Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 208 - Bagaiamana Rasanya Jadi Ummi?


__ADS_3

Gio membawa Mini ke sebuah restaurant mewah dan mereka makan malam di dekat kolam yang di hias dengan lilin lilin yang mengambang di atas air nya. Bahkan di tepi kolam juga di penuhi dengan lilin. Mini menatap ke sekeliling nya nya dan tempat itu sangat sepi, hanya ada beberapa orang yang terlihat.


"Seperti nya sebentar lagi restaurant ini bangkrut" celetuk Mini yang membuat Gio langsung mengerutkan kening nya.


"Memang nya kamu cenayang?" tanya Gio.


"Ya bukan, cuma lihat saja. Tidak banyak orang yang datang, padahal restaurant ini besar" kata Mini lagi.


"Aku menyewa restaurant ini" kata Gio dengan tenang nya yang membuat kedua bola mata Mini langsung membulat sempurna.


"Kenapa?" tanya nya masih dengan mata yang terbuka lebar.


"Aku tidak suka keramaian" jawab Gio dan tentu ia bohong, entah mengapa ia ingin tempat ini menjadi privasi untuk nya dan Mini malam ini. Gio memaksa Gerry untuk bisa menyewa restaurant ini semalaman, entah apakah uang atau kekerasan lah yang membuat Gerry berhasil melakukan nya. Bahkan lilin lilin di kolam dan d tepi kolam itu juga perintah Gio. Gio tidak pernah dinner secara spesial dengan seorang gadis tapi Gio pernah mendengar kalau lilin itu membuat suasana terasa lebih romantis.


"Oh begitu, terus kenapa banyak lilin ya? Apa takut mati lampu?" tanya Mini kemudian yang membuat Gio meringis.


"Biar romantis lah, kamu ini bodoh sekali" tukas Gio yang tentu saja membuat Mini mencebikan Bibir nya.


"Memang nya ada yang dinner romantis di sini?" tanya Mini lagi "Eh, tapi kan restaurant ini sudah kamu sewa, itu arti nya...." Mini memicingkan mata nya pada Gio sementara Gio langsung memasang wajah dingin nya.


"Mungkin pihak restaurant memang selalu menaruh di lilin di sana" kata Gio kemudian.


"Kamu yakin? Bukan nya kamu yang taruh lilin di sana supaya makam malam kita terasa romantis?" goda Mini bahkan sambil menaik turunkan alis nya pada Gio.


"Aku?" Gio menunjuk diri nya "Tentu saja tuan muda seperti ku tidak akan melakukan hal itu , itu tugas Gerry" kata Gio tanpa sadar ia telah keceplosan dan Mini yang menyadari itu tentu lamgsung merona bahkan hati nya kembali berbunga.


"Oh, jadi Gerry yang menaruh lilin lilin itu di sana..." kata Mini lagi.

__ADS_1


"Ya iyalah" jawab Gio ketus namun kemudian kedua bola nya membulat sempurna saat menyadari Mini memancing nya mengakui bahwa Lilin lilin itu memang kerjaan nya meskipun bukan Gio sendiri yang meletakkan nya. Sementara Mini terkekeh geli apa lagi saat melihat raut wajah Gio.


"Maksud ku... Gerry meletakkan banyak lilin karena takut mati lampu" kata Gio yang masih mencoba mengelak.


"Sudah tertangkap basah juga, masih mengelak" gerutu Mini.


.........


Keesokan hari nya, Firda pergi ke dapur setelah menidurkan sang buah hati. Semenjak menyusui, Firda jadi mudah lapar.


Dan saat masuk ke dapur, semua mata langsung tertuju pada Firda yang hanya memakai daster lusuh dan memakai jilbab kecil. Firda yang mendapati tatapan aneh keluarga nya itu hanya bisa mengerutkan kening nya dan ia berusaha berfikir mungkin ini hanya perasaan nya saja.


"Lain kali hati hati dong, Fir..." kata Ummi Aisyah tiba tiba yang membuat Firda mengernyit bingung.


"Iya, Fir. Anak itu tidak boleh melihat kegiatan orang dewasa, bisa bahaya" kata Tante nya.


"Kunci pintu nya, Nak. Biar aman..." kata ayah nya yang semakin membuat Firda bingung "Sayang, buatkan kopi 3 ya" seru nya pada Ummi Aisyah "Ada Mang Uday sama anak anak nya di depan" lanjut nya.


"Iya, Mas" Jawab Ummi Aisyah. Sebelum pergi dari dapur, Abi Farhan sempat menatap Firda penuh makna sambil geleng geleng kepala yang membuat Firda hanya bisa garuk garuk kepala.


