
Setelah sarapan, Angeline, Mini dan Gio pun berpamitan pada keluarga Firda karena mereka sudah harus pergi.
Sementara Micheal, bocah itu akan tetap tinggal karena ia tak mau berpisah dengan adik Lora nya. Tak perduli Angeline yang membujuk nya dengan berbagai macam rayuan, namun Micheal tetap bersikeras tak mau pulang.
Gabriel tidak tahu, apakah itu kabar yang sedih atau justru bahagia untuk diri nya. Di satu sisi, ia sangat senang bisa berkumpul bersama orang orang tercinta nya terutama putra nya, tapi di sini lain Gabriel suka kesal pada Micheal yang terus menempel pada Firda dan Jibril. Membuat Gabriel bahkan hampir tak punya tempat di ranjang nya sendiri, belum lagi Micheal yang akan merengek mau ini itu.
"Jangan bertengkar terus ya..." kata Firda pada Mini yang saat ini sedang mencium wajah Jibril dengan gemas.
"Siapa?" tanya Mini setelah mendarat kan kecupan terkahir di kening Lora Jibril.
"Kamu sama Gio" kata Firda lagi, Mini hanya mencebikan bibir nya sembari membenarkan ransel nya.
"Aku heran sama kamu, Fir. Kok bisa gitu kamu punya suami Mafia, punya teman Mafia. Padahal kamu cucu kiai begini..." kata Mini.
"Nama nya juga takdir, Min. Skenario Tuhan itu tidak bisa di tebak, Allah berfirman dalam kitab suci kami. Mungkin apa yang kita benci, ada kebaikan di dalam nya dan bisa jadi apa yang kita sukai justru ada keburukan di dalam nya. Jadi kamu jangan terlalu membenci Gio ya. Karena garis antara benci dan cinta itu itu setipis dan sekecil sehelai benang "tukas Firda yang justru membuat Mini cengengesan. Ia menunduk dan memeluk Firda yang masih terus berada di atas ranjang.
"Ning Firda bijak sekali deh... " kata Mini sembari mengecup pipi Firda dengan gemas.
"Bukan nya aku sok bijak, cuma dulu aku juga sama seperti kamu. Pas tahu siapa Bang Gabriel, aku fikir dunia sedang mempermainkan aku, aku benar benar tidak percaya dan setelah aku percaya, aku justru takut. Dan seperti kamu, aku juga berfikir Mafia itu seorang pendosa, seorang kriminal dan meskipun kita bukan orang yang suci, tentu kita tetap ingin bersama orang yang baik kan? Tapi ya itu yadi, skenario Tuhan itu luar biasa dan tidak bisa di tebak" kata Firda lagi.
"Iya iya, Ning Firda. Aku juga sebenar nya bukan nya benci benci amat sama Gio, tapi entah kenapa bawaan nya kesal saja begitu kalau lihat dia. Apa lagi dia itu sombong, sok benar dan sok ganteng. Kalau dia ke kampus, dia itu tebar pesona sama anak anak kampus, kesal kan?" gerutu Mini yang tanpa ia sadari, Gio sudah ada di ambang pintu sejak tadi.
Gio bersandar santai di daun pintu, melipat tangan nya di dada dan mendengarkan ucapan Mini sambil mencebikan bibir nya. Firda juga menyadari kehadiran Gio namun Gio memberi isyarat agar Firda tidak memberi tahu Mini.
"Ya normal normal saja sih kalau Gio tebar pesona, dia kan memang pria yang mempesona dan yang pasti dia itu jomblo. Mau tebar pesona sama seluruh wanita di Indonesia juga tidak akan ada yang kesal kan?" pancing Firda.
"Ih adalah, aku. Aku mah kesal tahu, kan sudah aku bilang dari tadi..." sungyt Mini dengan wajah serius yang membuat Firda terkekeh, begitu juga dengan Gio.
"Kesal nya kenapa? Cemburu?" lagi lagi Firda memancing, dan Gio pun dengan tak sabar menunggu jawaban dari Mini.
__ADS_1
"Cemburu? Ya engga lah, buat apa aku cemburu? Pacaran aja belum" jawab Mini lagi dan Gio yang mendengar itu hanya mencebikan bibir nya.
"Belum arti nya akan, ya?" goda Firda lagi.
"Ya bukan nya berharap sih, tapi kan jodoh tidak ada yang tahu" tukas Mini lagi yang membuat Firda terkekeh geli.
"Sepertinya ada yang berharap, Gio..." kata Firda kemudian yang membuat Mini menoleh, Mini hanya meringis sambil menepuk jidat nya sendiri saat melihat Gio menahan senyum pada nya.
"Dasar gadis rocker..." desis Gio kemudian ia melangkah masuk ke dalam kamar Firda "Di tungguin dari tadi, malah bergosip" lanjut nya yang membuat Mini memberengut.
