Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 226 - Antara Usia & Karakter


__ADS_3

"Maka nya lain kali kalau bicara sama anak kecil itu jangan terlalu dalam, jangan terlalu tinggi, Ummi" kata sang Kakek setelah istri nya mengeluh soal pertanyaan Micheal tentang kapan pergi ke Surga.


"Apa lagi tentang hal hal yang masih ghaib, orang dewasa saja terkadang masih tidak percaya dengan ada nya surga dan neraka, apa lagi Micheal yang masih kecil. Dia sedang dalam masa pertumbuhan, sedang belajar banyak hal dan rasa ingin tahu nya tinggi. Lain kali, kalau Micheal bertanya tentang sesuatu yang ghaib, jawab saja dengan perumpamaan yang bisa di terima pemikiran nya sebagai anak anak "


"Iya sih, Bi. Harus lebih hati hati lagi kalau berhadapan sama Micheal, semoga saja nanti Jibril tidak secerewet dia ya, Bi"


"Semoga saja, yang penting kedua nya tumbuh sehat, cerdas, dan jadi anak soleh"


.........


Sementara itu, Gabriel pergi ke pembangunan rumah sakit yang sudah hampir jadi. Tukang tukang di desa itu bekerja dengan cepat dan baik, dan yang membuat Gabriel kagum, mereka tak ada satu pun yang meminta bayaran. Mereka gotong royong dan bekerja dengan ikhlas, bahkan yang memberi makan tukang itu juga para tetangga saling sumbang.


"Lora Gabriel..." sapa salah satu tukang di sana saat Gabriel datang.


"Bagaiamana, Pak? Semua nya berjalan dengan lancar? Apa ada yang kurang?" tanya Gabriel.


"Tidak, sejauh ini semua nya lancar dan tidak ada yang kurang. Tapi nanti rumah sakit nya ini mau di cat warna apa ya, Lora?" tanya tukang itu.


"Terserah warga desa karena rumah sakit ini milik bersama, coba berunding" saran Gabriel yang justru membuat tukang tukang itu tertawa.


"Sepertinya cat warna hijau saja, jadi senada dengan warna sekolah"


"Itu juga ide yang bagus" jawab Gabriel dan kemudian ia pun masuk ke dalam gedung itu dan memeriksa nya.


"Bagaiamana keadaan Ning Firda dan Lora Jibril?" tanya salah satu tukang yang menemani Gabriel untuk melihat lihat gedung.

__ADS_1


"Alhamdulillah, mereka baik"


"Alhamdulillah, kami rindu melihat Ning Firda yang seperti dulu. Suka jalan, jajan, dan menyapa orang dengan ramah. Kalau sudah ada Ning Firda, tidak akan ada suasana sepi dan juga tidak damai" kata tukang itu yang membuat Gabriel tertawa.


"Ya, dia memang heboh" kata Gabriel dan tak lama kemudian Pak RT juga datang. Ia juga menyapa Gabriel dan kemudian ikut berbincang.


"Ide membangun rumah sakit di desa itu sangat bagus, Gabriel. Sebenarnya sudah lama aku ingin membangun rumah sakit di desa ini tapi sayang nya kami tak punya dana yang cukup. Ada banyak para pemuda desa yang bercita cita ingin menjadi Dokter dan ketika menjadi Dokter mereka justru pindah ke kota untuk bekerja di rumah sakit"


"Semoga saja dengan ada nya rumah sakit ini, semakin banyak yang ingin menjadi Dokter dan mengembangkan rumah sakit ini. Karena kalau para pemuda desa yang pintar dan berpendidikan meninggalkan desa, sampai kapan pun desa ini tidak akan maju"


"Iya, benar. Itu yang sangat kami sayangkan"


...


Waktu berjalan sangat cepat tanpa terasa, apa lagi dengan berbagai kesibukan yang di lewati Mini dan Gio untuk mempersiapkan pernikahan mereka yang bisa di bilang mendadak. Mini bahkan pernah mengatakan pada Gio kalau ia seperti korban hamil di luar nikah karena buru buru menikah, dimana biasa nya orang merencanakan pernikahan satu atau dua tahun sebelumnya sementara Gio dan Mini hanya butuh satu bulan itu pun tanpa ada sesi pacaran dan berkencan. Dan saat ini, kedua nya sedang fitting gaun yang akan di pakai Mini saat pemberkatan dan saat resepsi.


"Apa nya yang salah? Ini bagus kok. Lagian pernikahan kita tuh udah seminggu lagi, engga ada waktu buat di rubah" kata Mini sembari memutar tubuh nya di depan cermin. Gaun putih dengan hiasan full mutiara itu membalut sempurna tubuh Mini dengan ekor ala mermaid.


"Itu untuk pemberkatan, terlalu terbuka, tidak sopan" tukas Gio lagi. Mini kembali memutar tubuh nya dan memang benar, gaun nya memiliki potongan yang sangat rendah dan bagian punggung nya bahkan menampilkan sebagian punggung mulus Mini.


"Nanti kan ketutup kerudung nya" ujar Mini kemudian.


"Tidak mau, harus tertutup semua punggung mu. Kerudung nya itu juga kan transparan" kata Gio bersikeres.


"Tapi waktu nya sudah mepet, Gio"

__ADS_1


"Aku tidak mau tahu" Mini langsung mendengus dan ia tahu ia tak bisa melawan Gio.


"Bisa di tutup lagi ini, Mbak?" tanya Mini kemudian pada desainer nya.


"Bisa, nanti saya perbaiki" jawab desainer nya itu sambil tersenyum ramah.


"Maafin calon suami ku yang keras kepala ini ya, Mbak. Hehe, dia orang perfectionist" kata Mini.


"Kenapa kamu minta maaf? Ini kan memang tugas dia sebagai desainer, harus mendesain gaun sesuai yang di minta client" tukas Gio dengan sombong nya yang membuat Mini merasa malu pada desainer nya sekaligus kesal pada Gio.


..........


"Sayang, minggu depan Mini dan Gio menikah, kok rasa nya aneh ya" kata Gabriel pada istri nya itu.


"Aneh bagaimana, Bang?"


"Ya aneh saja, mereka itu aneh. Lagian Gio juga masih sangat muda, apa dia bisa jadi suami yang baik?"


"Usia tidak bisa menjadi takaran apakah seseorang bisa menjadi pasangan yang baik atau tidak, Bang. Semua tergantung hati nya dan fikiran nya, kalau hati nya baik, dia bisa berfikir dewasa. Ya dia pasti akan baik entah menjadi suami, teman, rekan bisnis dan sebagai nya"


"Iya sih, contoh nya kamu. Kamu 10 tahun lebih muda dari aku, tapi kamu jauh lebih dewasa, jauh lebih bijak, jauh lebih sabar, jauh lebih baik, jauh lebih dalam ilmu agama nya, pokok nya jauh... Emmpp"


Cup


Ucapan Gabriel terhenti saat tiba-tiba sang istri mengecup bibir nya itu, tentu saja mata Gabriel langsung berbinar karena sudah seminggu ia hampir tak dapat ciuman karena ada nya Micheal yang selalu hadir sebagai orang ketiga.

__ADS_1


"Sayang, kok mancing sih..." lirih Gabriel kemudian dengan pipi yang merona.


"Hehe, kangen" ucap Firda malu malu.


__ADS_2