
Sesampai nya di rumah, sudah ada Dokter di sana dan satu orang perawat di sana. Firda di bawa ke sebuah kamar yg ada di lantai satu, Firda mengernyit bingung karena kamar itu sudah seperti kamar rumah sakit dengan peralatan yg sangat lengkap, Firda bahkan tidak tahu ada kamar seperti itu di rumah nya.
"Tolong tangani Gio juga, dia juga terluka dan kepala nya berdarah" Firda memberi tahu dengan panik.
"Baik, Nyonya Emerson. Anda jangan khawatir, sekarang berbaringlah. Biar saya obati luka mu" tukas Dokter itu.
"Tunggu, panggilkan Gio dan pria tadi..." pinta Firda dan ia bahkan menolak saat hendak di baringkan oleh suster.
Dokter itu pun meminta suster untuk memanggil Gio dan pria yg Firda maksud.
"Gio, dimana suami ku?" tanya Firda cemas dan ia kembali menangis saat memikirkan entah dimana suami nya sekarang, apakah masih hidup? apakah baik baik saja? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada nya?
Gio yg mendapatkan pertanyaan seperti itu hanya bisa membisu, melihat ketakutan di mata Firda entah bagaimana membuat dada Gio bergetar hebat dan ia tak mampu membuka mulut nya untuk berbicara.
"Don Gabriel baik baik saja, Nyonya Emerson..." jawab pria itu namun Firda tak bisa mempercayai nya saat ini.
"Dimana dia? Apa kamu bisa menjemput nya?" tanya Firda penuh penekanan, air mata semakin deras mengalir di pipi nya dan ia bahkan sudah sesegukan.
"Mereka mau membunuh nya...." lirih Firda di tengah isak tangis nya, Gio terkesiap mendengar penuturan Firda itu.
Yang Gio targetkan adalah Firda, yg ingin Gio bunuh adalah Firda, Gio ingin Gabriel tetap hidup dan merasakan rasa sakit saat kehilangan orang yg paling di cintai nya.
"Mereka mau membunuh nya..." gumam Firda lagi dan sekali lagi ia menolak saat suster hendak membaringkan nya, hingga dokter itu menyuntik Firda dengan obat bius supaya Firda tenang dan ia bisa segera menangani luka Firda.
Firda pun tak sadarkan diri dan Suster menidurkan Firda dengan perlahan di ranjang kecil itu.
Dokter dan suster segera membersihkan luka Firda dan menjahit nya. Sementara pria yg mengantar mereka segera keluar untuk memastikan keamanan di luar dan Gio tetap berada di ruangan itu, melihat Firda yg sedang di tangani.
Seketika Gio teringat saat Firda tidur di pangkuan Gabriel, saat itu Firda terlihat begitu mungil, cantik dan menggemaskan. Tapi sekarang Firda terlihat begitu memprihatinkan.
Dua orang pelayan datang untuk mengganti pakaian Firda dan Gio pun keluar dari ruangan itu.
Gio bergegas ke kamar nya tak perduli Dokter yg memanggil nya untuk mengobati luka Gio.
Gio langsung mengunci pintu dan ia melempar semua barang barang yg ada di kamar nya dengan penuh amarah, ia bahkan meninju kaca hingga pecah dan membuat tangan nya berdarah. Gio menatap pantulan diri nya di cermin yg sudah pecah, memantulkan bayangan nya yg tak sempurna.
__ADS_1
Gio melepas pashiman Firda yg melingkar di kepala nya dan di penuhi darah Firda dan juga darah nya, Gio bisa mencium bau anyer dari darah kedua nya yg menyatu di pashimina itu. Gio meremas pashmina itu dengan kuat dan ia menggeram marah dan sekali lagi meninju cermin sampai benar benar hancur.
"Apa yg terjadi Gio? Kamu melepaskan kesempatan emas setelah penantian selama 11 tahun? bodoh nya kamu, Gio... Bodoh sekali" geram nya.
Gio menarik nafas dalam dan kemudian memejamkan mata.
Gio teringat dengan kejadian 10 tahun yg lalu, dimana ia harus berpura pura menjadi anak gelandangan liar yg tak terurus. Mencoba menarik perhatian Gabriel selama beberapa kali sampai ia benar benar berhasil menarik perhatian seorang Gabriel Emerson.
Bukan tanpa alasan Gio melakukan semua itu, tentu untuk menghancurkan Gabriel setelah ia mendapatkan kepercayaan dan pelatihan dari Gabriel.
Gio ingin Gabriel hancur dan menyesali semua nya, hancur karena kehilangan orang tercinta nya dan menyesali nya karena orang tercinta nya itu habis di tangan seseorang yg ia latih sendiri menggunakan senjata dan yg ia percayai.
Gio mempersiapkan semua nya dalam waktu yg cukup lama, dan ia menunggu dengan sabar untuk mengetahui siapa yg paling berarti dalam hidup Gabriel. Namun selama 10 tahun ini Gabriel memperlihatkan bahwa ia hidup sebatang kara, tak ada yg berarti dalam hidup nya.
