
Hari ini beberapa anggota keluarga Firda bersiap kembali ke Jakarta, tentu Firda dan Neneknya terlihat sangat sedih namun setidaknya masih ada anak anak yang akan tetap tinggal didesa selama masa liburan.
"Kamu harus tetap semangat ya, Fir. Titip Nenek juga," kata Maryam sembari memeluk adik sepupu nya itu.
"In Shaa Allah, Mbak," jawab Firda sambil tersenyum. Afsana pun juga memeluk Firda dan mengusap punggungnya.
"Titip Al sama Ezra ya, Dek. Mereka ngebet mau tetap disini."
"Tidak apa apa, Mbak. Mumpung libur panjang, biar anak anak puas main bareng," jawab Firda sambil tersenyum.
Mereka pun mengantar keluarga mereka sampai depan rumah, Akshara dan si kembar Ava Eva tampak sedih saat mereka melambaikan tangan pada Aira.
"Yah, sepi deh," ujar Micheal setelah mobil Maryam dan yang lainnya meninggalkan pekarangan rumah.
"Kan masih ada kami," kata Ezra "Lagian yang pulang kaum hawa, kurang asyik kalau di ajak main." lanjutnya
"Benar juga ya," gumam Micheal sementara Jibril enggan mendengarkan obrolan para pria itu.
"Mau kemana, Jib?" tanya Michel karena Jibril pergi ke arah rumah Omanya
"Mau ketemu Oma," jawab Jibril tanpa menoleh.
Ia pun bergegas masuk ke rumah Omanya, Jibril menemukan Bilal dan Asma yang sedang duduk di lantai sambil menikmati durian. Lebih tepatnya, Asma menikmati durian sementara Bilal memakai masker tebal sambil menyuapi Asma.
"Kenapa Nenda masih di suapi?" tanya Jibril. Kedua insan itu memang tidak kembali ke Jakarta karena Asma yang masih ingin menemani Ummi nya sedikit lebih lama.
"Tangan Nenda kena pisau tadi, Jay. Lihat tuh!" kata Asma sembari memperlihatkan jarinya yang di balut dengan hansaplast.
"Astagfirullah, cuma segitu saja, Nenda muda? Memangnya sakit banget ya?" tanya Jibril heran karena luka itu tidak terlihat parah yang sampai membuat Asma tidak bisa makan durian dengan tangannya sendiri.
"Sakit lah, ini tangan kanan lho, Jay," kata Asma serius sementara Jibril meringis saat melihat Om Bilalnya yang tampak sangat tersiksa.
Semua orang tahu betapa bencinya Bilal dengan durian sementara Asma justru sebaliknya, namun rasa benci itu rupanya kalah dan takluk demi sang istri.
"Sayang, sudah ya?" tanya Bilal yang sepertinya sudah tidak tahan dengan aroma durian.
"Belum, Bi. Masih ada tuh," kata Asma.
"Biar aku saja yang bantu, kasihan Kenda Bilal," ujar Jibril menawarkan diri.
"Jangan, Jay. Ini tugas dia sebagai suami, melayani istri, apalagi istrinya sebaik Nenda, yang melayani suami dengan sangat baik, ya wajar kalau dia melayani Nenda sekarang,"
Jibril terkekeh mendengar ucapan Nendanya yang terkenal dengan ke konyolannya itu.
__ADS_1
"Ya sudah, aku mau menemui Oma dulu," ujar Jubril kemudian dan Asma langsung mempersilahkan.
"Sayang, kenapa kamu suka durian? Ini baunya saja buat aku sakit kepala," kata Bilal sembari menyodorkan durian ke mulut Asma dan tentu Asma langsung membuka mulutnya lebar-lebar.
"Aku tanya kamu balik, Bi. Kenapa kamu suka aku, Bi? Ummi saja bilang sifat ku bikin dia sakit kepala," tukas Asma yang membuat Bilal terkekeh.
"Hatiku yang memilih kamu, Zahra. Jantungku memanggil namamu," jawab Bilal.
"Nah, itu sama, Bi. Selera ku yang memilih durian, lidahku memanggil durian untuk di cicipi," jawab Asma yang membuat Bilal langsung tergelak dan tentu ia tak bisa lagi melawan ucapan istrinya yang selalu benar itu.
"Baiklah-baiklah, Sayang. Ayo makan durian mu mumpung lagi musim, puaskan saja selera mu, hm. Nanti malam kamu yang wajib puaskan selera ku,"
"Abi...," geram Asma dengan pipi merona karena ia tahu kemana arah pembicaraan suaminya itu. Sementara Bilal hanya terkekeh, Bilal merasa gemas pada istrinya karena sudah beberapa malam terkahir ia tidur bersama Ummi nya.
"Kan impas, Sayang. Ini aku pusing tahu, kepalaku sakit gara-gara seleramu, jadi jangan salahkan aku kalau besok punggungmu sakit karena aku"
"Aish,"
..........
Sementara itu, setelah mengantar kepergian saudara-saudaranya, Firda dan Gabriel kembali kedalam rumah. Sementara anak-anak sudah pasti pergi bermain sesuka hati mereka.
"Sepi ya," kata Gabriel karena biasanya rumah ramai dengan anak anak Maryam dan Afsana.
"Sayang, mandi yuk!" ajak Gabriel tiba tiba yang membuat Firda melongo.
"Mau di mandiin, Bang?" tanya Firda kemudian yang membuat Gabriel tergelak.
"Bukan, tapi mandi ke sungai. Dulu aku ingin sekali mandi di sungai, kamu ingat engga waktu pertama kali aku mandi di sungai?" tanya Gabriel.
