Lentera Don Gabriel Emerson

Lentera Don Gabriel Emerson
Eps 269


__ADS_3

Aira dan kedua kakak nya langsung terbang ke desa, perasaan mereka bertiga tak bisa di pertanyakan lagi di karenakan mereka sungguh sangat cemas. Akhir akhir ini Opa mereka memang sering sakit, bahkan sudah beberapa kali di rawat di rumah sakit.


Mereka juga mendapatkan kabar bahwa keluarga mereka yang dari Jakarta pun akan pulang dan itu membuat mereka semakin cemas. Mengumpulkan keluarga di saat seperti ini, itu adalah pertanda yang tidak baik.


Walaupun semua nya merasa begitu sedih, namun yang paling terlihat sedih di antara ketiga saudara itu adalah Aira. Ia sangat dekat dengan Opa nya, selalu di manja setiap hari dan orang pertama yang mendukung ia berkuda adalah Opa nya.


Dan soal kuda, mereka menyerahkan itu pada Zach. Dan Aira juga tidak mengatakan tentang kebenaran Ibu Javeed pada kakak nya, apa lagi Jibril sudah membujuk Micheal untuk mengikhlaskan uang mereka.


Sesampainya di desa, mereka langsung pergi ke kediaman sang Opa dan di sana sudah ramai. Bahkan keluarga mereka yang dari Jakarta pun sudah hadir di sana.


"Opa baik baik saja kan, Ummi?" tanya Aira dengan suara bergetar pada Ummi nya.


"Masuk, Nak" ajak Firda kemudian membawa Aira dan kedua kakak nya masuk ke kamar Opa.

__ADS_1


Air mata Aira semakin deras saat ia melihat sang Opa sudah terbaring lemah di atas ranjang. Nafas nya pun sangat pelan dan terputus putus, namun kedua mata nya masih terbuka dan bibir nya masih tersenyum.


"Seharusnya aku tidak pergi" lirih Aira dalam hati.


"Aira, sini, Sayang..."


"Tante Maryam, tadi _tadi Aira..."


"Shhtt, tidak apa apa" Maryam membawa Aira duduk di samping sang kakek. Semua orang yang ada di sana meneteskan air mata sedih nya, mereka tahu ini adalah detik detik terkahir sang Kakek. Dan yang paling tak bisa menahan tangis nya adalah Asma, Asma Azzahra. Putri bungsu Abi Rahman, kesayangan nya. Di samping nya, ada Bilal, suami Asma yang mengusap pundak sang istri dan menenangkan nya.


"Aku tidak bisa meninggalkan apapun untuk kalian, tapi aku ingatkan pada kalian. Jangan tinggalkan sholat, karena sesungguhnya sholat adalah tiang agama. Jangan membuka aurat, anak anak perempuan ku. Karena kalian adalah berlian kami yang senantiasa harus terjaga kesucian dan kemurnian nya. Jadilah Imam yang baik, anak anak lelaki ku. Sesuai dengan apa yang Allah ajarkan, jagalah keluarga kalian dari api neraka. Dan bertawakalah kalian kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar dari masalah kalian, dan memberikan rezeki dari arah yang tidak terduga. Bersabarlah kalian atas segala ujian Nya, ikhlaslah kalian atas segala takdir Nya. Karena Allah tahu apa yang terbaik untuk kalian, masa depan kalian, sedang kalian bahkan tidak bisa menduga apa yang akan terjadi di detik selanjut nya dalam hidup kalian"


"Dan ketahuilah anak anakku, Allah telah berfirman 'Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

__ADS_1


"Jadikanlah anak anak kalian dan harta kalian ladang ibadah, kumpulkan pahala. Dan janganlah kalian sombong atas apa yang kalian miliki di dunia ini, karena apa yang ada dunia ini tidak bisa di bawa ke akhirat kelak, kecuali kalian menjadikan itu sebagai amal yang baik"


"Sertakan Allah di setiap langkah, agar Allah menunujukan jalan Nya jika kalian salah langkah"


"Allah benar dengan dengan segala rencana Nya, bahkan di balik kesalahan seseorang kepada kalian, pasti ada rencana Allah yang benar untuk kalian"


Air mata anak anak Abi Rahman semakin deras mengalir mendengarkan wasiat terkahir sang panutan, bukan harta bukan tahta yang ia wasiatkan. Melainkan sebuah pengetahuan. Tangis istri Abi Rahamn pun pecah, ia tak kuasa lagi menahan nya dan itu membuat tangis anak anak nya juga pecah.


Apa lagi saat Abi Rahman perlahan memejamkan mata nya dan terlihat semakin kesulitan bernafas, bibir nya bergerak pelan, mengucapkan dua kalimat syahadat dan jari telunjuk nya menunujuk ke atas.


"Asyhadu an laa ilaaha illallah, waasyhaduanna muhammadar Rasulullah"


Tangis keluarga besar Abi Rahman semakin menjadi saat sang panutan telah menghembuskan nafas terakhirnya dengan wajah yang terlihat tenang dan bibir yang masih tersenyum, di ujung kalimat syahadat yang ia ucapkan. Hati mereka seperti remuk, dada mereka begitu sesak namun mereka tahu, ini pasti terjadi. Semua yang bernafas akan menemui mautnya.

__ADS_1


Gabriel, Amar dan para menantu yang lain nya pun tak bisa membendung air mata nya. Tak ada ikatan darah antara mereka, namun mereka bisa merasakan ikatan cinta yang begitu kuat. Kehilangan kepala rumah tangga yang begitu bijak bagaimana kehilangan separuh jiwa. Namun mereka tahu, mereka harus ikhlas.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un"


__ADS_2