
"Mommy..." rengek Micheal pada Angeline sambil memainkan rambut Angeline yang terurai, dari pergerakan dan cara bicara nya sudah terlihat ada yang mencurigakan dengan putra nya ini. Saat ini Angeline sedang berusaha menidurkan putra nya yang sejak tadi tidak mau tidur meskipun Angeline sudah selesai membacakan cerita dongeng nya.
"Bobok dong, Sayang. Ini sudah malam" bujuk Angeline.
"Mau bobok sama adik Lora" lirih Micheal memelas yang membuat Angeline menghela nafas berat, permintaan ini sudah ia ucapkan untuk yang kesekian kalinya.
"Sayang, adik Lora nya sudah bobok. Kalau Micheal di sana nanti Mickey ganggu bobok nya adik Lora"
"Tidak akan ganggu, Mommy. Mickey janji, Mickey cuma mau lihat kalau Adek Lora tidur itu bagaimana, pasti lucu"
"Micheal, besok saja ya. Kan kalau siang Adik Lora juga pasti bobok, nanti Micheal bisa lihat"
"Tapi mau nya sekarang, Mommy..." kata Micheal dan ia mulai mengeluarkan jurus ajaib nya. Tatapan memelas, mata berkaca kaca, hidung kembang kempis dan bibir yang sudah mencebik.
"Micheal, kalau Micheal memaksa begini, nanti Mommy bawa Micheal pulang dan tidak ketemu adik Lora lagi. Gimana?" ancam Angeline yang bukan nya membuat Micheal takut justru ia langsung menangis kencang.
"Huaaa... Aaaaa"
"Huaaa... Aaaa"
Dan tentu saja Angeline panik mendengar anak nya yang menangis seperti di cubit saja.
"Nak, jangan menangis ya..." bujuk Angeline yang takut sampai di dengar yang lain, tentu saja Angeline malu apa lagi ia takut di kira melakukan sesuatu pada Micheal sampai membuat Micheal menangis begini.
"Huaaa... Aaa" tangis Micheal semakin menjadi bahkan air mata sudah membanjiri bantal nya, kaki nya sudah menendang nendang tidak jelas membuat Angeline kesal.
"Micheal..." bentak Angeline namun tiba tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar nya di susul dengan suara lembut Ummi Aisyah.
"Angel..."
Tentu saja Angeline langsung beranjak berdiri dari ranjang nya dan langsung bergegas membuka pintu.
"Ya, Tante?" tanya Angeline menyunggingkan senyum tipis nya.
"Micheal menangis? Ada apa?" tanya Ummi Aisyah sembari mengintip ke dalam.
"Bukan apa apa, itu hanya...
__ADS_1
"Huaaa... Aaa" Micheal yang menyadari ada Nenda nya tentu langsung kembali melancarkan aksi nya, apa lagi mengingat Nenda nya itu tidak pernah bilang 'tidak' pada Micheal.
"Huaaaa..."
"Mau ketemu adik Lora...."
"Huaaa Aaaa"
"Oh, mau ketemu Jibril?" tanya Ummi Aisyah pada Angeline sementara Angeline hanya bisa menganggukan kepala nya sambil tersenyum tipis.
"Kenapa tidak di pertemukan saja? Dari pada Micheal menangis? Sampai ke dengeran keluar lho" tukas Ummi Aisyah.
"Tapi ini sudah malam, Tante. Jibril juga pasti sudah tidur" kata Angeline.
"Tidak apa apa, asal Micheal tidak mengganggu tidur nya" kata Ummi Aisyah. Angeline terdiam sesaat sembari menatap putra nya yang kini sudah duduk bersila namun masih sesegukan, Angeline menghela nafas berat dan ia benar benar tak menyangka Micheal ternyata bisa menjadi pemaksa seperti ini.
.........
Sementara di kamar nya, Gabriel merebahkan diri nya di belakang sang istri yang tidur menyamping sambil menyusui putra nya.
"Sudah lebih lancar ya, Sayang?" tanya nya sembari mengintip sang buah hati yang asyik menghisap air susu dari sang Ibu.
"Kalau misal nya nanti aku yang begitu, bisa keluar juga?'' tanya Gabriel sambil terkekeh yang tentu saja membuat Firda juga tertawa.
"Tergantung, kamu nyedot nya kuat apa engga" kata Firda juga sambil terkekeh.
Gabriel kemudian memijat lembut pundak sang istri, dimana setelah melahirkan kesulitan sang istri semakin banyak. Dulu saat hamil, Firda hanya terbangun saat putra nya menendang dalam perut nya, atau dia tidak nyaman pada posisi tidur nya. Ternyata setelah bayi itu keluar dari perut nya, itu bukan akhir dari perjuangan seorang wanita sebagai Ibu, justru itu adalah awal dari segala nya.
