
Ap "Ya Allah, Nak, kenapa kamu tidak bilang kalau mau datang? Ummi bisa menyuruh orang menjemput mu di bandara"
Angeline yang mendengar jawaban tak terduga dari mertua mantan suami nya itu sedikit tercengang dan ia sempat terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa.
"Apa kata nya?" tanya Frank berbisik namun Angeline enggan menjawabnya, ia kembali berbicara dengan Ibu nya Firda.
"Tidak apa apa, Bu. Saya bisa kesana sendiri, bisa kirimkan alamat nya?" tanya Angeline yang masih memegang ego nya.
"Tunggu sebentar ya, Nak..."
.........
Sementara itu, Ummi Aisyah segera bergegas menghampiri Gabriel untuk memberi tahu bahwa Angeline ingin ke rumah nya.
"Gabriel..." seru Ummi Aisyah.
"Ada apa, Ummi?" tanya Gabriel yang melihat Ibu mertua nya itu datang tergesa gesa "Abi baik baik saja kan?"
"Ini masalah Ibu nya Michael" uar Ummi Aisyah yang membuat Gabriel kini tampak bingung.
"Ibu nya Micheal? Angeline?" tanya nya.
"Iya, dia kata nya sudah di desa. Mau ke rumah, tapi dia tidak tahu rumah kita"
"Untuk apa dia datang" pekik Gabriel tak suka.
"Mungkin untuk melihat anak nya, Gab. Tapi Ummi bingung, dia mau di suruh datang ke rumah atau ke rumah sakit?"
"Ke rumah sakit saja" sambung Firda yang sejak tadi hanya diam.
"Biarkan dia tahu kondisi Micheal, bagamana pun juga dia ibu nya" lanjut nya.
"Biar aku yang menghubungi nya, Ummi..." Gabriel meminta ponsel Ummi nya dan Ummi Aisyah pun memberikan nya. Gabriel menghubungi Angeline dan langsung mendapatkan jawaban.
__ADS_1
"Angel, ini aku" kata Gabriel dengan suara berat nya.
"Gabriel, aku meminta alamat rumah mertua mu, kenapa belum juga di kasih? Aku datang untuk menjemput Micheal"
"Aku tahu, katakan saja dimana lokasi mu, aku akan menyuruh orang menjemput mu"
"Aku di depan toko cat biru, ada tower di seberang jalan dan ada bangunan yang belum jadi "
"Baiklah, tunggu di sana"
Dan Gabriel langsung memutuskan sambungan telfon nya tanpa menunggu jawaban Angeline, kemudian Gabriel menghubungi orang nya dan meminta nya menjemput Angeline di tempat yang Angeline sebutkan tadi, Gabriel juga meminta orang itu agar membawa Angeline langsung kerumah sakit.
"Ada apa?" tanya Ummi Aisyah lembut karena Firda terlihat.
"Hanya merasa gugup saja bertemu Kak Angel, Ummi. Dia pasti kecewa karena kami tidak bisa menjaga Micheal dengan baik" kata Firda sedih.
"Kamu menjaga nya dengan sangat baik, Sayang" sambung Gabriel menenangkan.
"Ummi, aku... Firda belum menjenguk Abi" kata Firda dengan suara yang bergetar, ia memang di larang menjenguk Abi nya karena keluarga nya takut Firda kembali terpukul, Firda juga di larang menjenguk Mini.
"Tapi, Ummi..."
"Sayang.." Gabriel membelai kepala Firda dengan lembut "Nanti dulu ya, kamu kan juga butuh istirahat"
"Tapi aku hanya ingin melihat Abi ku, Bang" rengek Firda "Mungkin juga Abi juga khawatir sama aku, takut kenapa kenapa. Kalau dia tahu aku baik baik saja, mungkin dia akan bangun" ia memelas pada suami dan Ibu nya itu. Ummi Aisyah dan Gabriel saling menatap.
"Baik lah" kata Gabriel kemudian "Tapi kamu harus tenang di sana ya..." pinta nya dan Firda pun mengangguk meyakinkan.
Gabriel hendak menggendong Firda untuk mendudukan Firda ke kursi roda namun Firda segera menolak.
"Luka jahitan mu itu belum kering, Bang. Kamu juga harus hati hati" tegas Firda.
