Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 46 - Perih, Om...


__ADS_3

Setelah melaksanakan sholat tahajud, Firda kembali ke ranjang nya karena ia masih merasa mengantuk. Namun tiba-tiba saja Gabriel menghampiri nya dan dia berlagak aneh, yg membuat Firda mengernyit bingung.


"Kenapa?" tanya Firda ketus.


"Kamu... Kamu beneran mau jadi istri aku kan?" tanya Gabriel sambil mesem mesem, yg membuat Firda mengerutkan dahi nya dalam.


"Mau engga mau, sekarang aku istri kamu" jawab Firda sembari menarik selimut dan guling, ia hendak merebahkan tubuhnya namun Gabriel malah mencegah nya "Apa lagi sih, Om?" tanya Firda kesal.


"Boleh minta jatah?" tanya Gabriel setengah berbisik, membuat Firda menatap Gabriel heran karena ia hampir tidak bisa mendengar apa kata Gabriel.


"Boleh minta apa?" tanya Firda lagi.


"Itu...." seru Gabriel sembari menatap Firda memelas.


"Itu itu apa? Bicara yg jelas dong, Om..." seru Firda lagi.


"Mau kamu..." pinta Gabriel sambil menunduk malu, seperti seorang gadis yg baru di rayu.


"Mau aku?" tanya Firda sembari menunjuk dirinya sendiri dan Gabriel mengangguk dengan senyum tipis nya "Di kira aku makanan kamu mau aku..." gerutu Firda yg membuat Gabriel menghela nafas lesu karena Firda tak mengerti juga maksudnya.


Sementara Firda malah dengan santai nya kembali ke ranjang dan ia kembali tidur dengan lelap nya, Gabriel menatap nanar punggung Firda yg tidur memunggungi nya. Ia pun berbaring di belakang Firda dan mendekap Firda dari belakang.


"Padahal mau jatah, Fir. Kan waktu itu aku tidak ingat rasanya..." gumam Gabriel sembari semakin mendekap Firda di pelukan nya.


.........


Pagi nya, Gabriel segera mandi karena ia ada meeting pagi ini dengan beberapa rekan bisnis nya. Sementara Firda masih berada di kamar nya sembari menonton ceramah dari seorang kiai. Di ceramah itu kebetulan sedang menerangkan kewajiban kewajiban seorang istri terhadap suaminya dan yg paling penting adalah kebutuhan ranjang sang suami.


Firda mendengarkan nya dengan seksama dan Gabriel yg baru saja selesai mandi tanpa sengaja mendengarkan ceramah itu juga. Seketika ia memiliki ide cemerlang untuk mendapatkan hak nya, Gabriel segera mengirim pesan kepada sekretaris nya untuk membatalkan semua jadwalnya hari ini.


Setelah itu, ia menghampiri Firda yg masih rebahan di ranjang.


"Astagfirullah, Om... Bikin kaget saja..." seru Firda saat Gabriel tiba tiba malah ikut rebahan di samping nya, apa lagi Gabriel hanya mengenakan handuk yg menutupi bagian bawah nya.


"Lagi nonton apa?" tanya Gabriel ikut mengintip ke ponsel Firda.


"Ceramah..." jawab Firda kembali fokus ke ponsel nya.


"Tadi aku dengar, kata nya istri itu wajib melayani suaminya ya..." ucap Gabriel kemudian.


"Memang..." jawab Firda santai.


"Terus kamu kapan?" lirih Gabriel yg seketika membuat Firda melotot dan langsung menatap Gabriel, karena seperti nya Firda mengerti kemana arah pembicaraan Gabriel.


"Mau?" tanya Firda sembari meringis dan Gabriel mengangguk cepat.

__ADS_1


"Sekarang?" tanya Firda lagi dan Gabriel kembali mengangguk cepat.


"Tapi bayi nya, memang nya bisa??" Firda langsung mengelus perut nya.


"Aku akan pelan pelan..." jawab Gabriel lirih "Aku engga tahan, Fir. Dari tadi malam aku tahan..."


"Hah???" pekik Firda sembari menelan saliva nya dengan susah payah, ia mulai tampak cemas tapi kalau menolak?


"Nanti dosa, baru saja dengerin ceramah nya..." batin nya berseru dilema.


"Tapi, Om... Takut" jawab Firda sembari meringis.


"Jangan takut, kita kan pernah melakukan nya jadi tidak akan sakit" bujuk Gabriel.


"Om kenapa mesum amat sih..." gerutu Firda sembari garuk garuk kepala. Ia tampak kesal dengan keinginan suami nya itu.


"Bukan mesum, Fir. Aku kan pria, sementara semenjak kita menikah kita selalu tidur satu ranjang. Jadi sebagai pria normal ya aku ingin, Fir. Apa lagi tadi malam kita tidurnya pelukan, ya semakin ingin..." tukas Gabriel seperti anak anak yg menuntut karena tidak di belikan mainan.


Firda menatap keluar jendela dimana mata hari sudah tinggi, kemudian ia melirik jam dinding yg menunujukan pukul 8.13.


"Tapi masih pagi, nanti malam saja ya..." bujuk Firda namun Gabriel menggeleng berkali kali.


"Mau nya sekarang..."


