
Firda tersadar dari pingsan nya, dan hal itu membuat Ummi dan yang lain nya mengucap syukur tanpa henti. Mereka mencium wajah Firda bergantian, melupakan perasaan bahagia dan lega meskipun tak sepenuh nya itu membuat hati mereka tenang karena masih ada dua orang lagi yang belum bisa di pastikan keselamatan nya. Sementara Micheal sudah selesai menjalani operasi dan sekarang mereka hanya bisa menunggu apakah Micheal mampu melewati masa kritis nya.
Gabriel duduk di samping sang istri yang terlihat tak senang meskipun diri nya selamat, karena ia masih memikirkan Ayah nya, putra nya dan juga teman nya. Gabriel menggenggam tangan sang istri dengan begitu kuat, seolah ia mendapatkan aliran kekuatan dari tangan mungil sang istri.
"Inysa Allah, Nak. Mereka akan baik baik saja" kata Ummi Aisyah "Yakin lah pada Allah, Sayang. Berdoa lah terus" bujuk nya.
"Maafin Firda ya, Ummi. Gara gara Firda, Abi jadi begini..."
"Ssshhtt, jangan salahkan diri mu sendiri, cucu kecil ku" kata Kakek sembari mengusap kepala Firda "Semua ini sudah takdir Allah, kita hanya bisa pasrah dan memohon supaya di berikan kesabaran dan keikhlasan"
Tak lama kemudian ponsel Ummi Aisyah berdering, ia merogoh nya dari dalam tas nya dan menjawab panggilan dari nomor asing yang tertera di layar ponsel nya.
"Assalamualaikum..." sapa Ummi Aisyah.
"Apa benar ini Ibu nya Firda?" terdengar suara seorang wanita dari seberang telfon. Ummi Aisyah melirik Firda sekilas sebelum akhirnya menjawab pertanyaan wanita itu.
"Iya, benar. Maaf ini dengan siapa?" tanya Ummi Aisyah sopan.
"Saya Ibu kandung nya Micheal, Nyonya. Tolong katakan pada Firda atau suami nya untuk membiarkan saya berbicara dengan anak saya sendiri" tentu Ummi Aisyah langsung mengernyit bingung sekaligus terkejut mendengar apa yang di katakan wanita yang mengaku ibu nya Micheal itu, apa lagi nada bicara nya begitu ketus dan tajam.
"Siapa, Aisyah?" tanya Nenek yang melihat Ummi Aisyah tampak terkejut dan bingung.
"Kata nya Ibu kandung nya Micheal" kata Ummi Aisyah, Gabriel yang mendengar itu langsung meminta ponsel Ummi mertua nya itu dan Ummi Aisyah pun langsung memberikan nya.
"Ini aku, ada apa, Angel?" tanya Gabriel berusaha bersikap tenang, karena ia tidak ingin memberi tahu keadaan Micheal pada Angeline.
"Dimana Micheal, Gabriel? Dari tadi siang aku ribuan kali mencoba menghubungi kamu, aku khawatir sama anak aku, kamu faham perasaan ku sebagai Ibu kan?" Gabriel menggeram tertahan mendengar ocehan mantan istri nya itu namun ia mencoba menahan amarah nya.
__ADS_1
"Dia sibuk main, sekarang lagi tidur jadi telfon besok saja" kata Gabriel dingin, raut wajah nya menunujukan hal yang sama dan kemudian memutuskan sambungan telfon nya begitu saja. Gabriel mengembalikan ponsel Ummi nya pada Ummi nya.
"Ada apa, Bang?" tanya Firda lirih.
"Bukan apa apa, Sayang. Kamu istirahat ya" kata Gabriel dengan raut wajah yang langsung berubah lembut.
Tak lama kemudian Gio datang dan memberi tahu Ummi Aisyah kalau Dokter ingin berbicara, Ummi Aisyah, Kakek dan Nenek pun segera menemui Dokter. Sementara Gio di minta untuk menjaga Gabriel dan Firda, karena kedua insan itu masih dalam keadaan yang perlu di jaga.
"Dokter, bagaimana keadaan suami saya dan Mini?" tanya Ummi Aisyah tak sabar. Dokter itu tampak menghela nafas berat, dan dari raut wajah nya sudah terbaca bahwa ia tak punya kabar baik.
"Kami sudah melakukan yang terbaik, Bu. Tapi pasien..."
"Mereka baik baik saja kan? Anak anak ku?" desak Nenek dengan suara yang bergetar.
