
"Micheal, kamu yakin mau bawa semua ini?" tanya Angeline yang melongo karena melihat Micheal meminta suster nya memasukan hampir semua mainan nya ke dalam koper.
"Iya, Mommy. Kan adik Lora nya sebentar lagi aja besar, jadi sebentar lagi bisa main, bukan cuma tidur" jawab Micheal sembari mengambil mainan yang berupa mobil-mobilan dan itu adalah import.
"Micheal, itu mahal lho. Di Indonesia engga ada mainan itu" Angeline memperingatkan karena Micheal juga memasukan mainan itu ke dalam koper.
"Ya nanti beli lagi, Mommy. Kan uang Mommy sama Daddy masih banyak, uang Grandpa dan Uncle Frank juga masih banyak" ucap Micheal lagi yang membuat Angeline menghela nafas panjang.
Sementara Frank hanya terkekeh, saat ini ia sedang bersandar di daun pintu sembari memeluk se-toples kerupuk dan memakan nya dengan santai. Kini Frank sudah tak mau lagi berfikir akan mengalahkan Gabriel dalam dunia bisnis mau pun sebagai nya, karena Frank sudah sadar ia bukanlah tandingan seorang Gabriel Emerson.
"Dua koper semua nya..." ujar suster Micheal yang membuat Angeline hanya bisa menghela nafas panjang.
"Apa di bawakan baju juga, Sus?" tanya Angeline kemudian.
"Tidak, Nyonya Angel. Kata Micheal, baju Micheal di sana sudah banyak" jawab suster nya.
"Memang banyak, nanti kamu tidur sama Micheal di kamar tamu di sana ya. Orang orang disana baik dan ramah kok, kamu pasti bisa cepat berbaur dengan mereka" tutur Angeline.
"Iya, Nyony" jawab Suster Micheal sembari menutup koper Micheal.
"Bawa mainan sebanyak dua koper?" tanya Frank sambil tertawa renyah "Kenapa engga jualan sekalian, Mickey?" tanya Frank niat bergurau namun rupa nya Micheal menanggapi nya dengan serius. .
"Untuk apa Mickey jualan? Kan keluarga kita sudah kaya" jawab nya yang membuat Frank langsung tertawa geli, begitu juga dengan suster nya namun tidak dengan Angeline. Ia justru khawatir dengan putar nya itu karena terus saja mengungkit kekayaan orang tua nya.
"Mickey, tidak boleh mengungkit kekayaan terus, Nak. Itu nama nya riya" tukas Angeline.
"Riya itu apa, Mommy?" tanya Micheal
"Pamer, dan pamer itu tidak boleh" jawab Angeline.
"Kenapa tidak boleh?" tanya Micheal lagi.
__ADS_1
"Nanti Micheal sombong, dan Allah itu tidak suka orang sombong. Apa lagi Micheal masih kecil"
"Apa kalau Micheal besar sudah boleh sombong"
"Astagfirullah..."
"Haha..."
Dua respon berbeda di berikan oleh Angeline dan Frank, Frank tertawa geli mendengar jawaban Micheal namun beda hal nya dengan Angeline yang semakin khawatir.
"Tahu lah, tanya sama Ustadz mu nanti" jawab Angeline kemudian.
..........
Sementara itu, di rumah sakit desa kini sedang melangsungkan acara syukuran yang di pimpin langsung oleh Kakek Firda. Hampir semua warga desa datang dan meramaikan acara, tak hanya itu. Semua warga menyumbang berbagai macam jenis makanan yang akan di nikmati bersama.
Sedangkan hari ini juga Raisa akan kembali di kirim ke kota, dan sesuai permintaan Firda, ia terlepas dari segala tuntutan namun masih di tetapkan sebagai saksi dan tidak boleh pergi keluar kota apa lagi ke luar negeri.
"Aku pamit..." kata Raisa lirih, tanpa di sangka Firda justru tersenyum dan merentangkan kedua tangan nya. Walaupun awal nya sempat ragu, namun Raisa menerima rentangan tangan Firda dan memeluk Firda. Raisa terdiam seribu kata, rasa nya sangat aneh berpelukan dengan musuh yang ingin bunuh.
"Sekali lagi maafkan kami, Raisa. Terutama suami ku, tolong maafkan dosa dosa nya. Bukan hanya untuk suami ku, tapi untuk diri mu sendiri" kata Firda sembari melerai pelukan nya.
"Jika kamu mau, aku akan mengubah kesaksian ku di pengadilan, aku akan bersaksi untuk membebaskan mu dan Gabriel dari hukuman" kata Raisa yang membuat hati Firda tersentuh, karena apa yang di katakan Raisa memiliki arti bahwa Raisa telah memaafkan suami nya
"Tidak usah, Raisa. Satu kebohongan akan melahirkan kebohongan yang lain, dan tidak ada hasil yang baik dari kebohongan" ucap Firda, Raisa hanya menanggapi nya dengan senyum dan kemudian ia pun di bawa oleh polisi.
