
Gabriel sengaja tak tidur sampai sang buah hati terlelap, ia terus mengawasi gerak gerik sang istri yang menyusui putra nya itu.
"Ini sudah malam lho, Bang. Tidur gih" kata Firda.
"Nanti saja, setelah dapat jatah" kata Gabriel dan itu sudah terjadi semenjak Angeline ada di rumah mereka dan Micheal tidur bersama Angeline. Gabriel bernafas lega bahkan sangat bersyukur karena hal konyol itu.
"Jatah apa sih, Bang. Belum 40 hari juga" kata Firda lagi.
"Menu membuka saja tidak apa apa, seperti malam malam sebelum nya" kata Gabriel "Untung ya Jibril tidak rewel seperti Micheal, tidur nya juga nyenyak dan sekalipun kita bermesraan di depan dia, dia tidak banyak tanya dan bikin kita pusing" tutur Gabriel yang tentu saja membuat Firda tergelak.
"Ya iyalah, Micheal kan sudah besar. Sedangkan Jibril masih bayi, tidak bisa apa apa kecuali menangis" jawab Firda.
"Aku juga bingung, Sayang. Kenapa Jibril itu apa apa menangis, mau pup nangis, haus nangis, bangun tidur nangis, mau tidur nangis. Kenapa dia itu tidak diam saja gitu, kan kita juga periksa popok nya kalau dia sudah kentut, terus kamu menyusui dia juga dengan tertatur. Kalau mengantuk juga ya tinggal pejamkan mata, kenapa harus menangis? Kalau bangun tidur, ya sudah buka mata, kenapa menangis lagi?" mendengar pertanyaan beruntun Gabriel itu Firda seketika terdiam dengan mulut yang sedikit terbuka.
Bukan karena apa, tapi karena Firda ingat ia pernah mengajukan pertanyaan itu pada Ummi nya saat mereka menjenguk tetangga mereka yang baru melahirkan. Saat itu usia Firda mungkin sekitar 9 tahunan dan Firda ingat, saat itu Ummi nya bilang menangis adalah bahasa bayi.
"Sayang, kok malah diam?" tanya Gabriel.
"Ya mungkin karena bayi itu tidak bisa bicara, Bang. Menangis itu sudah menjadi bahasa nya, dia menangis saat pup mungkin karena dia merasa tak nyaman dan sebagai nya" jawab Firda ragu "Lagian kenapa kamu bisa tanya begitu sih, Bang Gabriel? Sudah tahu bayi tidak bisa apa apa selain menangis" ujar Firda lagi, padahal sebenar nya ia bertanya pada diri nya sendiri kenapa dulu ia bisa mengajukan pertanyaan konyol itu pada Ummi nya?
"Ya aku penasaran saja" jawab Gabriel dengan tenang nya yang membuat Firda mendengus. Firda menyelimuti bayi nya dan mengecup kening nya, kemudian Firda membaca doa sebelum tidur, termasuk tiga surah terakhir dan tak lupa lengkap dengan ayat kursi nya untuk mewakili sang anak. Firda di ajari Ummi nya untuk tetap berdoa mewakili sang buah hati sebelum dan sesudah makan juga sebelum dan saat bangun tidur di pagi hari.
__ADS_1
"Sudah tidur kan ya?" tanya Gabriel sembari mengintip wajah mungil putra nya itu "Tidur yang nyenyak ya, Nak. Daddy sama Mommy mau menghabiskan waktu berdua dulu, mumpung ada waktu" kata Gabriel yang membuat Firda terkekeh.
"Aku gosok gigi dulu, Bang" kata Firda dan ia pun bergegas ke kamar mandi, Gabriel mengekori Firda meskipun ia sudah gosok gigi tadi.
Gabriel langsung memeluk Firda dari belakang tak perduli Firda yang menyuruh nya menunggu di ranjang "Kangen..." kata Gabriel sembari mencium tengkuk Firda dengan mesra.
"Tiap hari kita bersama lho, Bang" kata Firda sembari menuangkan pasta gigi ke sikat gigi nya.
"Iya, tapi setiap hari kamu sibuk sama Jibril, sama Micheal. Semenjak menikah kita tidak pernah menghabiskan waktu berdua untuk bermesraan" rengek Gabriel.
"Ya bagaimana mau bermesraan, Bang. Baru sehari aku di ikut kamu sudah ada serangan di mobil, belum lagi pas pulang dari pesta, belum lagi aku tegang saat mengetahui Gio adalah musuh dalam selimut, di tambah ayah mertua yang mengancam ku jika aku tidak meninggalkan mu. Di tambah serangan serangan yang lain" kata Firda sebelum ia mulai menggosok gigi nya, Gabriel masih dengan setia melingkarkan lengan kekar nya itu diperut sang istri.
