
Gio melajukan mobil sport nya yang baru ia beli minggu lalu, dan tujuan nya saat ini adalah untuk tebar pesona pada si gadis rocker.
Lagi lagi Gio parkir sembarangan di depan gedung kampus, namun tak ada yang berani menegur pria muda nan tampan itu. Gio keluar dari mobil nya dan seketika para wanita berteriak histeris meskipun hanya dalam hati saat lagi dan lagi meraka bisa menyaksikan pangeran tampan bak pangeran Yunani ini.
Kedua bola mata mereka membulat sempurna bahkan seolah akan keluar dari tempat nya ketika indera penglihatan itu di manjakan dengan makhluk Tuhan yang terpahat indah ini, apa lagi ketika Gio melangkah tegas melewati mereka, meninggalkan aroma parfum yang begitu maskulin menggeletik indera penciuman mereka. Sementara Gio sama sekali tak memperdulikan hal itu karena kedatangan nya ke kampus ini hanya untuk menjemput gadis nya.
"Gadis nya?" Gio terkekeh membayangkan bagaiamana jika Mini menjadi gadis nya. Dalam ilmu fisika, plus dan plus itu tolak menolak. Yang arti nya, sesuatu yang sama tak akan bisa bersatu. Contoh nya seperti Gio dan Mini, kedua nya memiliki karakter yang sama. Karena itu lah sampai detik ini kedua nya tak bisa berhenti beradu mulut, bersitegang dalam mempertahankan ego masing masing. Namun jika soal hati dan cinta...
Cinta itu bukan fisika dan tak memiliki rumus, cinta juga bukan pelajaran bisnis dimana ada target, pada siapa dan kapan.
Cinta itu seperti sebuah kecelakaan atau seperti seeorang yang terpeleset, tidak ada maksud jatuh namun tubuh sudah terjerembab ke tanah begitu saja.
Begitu juga dengan hati, tak bisa menargetkan pada siapa jatuh cinta, tiba tiba dia sudah bersemayam dalam hati.
"Mini..." teriak Gio dengan suara berat nya yang menggema di kelas Mini. Yang di panggil tak menanggapi karena kedua telinga nya tersumbat dengan earphone. Mini sedang asyik mendengarkan musik, bukan musik Rock seperti penampilan nya melainkan musik pop yang romantis, menggambarkan perasaan nya beberapa waktu terkahir ini.
Sementara beberapa mahasiswi yang masih ada di kelas langsung memusatkan perhatian mereka pada Gio yang kini melangkah dengan begitu gagah nya menghampiri Mini yang masih fokus dengan lagu lagu nya.
"Hey..." sentak Gio sembari menarik earphone Mini membuat sang empunya terlonjak.
"Astaga, kamu mau bikin aku jantungan, huh?" teriak Mini kesal
"Kamu mau bikin suara ku hilang karena sejak tadi aku teriak teriak kamu malah tidak dengar" sungut Gio yang membuat Mini mendengus.
"Ayo pulang, kelas mu sudah selesai kan?" tanya Gio kemudian dan Mini pun mengangguk masih dengan wajah yang memberengut.
"Kamu jelek sekali kalau lagi kesal begini, seperti nenek nenek yang kehilangan tongkat nya" cibir Gio dan kemudian ia kembali melangkah dengan gagah meninggalkan kelas Mini.
"Dasar, tukang tebar pesona" desis Mini sembari membereskan buku buku nya dan juga laptop nya.
__ADS_1
"Cepat, jangan melangkah seperti keong" seru Gio yang kini sudah melangkah keluar dari pintu.
"Kamu fikir aku jin apa, bisa menyelesaikan semua ini hanya dalam hitungan detik" gerutu Mini kemudian ia segera berlari lari kecil mengejar Gio.
"Rasa nya aneh sekali ya kalau Mini pacaran sama pangeran itu..." telinga Mini menangkap bisikan penuh iri dengki yang terjadi tak hanya sekali. Setiap kali Gio ke kampus nya, selalu ada saja yang menggosipkan Mini dan bahkan mencibir Mini seperti sekarang.
