Gabriel sementara Firda kini sudah berpelukan dengan Micheal. Firda juga mendengar apa yang di katakan oleh Gabriel, membuat nya tersenyum geli.


"Uf, putra Mommy. Mommy kangen dehh..." ucap Firda gemas sembari mendekap Micheal, dan karena Firda ada di atas bangsal, ia pun harus mencondongkan tubuh nya supaya bisa berpelukan dengan Micheal namun Firda bergerak sangat hati hati di karenakan luka nya yang masih sakit. Setelah berpelukan cukup lama, Firda pun melerai pelukan mereka dan saat itu lah Micheal baru menyadari kondisi Mommy nya. Micheal sangat terkejut, kedua bola mata nya yang memang besar itu membulat sempurna bahkan ia juga sampai menutup mulut nya dengan telapak tangan nya.


"Ah, wajah Mommy kenapa?" pekik nya kemudian.


"Oh, ini, emm tidak apa apa, Mickey" jawab Firda sambil cengengesan. Micheal pun merangkak naik ke atas kursi yang ada di samping bangsal Firda kemudian ia berdiri di atas nya sehingga kini wajah nya sejajar dengan wajah Firda. Michael mendekatkan wajah nya ke wajah Firda seolah ia meneliti luka luka lebam di wajah cantik Ibu tiri nya itu.


"Tidak apa apa bagaimana? Lihat saja wajah Mommy, biru biru, bengkak. Hiii, sakit ya?" tanya Micheal dan ia hendak menyentuh luka lebam di pipi Firda namun Gabriel langsung mencekal pergelangan tangan Micheal yang membuat Micheal langsung menoleh pada Ayah nya yang bahkan ia tak sadari ada di ruangan itu juga.


Dan Micheal kembali terkejut melihat wajah Ayahnya dalam keadaan yang sama dengan wajah Mommy nya.


"Jangan di sentuh, Micheal. Nanti Mommy sakit" Gabriel memperingatkan dengan tegas.


"Ah, wajah Daddy juga kenapa?" Micheal kembali memekik kaget.


"Jangan jangan Daddy sama Mommy berkelahi ya?" tuduh nya kemudian sembari menatap tajam ayah nya, Micheal bahkan berkacak pinggang di depan Gabriel dan ia memasang wajah galak nya yang justru terlihat sangat menggemaskan.


"Daddy tidak...."


"Daddy pasti yang buat Mommy begini ya?" tuduh Micheal lagi memotong pembicaraan ayah nya.


"Bukan, Micheal. Dengarkan dulu penjelasan Daddy..." geram Gabriel namun seperti nya Micheal bukan dalam mode yang mau mendengarkan.


"Micheal, ini bukan salah Daddy" tukas Firda dan kembali Micheal menatap Mommy nya.


"Terus salah siapa?" tanya Micheal.


"Ini salah orang jahat, kemarin Daddy sama Mommy melawan orang jahat" jawab Firda "Tapi sekarang orang jahat nya sudah di tangkap polisi, Daddy dan Mommy juga sudah baik baik saja" tutur Firda.


"Baik baik baik saja bagaimana? Mommy seperti nya sakit, karena pakai baju rumah sakit, terus tangan nya di infus, wajah nya biru biru" tukas Micheal sedih, ia menatap sendu Ibu nya itu.


"Mommy sakit sedikit saja, nanti juga sembuh" jawab Firda menenangkan putra tiri nya itu.


"Daddy mu juga sakit, Micheal..." sambung Gabriel kemudian "Kamu tidak kasihan pada Daddy? Hm?"


"Daddy kan laki-laki, sakit sedikit tidak apa apa. Jangan cengeng Daddy" tukas Micheal yang membuat Firda, Oma da Suster nya tertawa geli. Sementara Gabriel langsung mendengus pada putra nya itu.


"Terserah kau saja lah, Nak" ucap Gabriel kemudian pasrah.


"Oh ya, Adik Lora nya dimana Mommy?" tanya Micheal yang baru teringat dengan adik nya.


"Tadi di bawa keluar sama Nenda, ada Om Gio dan Tante Mini juga lho di sini" ujar Firda kemudian.


