Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 179 - Mini Siuman


__ADS_3

Dokter memeriksa keadaan Firda dan karena tak ada kontraksi lagi maupun keluhan Firda yang lain, Dokter pun memperbolehkan Firda pulang. Gabriel pun juga mengatakan pada Dokter bahwa ia ingin pulang, meskipun Dokter tidak mengizinkan nya karena luka Gabriel masih mengkhawatirkan, namun Gabriel yang sudah terbiasa dengan luka seperti itu tetap mendesak Dokter agar mengizinkan nya pulang.


"Ayo lah, Dok. Lagi pula istri ku sudah boleh pulang, masak suami nya tidak? Nanti istri ku tidur sama siapa di rumah?" rengek Gabriel pada Dokter nya yang tentu saja membuat sang Dokter tak bisa lagi berkata apa apa. Sementara Firda dan Kakek Nenek yang ada di sana hanya bisa geleng geleng kepala dengan tingkah Gabriel.


"Baiklah" kata Dokter itu pada akhir nya yang membuat Gabriel tersenyum senang.


Sebenarnya Gabriel ingin cepat cepat keluar dari rumah sakit juga untuk mencari cara bagaimana cara nya bisa mengirim Abi Farhan dan Mini ke Amerika secepatnya. Gabriel tak mau menunggu saja tanpa melakukan apapun.


...


Sementara itu, Gio kembali ke kamar Mini dan saat membuka pintu, ia melihat kedua mata Mini sudah melek. Membuat Gio langsung memanggil Dokter dengan begitu antusias. Dokter dan Suster pun segera datang, mereka segera memeriksa keadaan Mini.


Sementara Gio menunggu di luar ruangan dan ia terus mondar mandir, sekali lagi ia terus berdoa dalam hati nya, meminta kesembuhan untuk Mini.


Tak lama kemudian Gerry datang dengan membawa beberapa botol air mineral, Gio yang melihat bodyguard nya tak menjaga Mini sesuai titah nya itu pun tentu langsung marah


"Kamu dari mana, Gerry?" pekik Gio "Mini sudah membuka mata dan kamu pergi?"


Gerry yang mendengar ucapan Gio itu tampak terkejut dan ia hendak masuk ke dalam kamar Mini namun Gio langsung menarik leher baju nya, membuat langkah Gerry langsung terhenti.


"Sudah ada Dokter dan Suster di dalam" geram Gio "Aku menyuruh mu menjaga nya, tapi kamu malah keluyuran?"


"Maaf, Tuan muda. Aku bukan nya keluyuran, aku pergi membeli air karena air nya habis dan aku haus..."


"Banyak sekali alasan mu" desis Gio yang membuat Gerry meringis, dan kemudian ia kembali mondar mandir, setelah beberapa saat menunggu, Dokter keluar dan Gio langsung mencecar nya dengan berbagai pertanyaan.


"Apa dia baik baik saja, Dok? Dia sudah sadar kan? Dia tidak hilang ingatan kan? Dia akan segera sembuh kan?" Dokter tersenyum kecil mendengar pertanyaan Gio yang di katakan dalam satu tarikan nafas itu.

__ADS_1


"Iya, pacar Pak Gio baik baik saja dan seperti nya juga tidak hilang ingatan" jawab Dokter itu yang membuat Gio mengernyitkan kening nya di karenakan ada sebuah status yang di sebutkan.


"Dokter, gadis Rock itu bukan pacar ku" tegas Gio yang membuat Dokter itu ber oh ria dan mengangkat kedua alis nya sambil mengangguk anggukan kepala nya. Gerry yang mendengar itu juga hanya bisa menahan senyum.


"Oh begitu..."


"Iya" jawab Gio ketus "Tapi dia beneran baik baik saja kan? Dia masih akan hidup kan?" tanya Gio lagi.


"Inysa Allah, Pak. Pasien masih akan hidup, tapi kondisi nya masih tidak stabil. Saya harap, pasien tetap di jaga, di support untuk kesembuhan nya dan jangan sampai pasien tertekan. Dan jika ada yang ingin menjenguk, maksimal dua orang, supaya pasien tidak merasa terganggu" tutur Dokter.


"Oh Tuhan, Syukurlah" seru Gio mengusap wajah nya dengan kedua telapak tangan nya, ia begitu lega karena Mini akhir nya siuman juga.


"Jadi saya sekarang boleh masuk?" tanya Gio lagi.