"Tadi masih pamitan sama Firda, masih pengen lihatin Jibril juga" jawab Mini membela diri saat Gio juga memperhatikan Jibril.
"Om Gio pamit pulang dulu ya, Jibril" kata Gio sambil mengusap pipi Lora Jibril yang lembut nan halus.
"Hati hati ya, Gio. Maaf tidak bisa mengantar" kata Firda.
"Tidak apa apa, Firda. Kalau aku ada waktu luang, aku akan ke sini lagi" kata Gio lagi sambil tersenyum namun senyum nya langsung musnah saat mendengar suara Gabriel
"Ada Mini di sini, Don Gabriel. Pintu nya juga terbuka lebar, memang nya apa yang akan jadi fitnah?" balas Gio kesal.
"Jadi fitnah di hati aku nanti, sudah sana pulang" usir nya yang membuat Firda tercengang namun Gio hanya menghela nafas berat.
Gio dan Mini pun keluar dari kamar Firda begitu juga dengan Gabriel.
Di luar, Angeline sedang memeluk Micheal karena ia akan kembali berpisah untuk sementara waktu dengan putra nya. Angeline mulai terbiasa dengan perpisahan sementara ini, ia tak lagi was was seperti dulu karena Angeline melihat dengan mata kepala nya sendiri betapa keluarga Firda menyayangi Micheal dan memperlakukan Micheal seperti cucu mereka sendiri. Angeline bahkan tidak pernah melihat Micheal di bentak meskipun Micheal sangat nakal dan manja, mereka selalu menjelaskan segala sesuatu nya pada Micheal dengan lembut dan hati hati, beda hal nya dengan Angeline yang terkadang membentak bahkan mengancam Micheal jika sudah memancing emosi Angeline.
"Jangan gangguin adik Lora ya, Mickey. Jangan merepotkan Mommy dan yang lain nya juga" kata Angeline mewanti wanti sang buah hati "Mickey harus belajar mandiri, okey?"
"Okey, Mommy" Micheal dengan antusias mengangkat kedua jari jempol nya sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Good boy" kata Angeline sambil mengusap pucuk kepala Micheal.
"Gio..." seru Ummi Aisyah yang datang tergesa gesa dari dapur sembari membawa kantong plastik kecil di tangan nya "Tadi tante lihat kamu suka singkong goreng, ini masih ada. Kamu bawa saja ya, siapa tahu mau nyemil di pesawat" kata Ummi Aisyah dan tentu saja Gio langsung menyambar plastik berisi singkong goreng kesukaan nya itu.
"Tante baik sekali, terima kasih ya, Tante" kata Gio senang.
"Sama sama" kata Ummi Aisyah.
Setelah itu, ketiga orang itu pun masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu mereka.
Sebelum mobil berjalan, mereka masih melambaikan tangan pada orang orang yang ada di rumah.
"Naik jet pribadi, tapi cemilan nya singkong goreng" cibir Mini kemudian namun Gio tak menanggapi nya.
"Kalau sama wanita lain tebar pesona, kalau sama aku cuek" gerutu Mini lagi.
"Memang nya kamu wanita?" ejek Gio tiba tiba yang tentu saja membuat Mini langsung memberengut.
Sementara di rumah, raut wajah Gabriel tak bisa di tebak. Beda hal nya dengan raut wajah Micheal yang benar benar memancarkan kebahagiaan karena ia akan tinggal lebih lama bersama sang adik.
"Daddy..." seru Micheal dan Gabriel pun menoleh, ia menatap putra nya itu "Daddy sebenar nya bahagia atau sedih Mickey tidak ikut pulang sama Mommy?" pertanyaan putra sulung nya itu berhasil membuat Gabriel tercengang karena ia sendiri bingung dengan perasaan nya sekarang.
"Kenapa kamu tanya begitu?" Gabriel balik bertanya karena ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Tadi pagi Mickey dengar apa yang di katakan Daddy pada Mommy, Daddy tidak bisa peluk Mommy karena ada Mickey" kata Micheal yang memang mendengar Gabriel mengatakan demikian pada Firda.
"Nah itu tahu, berarti nanti malam Mickey tidur sama Oma atau nenda ya. Daddy juga sebenar nya bahagia sekali karena Mickey tidak pulang" Rayu Gabriel sambil tersenyum manis pada putra nya itu.
"Tidak mau..." jawab Micheal dengan santai nya yang tentu langsung membuat senyum manis Gabriel musnah seketika "Daddy saja yang tidur sama Oma atau Nenda. Mickey mau tidur sama Mommy dan adik Lora" ucap putra nya itu tanpa rasa bersalah sedikitpun dan ia melenggang pergi dari hadapan Gabriel begitu saja. Kaki kaki kecil nya melompat ria menuju kamar sang Mommy dan Adik. Sementara Gabriel hanya terdiam mematung, jawaban yang sungguh tak di sangka keluar dari mulut putra nya.
__ADS_1
"Dia itu masih kecil atau sudah dewasa sih?"