"Benarkah? Asyik, ramai ramai lagi deh di desa" tukas nya girang "Tuh kan Cus, Mickey bilang juga apa? Di desa itu seru..." seru nya.


"Seru apa rusuh?" gumam Gabriel.


Dan tak lama kemudian Ummi Aisyah pun datang dengan mambawa Lora Jibril.

__ADS_1


"Adik Lora...." teriak Micheal yang menggema di ruangan itu, bahkan membuat Firda meringis saking nyaring nya suara Micheal.


"Daddy, turunin...." rengek Micheal mengulurkan tangan nya pada Gabriel, Gabriel pun menyelipkan tangan nya ke ketiak Micheal kemudian menurunkan Micheal dari kursi nya.


"Butuh juga kan sama Ayah nya" gerutu Gabriel yang membuat Firda kembali terkekeh. Sementara Micheal tentu masa bodoh dengan gumaman ayah nya itu, ia berlari menghampiri Ummi Aisyah yang juga terlihat bahagia karena akhir nya bisa melihat Micheal lagi setelah sekian lama tak melihat Micheal kecuali dari ponsel.


"Adik Lora nya makin besar ya..." kata Micheal.


"Iya dong, sudah bisa merangkak juga" kata Ummi Aisyah. Ia pun duduk di sofa dan mengajak Micheal kesana, Micheal tentu dengan girang mengikuti Nenda nya.


Ummi Aisyah mendudukan Micheal dan Lora Jibril di sofa dan tiba tiba anak itu cekikikan saat melihat Micheal, membuat Micheal juga cekikikan.


"Mereka kenapa tiba tiba tertawa begitu?" tanya Gabriel pada Firda.


"Aku juga tidak tahu, Bang. Mungkin karena sama sama masih kecil, jadi merasa cocok" jawab Firda


Ia memperhatikan Micheal yang bermain dengan Jibril, kedua nya terlihat senang dan tertawa dengan bebas. Meskipun tak ada yang tahu dan tak ada yang mengerti apa sebenarnya yang membuat mereka tertawa. Namun satu yang pasti, mereka bahagia. Dan sebagai seorang Ibu, kebahagiaan terbesar mereka adalah kebahagiaan anak anak mereka. Begitu juga bagi seorang Ayah, Gabriel merasa sangat bahagia sebenarnya karena ia kembali bisa melihat Micheal, putra sulung nya yang tampan, cerdas.


"Semoga kamu bisa menjaga adik adik mu kelak, Micheal. Kamu kebanggaan Daddy"


..........


Sebulan kemudian...


Akhirnya kasus kematian Edward benar benar benar di bawa ke persidangan, keadaan Firda dan Gabriel jauh lebih baik. Selama satu bulan ini, mereka melakukan banyak hal yang positif, apa lagi dengan ada nya Micheal di rumah mereka. Yang membawa kebahagian setiap hari, meskipun lagi lagi Gabriel harus menjadi korban dari putra nya sendiri dalam berbagai hal.


Persidangan kasus Edward juga sudah berjalan dua kali namun pengadilan belum menemukan titik terang apakah Gabriel dan Firda bersalah atas kematian Edward dan dua pria lain nya.


Dan hari ini, adalah persidangan terkahir mereka.


Seluruh anggota keluarga Firda mendoakan Firda dan Gabriel tanpa henti, meraka sangat berharap Firda dan Gabriel di vonis tak bersalah karena apa yang mereka lakukan murni untuk menyelamatkan diri. Namun jaksa penuntut umum tetap menyalahkan apa yang Firda dan Gabriel lakukan, dan menyebut Firda dan Gabriel melakukan pembunuhan dengan sadis dan tidak manusiawi. Jaksa penuntut umum juga mengatakan Firda dan Gabriel tak seharus nya membunuh Edward dengan cara seperti itu.


Namun pengacara Firda dan Gabriel memberikan pembelaan yang kuat untuk klien mereka.