"Tentu, Pak. Silahkan..."


"Hai..." sapa Gio yang sudah berdiri di samping Mini, Mini tampak tersenyum lemah dan mengedipkan mata nya, mengisyaratkan ia juga menyapa Gio.


"Kau baik baik saja kan? Kau tidak hilang ingatan kan? Kau ingat aku? Aku Gio..." kata Gio yang kembali membuat Mini tersenyum. Ia menatap Gio dan bibir nya bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu, Gio yang mengerti itu pun langsung mendekatkan telinga nya ke dekat mulut Mini


"Tuan...Mafia" ucap Mini dengan susah payah yang membuat Gio tersenyum lebar dan bernafas lega.


"Aku akan memberi tahu Firda kalau kau sudah sadar, dia pasti senang" ujar Gio dan Mini kembali hanya mengedipkan mata nya.


Gio pun bergegas menemui Firda di kamar nya, dan sesampainya di sana. Ia melihat Kakek Nenek yang sedang membereskan barang barang Firda.


"Hai, Gio...." sapa Firda "Bagaiamana keadaan Mini?"

__ADS_1


"Apa Dokter sudah memperbolehkan mu pulang, Firda?" tanya Gio tanpa menjawab pertanyaan Firda.


"Iya" jawab Firda "Tapi aku tidak akan pulang ke rumah hari ini kok, aku masih mau menjaga Abi dan Mini" jawab Firda.


"Kedatangan ku kesini mau memberi tahu kalau Mini sudah siuman" kata Gio yang tentu membuat semua nya terkejut sekaligus senang. Mereka dengan serempak mengucapkan puji syukur, terutama Firda. Ia tampak sangat bahagia dengan berita ini.


"Aku mau kesana sekarang" seru Firda antusias.


"Kami akan kesana..." sambung Gabriel dan Gio hanya menganggukan kepala nya. Kakek Nenek juga tampak bernafas lega dan beberapa kali mengucapkan alhamdulillah setelah mendengar kabar kesadaran Mini.


Meraka pun sama sama pergi untuk menemui Mini, namun karena kondisi Mini masih tidak stabil dan Dokter juga menyarankan agar tidak banyak orang yang masuk ke ruang rawat nya. Gio meminta Firda dan Gabriel saja yang masuk ke kamar nya Mini.


Sementara Mini, dia tersenyum melihat Firda dan Gabriel. Namun Mini tidak ingat sebenar nya apa yang terjadi, hal yang terkahir kali ia ingat adalah diri nya yang di tembak dan Abi Farhan membawa nya pergi dengan mobil. Sehingga Mini tidak tahu, bahwa bukan hanya nyawa saja yang terancam di peristiwa itu. Bahkan sampai detik ini, Abi Farhan yang kembali ke mobil saat itu demi meyelamat kan Mini belum sadarkan diri.


"Hai, Min.." sapa Firda seperti biasa "Alhamdulillah kamu sadar juga, kami sangat mencemaskan mu" ujar nya. Mini hanya tersenyum samar.


"Kamu baik baik saja kan?" pertanyaan itu memang terasa ambigu, karena Firda tahu Mini tidak baik baik saja, namun Mini tetap tersenyum dan mengedipkan mata nya. Mini melirik Gabriel, dan melihat Gabriel masih hidup serta terlihat sangat sehat, Mini sudah menduga bahwa musuh musuh itu berhasil di taklukan oleh Gabriel. Yah, Seperti biasa.


Mini menatap Firda dan mengkode kan bahwa ia ingin mengatakan sesuatu, Firda yang mengerti pun langsung mendekatkan telinga nya ke mulut Mini.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Firda lembut.


"Aku senang..." kata Mini dengan begitu lemah "Kau dan bayi mu, selalu baik baik saja..." ia berkata dengan terbata bata. Firda yang mendengar itu tersenyum dan menganggukan kepala nya.


"Seperti nya kami memang orang orang pilihan, Min. Karena itulah Allah memilih kami lah yang menjadi bagian dari keluarga Bang Gabriel" kata Firda.


"Dan maafkan kami, Mini..." sambung Gabriel "Karena kami, kamu selalu saja dalam bahaya. Tapi aku senang karena akhir nya kamu sadar, kamu memang gadis yang kuat, sama seperti mendiang Ayah mu"

__ADS_1


"Terima makasih" ucap Mini lemah.


__ADS_2