
Tuhan itu adalah dzat yang maha pe-cemburu, terkadang ia mengambil apa yang yang sangat di cintai makhluk nya untuk memberi peringatan bahwa tak seharus nya mereka mencintai makhluk yang bersifat sementara itu secara berlebihan apa lagi melebihi cinta pada sang Khaliq.
Terkadang, itu juga sebagai peringatan agar kembali pada Nya, lebih dekat dengan Nya. Belajar apa itu sabar dan ikhlas kemudian mempraktikkan nya secara langsung, bukan hanya sekedar teori.
Dan itu juga yang Gabriel fahami sekarang, beberapa kali ia hampir kehilangan Firda namun Gabriel tak pernah bisa mengambil hikmah dari semua itu sehingga akhirnya kini ia sadar bahwa sebesar apapun cinta nya pada Firda bukan berarti itu akan membuat Firda abadi di sisi nya. Tak ada yang tahu kapan maut datang untuk memisahkan, bahkan tak ada yang tahu apakah sepasang suami isteri adalah jodoh hingga mati atau hanya jodoh sementara di dunia.
Gabriel memaksa ingin pulang karena ia sudah sangat merindukan putra nya, dan Ummi Aisyah pun membawa menantu nya itu pulang. Gabriel juga sudah bisa berjalan tanpa kursi roda walaupun keadaan tubuhnya masih sangat lemah.
Sesampainya di rumah, Gabriel langsung meneteskan air mata melihat putra nya yang sedang tertidur di box bayi yang sudah di pindahkan ke kamar mertua nya.
Gabriel mengambil bayinya itu dengan hati hati, ia mencium kening dan kedua pipi Lora Jibril.
"Doakan, Mommy, Nak. Semoga Allah mengembalikan Mommy ke kita, dan jika pun Allah tidak mengembalikan Mommy. Itu karena Allah jauh lebih sayang pada Mommy" lirih Gabriel yang membuat Ummi Aisyah terenyuh.
Setelah itu, Gabriel mengembalikan Jibril ke box bayi dan dengan hati hati. Kemudian ia bergegas ke kamarnya.
Saat memasuki kamar, nafas Gabriel tercekat di tenggorokannya dan kenangan-kenangan indah bersama sang istri berputar dalam benaknya. Apa lagi saat pertama kali ia memasuki kamar itu, Gabriel masih ingat dengan jelas Firda menempelkan berbagai kertas note di dinding. Gabriel juga teringat saat pertama kali Firda meminta nya wudhu dan sholat, dua hal yang tak pernah Gabriel tahu dan mau tahu.
Gabriel bergegas ke kamar mandi, ia mengambil wudhu dan kemudian bersiap sholat.
..........
Sementara di rumah sakit, Gio, Mini, Abi Farhan Abi Adil menjaga Firda. Dokter yang ada di sana juga selalu menjaga Firda maupun Raisa selama 24 jam. Apa lagi memang tak ada pasien lain di rumah sakit itu, sehingga pelayanan ini adalah pelayanan eksklusif.
"Aku benar benar tidak menyangka, Firda akan menjadi pasien pertama rumah sakit yang di bangun suami nya" kata Abi Adil.
__ADS_1
"Mungkin inilah alasan kenapa Allah me-nakdirkan ada rumah sakit di desa kita, karena Firda membutuhkannya" jawab Abi Farhan.
"Putri mu sangat kuat, Farhan. Dia pasti bisa melewati semua ini, dia pasti lulus dari ujian ini"
"Aku justru takut, Mas. Aku takut ini teguran dari Allah atas dosa dosa ku, sehingga anakku yang terkena imbasnya" lirih Abi Farhan.
Kedua nya pun terdiam hingga tiba tiba Abi Adil melihat jari Firda yang bergerak-gerak.
"Farhan, Firda sudah sadar!" teriak Abi Adil yang membuat Abi Farhan langsung berdiri dari tempat duduk nya.
Ia pun segera memanggil Dokter dan dengan begitu cepat Dokter pun langsung memeriksa keadaan Firda.
Sementara Firda, kini perlahan ia membuka matanya dengan jari yang masih bergerak. Dokter memeriksa detak jantung Firda yang kian membaik dari sebelumnya.
Abi Farhan memperhatikan bagaimana Dokter dan Suster itu memeriksa keadaan Firda, Abi Farhan memegang dadanya yang berdebar kencang dan dalam hati ia terus memohon untuk kesadaran Firda.
"Bangunkan belahan jiwa ku..."
"Bangunkan semangat hidup ku..."
"Dia satu satunya putri ku, buah hati kami"
Gio dan Mini pun menunggu dengan harap harap cemas, meraka pun terus berdoa untuk kesembuhan sahabat mereka.
Raisa yang masih ada di rumah sakit itu dengan penjagaan ketat juga mendengar kabar bahwa Firda telah sadar, Raisa seketika menjadi takut. Apa lagi ketika ia teringat bagaimana Firda mengalahkan Edward. Raisa takut jika Firda selamat, maka Firda akan balas dendam pada nya.
__ADS_1
"Farhan, aku akan pulang dan memberi tahu Aisyah" kata Abi Adil dan Abi Farhan pun mengangguk, kedua mata nya kini sudah memerah dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Abi Adil langsung berlari kerumah nya dan tidak butuh waktu yang lama untuknya sampai di rumah.
"Ada apa, Kak? Kenapa lari? Firda baik baik saja kan?" tanya Ummi Aisyah yang melihat kakaknya datang dengan nafas yang tersengal.
"Firda, Aisyah. Firda..."
"Iya, Firda kenapa?" tanya Ummi Aisyah.
"Ada apa? Firda kenapa?" tanya Nenek yang segera menghampiri Abi Adil.
"Firda sudah sadar, Ummi" jawab Abi Adil yang membuat Ummi Aisyah dan Nenek langsung menangis haru dan bibir meraka pun langsung mengucap syukur tiada henti.
"Kita kerumah sakit sekarang, kamu bawa Lora Jibril. Firda pasti kangen sama Lora Jibril, aku juga akan membawa Gabriel kesana" kata Abi Adil dan Ummi Aisyah pun segera berlari ke kamarnya tanpa membuang waktu untuk mengambil Lora Jibril.
Sementara Abi Adil langsung bergegas ke kamar Gabriel dan saat membuka pintu, ia mendapati Gabriel yang sedang sholat.
Abi Adil pun menunggu sampai Gabriel selesai, dan setelah Gabriel selesai, Abi Adil langsung memberi tahu kabar baik ini pada Gabriel.
"Firda sudah sadar, Gabriel..." Gabriel tercengang dengan mata yang terbuka lebar.
"Katakan sekali lagi..." kata Gabriel lirih, saat ini ia masih di atas sejadahnya dengan posisi yang sama seperti saat ia tahiyat akhir tadi.
"Firda sudah sadar, dia siuman. Lora Jibril sudah di bawa kerumah sakit sama Nendanya, kita harus kesana juga. Firda pasti ingin melihat mu" tukas Abi Adil yang membuat Gabriel langsung menangis haru, ia langsung kembali bersujud dan mengucapkan syukur pada Tuhannya. Sejadahnya bahkan sampai basah karena air matanya yang mengalir.
__ADS_1
"Engkau mengembalikan lentera ku, ya Allah"