
Mencari Gabriel dan Firda melalui drone tentu ide yang sangat bagus, apa lagi sekarang Edward dan Raisa sudah memutuskan untuk mengakhiri semua ini. Raisa menyiapkan senjata nya begitu juga dengan Edward.
Hari sudah sore dan sebentar lagi gelap, namun ternyata pencarian masih terus berlanjut karena lokasi itu sangat lebar.
Sementara Gabriel dan Firda masih berusaha menghindari mereka, bukan niat melarikan diri namun ingin mempersiapkan diri.
"Mereka tidak di temukan dimana pun, apa mereka sudah berhasil keluar dari tempat ini?" tanya Raisa.
"Rasa nya tidak mungkin mereka pergi begitu saja" jawab Edward sembari menggeram kesal, hingga ia menemukan dua anak buah nya yang terbaring di atas rerumputan. Raisa dan Edward segera berlari ke sana, ia menemukan dua anak buah mereka yang terluka namun masih bisa bernafas.
Dan salah satu pria itu yang Gabriel tadi pelintir leher nya ternyata masih hidup dan kini perlahan ia sadarkan diri. Ia sangat marah karena Gabriel tadi mengalahkan nya, ia bangkit dengan amarah dan dendam.
Sementara pria yang lain saat ini sedang sekarat, dan karena tak mau ada beban, Edward menembak mati pria itu.
"Sekarang tinggal kita bertiga, lawan dua orang yang sama sama terluka. Itu pasti sangat mudah" kata Raisa.
Meraka pun melanjutkan pencarian Firda menggunakan drone, dan mereka melihat Firda dan Gabriel yang berada di dekat tebing. Mereka bertiga segera pergi ke sana dengan berlari.
..........
"Aisyah, tenang lah..." Nenek mengusap kepala putri nya itu yang wajah nya sudah sangat sembab karena tak berhenti menangis.
"Ini sudah sore, Ummi. Dan Firda belum juga pulang, aku harus mencari anak ku kemana? Apa yang harus aku lakukan kalau anak ku tidak pulang?" lirih Ummi Aisyah terbata-bata. Hidung nya sampai tersumbat karena ia tidak berhenti menangis, bahkan saat melaksanakan sholat Ashar ia juga meneteskan air mata.
" Firda akan pulang, Aisyah. Insya Allah, kita berdoa saja"
.........
Gabriel berjalan dengan setengah menyeret kaki nya karena tadi ia sempat tersandung. Membuat kaki nya semakin sakit, ia dan Firda saling memapah dan ingin turun. Namun tiba tiba terdengar suara tembakan dan bersamaan dengan itu Gabriel langsung terjatuh.
"Gabriel...." teriak Firda histeris. Gabriel mengerang kesakitan dan saat Firda menyelipkan tangan nya di punggung suami nya, tangan Firda basah karena darah yang langsung mengucur keluar.
"Gabriel, ya Allah..." Firda menangis takut apa lagi Edward dan kawan nya kini semakin mendekati mereka.
Gabriel berusaha bangkit meskipun punggung nya terkena tembakan, sementara Firda mengangkat senjata nya dan mengacungkan nya pada musuh yang mendekat.
__ADS_1
"Kalian fikir bisa melarikan diri?" desis Raisa yang menatap tajam Firda, ia terus berjalan mendekati Firda dengan senjata di tangan nya.
"Kami tidak berfikir mua melarikan diri" jawab Firda yang juga mendesis, ia melirik suami nya yang saat ini berdiri di samping nya.
"Jika kalian ingin membunuh kami..." ucap Firda kemudian ia melempar senjata nya ke tanah "Silakan, tapi jika kalian ingin sedikit bermain. Ayo..." tantang nya sambil tersenyum miring.
"Kenapa? Apa secepat itu kamu menyerah? Kamu takut?" ejek Raisa.
"Aku rasa kalian yang takut, kalian mau mengeroyok dua orang yang sedang terluka dan kalian semua bersenjata? Kalian takut ya, kami bisa mengalahkan kalian semua dengan mudah, karena itu lah kalian memegang senjata" Firda balas mengejek dan tentu ego para penjahat itu terluka, meraka merasa di remehkan oleh gadis yang bahkan belum genap 21 tahun itu.
Ketiga penjahat itu pun membuang senjata mereka, dan kini meraka saling berhadapan dengan tatapan yang sama sama penuh amarah.
Firda menghadapi Raisa, Edward dan kawan nya menghadapi Gabriel.
