
Firda menatap diri nya sendiri di cermin, tak ada senyum di wajah nya seperti biasa. Tak ada tatapan yg berbinar dan bercahaya.
Yg ada hanya tatapan lurus dan tajam dengan bibir yg terkatup rapat. Semenjak kejadian mengerikan itu dan juga pengakuan Gabriel tentang siapa diri nya, membuat Firda kehilangan setengah ketenangan nya.
"Jangan mudah percaya pada orang"
"Hanya karena kita baik pada orang bukan berarti orang itu juga akan baik pada kita"
"Bukan nya berburuk sangka, tapi hanya waspada"
Kata kata yg sangat sering di ucapkan Ummi nya itu terngiang dalam pendengaran Firda. Dulu Firda begitu naif dan mengabaikan hal itu, Firda sangat tidak tega menyakiti orang lalu Firda berfikir bagaimana orang bisa dengan begitu tega menyakiti nya? Firda sangat yakin, kebaikan akan selalu membuahkan kebaikan.
Tapi masalah nya di dunia ini ada dua karakter sejati yg tak bisa Firda menafikan. Jika kebaikan dan ketulusan itu ada, maka kejahatan dan kemunafikan juga pasti ada.
Firda mencipratkan air ke wajah nya, kemudian ia mengambil handuk kecil yg ada di sisi wastafel dan mengelap wajah nya yg basah.
Firda mengikat rambut nya dan mengambil Pashimina yg menggantung di gantungan. Firda memakai nya, menutupi seluruh kepala dan leher nya.
Firda keluar dari kamar mandi dan ia melihat Gabriel yg sedang rebahan di ranjang, menyenderkan punggung nya ke tumpukan bantal yg Firda susun dan dengan laptop di pangkuan nya.
"Sayang..." seru Gabriel lembut saat Firda keluar dari kamar mandi.
"Kamu mau kemana, Sayang? Kenapa memakai jilbab?" tanya Gabriel heran.
"Aku mau belajar sesuatu, jika kamu izinkan" ujar Firda.
"Memang nya kamu mau belajar apa?" tanya Gabriel penasaran .
"Bela diri dan menggunakan senjata" ujar firda yg tentu saja membuat Gabriel sangat terkejut dan merasa tidak percaya dengan pendengaran nya.
__ADS_1
"Ma.. Maksud nya?" tanya Gabriel.
Firda pun duduk di samping suami nya itu, menatap Gabriel dengan tatapan lembut.
"Kamu bilang, masa lalu mu akan terus mengikuti masa depan mu. Dan aku ingin ada di dalam masa depan mu, yg arti nya nyawa ku bisa saja melayang seperti di malam itu. Kamu, Gio dan para bodyguard itu tidak mungkin selama nya bisa melindungi ku. Aku juga harus bisa melindungi diri sendiri, aku harus punya kemampuan itu " tukas Firda yakin yg membuat Gabriel tercengang dan semakin tidak percaya dengan pendengaran nya.
"Jangan bercanda, Sayang. Kamu seorang muslimah, mana mungkin kamu bisa belajar berkelahi. Aku bahkan tidak pernah melihat keluarga mu saling membentak, lalu bagaimana bisa terlibat kekerasan. Kalian berasal dari keluarga yg damai kan" tukas Gabriel.
"Kami memang mencintai kedamaian dan selalu bersikap lembut, tapi bukan berarti kami lemah. Kami tidak kasar, tapi bukan berarti kami tidak bisa tegas. Kami memang tidak suka kekerasan, tapi bukan berarti kami di larang belajar menggunakan senjata dan bertarung, asal kan itu di lakukan hanya untuk membela diri"
Gabriel benar benar merasa jawaban Firda adalah sebuah kejutan yg tak pernah ia bayangkan. Lagi dan lagi Firda membuat nya takjub, sangat takjub dengan sifat sifat Firda yg tak pernah bisa ia prediksi.
"Apa orang tua mu akan mengizinkan mu menggunakan senjata?" tanya Gabriel lagi.