"Pria itu terlalu tampan dan keren untuk gadis metal seperti ini"
"Apa bagus nya si Mini coba? Kenapa pangeran itu kepincut nya pada garis metal seperti Mini?"
"Cantikan juga aku kemana mana" kembali terdengar bisik bisik penuh cemburu seperti itu, namun ada juga yang hanya mengagumi Gio dan mengagumi Mini yang berhasil mendapatkan Gio.
"Dia benar benar kaya, pantas saja Mini mau pada nya. Beruntung nya si Mini"
"Enak ya jadi Mini, pacar nya seorang billionaires"
"Gio..." kata Mini sembari melirik Gio.
"Hmmm" jawab Gio acuh.
"Coba kalau kamu kesini tuh berpakaian yang sederhana saja, yang simple. Kaos saja begitu, kan enak lihat nya. Bukan nya pakai setelan jas begini"
"Memang nya kenapa?" tanya Gio heran karena tak pernah ada yang berkomentar tentang penampilan nya.
"Ya biar terlihat lebih santai saja, kalau kamu berpakaian setelan jas begini, kamu jadi seperti bapak bapak" kata Mini yang tentu saja itu adalah dusta. Karena sebenarnya Gio terlihat sangat kharismatik dalam balutan jas mahal nya itu dan Mini tak suka para mahasiswi di kampus nya menikmati ketampanan Gio begitu saja.
"Okey" jawab Gio dengan santai nya.
"Mana mobil mu?" tanya Mini karena ia tak melihat mobil yang biasa Gio pakai, yang terparkir di depan gedung kampus nya hanya lah mobil sport berwarna merah.
__ADS_1
"Ini..." kata Gio dan ia pun masuk ke mobil itu membuat kedua bola mata Mini langsung membulat.
"Ini?" tanya Mini tak percaya.
"Iya, cepat masuk" titah Gio, Mini pun masuk ke dalam mobil mewah itu yang hanya di miliki oleh orang yang kekayaan nya tidak kaleng kaleng.
"Kamu dapat mobil ini dari mana?" tanya Mini sembari memasang seat belt nya, ada perasaan tak percaya ia bisa naik mobil sport yang sangat mahal ini.
"Beli, minggu lalu aku melihat nya dan aku menyukai warna nya jadi ya aku beli" kata Gio dengan santai nya yang membuat Mini hanya bisa menelan ludah, karena Gio membeli mobil seperti membeli biskuit di sebuah warung.
Kini Gio melajukan mobil nya "Oh ya, bulan depan Paman Ed mau ke Indonesia" kata Gio kemudian.
"Terus? Apa hubungannya sama aku?" tanya Mini sok tidak perduli meskipun kenyataan nya ia senang jika Gio bercerita tentang keluarga nya, Mini merasa di hargai dan di anggap.
"Ada hubungan nya" kata Gio datar dan pandangan nya masih fokus ke depan "Dia akan melamar mu untuk ku" kata Gio lagi yang membuat Mini langsung melotot terkejut dengan mulut yang terbuka lebar, namun kemudian tertawa geli karena ia berfikir Gio hanya bercanda.
"Katakan pada Paman Ed mu itu aku menerima lamaran nya" kata Mini yang masih tertawa.
"Aku serius, Mini. Aku fikir aku mencintai mu jadi kita akan menikah bulan depan" ucap Gio yang membuat Mini kembali melotot terkejut bahkan ia sampai tersedak ludah nya sendiri.
"Tidak lucu bercanda nya..." kata Mini.
"Aku tidak bercanda" kata Gio serius namun ia tak berani menatap mata Mini.
"Ini tidak masuk akal, bagaimana mungkin kamu jatuh cinta sama aku?" sungut Mini kemudian.
"Ya aku juga tidak tahu, aku tidak sengaja jatuh cinta sama kamu"
"Heh????"
__ADS_1