Pertarungan yang sedikit tak imbang pun terjadi. Apa lagi dengan semua luka yang Gabriel alami, sulit untuk memberikan perlawanan. Apa lagi ketika ia sibuk menghadapi Edward, penjahat yang lain memukul Gabriel dari belakang. Begitu juga sebaliknya, Gabriel hampir kewalahan. Apa lagi ketika Edward dengan sengaja menekan luka tembak di punggung nya maupun di paha nya. Membuat luka itu semakin membesar dan darah semakin banyak keluar.
Gabriel berteriak histeris, dan itu menarik perhatian Firda yang saat ini sedang beradu hantaman dengan Raisa.
"Gabriel..." teriak Firda histeris saat ia melihat Edward menahan kedua tangan Gabriel sementara pria yang satu nya menekan luka tembak Gabriel.
Karena sama sama saling mengkhawatirkan, Firda dan Gabriel terkadang tidak fokus dan itu menjadi titik terlemah mereka. Edward menyadari hal itu, dan ia memang lebih bernapsu untuk membuat Firda menderita dari pada Gabriel.
Gabriel menghantam kepala pria itu dengan kepala nya kemudian ia mengunci tangan pria itu dan berteriak pada Firda "Apa dia yang menyentuh mu, Sayang?" teriak nya.
"Ya..." jawab Firda sembari berusaha memberikan perlawanan pada Raisa yang menghajar nya membabi buta. Wajah Firda beberapa kali terkena pukulan, terutama di bagian tulang pipi nya yang kini mulai terasa bengkak. Perut, ulu hati, pinggang juga terkena pukulan Raisa. Namun Firda tak mau tinggal diam, saat Raisa ingin kembali menyerang nya, Firda justru mendaratkan tinju nya di leher Raisa membuat Raisa langsung memuntahkan darah dari mulut nya. Firda tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia langsung kembali mendaratkan pukulan nya di ulu hati Raisa yang membuat wanita itu langsung merasa kesulitan bernafas.
Sementara Gabriel kini benar benar mematahkan tangan kanan pria itu membuat pria itu berteriak histeris, namun tanpa Gabriel sadari, Edward mengeluarkan sebuah pisau dan langsung menusukan nya tempat di pinggang Gabriel.
"GABRIEL...." teriak Firda yang menyadari hal itu sementara Edward justru berseringai licik, ia menarik pisau itu membuat Gabriel mengerang kesakitan. Pria yang di depan juga mengeluarkan sebilah pisau dan hendak menusukan nya ke dada Gabriel namun Firda segera mengambil pistol yang tergeletak di tanah dan menembak pria itu yang mengenai bahu kiri pria itu, membuat pisau nya langsung terjatuh dan di detik selanjut nya Firda melepaskan tembakan tepat di kepala pria itu.
Firda sekarang mengarahkan pistol nya ke Edwards namun Edward langsung mengarahkan mata pisau yang sudah berlumuran darah itu ke leher Gabriel.
"Wow, Firda... Kamu cukup berani rupa nya" ucap Edward berseringa jahat.
Tanpa Firda sadari, Raisa kembali bangkit. Ia mengeluarkan pisau lipat dari celana nya dan hendak menyerang Firda namun Gabriel yang melihat itu langsung memperingatkan Firda.
__ADS_1
"Di belakang mu, Firda..." Firda menoleh dan ia langsung melepaskan tembakan nya yang tepat mengenai dada Raisa, membuat wanita itu langsung tumbang ke tanah.
Bersamaan dengan itu, Edward kembali menusukkan pisau nya ke punggung Gabriel membuat Gabriel mengerang kesakitan.
"Om, hentikan..." teriak Firda histeris dan kini ia mulai menangis, apa lagi saat menatap mata memerah suami nya itu yang tampak nya menahan sakit yang teramat sangat.
"Aku suka melihat mu menderita, Firda" desis Edward yang berseringai puas, ia menarik pisau nya dengan penuh amarah dari punggung Gabriel dan kini ia mengangkat pisau nya dan mengarahkan nya ke leher Gabriel, tanpa fikir panjang Firda langsung melesatkan tembakan nya yang berhasil mengenai lengan Edward, otomatis membuat pisau Edward terjatuh, Firda kembali melesatkan tembakan nya namun meleset dan justru Edward melemparkan pisau yang lain ke tangan Firda, membuat tangan Firda terluka dan pistol nya terjatuh.
