
Edward sampai di desa Firda dengan ikut kapal laut, tak ada yang mengenali nya karena ia melakukan penyamaran yang sangat baik. Sekilas ia juga berjalan layak nya orang normal, namun setelah di teliliti lagi tentu akan ada perbedaan di karenakan kaki yang ia gunakan adalah kaki palsu. Butuh waktu setengah tahun bagi Edward untuk menyembuhkan diri, menyusun rencana dan akhir nya memutuskan eksekusi yang tepat. Tentu Edward tak bisa melakukan nya sendirian, ia mencari seseorang yang bisa membantu nya, yang memiliki kebencian dan dendam pada Gabriel. Dan tentu tidak sulit mencari musuh dari seorang mantan penjahat, yang sulit adalah merebut kepercayaan mereka bahwa musuh nya musuh adalah teman.
...
Malam ini adalah acara 7 bulanan Lora Jibril, Firda mengundang semua santri dan wali santri untuk hadir di acara itu, untuk mendoakan putra pertama nya. Dari pengajian, pembacaan ayat suci dan serangkaian adat daerah pun di lakukan satu persatu. Dan Gabriel yang melihat acara seperti itu untuk pertama kali nya hanya bisa tercengang, meskipun Firda sudah menjelaskan sebelum nya dan Gabriel mengangguk mengerti. Namun sekarang Gabriel terlihat sangat terkejut.
"Apa setiap anak yang berusia 7 bulan akan melakukan acara acara seperti ini?" tanya Gabriel pada istri nya itu.
"Iya, Bang. Di bule engga ada kayak gitu ya, Bang?" tanya Firda sambil terkekeh.
"Tidak ada, Sayang. Hanya ada acara ulang tahun..."
"Jadi sekarang pengalaman mu nambah kan, Bang?"
"Iya, nambah banyak. Dulu aku fikir orang desa itu aktifitas nya cuma bertani, ternyata banyak kultur ya"
"He'em, kultur nya beragam. Eh, Di injak beneran ity kue tradisional? Apa nama nya tadi?"
"Wajit, Bang"
"Boleh di makan tidak setelah di injak begitu? Tapi makanan di injak, rasa nya kurang sopan"
"Itu cuma di sentuhan, Bang. Bukan di injak di penyek penyek, dan masih boleh di makan kok"
"Setelah ini acara apa lagi?
__ADS_1
"Pilih barang barang yang ada di nampan"
"Ah, aku suka cara ini..."
Firda dan Gabriel pun kini memperhatikan Jibril yang duduk di dengan nampan berisi beberapa di depan nya. Ada uang, tasbih, pena, buku dan yang berbagai macam hal lain nya.
"Kenapa tidak di letakkan bola, siapa tahu pilih bola dan mau jadi pemain sepak bola..."
"Ya Allah, Bang. Tangan nya masih kecil begitu, mana mungkin bisa megang bola"
"Kalian sejak tadi berdebat terus..." Firda dan Gabriel menoleh mendengar suara parau sang Nenek.
"Si Abang ini, Nek..." adu Firda.
"Terus kenapa dia tidak megang apapun ya?" tanya Gabriel yang melihat Jibril cuma mengacak acak barang yang ada di atas nampan.
Saat Lora Jibril tertawa, semua orang ikut tertawa bahagia. Seolah Lora Jibril adalah malaikat kecil yang menebarkan kebahagiaan pada orang orang di sekitar nya. Apa lagi, ketika untuk pertama kalinya Lora Jibril merangkak untuk mencapai nasi tumpeng yang tak jauh dari nya. Firda dan Gabriel yang melihat putra mereka bisa merangkak untuk pertama kalinya nya langsung tampak sangat terharu, Gabriel bahkan langsung memeluk Firda saking bahagia nya.
"Dia bisa merangkak, Sayang..." lirih nya.
"Iya, Bang. Semoga setelah ini dia bisa berjalan yaa..." kata Firda.
Acara 7 bulanan Lora Jibril berlangsung dengan penuh haru, apa lagi kini putra pertama Firda itu menunjukkan kemajuan nya.
.........
__ADS_1
Edward dan tiga orang yang bersama nya kini sedang berada di sungai, hari sudah malam dan begitu gelap. Mereka berkemah di sana karena di sana jauh dari penduduk desa.
Sekarang mereka sedang menyusun rencana untuk membawa Gabriel dan Firda ke sana.
"Padahal kita bisa menyerang rumah nya secara langsung dan kita bisa membantai seluruh keluarga nya" kata salah satu pria itu dengan sombong nya.
"Bukankah aku sudah bilang, tidak mungkin menyerang mereka secara terang-terangan. Ini di desa dan orang desa biasa nya keras dan main hakim sendiri, apa lagi keluarga istri Gabriel itu bukan orang biasa. Sedikit saja keributan di sana, seluruh warga desa akan datang dan memanggang kita hidup hidup" tukas Edward.
"Lalu bagaimana cara kita memancing Gabriel dan istri nya ke sini?"
"Besok hari jumat, ketika Gabriel keluar untuk pergi ke masjid saat itu lah kita akan membawa nya"
..........
Keesokan harinya, Gabriel bersiap untuk pergi ke masjid seperti biasa. Firda menyiapkan pakaian suami nya beserta sorban putih dan lengkap dengan sejadah nya.
"Habis dari masjid mampir dulu ke toko ya, Bang. Belikan pampers buat Lora Jibril" kata Firda sebelum suami nya itu berangkat.
"Cuma itu?" tanya Gabriel, ia mengecup kening putra nya itu sebelum berangkat.
"Iya, emm belikan cemilan juga ya. Kulkas sudah pada sepi, aku juga jadi bingung kalau tidak ada cemilan" kata Firda yang membuat Gabriel terkekeh
"Iya, Sayang. Nanti aku belikan cemilan yang banyak ya"
"Gabriel, sudah belom?" teriak Kakek dari luar.
__ADS_1
"Iya, Kek. Sudah..." Gabriel balas berteriak