
"Lalu kenapa Gio menempuh jalan ini sekarang?" pertanyaan itu muncul begitu saja dalam benak Firda.
Sementara di belakang nya, Gio menatap Firda dengan tatapan yg begitu tajam dan dingin, Gio mengangkat senjata nya.
Mengarahkan nya tepat ke kepala Firda, Gio menarik nafas dan ia hendak menarik pelatuk nya yg tentu pasti akan langsung membuat kepala Firda meledak.
"Aku menunggu 10 tahun untuk moment ini, Gabriel Emerson... Aku menjadi bagian dari diri mu selama 10 tahun agar aku bisa mengambil yg sangat berarti dalam hidup mu, dan sekarang lah saat nya"
Saat Gio benar benar akan menarik pelatuk nya, tiba tiba bayangan Firda yg begitu menggemaskan dan lucu terbayang dalam benak nya. Gio mencoba mengenyahkan bayangan bayangan itu namun ia tak bisa.
Gio bahkan terbayang dengan jelas saat Firda menangisi kucing nya yg mati, saat Gio sudah memerintahkan seorang sniper untuk menembak Firda.
Gio teringat saat Firda berusaha menenangkan Gabriel yg marah karena ada ponsel di kamar nya yg juga berarti ada penyusup, Gio teringat saat Firda meminta Gabriel agar tidak marah marah hanya karena sebuah ponsel.
Gio lah yg meletakkan ponsel itu di kamar Firda, hanya untuk tahu seberapa khawatir nya Gabriel pada Firda. Untuk tahu, seberapa berarti nya Firda untuk Gabriel.
Gio teringat saat Firda melambaikan tangan nya pada Gio, mengajak nya sarapan dengan mengatakan ia membuat ikan bakar yg saat enak dan rasa nya memang sangat enak.
Gio teringat saat Firda melompat lompat lucu saat Gio sedang memanipulasi cctv dan Firda menuduh nya sedang chatting an bersama pacar.
Gio teringat pertemuan pertama nya dengan Firda yg begitu unik.
Gio kembali menggeleng kan kepala, mencoba mengenyahkan semua ingatan itu dan ia menguatkan tekad nya untuk menghabisi Firda saat ini, detik ini. Tidak ada kesempatan yg lebih baik dari kesempatan yg ada saat ini.
Gio mengingat kembali kejadian 11 tahun yg lalu, dimana keluarga nya di bantai habis oleh Gabriel hanya karena kesalahan ayah Gio yg seorang pembunuh bayaran yg gagal membunuh Gabriel.
Seandainya Gabriel hanya membunuh ayah Gio, maka Gio akan sangat berterima kasih kepada Gabriel. Tapi Gabriel juga membunuh ibu Gio dan kakak laki laki nya, membunuh mereka dengan begitu brutal. Dimana hal itu selalu menjadi mimpi buruk Gio, setiap malam, bahkan sampai sekarang.
Gio seolah masih melihat mayat mayat keluarga nya yg berserakan di rumah nya saat ia baru bangun tidur di pagi hari saat itu.
Gio Seolah masih bisa mencium bau amis darah keluarga nya itu.
Mengingat semua itu membuat amarah Gio kembali memuncak hingga ke ubun ubun nya, darah nya mendidih dan ia tahu, ia harus menuntaskan misi balas dendam ini sekarang juga, agar Gabriel merasakan apa yg Gio rasakan.
"Kau harus mati, Nyonya Emerson" Gio hendak menarik pelatuk nya namun tiba tiba Firda memanggil nama nya
"Gio, orang itu masih hidup..." Firda menunjuk salah satu bodyguard nya yg tergeletak di aspal dan dia masih bergerak, seperti nya tadi dia terlempar dari dalam mobil sehingga ia tidak mati terbakar seperti yg lain.
__ADS_1
"Gio, kita harus menolong nya" ujar Firda sambil menoleh, ingin menatap Gio yg tak menjawab nya sama sekali.
Gio yg sempat tercengang karena suara Firda yg tiba tiba seketika langsung menurunkan senjata nya saat Firda menoleh, dia melakukan itu secara reflek. tatapan Gio tiba tiba berubah begitu sendu, ia menatap Firda dengan tatapan yg sangat sulit di artikan
"Gio, ayo..." Firda menarik Gio dan ia berlari menghampiri pria yg tergeletak agak jauh dari mobil. Dan Gio malah menjadi seperti orang linglung yg ikut saja saat Firda menarik nya.
Firda meringis melihat orang itu yg sedang sekarat dan seluruh tubuh nya sudah luka luka dan berdarah.
"Om, yg sabar ya, Om. Nanti bantuan datang" ujar Firda cemas.
Gio kembali tercengang melihat Firda yg begitu tulus dan perhatian pada siapa pun.
Firda merogoh jas bodyguard itu guna mencari ponsel, dan Firda berhasil menemukan nya.
Gio yg melihat itu sedikit panik, namun hati dan fikiran nya bergulat di dalam sana.
Hati nya ingin membiarkan Firda memanggil bantuan, namun fikiran nya memerintahkan Gio untuk segera menghabisi Firda dan jangan sampai ada bantuan.
