Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 158 - Ke Kamar Mandi Saja


__ADS_3

Gio dan Gerry kini berada di kediaman para Ustadz, dan ini benar benar hal yang sangat asing bagi Gio dan Gerry.


Apa lagi mereka melihat para Ustadz itu duduk bersama di lantai membentuk sebuah lingkaran, di depan nya ada sebuah buku tebal dan kertas nya warna kuning dengan tulisan yang sebenarnya tidak asing bagi Gio. Ia tahu itu tulisan Arab, karena Gio pernah pergi ke Arab dulu, lebih tepat nya pergi ke dubai.


Dan salah satu Ustadz itu membaca buku tersebut, kemudian menerangkan nya dalam bahasa Indonesia. Tapi, ada yang mendebat nya, dan yang mendebat nya itu juga membaca dari buku yang mirip, dan ia mengatakan.


"Ini dalil shohih nya..."


Kemudian ada Ustadz yang lain yang menimpali, tak mendukung dan tak menolak pendapat yang tadi. Dan seperti itu terus, lebih tepat nya mereka seperti berbagi pendapat dan mereka menyertakan dalil nya.


Sementara Gio dan Gerry hanya bisa menatap mereka dengan bingung.


Setelah 45 menit kemudian, mereka mengakhiri acara itu dan menutup buku buku mereka. Kemudian mereka menyapa Gio dan Gerry dengan ramah.


"Maaf, tadi kami sedang fokus musyawarah..." kata pria yang tadi membaca Kitab sambil tersenyum "Saya harap kalian suka di sini meskipun di sini kami membagi kamar, tapi kami akan saling menghormati" ujar nya.


"Tidak masalah..." kata Gio tersenyum kaku.


Di kamar itu, ada kasur lantai dan ada lemari kotak yang seperti nya tempat barang barang para Ustadz. Mereka semua juga berkenalan dan semua Ustadz memberi tahu nama mereka masing masing.


"Apa kalian semua tinggal di sini?" tanya Gio, ia tak habis fikir bagaimana bisa mereka tinggal dalam satu kamar seperti ini, dan bagaimana jika mereka menikah nanti, fikir nya.


"Kami tinggal di sini selama kami bertugas mengajar di Madrasah" ucap Ustadz Ahmad.

__ADS_1


"Bertugas? Siapa yang menugaskan?" tanya Gio penasaran.


"Pondok pesantren kami..." kata Ustadz Sulaiman.


"Apa kalian berasal dari sebuah organisasi?" tanya Gio lagi yang membuat mereka langsung terkekeh.


"Pesantren itu tempat untuk menunjang berbagai ilmu, dan ada sebagian pesantren termasuk pesantren kami, yang ujian kelulusannya itu adalah dengan di Tugaskan ke sekolah sekolah di berbagai daerah, entah masih di kota atau pun di luar kota" jelas Ustadz Somad dan Gio mengangguk anggukan kepala nya tanda mengerti.


"Tapi ada sebagian yang memang orang kampung sini, kami mengajar secara suka rela" ujar Ustadz Ahmad lagi.


"Sepertinya itu sangat seru..." kata Gio dan ia mengeluarkan pistol yang ia selipkan di celana nya untuk di simpan, bukan untuk menakut nakuti namun hal itu menimbulkan berbagai macam reaksi. Ada yang terkejut, ada yang tercengang, ada yang tampak penasaran dan ada yang tampak terkekeh.


"Itu asli?" tanya Ustadz Sulaiman.


"Ya, ini hanya untuk jaga jaga..." jawab Gio santai. Ia fikir seharusnya tak ada yang terkejut ia memiliki pistol, karena Gio fikir mereka sudah tahu bahwa Gio adalah seorang Mafia. Namun fakta nya, baik Firda maupun keluarga Firda tak pernah menyinggung latar belakang Gio. Yang mereka tahu, Gio adalah teman dari suami Ning Firda.


.........


