
Sepulang nya Firda dari restaurant, ia langsung memeriksa isi Flashdisk nya. Di sana terdapat beberapa informasi mengenai Gio, dan juga beberapa foto lama yg seperti nya milik Gio dan keluarga nya.
Firda tertarik pada sebuah foto dmana ada seorang wanita yg merangkul dua anak lelaki, Firda memperbesar foto itu dan ia bisa memastikan bahwa salah satu dari anak itu adalah Gio. Mata nya, hidung nya, bibir nya, semua sama.
Firda membuka sebuah file lagi yg berisi berita kebakaran di sebuah rumah yg mengakibatkan seluruh penghuni rumah itu meninggal, kecuali seorang anak yg berusia 6 tahun.
"Usia nya 6 tahun saat itu orang tua nya meninggal, tapi Gabriel bertemu dengan nya saat usia nya 9 tahun. Berarti, dua tahun setelah kebakaran itu, kemana dia? Tinggal sama siapa? Dan bagaimana bisa ada di Swedia? Kebakaran nya terjadi di Indonesia. Bagaimana bisa?" berbagai pertanyaan berkeliaran dalam benak Firda, hingga tiba tiba ia merasa perut nya seperti bergejolak, seperti ada gelombang liar di sana.
"U..wekk..." Firda segera berlari ke kamar mandi saat merasakan gelombang dalam perut nya semakin tak karuan, perut nya seperti di acak acak yg membuat Firda segera memuntahkan isi perut nya ke wastafel.
Wajah Firda sudah merah dengan mata yg terus terus berair saat ia masih berusaha memuntahkan kembali isi perut nya, kepala Firda terasa begitu pening.
.........
Sementara itu, Gabriel sengaja pulang lebih cepat karena ia kefikiran Firda yg ingin belanja. Setahu Gabriel, mau nya ibu hamil itu harus di turuti dan Gabriel merasa bersalah karena tidak menuruti keinginan Firda.
Gabriel masuk ke dalam kamar nya dan ia tak menemukan Firda di sana, hanya ada laptop nya yg masih menyala di ranjang. Gabriel hendak melihat laptop itu namun perhatian Gabriel terlihkan saat mendengar suara Firda yg sedang muntah dari dalam kamar mandi.
Gabriel pun berlari masuk dan ia mendapati Firda yg masih berusaha memuntahkan isi perut nya di wastafel.
"Hey, Sayang... Kamu tidak apa apa?" tanya Gabriel panik dan ia memijat tengkuk Firda. Firda hanya menggeleng dan ia langsung menyalakan kran, menyiram wastafel yg kotor kemudian ia mencuci mulut nya.
"Sayang, kita kerumah sakit ya..." ajak Gabriel cemas yg membuat Firda terkekeh geli.
"Aku tidak sakit, mual mual saat hamil muda itu biasa" jawab Firda.
__ADS_1
"Tapi kamu muntah, bukan mual lagi..." kata Gabriel masih cemas, Firda langsung menatap Gabriel dengan memicingkan mata nya.
"Kamu itu sudah jadi ayah lho ya, duda lho kamu itu. Sok polos sekali pura pura tidak tahu hal begini" tuduh Firda dengan sangat tak berperasaan nya yg membuat Gabriel hanya meringis.
"Aku tahu tapi... Aku tidak terlalu tahu" jawaban absurd Gabriel itu membuat Firda geleng geleng kepala.
"Apa maksud nya kamu tahu tapi tidak terlalu tahu?" tanya Firda sembari berjalan kembali ke kamar. Mata Firda terbelalak saat melihat laptop nya masih menyala, Firda melirik Gabriel yg saat ini malah merangkul nya.
"Dari gerak gerik nya, nih suami belum tahu isi laptop ku" batin nya berseru lega.
Firda pun langsung menutup laptop nya saat Gabriel mendudukan nya di ranjang.
"Kamu istirahat dulu ya, Sayang. Aku akan memanggil Dokter" kata Gabriel yg membuat Firda mendelik.
"Mending buatin aku teh jahe deh, biar mual ku hilang" ujar Firda.
"Ya Allah, ini suami cerewet juga ya" gumam Firda yg masih di dengar oleh Gabriel, membuat Gabriel mendengus.
"Aku itu bukan cerewet, Nyonya Emerson. aku cuma khawatir dan perduli dengan istri ku dan bayi ku" tukas Gabriel tegas.
"Ya aku butuh minuman hangat sekarang, aku juga lapar lagi" rengek Firda manja, bahkan terlalu manja jika melihat sebelum nya ia menggerutu bak ibu ibu kompleks yang menjadi korban gosip.
"Ya sudah, tunggu sebentar" akhirnya Gabriel mengalah yg membuat Firda langsung tersenyum lebar.
Saat Gabriel pergi, Firda langsung mencabut Flashdisk nya dan kemudian menutup laptop nya, Firda bernafas lega sambil mengelus dada nya.
__ADS_1
...... ...
Sementara itu, Gio sedang berada di arena latihan. Gio hanya memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan, kedua tangan nya di menggunakan sarung tinju dan ia memukul samsak dengan tenaga penuh, dengan emosi dan yg menggebu.
Semakin hari ia merasa semakin terikat dengan Nyonya muda nya yg juga adalah target nya untuk balas dendam.
Gio memukul samsak lebih keras lagi dan ia menggeram dengan keras, hati nya semakin tak tak terkendali dengan sebuah perasaan asing yg menyiksa namun terkadang ia merasa itu terasa sangat manis.
"Agh..." Gio memukul samsak untuk terkahir nya semakin keras lagi, nafas nya memburu dan keringat sudah membanjiri tubuh nya.
"Sialan..." geram Gio.
Ia mengambil handuk dan mengelap wajah nya yg basah karena keringat. Bersamaan dengan itu, ponsel nya berdering dan Gio tampak semakin kesal saat ia tahu siapa yg menghubungi nya sekarang.
"Apa lagi, Paman?" tanya Gio kesal.
"Gio, kapan kamu akan membunuh Emerson dan semua orang yg memiliki hubungan dengan nya? Ini sudah sangat lama, Gio. Sebentar lagi usia mu sudah 20 tahun. Kamu harus segera menuntaskan misi balas dendam mu karena saat usia mu sudah memasuki 20 tahun, maka kamu akan resmi menjadi pengganti ayah mu. Kami membutuhkan mu, Tuan Muda Glatzel"
"Aku tidak bisa" jawab Gio lirih.
"Apa maksud mu tidak bisa? Kamu adalah keturunan terkahir keluarga Glatzel, ini sudah menjadi kewajiban mu, Gio. Kamu sudah berjanji akan melakukan ini setelah misi mu selesai"
"Aku tidak bisa menyelesaikan misi ku, dia tidak punya siapapun kecuali seorang istri. Wanita yang...." Gio menjilati bibir nya yg tiba tiba terasa kering, membayangkan Firda dan misi balas dendam membuat nya seolah kesulitan bernafas, membuat ia merasa berada di ruang terbatas.
"Yang sangat baik" kata Gio lirih "Dia bahkan sedang hamil saat ini"
__ADS_1
"Tidak ada alasan, Gio. Ini adalah misi mu, jangan lupa janji mu pada ibu dan kakak mu"