Setiap malam Firda tak pernah tidur nyenyak, ia akan bangun saat sang buah hati haus, ia akan bangun saat sang buah hati merengek karena popok nya yang penuh dan sebagai nya.
"Sayang..." lirih Gabriel sembari mengecup pucuk kepala sang istri.
''Hmm" kata Firda menanggapi.
"Jadi Ibu ternyata sulit ya'' lirih Gabriel yang membuat Firda kembali terkekeh "Aku fikir, setelah Jibril lahir semua kesulitan mu akan berakhir. Kamu bisa tidur nyaman karena perut mu sudah tidak besar lagi, kamu bisa beraktifitas seperti biasa tanpa merasa cepat lelah seperti saat hamil. Tapi ternyata, setelah ada nya bayi, kamu jadi berkali kali lipat lebih kesulitan"
"Itu sudah kodrat wanita, Bang. Maka nya, wanita itu lebih mulai tiga tingkat di banding ayah. Wanita itu mengandung, melahirkan, menyusui. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa di lakukan dan di rasakan oleh pria..."
__ADS_1
"Hem, kamu benar. Aku jadi merindukan Ibu ku, aku bahkan hampir tidak ingat wajah nya dan semua itu gara gara pria monster itu"
"Shssht, jangan bahas itu lagi" kata Firda lembut "Semua yang terjadi atas kehendak Allah dan pasti ada hikmah di balik apapun yang terjadi pada kita"
Gabriel mengecup pucuk kepala sang istri degan sayang "Tidurlah, kamu pasti lelah dan mengantuk" kata Gabriel kemudian dan Firda tersenyum sambil perlahan memejamkan mata nya karen ia memang merasa mengantuk. Namun baru beberapa detik ia memejamkan mata, terdengar suara pintu yang di ketuk yang di susul suara Ummi Aisyah yang membuat Firda terkejut dan kembali membuka mata.
"Ummi kayak nya, Bang"
"Biar aku yang buka..." kata Gabriel dan ia pun beranjak dari ranjang nya.
Saat ia membuka pintu, kening Gabriel langsung berkerut dalam karena sang Ibu mertua datang dengan membawa Tuan muda Emerson yang sulung.
"Kenapa?" tanya Gabriel dan ia sudah menatap curiga putra nya itu, apa lagi mata nya masih memerah dan masih terdapat sisa sisa air mata.
"Micheal menangis, mau tidur sama Adik Lora kata nya" kata Ummi Aisyah yang langsung membuat pundak Gabriel me lemas.
"Yah, Ummi..." gerutu nya seperti mendapatkan kabar buruk "Nanti Micheal ganggu Jibril"
"Tidak, Daddy. Janji...." sambung Micheal penuh semangat.
"Tapi kan..." Micheal langsung menggeliat turun dari gendongan nenek tiri nya dan ia langsung berlari masuk ke dalam kamar melewati Gabriel yang masih berdiri di pintu.
Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Micheal langsung merangkak naik ke atas ranjang, membuat Firda hanya bisa geleng geleng kepala.
Sementara Ummi Aisyah meninggalkan Gabriel begitu saja, Gabriel pun berjalan malas ke ranjang setelah mengunci pintu.
"Micheal jangan tidur di sana ya, Nak. Nanti kaki Mickey nimpa tubuh adik Lora" kata Firda karena Micheal hendak tidur tepat di samping Lora Jibril.
"Terus tidur dimana?" tanya Micheal.
"Di sini saja..." kata Firda menepuk sisi kanan nya "Jadi, Adik Lora di sini, Micheal di sini. Mommy di tengah, adilkan?" tanya Firda apa lagi mengingat Micheal jika tidur itu selalu bergerak kesana kemari.
"He'em, boleh. Asal tidur satu ranjang sama Adik Lora" kata Micheal.
"Terus aku tidur dimana, Sayang?" kata Gabriel yang kembali merengek.
"Di pojok sini, Bang. Di samping Micheal, biar Micheal tidak jatuh nanti" kata Firda sembari sedikit menggeser tubuh nya agar Gabriel memiliki ruang di tepi ranjang. Tentu saja Gabriel tidak senang dengan keputusan itu bahkan ia ingin merajuk rasa nya. Selama di rumah sakit, ia tak bisa tidur memeluk sang istri karena bangsal nya tidak cukup besar. Dan bahkan di rumah pun, di ranjang yang luas dan empuk, ia tetap tak bisa memeluk sang istri. Dan terpaksa harus berbagi ranjang dengan kedua putra nya.
__ADS_1
"Berikan hamba kesabaran ya, Allah"