Sementara itu, Firda dan Micheal menghabiskan waktu bersama di kamar Firda. Micheal tampak sangat senang dan ia mengatakan ia suka tinggal di rumah Mommy Cantik nya.


"Kalau saja Mommy ikut, pasti Mickey lebih suka" ujar Micheal kemudian yang membuat Firda dan Gabriel langsung saling melempar tatapan.


"Daddy, kenapa Mommy tidak di suruh ke sini saja?" tanya nya.

__ADS_1


"Mickey, Mommy sedang sibuk, Nak..." jawab Gabriel.


"Ini sudah malam, sebaik nya Mickey tidur ya..." ajak Firda.


"Iya, tidur. Ayo cepetan tidur..." seru Gabriel yang sudah sangat ingin bermesraan dengan istri nya. Karena jika Mickey terjaga seperti ini, Firda bahkan tak mau di cium bibir nya.


"Bacakan dongeng, Mommy Cantik..." rengek Micheal, Gabriel dengan cepat dan tergesa gesa mengambil buku dongeng Micheal di dalam ransel anak itu dan segera memberikan nya pada Firda. Ia terlihat tidak sabar ingin melihat putra nya tidur, sementara Firda yang menyadari itu hanya terkekeh geli.


Firda duduk di bersandar di kepala ranjang, sementara Micheal tidur menyamping menghadap Firda, dan tangan mungil nya itu ia letakkan di atas perut Firda yang semakin hari semakin buncit saja.


Gabriel duduk di belakang Micheal, ia memperhatikan Micheal dengan seksama. Tak lama kemudian, Micheal mulai memejamkan mata nya dan nafas nya terdengar begitu halus. Gabriel langsung tersenyum senang. Sementara Firda meletakkan buku nya di atas nakas, dan saat ia hendak merebahkan diri, Gabriel mencegah nya.


"Ada apa, Bang?" tanya Firda dengan polos nya.


"Jangan tidur dulu..." pinta Gabriel. Gabriel menggeser posisi tidur Micheal agak ke pinggir, kemudian ia duduk di antara Micheal dan Firda. Dan tanpa aba aba, Gabriel langsung meraup bibir sang istri dengan rakus, seolah ia mengembara yang kelaparan. Sementara Firda sempat terkejut karena serangan tiba tiba itu, namun kemudian ia menikmati apa yang sangat ia rindukan selama ini, Firda bahkan membalas nya dengan sama rakus nya.


Gabriel merebahkan Firda di ranjang, ia tak berniat melakukan itu sekarang karena ada Micheal. Tapi hasrat dalam diri Gabriel juga menggebu, ia mencium bibir serta leher istri nya dengan begitu lembut namun juga menuntut. Firda menggigit bibir nya dengan kuat saat sang suami menyesap leher nya yang sudah pasti meninggalkan bekas di sana, tak hanya satu kali dan satu bekas , tapi beberapa kali dan sudah pasti ada banyak bekas. Firda bahkan mengerang tanpa bisa di tahan, namun kemudian ia menyadari ada Micheal di ranjang mereka dan Firda menghentikan aksi suami nya itu karena takut Micheal bangun dan melihat live action Daddy dan Mommy Cantik nya.


Namun Gabriel tak mau, ia terus saja mencumbu sang istri bahkan membuka kancing piyama Firda.


"Nanti Micheal bangun, Sayang..." kata Firda lembut, berharap suami nya mengerti.


"Tapi aku sudah tidak tahan, cuma cuma foreplay..." rengek Gabriel.

__ADS_1


Firda menatap suami nya dengan sendu, ia tidak tega juga kalau membiarkan suami nya kesakitan dan tersiksa malam ini.


"Ke kamar mandi saja..." ajak Firda cari aman, karena bisa bahaya kalau Micheal bangun. Sementara Gabriel langsung tersenyum sumringah, dengan cepat ia turun dari ranjang dan kemudian menggendong istri nya bak pengantin baru. Bahkan dalam perjalanan ke kamar mandi yang hanya beberapa langkah, Gabriel tak henti henti nya mencumbu sang istri.


__ADS_2