Firda mencoba menyalakan ponsel bodyguard itu namun ponsel nya itu mati total, Firda menggeram kesal. Sementara di sana seperti nya Gabriel masih berkelahi bersama orang orang asing itu.
Firda kembali menangis, ia duduk bersimpuh di samping bodyguard yg semakin sekarat itu, Firda meletakkan senjata yg di berikan Gabriel di pangkuan nya, Firda merasa sudah putus asa.
"Nyonya Emerson, masuklah..." seru pria itu namun Firda tak mau dan malah menatap takut pria asing itu.
Firda tak mengenal nya, tak pernah melihat nya, bagaimana jika pria itu bagian dari orang orang yg menyakiti nya dan Gabriel.
Sementara Gio hanya tercengang, ia tahu yg datang adalah anggota Black Swan. Anak buah Gabriel, dan bukan anak buah Gio yg ia perintah kan untuk menyerang Gabriel dan Firda.
"Nyonya Emerson, jangan takut, aku anggota resmi Black Swan" ujar pria itu dan ia hendak membawa Firda supaya masuk mobil tapi Firda dengan cepat berdiri dan berlindung di belakang Gio.
Lagi lagi hal itu membuat hati dan fikiran Gio bersiteru, Firda membuat nya seperti orang gila dan bodoh.
"Gio, bunuh mereka, bunuh Firda, bunuh semua anggota Black Swan!" amarah dalam jiwa nya terus memancing kebencian dan dendam nya. Gio hendak mengangkat senjata nya lagi namun tiba tiba Firda memegang lengan Gio dan meremas nya, menandakan ia begitu ketakutan kepada pria asing ini dan dia butuh Gio.
Tangan Gio yg memegang senjata nya tiba tiba gemetar, senjata nya seolah terasa berat dan ia tak mampu mengangkat nya di hadapan Firda.
"Nyonya Emerson, aku mohon. Don Gabriel memerintahkan ku agar membawa mu pulang dengan selamat, anda juga terluka dan harus segera di obati" tukas pria itu lagi karena ia tak punya banyak waktu.
__ADS_1
Bisa saja mereka juga di serang saat ini, maka secepat mungkin mereka harus meninggalkan tempat itu.
"Nyonya Firda..." Gio berkata dengan suara yg dalam
"Ikut lah, dia tidak jahat. Dia orang orang Don Gabriel..." Gio tidak tahu bagaimana bisa ia mengatakan hal itu? Bagaimana bisa ia melepaskan kesempatan emas untuk memuaskan dahaga dendam nya yg ia pelihara selama 11 tahun?
"Kamu mengenal nya?" tanya Firda lirih dan kepala Gio mengangguk begitu saja, ia seolah tidak punya kekuatan untuk berbohong.
"Kamu juga ikut pulang?" tanya Firda lagi dan Gio kembali mengangguk.
"Bagaiamana dengan suami ku?" tanya Firda kemudian pada Gio dan pria asing itu.
"Anda jangan khawatir, Don Gabriel akan menyusul dan dia pasti baik baik saja" tukas pria itu.
Firda mencoba mempercayai pria itu karena ia tidak punya pilihan lain selain hal itu.
"Bawa dia juga, kasihan sekali..." Firda menunjuk pria yg masih tergeletak di tanah itu "Dia masih bernafas, kita harus membawa nya ke rumah sakit" lirih nya sambil mengusap air mata di pipi nya.
"Tapi aku di perintahkan untuk membawa mu pulang kerumah, Nyonya" tegas pria itu yg membuat Firda menganga, tak habis fikir dengan pria itu.
"Bawa dia dan aku ikut, atau aku juga akan di sini sampai bantuan datang" ucap Firda tak kalah tegas nya.
Pria itu pun memanggil orang orang yg ada di mobil belakang dan memerintahkan mereka untuk membawa pria yg sedang sekarat itu. Karena pria itu tahu, takkan ada bantuan datang. Urusan seperti ini takkan berurusan dengan polisi dan juga tidak akan ada laporan apapun.
Pria itu mempersilahkan Firda untuk masuk ke dalam mobil, dan sebelum masuk, Firda mengambil kembali senjata yg di berikan Gabriel kemudian ia masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Gio.
"Ya Allah, Gio... Kamu juga terluka" gumam Firda saat menyadari kepala Gio juga berdarah.
Firda melepaskan pashimina nya tanpa fikir panjang dan ia mengikat kepala Gio dengan pashimina yg sebenarnya juga terkena darah Firda yg juga terluka.
Hal itu kembali membuat Gio tercengang dan kembali membuat ia seperti orang linglung karena membiarkan Firda membalut luka nya sementara Firda sendiri juga terluka.
Firda mengenakan dalaman jilbab yg bahkan juga sudah penuh darah, Firda memegang bagian kanan kepala nya yg terluka dan seketika darah juga mengalir ke tangan nya.
Gio melepaskan jas nya dan mencoba menekan luka Firda dengan jas itu. Dan Firda diam saja saat Gio melakukan itu, Firda merasa lelah dengan kejadian yg bak mimpi buruk ini.
Satu tangan Firda memegang jas Gio yg menekan luka kepala nya sementara tangan yg lain memegang senjata nya dengan erat.
__ADS_1
"Ya Allah, selamat kan suami ku. Aku harus melihat nya pulang kerumah dengan selamat, aku mohon..."