"Ya ingat lah, Bang. Bagaimana aku bisa lupa sama kamu yang keren saat keluar dari air, muncul seperti Don Mafia di film" kata Firda dengan wajah tersipu yang membuat Gabriel tertawa dan ia mencubit gemas pipi istrinya yang semakin hari semakin berisi.
"Astagfirullah, jadi saat itu kamu memperhatikan aku, hm?" tanya Gabriel.
"Tidak sengaja, Bang. Mubazir juga kan kalau di lewatkan, rezeki di depan mata," kata Firda sambil cengengesan.
"Ya sudah, ayo kita ke sungai," ujar Firda kemudian yang tentu saja membuat Gabriel langsung kegirangan.
Firda dan Gabriel pun segera pergi ke sungai diam diam. Sekalian menghibur diri karena kembali berpisah dengan anggota keluarga mereka.
Tak ada yang berubah dari sungai itu, kecuali pohon-pohon yang tumbuh semakin banyak, yang dulu tumbuh kini sudah semakin besar.
Gabriel langsung melompat kedalam sungai, sementara Firda menunggu di tepi sungai sambil memperhatikan suaminya yang kini berenang bebas seperti anak-anak yang baru diizinkan bermain di sungai.
__ADS_1
Melihat Gabriel yang sekarang, Firda seolah tak percaya bahwa dia adalah Gabriel yang sama yang Firda nikahi beberapa tahun yang lalu. Yang dingin, kaku, irit bicara, hampir tidak pernah tersenyum.
Melihat Gabriel yang menjadi sosok ayah yang sangat baik dan tegas membuat Firda sulit percaya, bahwa dia adalah Gabriel yang sama yang menangis di pangkuan Firda setelah Gabriel mengakui statusnya sebagai Don Mafia.
Melihat Gabriel yang telah menjadi sosok suami yang sangat lembut, penyayang, dan terkadang manja pada Firda membuat Firda sulit percaya bahwa suaminya adalah orang yang sama dengan pria yang menusuk ayah kandung nya sendiri dengan brutal.
Begitulah manusia, bisa berubah dalam sekejap mata.
Apalagi ketika berbicara tentang cinta, sebuah perasaan yang hadir tanpa sebuah alasan.
Sebuah perasaan yang bisa membuat orang waras menjadi gila, orang gila menjadi waras, orang baik menjadi jahat, dan orang jahat menjadi baik. Bagi sebagian orang, itulah definisi cinta.
Sementara bagi Gabriel, definisi cinta adalah Zeda Firdaus. Sang Lentera, yang hadir saat Gabriel tersesat dalam kegelapan yang menyesakkan, dalam jalan sempit, tak ter-arah dan seolah tanpa ujung.
Zeda Firdaus, orang pertama yang bertahan di sisi Gabriel karena cinta. Gabriel tahu, Firda bukannya tidak perduli dengan masa lalu kelam Gabriel, namun Firda bersedia menata depan dengan konsekuensi dari masa lalu.
Wanita polos namun ternyata sangat tangguh, wanita bar-bar namun ternyata sangat cerdas. Bagaimana mungkin Gabriel tidak cinta mati padanya? Bagaimana mungkin Gabriel tidak menganggapnya sebagai lentera dalam hidupnya?
"Sayang! Airnya dingin, grrrr" kata Gabriel yang membuat Firda tertawa.
"Mandi sini, mumpung tidak ada orang," ajak Gabriel dan Firda yang memang sangat ingin mandi di sungai pun langsung berdiri namun tiba-tiba terdengar suara anak-anak yang mendekat. Dan benar saja, Micheal dan adik-adiknya kini telah menampakkan batang hidung mereka.
" Astagfirullah, Mommy sama Daddy pacaran ya?" seru Micheal.
"Ciye, yang lagi pacaran," sambung Ezra yang membuat Firda dan Gabriel tertawa.
"Kalian mau apa kesini?" tanya Gabriel kemdudian.
"Mau mandilah, Dad. Mau berenang," ucap Micheal sembari melepas kaosnya kemudian ia langsung melompat kedua sungai, di susul oleh Ezra dan Al.
"Jibril tidak ikut?" tanya Firda.
"Ikut, tapi bukan mau mandi. Mau mancing katanya," ucap Ezra yang membuat Firda mengernyit bingung. Baru saja ia bertanya, kini Jibril sudah menampakkan batang hidungnya dengan membawa pancingan.
"Astagfirullah," gumam Firda sementara Jibril hanya tersenyum samar.
Kini semuanya punya aktifitas masing-masing, dari yang berenang, yang berlomba menahan nafas didalam air bahkan ada yang mencing. Sementara Firda hanya duduk manis sambil memperhatikan orang orang terkasihnya yang tampak sangat bahagia.
Padahal beberapa hari yang lalu mereka semua menangis kepergian sang kakek.
Ternyata benar, manusia itu tidak berarti hidupnya tanpa amal yang baik. Dan hanya sesingkat ini kisah manusia, saat di lahirkan, di sambut dengan tawa bahagia. Kemudian saat meninggal di ikuti tangis pilu, namun setelah itu? Tidak ada, kecuali kenenangan yang bisa di simpan dalam hati.
"Dan benar kata Kakek," gumam Firda yang kini mengingat bagaimana kisah cintanya dan Gabriel di mulai, dari tragedi yang di anggap kesalahan besar oleh Firda dan keluarganya
__ADS_1
"Rencana Tuhan selalu benar, bahkan di balik kesalahan seseorang yang mungkin sangat menyakiti, pasti ada rencana Tuhan yang benar dan tepat di belakang semua itu"