"Sebenarnya ada apa ya?" tanya Firda yang sudah sangat penasaran.


"Aisyah...." terdengar suara parau sang Nenek dan tak lama kemudian ia datang dengan membawa wadah kue yang sudah kosong "Aisyah, apa kue nya masih ada? Sajikan untuk tamu kalau masih ada" kata sang Nenek namun tatapan nya tertuju pada Firda.


"Ndok..." sang Nenek memegang pundak cucu nya itu "Kalau punya anak kecil, yang dewasa harus hati hati ya. Lain kali jangan sampai tertangkap basah lagi, itu bukan pertunjukan yang baik untuk anak ank " kerutan di kening Firda semakin dalam saat mendengar ucapan sang Nenek hingga ia menyadari sesuatu dan itu membuat pupil mata nya langsung membesar.


"Tunggu, apa Micheal mengatakan sesuatu?" pekik Firda dan ia menatap Ummi nya, Tante nya dan Nenek nya bergantian. Namun ketiga wanita itu tak menanggapi, Ummi Aisyah menyiapkan kue untuk tamu, Nenek sudah pergi untuk menemui tamu, sementara Tante sibuk memasak untuk sarapan.

__ADS_1


"Ummi..." Firda menghampiri Ummi nya dan menarik ujung jilbab nya "Micheal mengatakan sesuatu ya?" tanya Firda merengek dan diam nya Ummi nya itu sudah memberikan jawaban yang cukup jelas.


"Ya Allah..." gumam Firda pasrah "Sudah Firda bilang jangan kasih tahu siapa siapa" ia kembali merengek.


"Maka nya, anak mu itu ajari lah, Fir. Bilang sama dia apa yang boleh di katakan apa yang tidak boleh di katakan sama orang lain" kata Ummi Aisyah "Kamu itu sebagai ibu harus bisa mendidik anak anak mu"


"Ya Allah, Ummi. Bukan nya Firda tidak mendidik anak Firda, cuma dia itu cerewet, banyak tanya, di kasih tahu ini, dia nanya itu. Sudah gitu kalau nanya tidak ada ujung nya lagi, Firda sama Bang Gabriel sudah mau menyerah rasa nya" rengek Firda panjang lebar.


"Ya jangan gampang menyerah begitu, nama nya juga anak anak, Fir" sambung Tante nya "Rasa ingin tahu nya itu tinggi, dia selalu penasaran dan ingin tahu dengan hal hal baru. Dan apapun yang dia lihat atau dia dengar, dia pasti ingin tahu apa, kenapa, bagaiamana" lanjut nya


"Tapi Micheal itu beda, Tante. Meskipun Firda sudah menjelaskan dengan detail, justru timbul lagi pertanyaan yang baru" sanggah Firda.


"Ya sabar, Firda" tukas Ummi Aisyah "Kalau anak banyak tanya, itu nama nya cerdas. Dia punya kemauan untuk tahu...." ucap nya


"Ummi..." Firda setengah menggeram kesal karena ia fikir Ummi nya tidak mengerti tentang Micheal dan apa yang Firda rasakan setiap kali harus menghadapi anak ajaib nya itu


"Micheal itu orang nya selalu ngejawab kalau di kasih tahu, itu cerdas nya sudah over mungkin. Firda sudah berusaha memuaskan rasa penasaran dia, tapi dia tidak pernah puas dengan penjelasan Firda. Coba Ummi bayangin berada di posisi Firda, semua di tanyain sama Micheal dengan detail" tukas nya panjang lebar.


"Tidak usah di bayangin juga Ummi sudah tahu, Fir" jawab Ummi Aisyah "Wong Ummi dan semua orang di rumah ini sudah biasa kok menghadapi anak seperti Micheal, lupa kamu seperti apa kamu dulu bahkan sampai sekarang?" tanya Ummi nya yang membuat Firda cengengesan sambil mengaruk kepala nya yang tak gatal.


"Sampai dewasa pun kamu masih sama, naik darah tiap hari Ummi sama orang orang rumah menghadapi kamu, Fir" tukas nya lagi sambil cemberut, Firda langsung memeluk Ummi nya manja dari belakang


"Ya, maaf, Ummi. Nama nya juga anak anak, pasti ingin tahu banyak hal" ucap nya membela diri.


"Nah itu kamu tahu, jadi bagaimana rasa nya jadi Ummi?"


"Naik darah, Ummi. Pening kepala...."

__ADS_1


"Syukurlah kalau kamu sudah tahu..."


__ADS_2