"Raisa..." teriak Firda sebelum Raisa pergi, Raisa pun menoleh "Siapa nama anak mu?" tanya Firda masih dengan senyum di bibir nya.
"Javeed, Javeed Agarwal" Raisa memberikan jawaban sambil tersenyum.
"Semoga dia menjadi anak yang baik, Raisa. Menjadi pengganti Ayah nya dan bisa melindungi mu, menjadi orang yang sukses dan membanggakan mu" ucap Firda yang kembali membuat hati Raisa tersentuh.
__ADS_1
....... ...
Acara syukuran pun di lanjutkan, doa doa terbaik di panjatkan. Dan dengan ada nya rumah sakit ini, para warga desa berharap desa mereka lebih maju. Para anak muda yang bercita-cita ingin jadi Dokter dan Suster pun tak perlu lagi sampai perlu ke kota, meninggalkan keluarga terkasih mereka.
Gabriel juga berada di antara para warga, begitu juga dengan Gio dan Mini. Gabriel memperhatikan raut bahagia di wajah para warga desa dan itu memberikan perasaan yang hangat di hati Gabriel.
"Aneh ya, Gio..." ucap Gabriel pada Gio yang duduk di samping nya "Hanya butuh satu detik untuk mengambil nyawa seseorang, tapi butuh perjuangan yang sangat panjang untuk bisa menolong nyawa seseorang"
"Hem, kau benar" jawab Gio setengah menggumam, kini ia pun mulai berfikir akan meninggalkan dunia gelap nya. Karena setiap kali berada di antara orang orang yang sederhana dan penuh cinta, hati Gio juga menghangat. Ia merasakan ketenangan dan ke tentraman dalam jiwa nya.
"Jika kita membunuh satu orang, kita di anggap penjahat meskipun kita membunuh untuk membela diri. Tapi jika kita menolong seseorang, meskipun kemudian kita gagal menolong nya. Orang tetap akan menganggap kita malaikat, pribadi yang baik"
"Itu lah hidup, Gabriel. Sungguh penuh kejutan" jawab Gio "Dulu aku hidup dengan dendam dan amarah, tak pernah sekalipun aku bisa tidur tenang. Setiap kali akan tidur maupun bangun tidur, yang ada dalam kepala ku hanya bagaimana cara nya balas dendam. Tapi setelah aku merelakan semua nya, aku jauh lebih tenang. Aku bisa tidur dengan tenang, bangun tidur pun tenang"
"Kejutan yang tak pernah di sangka, dulu kita musuh dalam selimut. Hendak saling membunuh, tapi sekarang tidak lagi. Jika boleh jujur, Gio. Sebenarnya aku sudah sayang pada mu..."
Gio langsung melotot sempurna mendengar pengakuan Gabriel dan ia sejak tadi memandang lurus ke depan kini langsung menoleh dan menatap Gabriel tajam.
"Gabriel, aku masih normal. Aku juga sudah menikah, kamu juga masih normal kan? Bukan nya kamu masih sangat mencintai Firda?" tanya Gio setengah mendesis yang membuat Gabriel langsung memukul kepala tuan muda Glatzel itu.
"Sayang sebagai saudara maksud ku, Gio. Itu otak kotor sekali" gerutu Gabriel yang membuat Gio cengengesan.
"Oh, sebagai saudara. Kirain..." Gabriel mendengus pada Gio, namun kemudian ia kembali memasang wajah serius nya.
"Aku juga minta maaf ya, Gio. Karena aku, kamu jadi yatim piatu" lirih Gabriel.
"Semua ada hikmah nya, Gabriel. Berkat kamu, aku bertemu Firda. Dan berkat Firda, aku me rasakan bagaimana rasa nya punya keluarga yang damai, tenang, tentram"
.........
Sementara itu, Raisa kini sedang dalam perjalanan menuju bandara dengan di antar polisi. Raisa di perlakukan dengan baik, karena kini status Raisa adalah saksi. Dan selama dalam perjalanan, Raisa terbayang wajah teduh Firda. Yang sudah ia permainkan dan hampir saja ia bunuh, namun masih tetap menyunggingkan senyum dan bahkan mau memeluk Raisa dan mendoakan putra Raisa.
__ADS_1
"Sekarang aku tahu kenapa Don Gabriel berubah, ternyata karena ia menikahi malaikat tak bersayap. Semoga putra ku kelak mendapatkan wanita seperti mu, Nyonya Emerson"