
"Bagaimana cara mu memperbaiki nya, huh? Masa depan nya bisa hancur, harga diri nya hancur, perasaan nya hancur, bahkan hidup nya yg selama sini selalu ceria, juga hancur. Lalu bagaimana kamu akan memperbaiki nya? Kamu fikir dia juga mau menikahi pria yg melecehkan seorang gadis yg selama ini sudah sangat baik? Jika kamu berlaku begitu buruk pada gadis asing, lalu seburuk apa kamu akan memperlakukan istri mu sendiri? "
Kata kata Farhan itu terus terngiang dalam benak Gabriel, tidak membiarkan nya bisa menutup mata ataupun hidup dengan tenang.
John memaksa Gabriel untuk kembali pulang, karena mereka juga adalah orang orang yg sangat berbeda dengan Gabriel. Bertanggung jawab pada Firda dalam bentuk pernikahan tentu saja hal yg sangat mustahil, mereka juga menganggap Gabriel adalah seorang pemerkosa dan secara logika, orang tua mana pun tak akan membiarkan anak nya menikah dengan pria yg serendah itu. Apa lagi orang orang seperti keluarga Firda, seperti yg Farhan dan Firda katakan, Gabriel berlaku buruk pada gadis asing. Lalu apa jaminan nya ia takkan berlaku buruk pada istrinya kelak?
Gabriel menyerah, ia tahu ia berbeda dari Firda dan bahkan saat ini ia sudah pulang dan sedang duduk merenung di meja kerja nya di rumah nya.
Bayang bayang Firda yg terlelap di atas ranjang bersama nya terus berputar dalam pandangan Gabriel, seolah ia melihat itu lagi saat ini, secara langsung. Dan suara teriakan Firda yg penuh amarah dan luka juga terus terdengar di telinga nya, seolah Firda masih meneriaki nya saat ini.
"Apa yg harus aku lakukan?" tanya Gabriel pada diri nya sendiri. Ia mendongak dan mengusap wajah nya dengan kasar. Dan seketika ia teringat dengan Farhan yg pernah mengajak nya sholat bersama "Ya Tuhan, jika Engkau mendengar ku, maka jawab aku, apa yg harus aku lakukan?" Gabriel menggumam lirih dalam kesendirian nya.
Pintu ruang kerja nya terbuka dan tiba tiba kucing nya itu muncul dan langsung berlari menghampiri Gabriel, Gabriel pun Langsung menangkap kucing nya itu dan membawa nya ke sofa.
"Ada apa?" tanya Gabriel sembari mengelus bulu bulu halus kucing nya itu.
Kucing Gabriel terus menggeliat dan seperti ingin terlepas dari Gabriel, Gabriel pun melepaskan nya dan di saat yang bersamaan ponsel Gabriel berdering. Tertera nomor tak di kenapa di layar ponsel nya itu dan Gabriel pun langsung me reject panggilan itu. Nomor itu kembali menelpon dan Gabriel kembali me reject nya. Kemudian ada pesan masuk dan saat Gabriel membaca pesan itu, tiba tiba sebuah senyum samar terukir di sudut bibir nya. Bahkan senyum itu juga terlihat di mata nya.
"Ayo, Kucing. Kita pergi jemput kekasih mu" ujar Gabriel "Sebelum itu, kita harus menjemput nenek sihir. Karena hanya nenek sihir yg bisa melepaskan kutukan dari tuan putri"
__ADS_1
.........
Sementara Firda kondisi nya semakin hari semakin memburuk, ia depresi berat dan bahkan tak bisa mengeluarkan unek unek dalam hati nya. Karena Firda tak ingin menjadi beban siapapun dan ia juga tak mau ada yg sampai tahu kondisi nya saat ini.
Di siang hari Firda selalu tertidur, sementara di malam hari ia selalu menangis.
Keadaan yg hampir sama yg di alami Aisyah dan Farhan, mereka juga begitu stres dan terpukul memikirkan anak gadis mereka. Bahkan Aisyah juga sampai jatuh sakit namun ia segera berusaha bangkit kembali, karena satu satu nya kekuatan yg Firda miliki saat ini adalah Abi dan Ummi nya. Ke berangkatan Firda ke pesantren juga sampai di tunda, kakek nenek nya pun ikut kalang kabut dengan kondisi Firda yg tiba tiba jatuh sakit seperti ini.
Nenek Firda mendatangi Firda ke kamar nya dengan membawa satu mangkuk es campur.
"Nak, Nenek belikan es campur. Kamu mau?" tanya nenek nya dan Firda yg saat ini sedang duduk lemas di atas ranjang hanya mengangguk sembari memaksakan bibir nya tersenyum.
"Enak?" tanya sang nenek dan Firda hanya tersenyum sembari mengangguk.
"Sebenarnya kamu sakit apa, anak ku?" tanya nenek lagi dengan begitu lembut, dan hal itu malah membuat mata Firda terasa panas dan kembali berkaca kaca. Ingin rasa nya dia menangis namun Firda menahan diri.
"Nek..." Firda merebahkan diri nya dan meletakkan kepala nya di pangkuan sang nenek yg saat ini duduk di tepi ranjang. Nenek nya pun mengusap kepala Firda dengan lembut "Firda takut..." lirih Firda dengan suara yg tercekat.
"Jangan khawatir dan jangan takut, Nak. Allah selalu bersama mu. Bersama dengan orang orang yg masih mau mengingat nya" ucap sang nenek lembut.
__ADS_1
"Nek, bagaimana....bagaimana jika suatu hari nanti Firda membuat kesalahan yg menyebabkan kakek dan nenek jadi malu" lirih Firda dan ia tak mampu lagi menahan air matanya namun Firda segera menghapus nya dengan cepat
"Jika itu kejahatan yg berarti tidak di sengaja, kakek dan nenek pasti akan menghukum mu dan membantu mu keluar dari hal buruk itu. Dan jika itu kesalahan yang bahkan kamu tidak tahu, kakek dan nenek pasti akan memaafkan mu, mendukung mu, selalu ada untuk mu, tidak perduli apapun yg akan orang katakan" Firda menyunggingkan senyum tipis nya mendengar penuturan sang nenek, ia berbalik dan mencari posisi paling nyaman di pangkuan sang nenek.
.........
Gabriel kembali mendatangi rumah Firda, namun kali ini ia tidak sendirian. Gabriel membawa Maddison bersama nya dan bahkan kedua orang tua Maddison.
Gabriel bertekad akan berkata jujur dan bahkan ia membawa saksi atas apa yg terjadi sebenarnya. Bahkan ia tidak salah apa lagi Firda, semua itu terjadi di luar kehendak nya.
"Kamu gila, Gabriel? Kenapa kamu membawa ku dan orang tua ku kesini?" tanya Maddy heran.
"Katakan apa yg kamu lakukan di hotel ku beberapa hari yg lalu, obat apa yg kamu masukan kedalam minuman ku. Akui bahwa kamu menjebak ku, dan karena ulah mu itu, gadis tidak bersalah itu menjadi korban"
"Apa? Maksud mu kamu meniduri nya? Oh tuhan, pantas saja kau tidak datang ke kamar ku" pekik Maddy.
"Tutup mulut mu, Maddison. Akui saja yg sebenarnya atau aku akan membuat kedua orang tua mu hancur" tegas Gabriel.
Sementara kedua orang tua Maddy hanya terdiam, tak berani membantah perkataan Gabriel dan ia tentu akan setuju apa yg akan Gabriel perintahkan.
__ADS_1