Gio sempat mencari tahu alasan Gabriel berenti dari dari dunia bawah tanah beberapa tahun yg lalu, namun ia tak bisa menemukan jawaban nya apa lagi karena saat itu ia masih anggota baru dan junior.
Tapi ketika ia berhasil mendapatkan kepercayaan Gabriel, tinggal di rumah Gabriel dan bahkan mengenal dengan baik siapa yg paling berarti dalam hidup Gabriel. Kenapa Gio tidak bisa melaksanakan misi nya itu? kenapa ada keraguan dalam hati Gio setelah menyusun rencana selama 11 tahun dengan berbagai rintangan dan pengorbanan yg ia lakukan?
Gio bahkan harus membunuh salah satu teman wanita nya di rumah ini untuk ia jadikan kambing hitam.
.........
Kelopak mata Firda bergerak gerak beberapa kali sampai akhir nya ia berhasil membuka mata secara perlahan, ia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan pandangan nya dengan cahaya di sekitar nya. Kini ia sudah berada di kamar nya.
Firda memegang kepala nya yg terasa sakit dan ia mendapati kepala nya yg sudah di perban. Firda mengedarkan pandangan nya, tatapan nya mencari sosok yg ia fikirkan saat ini dan seketika tangis nya pecah saat mendapati Gabriel yg tidur di sisi ranjang tanpa pakaian.
Kepala Gabriel di perban, lengan kanan atas nya di perban, begitu juga dengan pinggang nya. Bahkan wajah nya juga lebam dan hal itu membuat tangis Firda semakin menjadi.
Gabriel yg baru memejamkan mata selama beberapa menit itu harus kembali membuka mata nya saat mendengar suara tangis sang istri.
Firda menjatuhkan kepala nya di dada Gabriel dan ia menangis sejadi jadi nya di dada sang suami, membuat dada Gabriel basah Karena air mata Firda.
Gabriel membelai kepala Firda dengan tangan kiri nya, punggung Firda bergetar karena tangis nya yg semakin dan samakin menjadi.
"Aku fikir... Hiks... Hiks..."
__ADS_1
"Aku...."
"Aku fikir....."
"Kamu mati...." lirih Firda dan suara nya teredam di dada sang suami.
Gabriel malah terkekeh mendengar ucapan Firda, ia mengecup sisi kepala Firda dan masih terus membelai kepala sang istri.
"Kamu tidak apa apa kan?" tanya Gabriel lembut tapi Firda tak menjawab dan ia masih menangis tersedu sedu.
"Tenanglah, Sayang. Aku tidak apa apa, jangan khawatir" Firda masih menangis
"Semua nya sudah berakhir, hmm..."
"Sekarang kamu di rumah, bersama ku" dan Firda masih terus menangis. Akhir nya Gabriel diam dan membiarkan Firda menangis hingga Firda merasa sedikit lebih tenang.
.........
Firda dan Gabriel duduk berhadapan di meja makan yg ada di kamar mereka. Di depan kedua nya sudah ada makanan lezat dan minuman segar, Gabriel memakan nya dengan tenang sementara Firda hanya bisa menatap Gabriel dengan tatapan dingin.
Jangankan makan, Firda bahkan tak ingin minum saat ini apa lagi setelah mengingat kejadian semalam yg benar benar kejadian terburuk dalam hidup nya.
"Makanlah, Sayang. Kamu pasti lapar" ujar Gabriel karena Firda hanya diam saja.
"Aku bahkan tidak haus" jawab Firda dingin yg membuat Gabriel menarik nafas panjang.
"Maafkan aku, Firda..." lirih Gabriel akhir nya.
"Siapa mereka? Kenapa mereka ingin membunuh kita? kenapa terjadi hal yg sangat mengerikan seperti itu dan...." Firda bernafas berat sambil memperhatikan seluruh luka di tubuh Gabriel. Ia memperhatikan nya dengan tatapan nanar, tak percaya dan ia bergidik ngeri.
"Dan kenapa kamu seolah biasa dengan luka luka itu? kenapa kamu tetap tenang meskipun tadi malam mobil kita terbalik, anak buah mu mati terbakar, kamu di tembak, dan semua luka luka itu...." Firda berkata dalam sekali tarikan nafas. Ia tak kuasa mengingat semua kengerian yg terjadi pada nya, yg bahkan tak pernah hadir dalam mimpi terburuk nya sekalipun.
Gabriel menarik nafas dalam, mendorong piring nya menjauh dan ia menatap Firda dengan tatapan yg begitu dalam.
"Maafkan aku, Firda. Kamu benar, bagiku hal seperti itu adalah hal biasa, bagi ku, yg seorang Don Mafia, kekerasan dan hampir mati adalah hal yg biasa"
__ADS_1