"Jika Firda dan Gabriel tidak menghabisi Edward, maka bisa di pastikan Edward lah yang akan menghabisi mereka berdua dengan brutal dan tidak manusiawi. Alasan Edward merencanakan pembunuhan itu adalah karena balas dendam, dan di rencanakan dengan sangat matang selama jauh jauh jauh hari. Sementara apa yang Tuan Emerson dan istri nya lakukan murni untuk melindungi diri. Ada saksi dan bukti yang sangat kuat untuk itu, bahkan kedua klien saya ini di perlakukan seperti binat@ng. Dimana mereka berdua di lukai, di ikat, di suruh berlari di antara semak semak, di atas tebing, kemudian di buru oleh orang orang yang kuat, sehat dan bersenjata lengkap. Orang bodoh mana yang tak akan melawan dan hanya pasrah?"


Namun sayang nya jaksa penuntut Umum tak terima dengan pernyataan itu, dan yang selalu mereka ungkit adalah bagaimana cara Firda melukai Edward dan berapa banyak luka itu.


"Satu tusukan seharus nya cukup jika memang hanya untuk me lumpuhkan" tukas nya, namun Firda tak kehabisan akal.


"Yang mulia, saya tidak menyerang mendiang ayah mertua saya untuk melumpuhkan nya apa lagi berniat membunuh nya. Yang saya lakukan hanyalah karena spontan, saya seorang wanita, yang sedang terluka parah dan mendiang ayah mertua saya menusukkan pisau nya dengan sangat sengaja bahkan terus menekan nya semakin dalam di dada saya, sehingga saya merasa akan segera mati saat itu. Namun saya teringat dengan putra saya yang baru berusia 7 bulan. Saya kembali mendapatkan semangat untuk hidup, saya mencari cara untuk menyelamatkan diri hingga saya mendapatkan kesempatan itu dan secara spontan saya menusukkan pisau itu entah berapa kali karena saya tidak ingat, tidak ada niat apapun kecuali satu hal, saya harus selamat dari monster di depan saya. Dari monster yang dengan tega nya ingin membunuh darah daging nya sendiri" Firda berkata dengan suara yang bergetar dan air mata mengalir begitu deras di pipi nya.


"Itu lah pembelaan terkahir dari kedua klien saya, Yang Mulai. Sesungguhnya apa yang meraka lakukan tidak lain untuk melindungi diri mereka sendiri"


Seluruh orang yang hadir di persidangan itu terdiam dan bergidik ngeri membayangkan apa yang tengah di alami Firda. Seorang wanita yang berwajah teduh dan anggun, terlibat perkelahian dengan seorang Mafia dan mempetaruhkan nyawa nya.


Sementara mereka tak membahas terlalu detail apa yang di lakukan Gabriel, di karenakan Dokter mengatakan sekalipun Gabriel tak melukai Edward sedikit pun, Edward di pastikan akan merenggang nyawa Hanya beberapa detik kemudian setelah Firda memberikan tiga kali tusukanan di leher nya. Begitu juga dengan dua pria lain nya, dan fakta baru juga di temukan. Dimana ada peluru dari senjata lain yang ada dalam tubuh pria yang Firda tembak.


Suasana di persidangan pun menjadi begitu hening dan mencekam, semua orang menunggu dengan harap harap cemas keputusan hakim.


Hingga hakim pun mengumumkan keputusan nya.


"Dengan segala bukti dan saksi yang ada, dengan pertimbangan yang sebaik baik nya. Dengan alasan tak ada satu pun catatan kejahatan yang di lakukan Taun dan Nyonya Emerson sebelum nya, dan juga dengan mempertimbangkan kejahatan - kajahatatan saudara Edward sebelum nya. Dengan ini, Tuan Gabriel Emerson dan Zeda Firdaus di nyatakan tidak bersalah dan di bebaskan dari segala tuduhan dengan hormat"


Ucapan syukur langsung terdengar bergemuruh di dalam ruang sidang, Firda dan Gabriel pun managis haru. Kedua nya saling berpelukan dengan sangat erat, begitu juga dengan seluruh keluarga Firda. Puji syukur terus terucap dari bibir mereka, air mata bahagia tak mau berhenti mengalir di pipi mereka.


Gio yang juga menghadiri sidang itu pun tanpa terasa ikut meneteskan air mata nya. Tak menyangka perjuangan Firda dan Gabriel akan membuahkan hasil yang sangat manis.

__ADS_1


"Ternyata Firda benar, hukum itu pasti!"


__ADS_2