Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 253 - Tak Lagi Percaya


__ADS_3

"Kenapa makanan nya cuma di acak acak begitu, Mickey?" tanya Grandpa pada Micheal yang tampaknya tak berselera makan.


"Huff..." Micheal menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar "Mickey bosan, Grandpa" ujar Micheal kemudian.


"Bosan kenapa?" tanya Grandpa nya lagi.


"Soalnya sudah lama Mickey tidak liburan, Mickey rindu adik Lora. Nanti Adik Lora nya keburu besar, bisa jalan"


"Bukan nya itu bagus? Dengan begitu kamu punya teman bermain"


"Iya, tapi kan Mickey rindu adik Lora yang masih kecil"


"Iya, nanti bilang sama Mommy nya. Supaya kamu di antar ke desa adik Lora mu"


"Grandpa..." rengek Micheal lagi.


"Apa lagi, Mickey?" tanya Kakek nya itu yang sudah mulai pusing menghadapi cucu nya.


"Mommy itu tidak bisa di percaya..." kata Micheal yang membuat Grandpa nya terkejut namun kemudian terkekeh.


"Kenapa Mickey bilang begitu?"


"Karena Mommy sudah bohong, kata nya mau bawa Mickey ke desa. Nanti, terus nanti lagi, terus lagi lagi nanti. Mickey sampai bingung, nanti itu kapan" tutur Micheal dengan raut wajah yang sangat serius, membuat Grandpa nya ingin tertawa sekaligus merasa kasihan.


"Nanti biar Grandpa yang bicara sama Mommy ya"


"Ck, jangan katakan 'nanti', Grandpa. Mickey tidak percaya 'nanti'" Grandpa hanya bisa memijit pelipis nya dan ia pun membungkam mulut nya, atau Micheal akan membuat nya semakin pusing lagi.


Setelah makan malam, Micheal suster mengantar Micheal ke kamar nya sementara Grandpa nya menunggu Angeline yang sampai sekarang belum pulang dari kantor.


Tak lama kemudian putri nya itu pulang bersama Frank. Dan tanpa membuang waktu, Grandpa nya Micheal itu langsung memberi tahu Angeline apa yang tadi ia dan Micheal bicarakan.

__ADS_1


"Kasihan dia, Angel. Setiap hari merengek mau bertemu adik nya, sementara setiap hari juga kita membohongi nya"


"Ya bukan maksud ku mau bohong sama Micheal, Dad. Cuma kan kondisi nya tidak me mungkinkan untuk membawa Micheal ke sana"


"Tapi kan sekarang pria itu sudah tewas, keadaan aman"


"Belum, sekarang Firda dan Gabriel berurusan dengan polisi. Ini bukan kasus kecil, aku tidak mungkin mengirim Micheal ke sana. Nanti yang ada dia merepotkan orang orang di sana, Gabriel dan Firda juga masih sama sama terluka"


"Terus bagaimana dengan Micheal? Kasihan sekali dia"


"Nanti biar aku yang bicara sama dia, Dad"


"Aku rasa percuma, Angel"


"Kenapa?"


"Dia bilang dia sudah tidak percaya lagi sama kamu"


..........


Sementara di rumah Firda, para perempuan sedang menyiapkan makan malam untuk di bawa ke rumah sakit. Sedangkan Firda meminta Suster agar membawa nya ke ruang rawat Raisa karena besok Raisa akan di kirim ke kota.


"Bu, saya dengar wanita itu jahat dan mau membunuh mu. Tapi kenapa mau menemui nya sendirian? Tidak takut?" tanya Suster itu sembari mendorong kursi roda Firda menuju ruang rawat Raisa yang ada di samping kamar Firda.


"Takut sih, Sus. Cuma rasa takut itu harus di lawan, biar cepat selesai" jawab Firda dan kemudian suster itu membuka pintu ruang rawat Raisa.


Mendengar pintu kamar nya terbuka, Raisa langsung mendongak dan ia tercengang melihat Firda yang datang menemui nya. Raisa sudah di beri tahu oleh polisi bahwa Firda dan keluarga nya tidak menuntut Raisa sedikit pun, dan selama ini Raisa juga tidak punya catatan kejahatan apapun jadi dia benar benar akan bebas.


Dan saat ini, ia kembali berhadapan dengan Firda. Raisa masih marah saat mengingat kematian suami nya, namun Raisa juga di buat kagum dengan Firda yang mau melepaskan nya begitu saja hanya karena Raisa seorang Ibu yang sedang merawat anak nya yang masih kecil.


"Bagaiamana keadaan mu?" tanya Firda setelah ia berada dekat dengan bangsal Raisa.

__ADS_1


"Lebih baik" jawab Raisa dingin.


"Kedatangan ku kesini untuk meminta maaf atas nama suami ku, atas semua kesalahan dia yang dahulu. Aku benar benar minta maaf meskipun aku tahu, maaf ku tidak bisa mengembalikan suami mu" Raisa hanya terdiam namun ia menatap Firda begitu juga sebaliknya.


"Dulu, suami ku masih hidup dalam kegelapan. Tapi aku ingin kamu juga tahu, yang bersalah atas kematian suami mu bukan hanya suami ku tapi juga Om Edward" tukas Firda lagi.


"Tidak, memang suami mu yang membunuh suami ku" sanggah Raisa.


"Suami ku hanya melepaskan satu tembakan dan itu mengenai dada nya, tapi yang menembak tepat di kepala nya adalah Edward"


"Edward sudah mati, jangan coba coba mencuci otak ku dan mengkambing hitamkan orang lain" tukas Raisa marah yang justru membuat Firda tersenyum simpul.


"Justru Edward lah yang mencuci otak mu, Raisa. Apa kamu tidak bertanya tanya, kenapa kamu yang dia ajak kerja sama? Sementara musuh Gabriel sangat lah banyak, kenapa dia memilih mu yang seorang wanita? Tentu saja Karena kamu mudah di pengaruhi, mudah di bohongi. Dan jika kamu pintar, kamu tidak akan mau menerima tawaran itu. Dan Om Edward pun tahu, tidak akan ada yang berani melawan suami ku kecuali orang bodoh. Karena akhirnya akan selalu seperti ini"


Raisa terdiam mendengar ucapan Firda, karena jika di fikir lagi, musuh Gabriel memang banyak lalu kenapa Edward memilih Raisa yang seorang wanita?


"Aku datang hanya untuk meminta maaf dan membuat mu sadar, dendam tidak akan memberikan mu apapun kecuali kehancuran. Dan aku bisa mengeluarkan mu dari kasus ini dengan mudah, karena aku kasihan pada anak mu. Jangan hidup untuk orang yang sudah mati, Raisa. Hidup lah untuk yang masih hidup, untuk anak mu"


.........


"Firda mana?" tanya Gabriel panik setelah ia sampai di kamar Firda namun ia tak menemukan Firda di sana. Ia bertanya pada salah satu Suster yang biasa nya selalu menjaga Firda.


"Dia...."


"Ada apa, Bang?" Gabriel langsung menoleh dan ia bernafas lega ketika melihat Firda datang bersama Suster.


"Dari mana kamu, Sayang? Jangan keluar dari kamar sendirian, bahaya"


"Bahaya apanya? Rumah sakit ini pasien nya cuma aku" jawab Firda sambil terkekeh.


"Tapi kan tetap saja aku khawatir" jawab Gabriel.

__ADS_1


"Tidak akan terjadi apa apa, semua nya sudah selesai"


__ADS_2