
Abi Farhan dan beberapa orang lain nya mengikuti jejak bungkus permen yang di tinggalkan Firda, jantung Abi Farhan semakin berdetak lebih cepat setiap detik nya setiap kali ia menemukan bungkus permen berwarna emas itu. Mata nya sudah memerah dan bahkan sudah berkaca-kaca membayangkan entah apa yang terjadi pada putri kecil nya namun ia tetap berusaha tenang, apa lagi hari sudah petang dan meraka harus secepatnya menemukan Firda.
Dan setiap kali menemukan bungkus permen itu, Abi Farhan akan mengingat masa kecil Firda yang suka sekali makan permen sampai gigi nya rusak. Bahkan saat usia Firda 6 tahun, Firda belum fasih mengaji di karenakan gigi nya yang habis di makan ulat. Abi Farhan juga teringat saat sang istri melahirkan putri semata wayang mereka, semua orang begitu bergembira dan menyambut kehadiran malaikat kecil mereka dengan tawa bahagia. Abi Farhan juga teringat bagaimana Firda akan lari pada nya jika Ummi nya memarahi nya. Atau bahkan hanya jika Firda banyak bertanya berbagai hal yang membuat Ummi nya pusing dan pasti akan marah, Firda lari pada Abi nya dan menanyakan hal yang sama sampai ia mendapatkan kepuasan dari jawaban yang ia mau. Jika ia tak dapatkan dari Abi nya, Firda akan berkeliling dan bertanya pada semua penghuni rumah nya, bahkan tak segan ia bertanya pada para guru di sekolah nya.
Bersama Abi Farhan, polisi Abram dan anak buah nya juga datang. Mereka siap dengan senjata di tangan meraka, dan polisi Abram memerintahkan anak buah nya untuk melepaskan tembakan mereka saat melihat Edward.
Gio dan anak buah nya juga sudah sedang mencari Firda dari atas helikopter nya. Gio begitu panik, cemas, takut. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu, Firda adalah cinta pertama nya, sahabat pertama nya dan saudari pertama nya. Gio tak mau kehilangan Firda, dia belum siap. Gio bahkan rela menukar nyawa nya demi wanita yang pernah ia cintai yang kini ia anggap sebagai Adik sendiri.
Sementara di rumah Firda, Ummi Aisyah dan yang lain nya masih dalam keadaan yang sama. Ada beberapa tetangga dekat meraka yang datang setelah mereka mendengar kabar hilang nya Firda, mereka semua saling menguatkan, saling mendukung dan yang pasti semua nya memanjatkan doa untuk Ning kecil meraka.
Lora Jibril sejak tadi terus merengek karena haus, usia nya sudah 7 bulan namun ia masih meminum ASI karena ia masih tak mau meminum susu formula. Firda memang mengatakan akan memberikan ASI pada Jibril sampai usia putra nya 2 tahun, dan mengingat hal itu justru membuat Ummi Aisyah semakin bersedih. Sejak tadi cucu nya hanya di berikan air putih dan di suapi pisang oleh Nenek.
"Aku harus mencari putri ku kemana..." lirih Ummi Aisyah "Ambil saja nyawa ku, Ya Allah. Jangan putri ku..."
__ADS_1
.........
Sementara di sisi lain, Gabriel yang marah langsung mengambil pisau dari tangan Firda saat ia melihat Edward masih bernafas dan jari jari nya masih bergerak.
Mendapatkan tiga kali tusukan di leher nya tentu sudah di pastikan ia akan sekarat, namun Gabriel tak perduli. Ia duduk di atas perut sang Ayah seperti yang ayah nya itu lakukan pada Firda dan kemudian Gabriel menusukkan pisau itu ke dada ayah nya berkali-kali sambil berteriak seperti orang kerasukan. Bahkan wajah Gabriel sampai kecipratan darah ayah nya itu dan ia tetap tak perduli, sementara ayah nya yang tadi masih sempat bernafas kini sudah tak lagi bernafas. Entah di tusukan ke berapa ia menghembuskan nafas terkahir nya.
"Berani nya kamu melukai Firda ku...." teriak Gabriel masih terus melakukan aktifitas mengerikan nya itu.
Abi Farhan dan yang lain nya yang saat ini sudah berada di sungai mendengar teriakan Gabriel dari atas sana. Bersamaan dengan itu, Gio juga memberi tahu polisi Abram dimana posisi Gabriel saat ini.
Dan saat berada di atas, Abi Farhan tercengang bahkan jantung nya seperti berhenti berdetak, darah nya seperti membeku melihat apa yang di lakukan oleh menantu nya. Ia masih melakukan aktifitas mengerikan nya itu sampai kondisi Edward terlihat begitu mengerikan, Abi Adil yang melihat itu bahkan langsung muntah begitu juga dengan beberapa warga yang ikut. Sementara polisi Abram dan polisi yang lain langsung menodongkan senjata nya pada Raisa, Gabriel dan seorang pria di sana. Mereka memastikan siapa yang masih hidup dan siapa yang sudah mati kemudian mereka mengamankan nya. Raisa masih bernafas walaupun denyut nadi nya begitu lemah.
"Firda...." lirih Abi Farhan setelah ia melihat putri nya yang tergeletak di samping Gabriel. Ia langsung berlari meskipun lutut nya seperti tak bertulang, Abi Adil pun juga berlari menghampiri keponakan kecil nya itu.
__ADS_1
"Firda, ya Allah... Firda ku, putri ku..." Abi Farhan berteriak histeris dan ia langsung memangku putri nya itu dimana tubuh nya penuh dengan luka dan darah. Sementara Gabriel masih terus berteriak marah, mengatakan Edward telah melukai Firda nya.
"Dia melukai Firda ku..."
"Monster ini melukai Firda ku..."
"Gabriel..." teriak Abi Adil yang kini mendekati Gabriel perlahan "Gabriel, tenang lah. Dia sudah mati..." lirih nya sembari menahan perut nya yang bergejolak melihat kondisi Edward.
Gio pun kini sudah turun dari helikopter nya dan ia mematung melihat apa yang Gabriel lakukan, apa lagi ketika dia melihat kondisi Firda.
Gio mendekati Firda dan memegang tangan nya, memeriksa denyut nadi nya dengan tangan yang gemetar.
"Gabriel..." tegas polisi Abram "Gabriel, dia sudah mati. Lepaskan senjata mu, bangun lah..." ia mengulurkan tangan nya pada Gabriel. Gabriel melirik polisi Abram dan kemudian ia melirik Abi Adil, Gabriel kembali histeris namun Abi Adil langsung memeluk Gabriel dan merebut pisau nya dari tangan Gabriel.
__ADS_1
"Firda ku, Om. Firda ku, dia menyakiti nya..." lirih nya.
"Firda baik baik saja, Gabriel..." kata Abi Farhan kemudian sembari memeluk putri nya dan menciumi wajah putri nya yang babak belur itu "Jantung nya masih berdetak, Nak. Denyut nadi nya masih ada..."