"Tapi, Om..."


Ia bergerak gelisah di tempat nya, menolak dosa, di terima takut...


"Nanti malam saja ya, Om..." rengek nya.


"Mau nya sekarang, Fir..." seru Gabriel dengan tegas kemudian yg membuat Firda terkejut, karena seperti nya Gabriel benar benar menginginkan nya.


"Ya sudah..." ucap Firda akhirnya yg membuat senyum sumringah Gabriel langsung terbit di bibirnya "Tapi kunci dulu pintu nya, sama tutup jendela nya" seru Firda dan Gabriel langsung mengangguk setuju.


Ia pun segera bergegas mengunci pintu dan menutup semua jendela.


"Sudah..." jawab Gabriel dengan antusias setelah ia melakukan tugas nya itu dengan super cepat. Firda hanya menganga, sepertinya suaminya ini benar benar kelaparan sekarang.


"Terus?" tanya Firda bingung.


"Ya ayo..." seru Gabriel kemudian hendak mencium Firda namun Firda menghindari nya secara refleks


"Jangan menghindar, tutup saja mata mu..." bisik Gabriel di depan wajah Firda, karena Firda masih terdiam dan tak merespon, ia pun menutup mata Firda dengan tangannya.


Dada Firda mulai bergemuruh hebat apa lagi saat merasakan nafas hangat Gabriel di wajah nya.

__ADS_1


Gabriel menyentuh bibir Firda dengan bibir nya yg langsung membuat Firda terkesiap dan ia kembali hendak menghindar. Namun dengan cepat Gabriel menahan kepala Firda dengan tangan nya yg lain dan dengan cepat pula Gabriel menyambar bibir Firda dengan lembut, begitu lembut membuat Firda merasa melayang.


Perlahan ciuman yg awalnya hanya sebuah sentuhan itu kini berubah menjadi ciuman menuntut, sementara Firda hanya terdiam kaku karena ia tak tahu apa yang harus di lakukan.


Gabriel juga sudah menjauhkan tangan nya dari mata Firda namun Firda masih memejamkan mata saat ia merasakan suatu perasaan hangat yg menggebu di hati nya.


Merasa mendapatkan lampu hijau, tangan Gabriel mulai bergerak mengusap lengan Firda. Kemudian merayap dan melepaskan jilbab Firda, Gabriel menjauhkan diri nya hanya untuk melihat istrinya yg tanpa jilbab. Gabriel begitu terpana dengan kecantikan dan kemungilan Firda, rambutnya hitam terurai hingga pundak nya, mata nya yg masih terpejam dan bibir nya yg sedikit terbuka dengan nafas yg terasa berat.


"Ya tuhan, kau sangat cantik, Firda..." lirih Gabriel putus asa dan ia segera kembali mencecap setiap inci bibir mungil sang istri dengan sangat tak sabar, seolah tak lagi ada hari esok.


Firda hanya mampu menerima setiap sentuhan suami nya itu tanpa tahu cara membalas nya, bahkan saat Gabriel mulai melepaskan piyama nya dan mendorong tubuh Firda perlahan hingga terjatuh di ranjang. Firda hanya menerima nya begitu saja...


"Apa aku menyakiti mu?" tanya Gabriel yg masih sibuk mencium seluruh tubuh istrinya, menggoda nya agar ia segera siap untuk Gabriel. Firda menggeleng pelan dan ia masih memejamkan mata, Firda sangat takut untuk membuka matanya saat ini.


"Kamu tidak terpaksa kan, Fir?" tanya Gabriel lagi sembari memposisikan dirinya untuk memasuki sang istri saat ia sudah merasa saat nya.


"Terpaksa sedikit tapi dari pada dosa..." jawab Firda lirih yg membuat Gabriel terkekeh.


"Kenapa kamu selalu memejamkan mata? Memang nya kamu tidak ingin melihat ku?" tanya Gabriel lagi.


"Takut..." jawab Firda.


"Jangan takut..." seru Gabriel dan ia mulai memasuki gerbang istrinya "Ini tidak akan sa....".


"AAAAGGGHHH...." Firda tiba tiba berteriak histeris dan ia langsung membuka mata yg membuat Gabriel langsung menghentikan pergerakan nya.


Pergerakan Gabriel terhenti bukan hanya karena teriakan histeris Firda yg tiba tiba itu, melainkan ia juga terkejut saat merasakan ada yg masih menghalangi pintu masuk nya.


"Sakit, Om..."


"Kenapa bohong?"


"Kata nya engga sakit..."


"Mesum banget, sampai aku di bohongi..."


"Sudah ku bilang nanti malam saja..."


Firda masih berteriak kesal, ia bergerak gelisah di bawah sana bahkan matanya sudah berkaca kaca menahan rasa perih itu. Sementara Gabriel masih tercengang dan tatapan nya lurus menatap Firda yg meringis menahan sakit.


Gabriel merasa heran, jika ia pernah memasuki nya lalu kenapa pintu itu masih terkunci begitu rapat?


"Hiks... Hiks... Perih sekali, Om. Engga mau..."


"Sudahan saja..."

__ADS_1


"Lain kali saja..."


"Bayi nya juga sakit nanti..."


__ADS_2