
Setelah Gabriel siuman, hal pertama yang ia lihat adalah keluarga mertuanya yang sedang menunaikan sholat di samping nya. Gabriel menoleh ke sampingnya dan ternyata ia di letakkan di ruang rawat yang sama dengan Firda yang saat ini masih belum siuman. Seketika air mata Gabriel menyelinap keluar dari sudut matanya, Firdanya, istri tercintanya, lentera nya, berulang kali hampir meregang nyawa karena dirinya.
Gabriel berusaha duduk dan ia mengerang saat merasakan sakit di perutnya yang di perban, Gabriel melepas alat bantu pernafasan yang menempel di mulutnya, ia juga mencabut jarum infus yang menancap di punggung tangan kirinya.
Gabriel menurunkan kedua kaki nya yang terasa gemetar, dan ini menunjukkan betapa lemah nya dia saat ini. Padahal Gabriel pernah mengalami luka yang lebih parah dari ini tapi Gabriel tak pernah merasa lemah.
Bersamaan dengan itu, Kakek, Nenek dan Ummi nya sudah selesai sholat.
Ingatan Gabriel berputar pada kejadian sebelum nya, ia teringat dengan ayah mertua nya. Gabriel langsung jatuh bersimpuh dan memegang kaki Ummi Aisyah yang membuat Ummi Aisyah begitu terkejut.
"Gabriel..." seru Ummi Aisyah langsung menoleh dan memegang kedua pundak Gabriel
"Alhamdulillah, Nak. Kamu sudah sadar..." seru Ummi Aisyah yang memang merasa sangat bersyukur karena akhirnya Gabriel sadar juga. Sementara Gabriel yang mendengar ucapan syukur sang Ibu mertua membuat hati nya bergetar, tangis nya pecah dan ia tak peduli akan hal itu.
"Maaf, Ummi...." lirih Gabriel "Maaf, karena... Karena... " rasa nya begitu sulit untuk berbicara, padahal Gabriel hanya ingin minta maaf karena telah menimbulkan masalah besar dan pertumpahan darah di keluarga istri nya
"Abi... Firda..." Gabriel sungguh tak bisa berkata kata. Ummi Aisyah mengerti apa yang Gabriel rasakan, ia pun hanya bisa menangis dan membeli rambut sang menantu.
"Mereka akan baik baik saja, Insya Allah" Ummi Aisyah berusaha menguatkan menantu nya dan diri nya sendiri.
"Gabriel, jangan begini, Nak..." ujar sang kakek karena Gabriel tetap menangis terisak.
Dulu, saat Firda menghilang ia takut, bingung, dan merasa lemah. Tapi sekarang, ia merasa benar benar sangat takut, sangat lemah, sangat bingung. Karena bukan hanya Firda yang ia buat dalam masalah, tapi ayah mertua nya, putra nya, Mini. Gabriel merasa gagal melindungi mereka.
"Ini salah ku, Kek...." lirih Gabriel dengan terbata bata "Ini salah ku..."
__ADS_1
"Bukan saat nya menyalahkan diri sendiri, Gabriel..." sambung sang Nenek lembut "Ini cobaan dari Allah, Nak. Kamu harus kuat, sabar, ikhlas. Yakin lah, Allah tidak akan memberi mu cobaan yang melebihi batas kemampuan mu"
Gabriel menghapus air mata nya dan berusaha menghentikan isak tangis nya, Kakek dan Ummi Aisyah juga membantu Gabriel kembali ke bangsal nya.
"Ummi akan panggil Dokter..." Kata Ummi Aisyah.
"Abi bagaimana, Ummi?" tanya Gabriel kemudian "Lalu Mickey dan Mini?"
"Mereka bertiga masih di ruang operasi, Gabriel" lirih Ummi Aisyah, mendengar hal itu Gabriel semakin merasa sesak namun sekarang ia menahan air mata nya dan berusaha mengontrol perasaan nya.