"Mereka pasti mengizinkan jika tahu tentang mu" jawab Firda lirih "Tapi aku tidak memberi tahu mereka, dan aku ingin ini di rahasiakan dari mereka. Karena aku tidak mau mereka khawatir"
"Boleh ya?" pinta Firda lagi "Aku tidak mau hanya menangis ketakutan saat aku dalam bahaya seperti malam itu" ujar nya dan Gabriel akhir nya mengangguk setuju.
"Buka laci itu, ambil senjata di dalam nya..." ia menunujuk laci dimana Firda pernah menemukan senjata api di sana. Firda pun langsung mengambil nya dan memberikan nya pada Gabriel.
"Ini milik ayah ku, ini di buat khusus untuk keluarga kami. Dan sekarang ini milik mu..." seru Gabriel sembari menyerahkan kembali senjata itu pada Firda. Firda mengambil nya dengan yakin, ia sudah memikirkan ini matang matang dan ini adalah keputusan nya yg sangat benar.
Firda memperhatikan sebuah ukiran kecil di pistol itu, sebuah gambar angsa dan gambar mahkota. Yg berarti milik sang raja, fikir nya.
"Aku bisa memanggil seseorang untuk mengajari nya, Sayang" ujar Gabriel kemudian.
"Tidak perlu, aku akan belajar pada Gio" jawab Firda.
"Ya, dia juga hebat. Aku sendiri yg melatih nya"
__ADS_1
...... ...
Gio masih tidak percaya dengan apa yg di lihat nya saat ini, Nyonya muda nya seperti orang yg bersiap berperang dengan senjata di tangan nya. Apa lagi Firda mengatakan ia akan belajar ilmu bela diri dan menggunakan senjata dari Gio.
"Kamu tidak mau, Gio?" tanya Firda dingin karena Gio hanya diam saja.
"b.. Bukan, Nyonya. Bukan begitu..." jawab Gio gelagapan "Aku hanya merasa tidak percaya Nyonya Firda mau belajar menembak"
"Aku juga tidak percaya aku harus melakukan ini, Gio. Tapi mau bagaimana lagi? aku tidak punya pilihan lain, aku tidak mau mati konyol dan hanya menangis ketakutan saat ada orang yg akan melukai ku" tukas Firda yg entah kenapa malah membuat Gio tersenyum bangga, karena ia merasa ternyata Firda bukan wanita lemah meskipun fisik nya begitu mungil dan tingkah nya sangat menggemaskan.
"Baiklah, Nyonya. Ayo ikut aku...."
Gio membawa Firda ke halaman samping rumah nya, di sana rupa nya sudah menjadi lapangan untuk belajar menembak. Bahkan sudah ada objek untuk menjadi sasaran.
"Pertama, Nyonya harus bisa memegang senjata nya dengan benar...." ujar Gio sembari membantu Firda untuk memegang senjata nya dengan benar. Berdekatan seperti ini dengan Firda membuat dada Gio berdebar dan ia merasa gugup, namun Gio berusaha menahan semua itu dan berusaha bersikap profesional.
"Angkat senjata nya seperti ini... Tentukan sasaran dan bidik dengan tepat..."
"Nyonya Firda tidak boleh tegang, harus rileks dan fokus. Fokus pada sasaran Nyonya agar tembakan nya tidak meleset"
Firda memperhatikan setiap detail yg di ajari Gio, ia mengingat nya dan melakukan nya dengan baik. Karena Firda ingin bisa menggunakan senjata sebaik mungkin.
Gio memberikan aba aba agar Firda melepaskan tembakan nya dan Firda pun melakukan nya dengan baik walaupun sedikit meleset dari sasaran nya.
"Tidak apa apa, Nyonya Firda. Sebagai pemula, itu sudah sangat baik" ucap Gio menghibur sekaligus menambah rasa percaya diri Firda.
"Terima kasih, Gio. Kamu benar benar teman yg baik, aku bahkan sudah menganggap mu seperti saudara ku sendiri" ujar Firda tulus yg langsung membuat Gio terkesiap.
Apa lagi saat ia mengingat bahwa Firda adalah target nya untuk balas dendam pada Gabriel dan ia bahkan sudah siap membunuh Firda di malam itu.
__ADS_1