"Hidup kita seru ya" kata Gabriel kemudian yang membuat Firda tergelak "Selalu memacu adrenaline"
"Iya, penuh perjuangan. Tapi sekarang...." Firda berbalik badan dan mengalungkan lengan nya di leher sang suami "In Shaa Alalh semua nya akan baik baik saja sekarang, kita bisa hidup tenang di sini" lirih nya dan ia berjinjit untuk mengecup sudut bibir sang suaku.
Gabriel menurunkan tangan nya hingga kini berada di kedua paha sang istri dan Gabriel langsung mengangkat istri tercinta nya itu di gendongan nya. Firda pun melingkarkan kaki nya di pinggang sang suami dan Gabriel membawa Firda ke ranjang.
Gabriel merebahkan Firda dan ia pun ikut merebahkan diri di samping nya, Gabriel dan Firda menggunakan satu bantal dan kedua tangan mereka saling bertaut.
"Sayang..." kata Gabriel dan Firda menjawab nya dengan gumaman "Aku itu suka kalau punya anak banyak, pasti keluarga kita semakin sempurna"
__ADS_1
"Aku juga berfikir begitu, Bang" jawab Gabriel "Semoga saja Allah akan meng anugerahi kita anak lagi nanti"
"Aku juga mau nya begitu, tapi..."
"Tapi apa?"
"Aku tidak tega melihat kamu mual mual saat hamil muda, terus pas kandungan mu sudah besar, kamu malah seperti kesulitan dalam beraktifitas, tidur juga selalu terbangun gara gara tidak bisa menemukan posisi yang nyaman. Belum lagi nanti saat melahirkan, aduh, itu benar benar mengerikan. Belum lagi menyusui lagi seperti ini, tidak bisa tidur nyenyak setiap malam"
"Haha, nama nya juga perjuangan seorang Ibu, Bang. Itu hal biasa, tapi yang aku takutkan bukan hal itu, Bang"
"Terus apa?"
"Aku takut tidak bisa jadi Ibu yang baik buat anak ana kita, aku takut tidak bisa mendidik nya menjadi anak yang soleh, yang taat pada Allah karena anak itu amanah dari Allah, Bang. Dan selain itu, anak juga adalah fitnah yang besar dalam hidup" lirih Firda sembari memainkan jari jemari Gabriel yang bertautan dengan tangan nya. Gabriel terdiam mendengarkan ucapan Firda, karena pemikiran nya dan Firda ternyata jauh berbeda. Gabriel takut pada hal hal bersifat duniawi dan yang pasti hanya sementara, sementara Firda justru sebalik nya.
"Sayang, kamu itu aneh" kata Gabriel kemudian
"Aneh kenapa, Bang?" tanya Firda lirih
"Yang kamu takutkan hal hal yang tak terlihat dengan mata. Kamu takut berdosa sama Allah, kamu takut tak bisa menjaga amanah Nya. Kamu juga takut jauh dari Nya, bahkan ketika kita berbicara tentang anak, kamu bukan nya takut dia tidak sukses atau apa, kamu malah takut dia tidak taat pada Allah. Maksud ku, itu kan ya urusan nanti, kalau sudah dewasa"
"Karena Allah berfirman 'Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah pada ku'. Jadi, kita hidup hanya untuk beribadah pada Allah. Dan juga, Bang. Kenapa aku takut nya pada Allah dan bukan pada hal hal yang bersifat duniawi, karena kita nanti kita akan berpulang pada Allah, yaitu pulang ke akhirat dimana disana kita akan hidup abadi dan semua yang kita lakukan di dunia ini akan di pertanggung jawabkan termasuk dalam mengasuh anak. Sementara dunia ini hanya bersifat sementara, ketika kita mati, ya semua nya selesai. Tidak ada yang di bawa mati kecuali amal. Jadi, sewaktu kita hidup, kita harus memastikan bahwa yang kita lakukan dan juga anak anak kita lakukan adalah amal amal yang baik, supaya yang di bawa pulang baik juga" jelas Firda dan Gabriel mendengarkan dalam diam, mencoba mencerna apa yang di jelaskan oleh istri kecil nya itu.
__ADS_1
"Yah, malah diam" kata Firda "Maaf ya, Bang. Bukan nya maksud aku sok bijak, tapi memang itu yang di ajarkan keluarga ku dan di sekolah ku" kata Firda yang justru membuat Gabriel terkekeh.
"Kalau begitu, kamu harus mengajarkan hal yang sama pada anak anak kita"