"Maafkan saya, Bu. Saya tidak bisa memastikan hal itu, yang bisa kita lakukan sekarang hanya berdoa supaya ada keajaiban untuk menyelamatkan mereka berdua" kata Dokter itu yang membuat Ummi Aisyah langsung tertunduk sedih "Saat ini pasien masih dalam keadaan kritis, kondisi nya begitu lemah dan kemungkinan nya sangat kecil mereka bisa di selamatkan"
"Inysa Allah, Pak. Kami akan tetap berusaha" kata Dokter.
"Apa boleh saya melihat suami saya, Dokter?" tanya Ummi Aisyah lagi dan Dokter itu mempersilahkan.
"Tapi hanya satu orang yang boleh masuk ya, Bu"
"Baik, Dok" jawab nya.
Dokter mengantarkan Ummi Aisyah ke ruangan Abi Farhan setelah Ummi Aisyah di pakaikan scrub suits nya.
Saat memasuki ruangan itu, dada Ummi Aisyah terasa begitu sesak, hati nya sakit, kaki nya bahkan terasa berat untuk mendekati sang suami yang terbaring tak berdaya di atas ranjang kecil itu dengan berbagai alat medis yang menempel di tubuh nya. Di ruangan itu tak terdengar apapun kecuali suara monitor yang ada di samping bangsal.
__ADS_1
Ummi Aisyah merasa akan pingsan saat melihat sendiri bagaimana kondisi suami nya, begitu mengerikan dan memprihatinkan kan.
Ummi Aisyah menunduk dan mendekatkan wajah nya ke wajah sang suami, air mata tak bisa lagi di bendung oleh nya.
"Assalamualaikum, Mas..." bisik Ummi Aisyah di dekat telinga sang suami "Ini aku, Aisyah" kata Ummi Aisyah dan suara nya semakin bergetar.
"Bangun ya, Mas. Firda nanti sedih kalau Mas Farhan tidur terus" lirih nya lagi "Aku juga nanti kangen sama kamu, Mas..."
"Bangun ya, biar nanti kita bisa bersama lagi. Seperti Firda dan Gabriel, mereka kuat lho, Mas. Masak kamu kalah sama mereka yang masih anak anak" air mata semakin deras mengalir di pipi nya. Ingin rasa nya Ummi Aisyah berteriak dan membangunkan suami nya, namun sebelum masuk tadi Abi dan Ummi nya memperingatkan Ummi Aisyah untuk tetap tenang dan sabar.
"Aku tunggu kamu bangun lho, Mas. Biar nanti kita bisa mesra mesraan seperti Firda dan Gabriel, kalau kamu bangun nanti, kamu harus sering sering panggil aku 'Sayang'. Semenjak menikah karena di jodohkan, kamu sangat jarang memanggil ku 'Sayang', Mas. Aku juga pengen di romantisin seperti Firda" ucap nya lagi.
..........
Dokter datang untuk memeriksa keadaan Firda, ia memeriksa secara keseluruhan dan menanyakan beberapa pertanyaan pada Firda. Setelah memastikan semua nya baik baik saja, Dokter meminta Firda agar istirahat dan tidak tertekan oleh apapun.
Sementara Gabriel yang tadi nya ingin memberi tahu Firda siapa Adrian pun mengurungkan niat nya setelah mendengar apa yang di katakan Dokter, Gabriel tidak mau Firda memikirkan hal itu lagi.
"Sayang, kamu istirahat ya, jangan banyak fikiran. Semua nya akan baik baik saja kok" kata Gabriel lembut sembari membelai kepala sang istri.
"Micheal bagaimana, Bang? Dan apa kata Kak Angel? Dia pasti mengkhawatirkan Micheal, apa yang harus kita katakan nanti sama Kak Angel, Bang?" Firda bertanya dengan begitu cemas, ia merasa begitu bersalah karena sudah menempatkan orang orang terkasih nya dalam bahaya. Ia juga merasa bersalah pada Angeline, karena Firda merasa tidak bisa menjadi Ibu yang baik untuk Micheal.
"Ssshhtt, kamu jangan memikirkan hal itu. Aku yakin Angeline akan mengerti, ini hanya kecelakaan, Sayang. Dan jika pun Angeline ingin menyalahkan seseorang, maka aku lah yang salah. Aku akar dari masalah ini" kata Gabriel menenangkan. Firda tak bisa berkata kata lagi, ia hanya bisa berdoa semua nya baik baik saja. Tiga orang yang celaka itu adalah orang orang yang sangat penting bukan hanya dalam hidup Firda, tapi juga dalam hidup orang lain.
Jika sampai terjadi sesuatu pada mereka, maka akan ada banyak orang yang bersedih dan kehilangan.
"Tidur lah, Sayang" ucap Gabriel lembut, ia meminta Firda istirahat meskipun sebenarnya diri nya juga merasa begitu lemah dan sakit. Namun Gabriel tak mau memperdulikan hal itu, Firda nya yang jauh lebih penting.
__ADS_1