
Saat hari semakin siang, demam Firda semakin tinggi bahkan ia sampai menggigil. Gabriel yang baru saja kembali dari Mushola setelah melaksanakan sholat dzuhur berjemaah tentu langsung panik melihat kondisi istri nya itu.
"Sayang..." Gabriel menyentuh kening Firda dan panas nya jauh lebih tinggi dari yang tadi pagi, namun Firda mengeluh dingin dan meminta selimut yang tebal. Gabriel pun dengan cepat mengambil selimut dari lemari dan menyelimuti tubuh istri nya itu.
"Aku panggil Dokter dulu ya, kamu... Kamu sabar ya, tahan sedikit ya" kata nya panik.
Gabriel pun langsung menghubungi Dokter keluarga Firda dan meminta nya segera datang ke rumah Firda.
Setelah itu, Gabriel mencari Ibu mertua nya karena tadi ia menitipkan Lora Jibril pada Ibu mertua nya.
"Ada apa, Gabriel?" tanya Nenek yang melihat Gabriel seperti orang yang sangat cemas.
"Ummi dimana, Nek?" tanya Gabriel.
"Di halaman belakang, ngadem di bawah pohon sama Jibril" jawab sang Nenek "Kamu kenapa? Kenapa cemas begitu?"
"Demam Firda semakin tinggi, Nek. Dia menggigil dan badan nya sangat panas" kata Gabriel dan ia segera ke halaman belakang rumah nya tanpa memperdulikan Nenek nya yang terlihat bingung.
"Ummi..." teriak nya yang tentu saja membuat Ummi nya itu terkejut.
"Kenapa, Gabriel?" tanya Ummi Aisyah yang ikutan cemas karena melihat raut wajah Gabriel yang sudah pasti membawa kabar buruk.
"Firda sakit nya semakin parah, Ummi" adu Gabriel.
"Sudah panggil Dokter?" tanya Ummi Aisyah yang sekarang ikutan panik.
"Sudah" kata Gabriel.
Ummi Aisyah pun segera bergegas ke kamar putri nya dan Gabriel mengikuti nya dari belakang.
Sesampainya di kamar Firda, ternyata di sana sudah ada Nenek yang sedang mengkompres Firda.
"Dokter nya belum datang?" tanya Gabriel.
__ADS_1
"Ya belum, Nak. Belum ada 10 menit kamu telfon Dokter nya kan?" tanya sang Nenek dan ia terlihat tenang.
Ummi Aisyah memberikan Lora Jibril pada Gabriel dan kemudian ia memeriksa keadaan putri nya itu, badan nya memang sangat panas tapi Ummi Aisyah rasa itu hanya demam biasa.
"Firda, kamu bisa mendengar Ummi kan?" tanya Ummi Aisyah dan Firda mengangguk lemah.
"Ada yang sakit, Nak?" tanya Ummi Aisyah lagi.
"Kepala Firda, Ummi. Sakit sekali..." lirih Firda dan mendengar penuturan istri nya itu, Gabriel semakin terlihat cemas.
"Ummi, kita bawa Firda ke rumah sakit saja ya" pinta nya yang lebih terkesan merengek.
"Ini hanya demam biasa, Gabriel" kata sang Nenek.
"Tapi Firda sakit kepala juga kan? Sampai menggigil begitu, lebih baik kita bawa kerumah sakit. Biar di MRI" kata Gabriel yang sudah seperti akan menangis karena tak tega melihat sang istri yang sakit, wajah Gabriel bahkan juga pucat padahal yang sakiti itu Firda.
Firda ingin tertawa rasa nya mendengar ucapan suami nya itu namun kepala nya memang benar benar sakit dan Firda yakin itu hanya di karenakan ia kurang tidur.
"Ya Allah, Gabriel. Istighfar..." pekik Ummi Aisyah "Mau di MRI segala, kamu fikir ini penyakit serius"
"Ada apa ini?" Kakek yang mendengar ada keributan di kamar Firda langsung masuk ke dalam nya.
"Firda sakit, Kek. Harus di bawa ke rumah sakit" kata Gabriel yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Ummi Aisyah, sementara sang Kakek tentu sangat terkejut dan mempercepat langkah nya menghampiri Firda yang terbaring lemah.
"Sakit apa, Fir?" tanya sang Kakek cemas.
"Cuma demam, Bi" jawab Ummi Aisyah "Tapi Gabriel heboh, kayak engga pernah demam aja"
"Tapi kata nya kepala Firda juga sakit" balas Gabriel lagi.
"Sudah panggil Dokter?" tanya sang Kakek yang sedikit bernafas lega setelah tahu Firda hanya demam.
"Sudah, Kek. Tapi belum datang, maka nya kita bawa saja Firda ke rumah sakit"
__ADS_1
"Tunggu dulu Dokter nya datang, Gabriel. Nanti kalau Dokter bilang Firda harus di bawa ke rumah sakit ya kita bawa, kamu juga jangan panik begitu biar yang lain tidak ikutan panik" ujar sang Kakek kemudian "Untung saja Kakek ini tidak punya penyakit jantung" gerutu nya kemudian.
.........
Sembari menggendong sang buah hati, Gabriel memperhatikan Dokter yang kini memeriksa keadaan Firda.
"Istri ku baik baik saja kan, Dok?" tanya Gabriel untuk yang kesekian kalinya, Dokter itu hanya bisa menghela nafas panjang dan tetap berusaha tersenyum.
"Iya, Ning Firda baik baik saja. Hanya demam biasa" kata sang Dokter.
"Apa perlu di bawa ke rumah sakit? Mungkin harus di MRI" kata Gabriel lagi.
"Ini hanya demam biasa, perbanyak lagi minum air putih, istirahat yang cukup dan minum obat yang saya berikan secara tertatur. Kalau dua atau tiga hari tidak ada kemajuan, bisa di bawa ke rumah sakit segera" tutur sang Dokter.
"Terima kasih, Dok" kata Firda sambil tersenyum kemudian ia melirik suami nya itu dan mengedipkan sebelah mata nya untuk menghibur sang suami.
"Terima kasih ya, Dok. Maafin menantu ku juga yang heboh" kata Ummi Aisyah sambil terkekeh.
"Haha, saya maklum, Ning Aisyah" jawab sang Dokter.
Ummi Aisyah pun mengantar Dokter itu sampai ke depan dan ia berpapasan dengan Abi Farhan yang baru pulang dari Madrasah setelah mendengar ada Dokter ke rumah nya.
"Siapa yang sakit?" tanya Abi Farhan cemas.
"Firda, Mas. Cuma demam biasa, tapi Gabriel heboh dan panik. Jadi bikin panik semua orang" gerutu Ummi Aisyah.
"Terus apa kata Dokter?"
"Ya cuma demam, Mas"
"Syukurlah, sudah cemas tadi aku, Sayang. Takut nya Abi atau Ummi yang sakit" kata Abi Farhan lagi. Setelah Dokter berpamitan dan meninggalkan kediaman mereka, meraka berdua pun masuk ke dalam rumah.
"Gabriel itu benar benar deh, Mas. Firda baru demam saja sudah bikin seisi rumah panik, dia juga sampai pucat sendiri. Engga kebayang aku bagaimana kalau misalnya nanti Firda berpulang ke Rahmatullah duluan, bisa gila menantu kita itu"
__ADS_1
"Jangan bicara begitu, semoga saja mereka panjang umur dan jika di pisahkak oleh maut pun, semoga mereka sanggup"