Gabriel yang masih punya sedikit tenaga pun melawan ayah kandung nya itu, namun Edward selalu menyerang luka luka Gabriel. Firda maju dan membantu suami nya itu, pergelutan dua lawan satu pun tak lagi terelakan. Firda dan Gabriel terus melakukan penyerangan dan tak memberikan Edward kesempatan untuk melawan, namun pertahanan pria itu luar biasa kuat apa lagi Firda dan Gabriel sama sama terluka.
Hingga saat Edward memiliki sedikit kesempatan, ia menendang tepat di pinggang Gabriel yang terluka membuat Gabriel hampir terjatuh dari tebing namun ia berpegangan pada akar.
"Gabriel....." teriak Firda cemas, ia pun bertarung sendirian melawan Edward dan berusia mati-matian melumpuhkan Edward supaya ia bisa menolong suami nya yang kini bergelantungan di tebing. Sementara Gabriel berusaha naik ke atas supaya bisa menolong sang istri.
Edward menendang Firda hingga Firda terjatuh ke tanah dekat dengan pisau Edward, dan saat Edwards hendak kembali menyerang nya, Firda mengambil pisau Edward dengan cepat dan melukai paha Edward dengan dalam. Membuat Edward langsung melangkah mundur dan mengerang kesakitan, kesempatan kecil itu Firda gunakan untuk menolong suami nya.
Firda mengulurkan tangan nya yang terluka dan penuh dengan darah pada suami nya "Pegang tangan ku..." lirih Firda dengan suara yang bergetar, namun saat Gabriel hendak meraih tangan istri nya itu, Edward justru langsung menancapkan pisau nya di punggung Firda membuat Firda berteriak kesakitan apa lagi ketika Edward kembali menarik pisau nya.
"Firda..." Gabriel berteriak panik dan bahkan kini suami nya itu meneteskan air mata. Firda menatap Gabriel sembari menggenggam sebongkah tanah sebelum akhir nya ia berbalik dan memberikan perlawanan pada Edward, Firda memukulkan tanah itu dan tepat mengenai mata Edward.
Firda hendak menyerang Edward lagi namun Edward menyerang nya lebih dulu, ia menancapkan pisau nya tepat di dada Firda dengan kuat dan mendorong Firda hingga Firda terjatuh ke tanah.
"Firda...."
"Tidak, aku mohon lepaskan dia..." Gabriel berteriak histeris sembari berusaha naik namun begitu sulit karena tanah yang licin.
Sementara Edward justru kini menduduki Firda dan menekan pisau itu semakin dalam, mata Firda sudah memerah dan mengeluarkan air mata nya bahkan mulut nya mulai mengeluarkan darah. Mata Edward menyorotkan kepuasan melihat Firda yang sedang sekarat di tangan nya, senyum bak iblis mengembang sempurna di bibir nya.
Menahan rasa sakit yang seolah membelah diri nya, tangan Firda meraba raba sekitar nya hingga tangan nya menemukan sebuah batu. Sementara Gabriel kini sudah berhasil naik ke tebing dengan susah payah, bersamaan dengan itu Firda memukulkan batu itu tepat ke wajah Edward dengan sisa kekuatan yang ia punya, Firda juga menekan luka di paha Edward dan kemudian ia langsung duduk yang membuat Edward tersungkur dan otomatis tangan nya terlepas dari pisau nya. Tanpa fikir panjang Firda menarik pisau itu dan menancapkan nya di leher Edward sebanyak tiga kali. Edward pun langsung memuntahkan darah dari mulut nya dan langsung terjatuh ke tanah begitu juga dengan Firda.
"Tidak, Firda..." teriak Gabriel histeris. Ia menyeret kaki nya menghampiri sang istri yang kini perlahan menutup mata yang yang terus mengalirkan air mata itu.
Rasa sakit yang tak pernah Firda bayangkan, sesakit saat ia melahirkan. Saat pisau itu di tekan semakin dalam di dada nya, tubuh Firda seperti terbelah. Seolah seseorang mengambil tulang nya satu persatu.
Gabriel menangis histeris, dan ia langsung memangku kepala istri nya itu yang kini bernafas berat dengan tangan yang memegang sebilah pisau yang berlumuran darah. Seluruh tubuh nya pun penuh darah, gamis yang tadi nya putih kini berubah menjadi merah, bau amis tercium begitu menyengat di indera penciuman. Tak kuasa menahan kesedihan dan amarah di hati nya, Gabriel hanya bisa meneriakan nama sang kekasih.
__ADS_1
"FIRDA!!!!!"