"Benar, Gab" sambung Ummi Aisyah sembari membantu Firda turun dari bangsal nya dan duduk di kursi roda nya "Luka mu juga harus di jaga, kesehatan mu juga sangat penting" lanjut nya.
__ADS_1
"Iya, Ummi" jawab Gabriel lirih.
Ummi Aisyah mendorong kursi roda Firda menuju ruang rawat Ayah nya, dan perasaan Firda begitu gelisah. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa kondisi ayah nya akibat ledakan iti.
Gabriel menunggu di luar, sementara Ummi Aisyah Firda masuk. Seketika air mata Firda mengalir bebas saat melihat kondisi Ayah nya, tangan nya gemetar dan nafas nya seperti tercekat di tenggorokan nya.
"Abi..." Firda memanggil Abi nya hanya dengan gerakan bibir, suara nya seperti tak mau keluar. Ummi Aisyah mendorong kursi roda Firda dan kini Firda berada di samping bangsal Abi nya. Firda tak mampu menahan isak tangan nya, tangan nya terangkat hendak menyentuh tangan Abi nya namun ia tak mampu. Firda membekap mulut nya sendiri dan menahan tangis nya.
Ummi Aisyah memeluk putri nya itu dari samping, sementara Gabriel hanya bisa mengintip dari pintu.
"Jangan menangis, Nak..." bujuk Ummi Aisyah "Kamu tahu apa yang Nenek mu bilang? jangan menangisi nya selama dia masih bernafas, Abi mu itu pria yang kuat, dia akan segera sadar"
"Ini salah Firda..." lirih Firda dan bahkan suara nya hampir tidak terdengar oleh diri nya sendiri.
"Bukan, Nak. Ini bukan salah putri Abi yang cantik dan pemberani ini. Bukan, Sayang..." Ummi Aisyah berkata sembari tersenyum, ia menatap suami nya itu dengan tatapan cinta dan penuh rindu "Abi mu pria yang kuat, karena itulah dia memberikan Ummi putri yang juga kuat" Firda hanya bisa tersenyum meskipun Berlinang air mata.
"Abi bangun ya.." lirih Firda "Nanti, kalau Abi bangun, Firda ajarin bela diri" kata Firda dengan suara tercekat, ia menghapus air mata nya dan mencoba tegar "Biar nanti Abi bisa kelahi kalau ada musuh Bang Gabriel lagi, terus nanti Abi kasih tahu sama Kakek Nenek kalau Abi bisa bela diri. Biar mereka tidak mengira Abi kesurupan kalau Abi banting orang kayak waktu Firda banting Abi... Hiks hiks..." Ummi Aisyah juga tersenyum mengingat kejadian itu. Dan seketika bulir bening mengalir dari sudut mata Abi Farhan yang masih terpejam. Firda dan Ummi Aisyah yang melihat itu tercengang namun kemudian mereka menangis haru, karena itu arti nya Abi Farhan mendengar suara mereka.
"Mas, Bangun ya..." kata Ummi Aisyah.
"Iya, Bi. Firda mau Abi bangun" lirih Firda.
...
Setelah menunggu hampir setengah jam, sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan toko dimana ada Angeline dan Frank di sana.
"Nyonya Angeline, Tuan Frank.." seru orang itu "Aku di perintahkan untuk menjemput kalian" ujar nya.
"Bagaiamana kami bisa mempercayai mu?" tanya Angeline.
"Tidak ada yang tahu nama kalian di sini, ini desa kecil, Nyonya" jawab anak buah Gabriel itu. Angeline dan Frank pun masuk ke dalam mobil itu.
Selama dalam perjalanan, Angeline memperhatiakan jalan yang ia lewati. Tidak ada beda nya dengan jalanan di kota, kecuali jalan raya yang lebih kecil, bangunan yang tidak sebesar dan setinggi bangunan bangunan kota. Dan setelah sekitar 20 menit perjalanan, mobil memasuki sebuah rumah sakit yang membuat Angeline dan Frank bingung sekaligus cemas.
__ADS_1
"Kenapa kita kita ke rumah sakit?" tanya Angelien. Namun anak buah Gabriel tidak menjawab nya, ia hanya membuka kan pintu untuk mereka. Mereka berdua pun keluar dari mobil dan Gio datang menyambut kedatangan mereka.
"Ikuti aku.." kata Gio dingin.