"Gabriel menatap ke samping nya, dimana istri nya masih menutup mata.
" Bangun, Sayang... " Gabriel berteriak sedih dalam hati "Aku takut kalau kamu terus tidur seperti ini, aku benar benar takut"
..........
Sementara itu, Angeline berusaha menghubungi Gabriel namun tidak bisa. Berulang kali ia mencoba nya namun tetap tidak bisa, sebagai Ibu, ia punya insting yang kuat, ia punya ikatan batin yang kuat dengan anak nya.
Dan saat ini, Angeline seolah merasakan apa yang putra nya rasakan.
Hari sudah petang, sebentar lagi malam akan datang, dan biasanya setiap sore ia akan berbicara dengan Micheal di telfon. Tapi sekarang Angeline sama sekali tidak bisa menghubungi Gabriel. Seharian ini ia belum mendengar suara nya, belum melihat wajah nya lewat video call.
"Angel..." Frank menghampiri Angeline yang masih berada di ruang kerja nya "Ini sudah petang, kenapa kamu belum pulang?" tanya Frank.
"Aku tidak bisa menghubungi Gabriel, aku ingin bicara dengan anak ku..." Angeline berkata dengan cemas.
__ADS_1
"Mungkin mereka sedang sibuk, Angel..." seru Frank "Sudah saat nya kita pulang, ayo..." ajak Frank. Angeline pun segera menarik tas nya dan melangkah keluar dari ruangan nya mengikuti Frank.
Sesampainya di mobil, Angeline langsung menanyakan kabar Ayah nya pada Frank.
"Frank, kamu sudah temukan Daddy?" tanya Angeline.
"Tidak" jawab Frank kesal karena setiap hari Angeline menanyakan hal itu, namun jawaban itu tentu membuat Angeline kesal berkali kali lipat.
"Kamu mencari nya atau tidak sih, Frank? Kamu masih perduli kan sama Ayah kita?" seru nya dengan nada tinggi.
"Tentu saja aku perduli, Angel..." Frank membentak nya.
"Tapi kamu tidak mencari nya" balas Angeline dan Frank tak bisa menjawab nya karena itu memang benar, Frank terlalu takut melawan Edward.
"Kenapa, Frank?" tanya Angeline menatap Frank dengan begitu tajam.
"Dengar, Angel..." lirih Frank kemudian kemudian sebelum ia menjalankan mobil nya "Kita jangan khawatirkan Daddy, dia akan baik baik saja. Setelah Edward berhasil balas dendam pada Gabriel dan Firda, dan setelah dia berhasil menguasai semua harta Gabriel, dia akan melepaskan Daddy" tutur Frank mencoba menenangkan Kakak nya itu. Namun Angeline merasa Edward takkan sebaik ini pada nya, apa lagi balas dendam pada Gabriel itu tidak akan menyelesaikan masalah. Itu akan menjadi masalah baru dalam hidup ini.
"Kita harus mencari dimana Daddy, Frank. Aku takut Daddy di pelelakukan tidak baik, atau mungkin di celakai" ujar Angeline kemudian penuh kecemasan.
..........
Hari sudah malam, di luar sudah begitu gelap dan Angeline masih dalam keadaan yang sama. Ia begitu mengkhawatirkan putra nya, saat ini ia mondar mandir di kamar nya dan tetap berusaha menghubungi Gabriel, namun hasil nya masih sama.
Dan karena sudah tidak tahan lagi, Angeline pun menghubungi pelayan mansiony Gabriel dan menanyakan kontak Firda atau pun keluarga nya. Awal my pelayan itu tidak mau memberikan nya tanpa izin, tapi setelah Angeline menjelaskan kecemasan nya pada Micheal, akhir nya pelayan itu memberikan nomor telfon Ibu Firda yang memang pernah Firda berikan pada pelayan. Karena Firda tahu hidup nya dalam bahaya setiap saat dan ia takut tidak bisa memberi kabar pada Ummi nya.
__ADS_1